Di dalam kamar yang sunyi itu, Victoria duduk bersandar pada sandaran ranjang, lututnya dipeluk erat. Lampu meja menyala redup, cukup untuk menerangi wajahnya yang pucat dan mata yang sembap. Mata seorang perempuan yang kelelahan, bukan hanya oleh kerja, tapi oleh hidup yang tak memberinya jeda. Beberapa hari berlalu sejak dari apartemen Alex kembali sunyi. Sejak tawa kecil Bena, sejak aroma masakan yang sempat menenangkan. Kini, yang tersisa hanya getar ponsel di atas nakas, berulang, memaksa, tak tahu malu. Nama ibu tirinya kembali muncul. Dan lagi, dan lagi, selalu lagi mencarinya. Victoria membiarkannya berdering. Rahangnya mengeras. Setiap panggilan itu bukan sekadar suara, dia membawa bayangan wajah bos rentenir itu, kata-kata yang menyudutkan, tatapan yang membuatnya merasa keci

