Basement perusahaan malam itu terasa lebih lengang daripada biasanya. Lampu-lampu temaram memantulkan cahaya samar di lantai beton yang dingin, dan langkah Victoria yang letih menggema di ruang bawah tanah itu. Dia baru keluar dari lift setelah menyelesaikan laporan tambahan, yang lagi-lagi, merupakan buntut dari perintah Alex. Begitu pintu lift tertutup kembali, Victoria melihat cahaya lampu mobil yang sudah dia kenal. Tian berdiri bersandar pada pintu mobilnya, tangan terlipat, wajahnya menampilkan senyum hangat yang entah bagaimana bisa langsung melenyapkan ketegangan yang menempel di tubuh Victoria. “Tadi aku pikir kamu lembur lagi,” kata Tian, suaranya lembut menyambut tapi penuh khawatir. Victoria menghela napas kecil. “Iya, sedikit. Maaf sudah menunggu,” balasnya sembari mendeka

