BAB 2 Malam Sah penuh Dosa

1133 Kata
Ganesh Narendra, lelaki yang beberapa jam lalu resmi menjadi suaminya. Kembali mencumbunya. Sebuah fakta hukum yang terdengar kaku, tak bernyawa. Ikatan sah yang seharusnya suci, tetapi terasa seperti dosa yang dipaksakan. "Jingga..." Tangan panjang Ganesh menyentuhnya dengan kebiasaan seorang lelaki yang terbiasa menguasai ruang dan tubuh. Tidak tergesa, tidak juga lembut. Seolah dia sedang mengingat sesuatu yang seharusnya terasa familiar. “Nikmati saja,” kata Ganesh rendah. Hampir seperti perintah yang ditujukan pada dirinya sendiri. Lalu nama itu meluncur dari bibirnya, pelan dan parau. “Jingga…” Arunika mengembuskan asap rokok ke udara sebelum rasa itu sempat menjalar lebih jauh. Asap memenuhi kamar pengantin, bercampur aroma mawar yang terlalu manis, terlalu suci. Lampu kristal di langit-langit tampak berembun, berpendar samar, seperti dunia yang mulai kehilangan fokus. “Sialan,” gumam Ganesh. “Tutup mulutmu.” Tangannya bergerak cepat. Telapak besar itu menutup bibir Arunika, bukan dengan kelembutan, melainkan dengan keinginan untuk membungkam. Arunika tidak melawan. Tidak karena takut, melainkan karena muak. Rokok di jemari Arunika berpindah ke bibir tipis Ganesh. Api kecil itu menyala di antara mereka, menciptakan garis tipis antara amarah dan kendali. Leher yang beberapa menit lalu dihujani kecupan, kini jemari panjang Ganesh mengerat, mencengkeram, seolah ingin memastikan Arunika benar-benar ada. Tatapannya dingin. Luka yang menyala di balik api itu menatapnya tanpa berkedip. “Kalau mau berpura-pura,” katanya lirih dan tajam, “lakukan sampai akhir. Apa keluarga penjilat itu tahu seberapa payah dirimu sebenarnya?” Arunika mengernyit. Tenggorokannya tercekat, tetapi senyum miring tetap terbentuk di bibir. Senyum seseorang yang sudah terlalu lama hidup dalam kebohongan. “Aku tidak berpura-pura,” bisik Arunika serak. “Kalian yang lengah.” Rahang Ganesh mengeras. Urat di tangannya menegang. Ada sesuatu yang pecah di matanya, sesuatu yang tidak ia rencanakan, tidak ia pahami. “Jingga,” katanya lagi. Lebih pelan. Lebih berbahaya. "Di mana dia?” “Dia di sini.” Jawaban Arunika datar. Terlalu tenang untuk situasi yang seharusnya genting. Netra kelam itu berkilat marah. Ganesh mengeratkan cekikannya. Tidak memberi ruang bagi udara untuk mengisi paru-paru Arunika yang sudah sesak. Arunika meringis. Bukan karena sakit, melainkan karena kebosanan akan pola yang sama: kontrol, tuduhan, nama yang salah. “Jangan bermain-main,” desisnya. “Kau—” Ganesh terdiam. Jeda yang terlalu lama. Cukup untuk membuat Arunika ingin meludah di wajahnya. “Kau selalu menjadi bayang-bayang Jingga,” lanjutnya. "Dan sekarang mau menyingkirkannya dari dunia?" Semuanya runtuh di sana. Entah karena kecerobohan, atau karena ketajaman naluri seorang Narendra yang terbiasa mencium kebohongan di ruang rapat dan ranjang. Arunika tidak bisa lagi berpura-pura. Tidak menjadi Jingga. Tidak juga kembali menjadi Arunika yang dunia kenal sebagai si pembuat onar. “Aku tidak pernah mau menggantikan siapa pun.” Cekikannya melonggar. Ganesh tertawa kecil, tanpa humor, tanpa kehangatan. “Semua orang mau menjadi Jingga.” Dia mendekat. Terlalu dekat. Arunika bisa mencium aroma sabun di kulitnya, bersih, dingin, seperti sesuatu yang tak pernah tersentuh lumpur. Kehadirannya mengirimkan hawa dingin ke tulang punggung Arunika. Dua jari Ganesh mengangkat dagunya Tidak kasar. Tidak lembut. Sebuah sentuhan ragu pada niatnya sendiri. “Tatapanmu,” gumam Ganesh. “Aku benci itu. Tatapan Jingga sangat hidup. Tapi kau…” Dia terdiam sejenak, seolah mencari kata yang paling kejam. “Kau terlihat mati.” Jarinya terlepas seketika. Seperti baru menyadari sentuhannya sendiri. “Meski kalian berbagi wajah yang sama,” kata Ganesh lebih pelan. “Jingga tidak pernah pantas disandingkan denganmu.” Kalimat itu tidak seharusnya menyakitkan. Namun, kegetiran merayap di d**a Arunika seperti racun yang lambat bekerja. Arunika meremas surai kelam