Sosok pria itu semakin mendekat, langkahnya mantap meski bayang-bayang keraguan menyelimuti wajah Aluna dan Raya. Namun, bukan kehadirannya yang membuat jantung mereka berdegup tak karuan, melainkan ucapan dingin yang terlempar dari bibirnya—kata-kata yang seolah menebar racun ke antara mereka. Kini, dia sudah berdiri begitu dekat, menatap tajam kedua wanita cantik itu dengan sorot mata yang membakar. "Jangan terima, Aluna. Aku yakin—makanan itu bukan makanan biasa. Ada sesuatu yang tersembunyi di dalamnya," ujarnya, suaranya bergetar namun penuh kepastian. Jari tajamnya mengarah ke arah Raya, menuding seolah menuduh dosa besar. Aluna mengerutkan alis, matanya berkilat marah dan bingung sekaligus. "Nathan, apa maksud kamu? Kamu tiba-tiba muncul dan malah menuduh seenaknya. Mana mungkin a

