Mobil melaju dengan kecepatan stabil. Victoria hanya diam, terus menatap ke luar jendela tanpa benar-benar melihat apa pun. Kalla fokus menyetir. Tangannya mantap di kemudi, rahangnya mengeras, bukan karena marah, tapi menahan banyak hal yang ingin dia katakan namun memilih ditelan. Bena di kursi penumpang juga diam, tubuhnya bersandar ke jok, satu tangannya bertumpu di pintu, sesekali melirik ke kaca spion tengah. Di kursi belakang, Victoria diam seperti bayangan. Matanya basah, tapi air mata itu tak jatuh, hanya tertahan. Seperti perasaannya. Ucapan Alex terus berputar di kepalanya, berulang tanpa ampun. Seolah dia gadis bodoh yang tidak tahu apa-apa. Seolah dia tidak pernah mencoba bertahan. Seolah dia tidak sadar betapa ibunya Tian sejak awal tak pernah benar-benar menerimanya. Pa

