Victoria tahu satu hal dengan jelas bahwa bahaya yang dimaksud Bena tentang Mutiara bukanlah bahaya yang sembarang. Bukan tipe ancaman yang datang tanpa alasan, bukan juga kekuasaan yang digunakan asal menekan. Bahaya itu selektif, bergantung pada siapa yang berdiri di hadapan Mutiara, dan apa yang dia bawa. Dia teringat kembali sorot mata wanita itu di restoran tadi itu terlihat tenang, terkendali, tapi tidak memberi ruang bagi permainan kotor. Mutiara bisa mengancam, iya. Tapi hanya pada mereka yang berani menyentuh batasnya, terutama keluarganya. Entah kenapa, pemahaman itu membuat Victoria semakin yakin. “Dia bukan orang yang suka memaksa,” ujar Victoria pelan, lebih pada dirinya sendiri. Bena menoleh. “Kau yakin?” “Yakin.” Victoria mengangguk. “Dia memberi pilihan. Berat, tapi tet

