Victoria menatap Tian yang berdiri di depannya dengan raut menunggu. Bibirnya sudah hampir terbuka untuk menjawab, ketika ponsel di tangan Tian tiba-tiba bergetar. Nama penelepon muncul di layar, membuat dahi pria itu berkerut. Tian melirik layar sekilas, lalu mematikan panggilan itu tanpa mengangkat. “Kamu tadi mau jawab apa?” tanyanya lagi, nada suaranya sedikit menegang. “Soal gosip di kantor itu.” Victoria menarik napas perlahan. Baru saja dia menyusun kata-kata di kepalanya, ponsel Tian kembali bergetar. Kali ini lebih lama, lebih memaksa. Getaran itu seperti mengganggu ritme yang sudah rapuh. Tian mendesah kesal. “Sebentar,” katanya singkat, seolah tidak ingin percakapan mereka terpotong. Namun ponsel itu kembali berdering untuk ketiga kalinya, memaksa situasi mengambil jalannya

