Alfin bernafas lega karena akhirnya pintu terbuka kembali. Sosok Hafizha berdiri di hadapannya. Jika saja ia tak bisa mengontrol dirinya mungkin ia sudah memeluk dan menerjang sang mantan pacar. "Kamu mau apa?" Hafizha melontarkan pertanyaan dengan nada dingin. Tak mungkin Alfin datang tanpa tujuan. Sebenarnya Hafizha merasa waswas. Akhir-akhir ini pria di hadapannya sering mengirim pesan WA dan foto-foto anaknya. Walaupun ia tak pernah membalasnya. "Aku ingin bicara dan menjelaskan sesuatu." Alfin berkata sungguh-sungguh. Ia pun memperlihatkan raut wajah memelas. Hafizha pun mempersilahkan Alfin masuk. Sudah saatnya ia berdamai dengan masa lalu. Ia menerima kedatangan Alfin bukan berarti memaafkan pria itu begitu saja. Hatinya masih terluka. "Masuk!" perintah Hafizha. Tanpa menunggu

