“Gita ...” panggil Haryo bagus dengan suara lembut. “Iya, Kek ...” mesra terdengar jawaban dari si gadis, seolah ia sedang menyahuti panggilan dari seorang kakek sendiri yang sangat menyayanginya. “Semalam, Niko telepon kakek sampai lepas tengah malam ...” Haryo Bagus seperti akan memulai sebuah pembicaraan yang serius. Gita hanya diam, karena ingin menyimak lebih lanjut terkait apa yang akan disampaikan kepadanya. “Kami berdiskusi cukup lama, dan rasanya aku malah seperti mendapatkan sebuah pukulan balik dari apa yang telah kutuduhkan padamu saat itu.” Dengan tetap tenang, sang direktur senior melanjutkan bicaranya. “Maksud kakek, terkait semua fasilitas yang dibiayai oleh perusahaan? Seperti rumah dinas dan mobil yang dipinjamkan kepada saya?” langsung dan tanpa basa-basi, Gita meny

