Di sisi lain kota, Tian memang sedang sibuk, namun bukan dengan urusan yang mendesak seperti yang dia ucapkan pada Victoria. Sebuah restoran besar dengan ruang privat khusus keluarga dipenuhi suara percakapan, tawa yang dibuat-buat, dan denting sendok di piring porselen mahal. Keluarga besar Tian berkumpul lengkap sore itu. Kakek dan nenek dari pihak ayahnya duduk di kursi utama, wibawa mereka masih terasa meski usia telah lanjut. Mereka adalah adik dari ayah Alex Valendra, garis keluarga yang sama, hanya jalur yang berbeda. Alex ada di sana. Duduk di salah satu kursi ujung, tubuhnya tegak, wajahnya datar, jelas ogah-ogahan. Kehadirannya lebih karena kewajiban keluarga daripada keinginan. Dia tidak menyentuh makanannya sejak awal, hanya sesekali mengangkat gelas air, matanya mengamati

