Menggeliatkan tubuhnya yang terasa kaku, Raya mencoba meraih tas tangan yang ada di nakas. Perlahan, takut Reno terusik karena pergerakan yang dia lakukan. "Siapa?" gumam Reno. Tetap saja terusik meskipun Raya sudah berusaha melakukannya secara perlahan. "Nggak tau, Mas. Aku tidak menyimpan nomornya. Mungkin salah sambung." Meletakkan ponselnya di nakas setelah melihat siapa gerangan yang sedari tadi menghubungi. "Kamu nggak balik ke kantor? Jam makan siang sudah usai." Dalam pelukannya Reno menggelengkan kepalanya. "Di kantor ada Papa." "Iya, aku tau. Tapi kamu harus tetap pergi ke kantor Mas. Bukankan …" "Besok saja." Raya tak lagi memaksa. Percuma saja dia melakukannya karena Reno semakin membenamkan wajah di dadanya. Tak ada ubahnya seperti seorang bayi yang sedang menikmat