Ganesh, menariknya mendekat hingga hidung mereka bersentuhan. Napas mereka bertabrakan. Panas, penuh amarah yang tak terelakkan. “Apa dia pantas dapat peranku?” Arunika berbisik lirih. “Tidak. Dialah pengganti sesungguhnya, Ganesh. Kau kalah. Kau tidak tahu apa pun tentang kekasih tersayangmu itu.” Egonya seakan membentur langit-langit. Kamar pengantin ini luas, dingin, dan terlalu sunyi. Lampu temaram memantulkan bayangan mereka di dinding, dua sosok asing yang terperangkap dalam satu ruangan karena kontrak dan nama keluarga. Rasa jijik itu datang tiba-tiba. Bukan jijik pada tubuh perempuan di bawahnya. Ganesh akui Arunika cantik, itu fakta yang tidak bisa diperdebatkan. Namun, ada sesuatu pada caranya menatap, caranya diam, yang membuat Ganesh merasa sedang ditipu. “Sialan.” Ganesh menjauh. Duduk di tepi ranjang. Dasi hitam dilempar asal. Rambutnya diacak frustrasi, hampir kehilangan kendali atas diri. “Berpura-puralah sampai akhir,” katanya tanpa menoleh. “Sampai kapan?” tanya Arunika. “Aku tahu niat kalian. Memiliki perusahaan farmasi Pradipta secara utuh dan sah.” Ganesh mendelik. “Orang sepertimu tahu apa tentang bisnis?” Arunika menaikkan satu alis. Lalu berbaring menyamping, satu tangan menyangga kepala, menatapnya dengan santai yang dibuat-buat. “Orang sepertiku?” “Seseorang yang hanya tahu dunia gemerlap,” kata Ganesh dingin, “tidak merasa setiap sudutnya punya luka.” Arunika terdiam. Meraih sebatang rokok. Menyalakannya. Asap kembali memenuhi ruangan saat ia berbaring menatap langit-langit. Lampu kristal itu tampak kelabu di matanya. Tidak utuh, hanya melebur menjadi bayangan abstrak. “Seperti itulah dunia seharusnya bekerja,” gumam Arunika. “Luka hanya untuk orang yang cukup sadar untuk merasakannya.” "Kau tidak sadar karena dibutakan dunia itu, kan?" Kalimat itu seperti penghakiman. Arunika menatap lekat punggung lebar Ganesh. Beralih menatap sepasang iris yang balik menatapnya tajam. "Jingga berbeda denganmu," ucap Ganesh mutlak. Arunika duduk bersandar, lalu beranjak mendekat. Sangat dekat hingga ia dapat rasakan deru napas berat Ganesh menimpa wajahnya. Namun, Arunika tertegun. Bayangan itu tak lagi kabur, semuanya jelas. Rahang tegas Ganesh yang mengeras, bibir tipisnya yang tertutup, dan iris kelam yang tampak dingin menatap. "Kau..." Kata-kata itu tertelan lagi, debaran itu harusnya menyakitkan, kelegaan justru mendominasi. "Aku pandai berpura-pura, Ganesh." Arunika menahan napas. "Kalau kau begitu menginginkan Jingga, akan kulakukan. Perannya tidak sesulit itu dilakukan." Arunika berdiri dihadapan Ganesh yang terduduk di tepi ranjang. Ia sentuh pundak lebar itu. Kemudian menurunkan gaun pengantin yang masih membalut tubuhnya. Gaun tidur satin berwarna merah berada di balik gaun berat itu. "Tutup matamu dan nikmati saja," bisik Arunika. Suaranya serak. Jemarinya gemetar menyentuh sisi wajah Ganesh yang tak berekspresi. Bibir mereka nyaris bersentuhan, ketika Ganesh tiba-tiba menarik surai gelap Arunika. "Menjijikkan," desisnya. "Jingga tidak liar seperti dirimu." Arunika terkekeh sinis. "Ya, dia sangat liar, Ganesh." Cengkeraman pada rambutnya menguat, Ganesh berdiri. "Kau begitu ingin merebut semuanya, kan?" Arunika mengernyit, cengkeram itu berpindah ke sisi wajahnya. "Oke, kuberikan padamu. Nikmati saja, sayang." Kecupan itu menyakitkan. Ganesh seolah ingin menelannya, melumat penuh tanpa memberi ruang udara mengisi paru-parunya. "Ganesh..." Arunika memberontak. Namun, Ganesh menariknya mendekat. "Gan_" Ujung jemari panjang Ganesh mengusap lembut, membuai Arunika pada gairah tertahan. Ia cengkeram pundak lebar itu, kakinya lemas. Terhanyut pada buaian memabukkan Ganesh. "Sialan," desis Ganesh disela kecupan. Digigitnya bibir bengkak itu, lantas menjauh. "Menjijikkan," bisiknya. Kemudian beranjak pergi. Dan malam pertama mereka berakhir di sana. Tanpa cinta. Tanpa pengakuan. Hanya dua orang yang terikat sah, dan sama-sama salah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN