Raya 11
Saling diam satu sama lain, itu yang sedang Reno dan Raya lakukan. Entah pukul berapa, mereka tak tau. Reno memesan pakaian ganti untuk Raya dan memintanya segera mengenakan agar tak masuk angin.
Reno mencoba mengalah dan membiarkan Raya mengalah pada dirinya terlebih dahulu. Barulah nanti dia ajak lagi berbicara begitu Raya nyaman di sampingnya.
"Tunggu sebentar. Saya akan cek dulu apakah sarapan kita sudah selesai dipersiapkan atau belum," ucap Reno, sebelum bangkit dari tempatnya duduk. Semalam pria itu tidur seraya duduk di sofa agar Raya nyaman berbaring di ranjang.
Rasanya apa yang dia lakukan saat ini tiada berguna sama sekali. Membuang banyak waktu, tenaga, bahkan uang untuk menyewa hotel. Mendekorasi kamar yang ditempati, ujung-ujungnya kamar itu berserakan dan dia tidur di sofa. Sangat lucu, tapi apa dikata, semuanya sudah terjadi.
"Aku tidak lapar. Aku izin pulang."
Reno berbalik. "Apa maksudmu? Bukankah kita sudah menikah?"
"Aku mohon. Izinkan aku pulang terlebih dahulu sampai sanggup menerima semua kenyataan ini."
"Sampai kapan?"
"Entahlah." Jawaban tak pasti diberikan, karena memang Raya tidak tau kapan sanggup menerima jalan hidup yang sedang dijalani.
"Dua Minggu." Reno mengeluarkan sebuah kartu debit dari dompetnya. "Gunakan ini untuk kebutuhan hidupmu selama jauh dariku."
Raya menolak. Mendorong kartu debit tersebut agar Reno menyimpan kembali untuknya. "Aku tidak bisa."
"Terima atau kamu akan terima akibatnya."
"Bisakah Bapak tidak mengancam aku? Tidakkah lelah bersikap seperti itu? Selalu menekan seakan aku ini mainan yang telah Bapak beli dari kedua orang tuaku!!"
"Maaf." Reno mengambil kembali kartu debit tersebut. Membawanya pergi. Meninggalkan Raya sendirian di kamar tersebut. Terserah istrinya itu akan pulang dan tinggal di mana. Reno akan mengalah lagi dan lagi, mengawasinya dari kejauhan.
Raya menghela napas panjang. Lega Reno meninggalkannya sendirian di hotel. Membiarkannya berpikir lebih baik agar waras dalam menjalani hidup.
"Della, kamu ada di mana?"
"Di kantor, Ray. Kenapa?" tanya seorang gadis dari seberang panggilan sana.
"Aku ingin menumpang tinggal bersamamu untuk beberapa hari bisakah?"
"Tinggal?" Gadis bernama Della tersebut menautkan alis.
"Seperti yang kamu tau. Pak Geo kabur dan pak Reno yang menjadi suamiku. Aku …"
"Baiklah. Tapi tidak bisa lama, ya, Ray. Orang yang ada disekitar kamu saat ini membuatku tidak nyaman." Della mengusap tengkuknya. Mendengar Raya akan menikah dengan Geo saja sudah menggemparkan seisi kantor. Apalagi Reno? Direktur utama di kantor mereka.
Kabar itu semakin pelik dan menakutkan saja ketika Della menemukan setumpuk undangan pernikahan di meja yang ada di pantry. Undangan pernikahan untuk semua karyawan yang ada di pantry tersebut agar mereka semua datang ke acara pernikahan Reno dan Vika.
Ingin bertanya apakah Raya sudah mengetahui itu semua atau tidak. Namun, mendengar suara serak Raya yang syarat akan kesedihan membuatnya urung mempertanyakan. Yang Della ketahui, Reno menikahi Raya demi menebus kesalahan Geo, bukannya atas dasar cinta.
"Kamu di mana? Kalau terburu-buru bisa jemput kunci kontrakan ke kantor."
"Aku tunggu kamu pulang saja."
"Oh, oke. Nanti pas balik aku kabari. Kalau begitu aku tutup dulu, Bu Petri meminta berkumpul."
"Mmm," sahut Raya. Membiarkan Della memutuskan panggilan yang terhubung antara mereka.
Raya menatap jam digital yang ada di ponselnya. Masih ada delapan jam lebih yang harus dia gunakan untuk menunggu kepulangan Della. Tidak mungkin dia bertahan di hotel, dan tidak pula mungkin dia pulang ke rumah. Sekarang saja rasanya Raya ingin pergi dan menghindar agar sang ibu tidak menemukan keberadaannya untuk memastikan dia masih gadis atau tidak.
