“Ya sudah kalau begitu. Terima kasih,” sambung Gita lagi dan langsung memutuskan sambungan telponnya. “Yah, dimatiin,” gerutu Niko saat mengetahui telponnya dimatikan begitu saja tanpa menunggu ia menjawab. “Kenapa?” tanya Winda yang baru saja selesai membuat cokelat panas untuk dirinya dan Niko. “Gita, Mbak. Telpon aku langsung dimatikan, padahal belum selesai bicara.” “Ya telpon balik dong,” sahut Winda sambil melirik kesal ke arah sang pemuda manja itu. “Sepertinya aku harus segera kembali ke kantor.” “Bukannya sebentar lagi sudah jam pulang ya? Aku bilang apa tadi.” Tanpa menjawab perkataan dari Winda, Niko merapikan pakaian dan meraih jasnya kembali yang tersampir dipinggiran sofa. Sang pemuda memutuskan untuk pamit saat itu juga. Tetapi sebelum pergi, ia menyempatkan untuk m