Miris, satu kata yang cocok menggambarkan bagaimana kondisi Raya saat ini. Tidak tau harus kemana, karena dia merasa kehidupan amat menyiksa dan membuatnya terkucilkan. Entah siapa yang salah disini, Raya tak tau. Termasuk tak tau kenapa hatinya susah membenci dan menuduh Geo sebagai tersangka utama.
Raya pergi. Tidak lupa dia menonaktifkan ponsel sebelum mengkonfirmasi kepergiannya dari hotel. Meskipun pihak hotel mengatakan ada sarapan spesial untuknya yang akan dikirim ke kamar, Raya tetap pada pendiriannya. Pergi, tanpa ada satupun yang tau kemana dia akan pergi.
Tidak dapat dicegah sama sekali, Raya pergi. Membawa langkahnya keluar dari lobby hotel. Entah kemana, Raya tidak tau yang penting dia pergi, menjauh. Sampai Della menyelesaikan pekerjaannya.
***
"Kenapa kalian tidak segera mengkonfirmasi jika istri saya pergi!!" hardik Reno, tak terima ketika dia mendengar Raya telah meninggalkan hotel sekitar setengah jam yang lalu."
"Pergantian shift, Pak. Saya …"
"Saya akan pastikan siapapun yang melepas kepergian istri saya dipecat. Jika saya tidak bisa menemukannya dalam waktu dua puluh empat jam!!"
Reno membanting ponselnya ke lantai. Kesal setengah mati karena dia kehilangan jejak Raya. Terlebih lagi ponsel istrinya itu tidak bisa dihubungi. Bahkan, GPS-nya pun tak bisa diakses sama sekali. Rasanya percuma saja semalam dia begadang untuk menyinkronkan ponselnya dengan Raya.
"Aku bingung dengan kedua orang tua kita."
Reno menatap ke arah Vika yang baru saja datang. Wanita itu langsung mengambil ponsel Reno yang berserakan di lantai.
"Sampai disini bukannya bisa mencari solusi, tapi aku malah melihatmu mengomel tidak jelas. Lempar-lemparan ponsel, mentang-mentang bisa membelinya dengan mudah." Menyerahkan ponsel kepada Reno.
"Ada apa lagi? Sampai-sampai kamu repot datang kesini menemuiku."
"Pernikahan kita dipercepat. Minggu depan. Ini benar-benar gila. Padahal aku ada acara bersama teman-temanku," keluh Vika menyerahkan undangan pernikahan mereka.
Alih-alih terkejut, Reno malah menarik kedua sudut bibirnya. Meraih dan membuka undangan yang diserahkan Vika padanya.
"Desain yang bagus. Aku yakin mereka mengeluarkan banyak uang dan mencari percetakan yang bisa bekerja secepat kilat." Kedua pundaknya terangkat. "Baguslah. Lebih cepat, lebih baik agar kita bisa memisahkan diri dari mereka."
"T-tunggu, kamu sudah tau ini?"
"Tidak. Mana mungkin aku tau apa yang sedang mereka rencanakan
Tapi, satu hal yang aku yakini, Mama menerima pernikahanku dengan Raya karena agar rencana ini bisa dilebur."
"Kamu curang. Memanfaatkan pernikahan ini agar kamu bisa bebas menikah dengan office girl itu. Sedangkan aku?"
"Jangan sok suci apalagi tersakiti. Bukankah kamu sendiri ingin pernikahan ini agar bisa hidup bebas juga?"
"T-tapi bukan berarti aku …"
"Tenang saja. Pernikahan aku dan Raya tidak banyak yang tau dan masih bisa kamu bantah." Reno bangkit dari tempatnya duduk dan memasukkan undangan pernikahan mereka ke tempat sampah. "Pulanglah, ikuti saja apa yang mereka inginkan. Setelah ini kita akan pindah. Kamu bebas melakukan apapun, asalkan tidak mengusik kehidupan aku dan Raya."
"Raya? Kita akan tinggal satu atap dengan Raya? Yang benar saja, Ren?!"
"Kenapa? Tidak terima? Jika tidak silahkan batalkan ini semua." Reno kembali duduk dan mengibaskan tangannya. Meminta Vika menjauh darinya.
"Ck, awas kamu!!" Ancam Vika, sebelum beranjak pergi. Dia memang ingin bekerja sama dengan Reno, tapi tidak begini caranya.