Sedikit Kesempatan

1016 Kata
"Ibuku meninggal karena dia, Om," lirih Alena. Mulai bercerita tentang masa lalu yang ia alami. Bukannya apa, rasa nyaman berada di dalam pelukan Yudi, membuat gadis itu ingin menceritakan tentang masa lalunya. Cerita yang belum pernah diceritakan kepada orang lain. Termasuk pada Shelina, ibu angkatnya sendiri. Yudi yang mendengar Alena bercerita, memilih diam. Agar Alena merasa nyaman dan mau berbagi tentang masalah yang sedang dihadapi. Berharap ada titik terang untuk masalah kakak beradik tersebut. Seraya menyimak Yudi menepuk-nepuk lengan Alena, yang sudah dianggap sebagai adiknya sendiri. Semakin memberikan rasa nyaman terhadap gadis itu. "Dia kabur dari rumah karena sering dimarahi oleh ayah. Dan tidak lama kemudian ibu mendapat kabar Stella menjual dirinya kepada pria kesepian," ungkap Alena. Bayangan sang ibu merenggut nyawa karena kabar tersebut, kembali terlintas.. Semuanya berputar layaknya kaset rusak yang tengah berputar. "Aku turut berdukacita," sahut Yudi. Alena mengangguk. "Setelah ibu meninggal dunia, tidak lama kemudian ayah menyusul ibu. Beliau jatuh sakit semenjak ibu tiada. Dan semenjak itu aku hidup luntang lantung di jalanan. Hingga aku bertemu dengan bunda Shelina dan mendiang ayah Marco. Aku dijaga dan dibesarkan dengan limpahan kasih sayang. Namun, itu tak berlangsung lama. Baru dua bulan aku meneguk kebahagiaan karena memiliki orang tua dan seorang adik laki-laki, semua kembali sirna. Karena ayah Marco meninggal dunia." "Tapi, Tuhan sangat baik padaku. Karena bunda Shelina menjagaku dengan sangat baik. Seiring berjalannya waktu, luka karena kehilangan tersebut berangsur membaik. Hingga bunda menikah ayah Rendi. Semua kembali membaik dan hidupku kembali sempurna." "Aku turut berbahagia atas kebahagiaan yang kamu rasakan. Dan seandainya kamu mau mendengarkan saran dariku, lebih baik kamu bertemu dengan Stella. Aku yakin banyak hal yang akan diceritakan padamu. Karena aku yakin Stella melakukannya bukan karena keinginan sendiri," ucap Yudi. Berusaha menenangkan hati Alena. Walaupun ia sendiri pernah memakai jasa Stella di masa lalu, tetap saja Yudi berharap ada setitik pembenaran agar Alena dan Stella bisa bersatu kembali. Karena saat ini mereka tidak memiliki siapa-siapa lagi di dunia ini. Alena menggelengkan kepalanya. "Bukannya aku tak ingin, Om. Hanya saja aku belum sanggup untuk bertemu dengannya. Walaupun sebenarnya aku juga merindukan sosok kakak ku itu." "Kalau begitu, besok mari kita bertemu dengannya. Agar kamu bisa bertanya langsung apa yang membuatnya melakukan hal tersebut. Karena sebagai manusia kita tidak boleh seenaknya saja menghakimi orang lain. Seperti yang kamu ketahui, tidak ada manusia yang luput dari dosa." Yudi menasehati dengan lembut. Berharap Alena luluh dan mau mendengarkan apa yang ia katakan. Seandainya Alena mau mendengar perkataannya, bisa dipastikan kedua kakak beradik itu bisa bersatu kembali layaknya kakak beradik yang sesungguhnya. Saling melengkapi dan menjaga satu sama lain. Alena bergeming. Otaknya mencerna baik-baik apa yang dikatakan oleh Yudi padanya. Ia juga menimbang apakah harus memberi kesempatan untuk Stella atau tidak. "Aku ingin bertanya padamu, Lena. Apakah kamu melihat langsung bukti yang menunjukkan kakakmu bukan wanita baik-baik?" tanya Yudi sekali lagi. mencoba untuk meyakinkan Alena bahwa Stella adalah wanita baik-baik, walaupun itu hanya sebuah kebohongan semata. Setidaknya dengan begitu Alena mau bertemu dengan Stella. Alena menggeleng. "Aku tidak melihatnya, Om.. Karena waktu itu aku masih terlalu kecil. Hanya saja waktu itu ada seorang pria yang datang ke rumah. Mengatakan dia sering memakai jasa Stella di Solo Dan seingatku pria itu menyerahkan sesuatu pada ibu. Dalam hitungan detik ini terkena serangan jantung dan langsung tak sadarkan diri. Ayah sempat membawa ibu ke rumah sakit. Akan tetapi, ibu tidak bisa diselamatkan," ungkapnya. Pernyataan dokter yang mengatakan sang ibu meninggal dunia, masih terekam secara baik di otak Alena. Saat pernyataan tersebut kembali terngiang, rasa sakit yang timbul masih sama seperti dulu. "Ya, sudah kalau begitu … kakakmu layak untuk mendapatkan kesempatan untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi." Yudi mengurai pelukannya. Menatap Alena yang sedang menengadahkan kepalanya Melihat dengan jelas ketampanan yang ia miliki. Alena meneguk ludahnya. Melihat ketampanan Yudi dari dekat. Sangat dekat malahan, sehingga ia bisa merasakan hangatnya nafas duda tampan tersebut menerpa wajahnya. "Seandainya hatimu masih menolak melakukan hal tersebut, aku mohon padamu, Len. Lakukan demi aku!" Yudi menangkup kedua pipi Alena. Membuat jantung gadis itu berdegup kencang. Wajahnya bersemu merah dan hatinya mengutuk dirinya sendiri. Bisa-bisanya ia tidak sadar sedari tadi Yudi memeluk dirinya. Alih-alih menjawab, Alena justru menutup kedua matanya. Berharap Yudi semakin mendekat dan menyesap kedua belah bibirnya. "Lena … apakah kamu mau?" tanya Yudi sekali lagi. Melepaskan kedua tangannya dari pipi Alena. Gadis itu tersentak. Merasakan tidak ada lagi tangan Yudi di kedua pipinya. Bibirnya mengerucut karena khayalannya tidak terjadi. Namun, Alena tetap mengangguk. Setuju dengan permintaan Yudi untuk bertemu dengan Stella. Walaupun di dalam hatimu masih berat dan belum rela berbicara dengan kakaknya itu. Tapi, demi menyenangkan hati Yudie, ia rela melakukan itu semua. "Terimakasih kamu sudah mau mengikuti saran dariku." Yudi berucap seraya bangkit dari tempat duduknya. Beranjak dan meninggalkan Alena yang masih diam di tempat duduknya. Gadis itu mengulas senyum. Sangat bahagia bisa berdekatan dengan Yudi. Pria yang kini mengisi relung hatinya. Dan Alena berjanji, demi cinta yang terlanjur tumbuh di dalam hatinya, ia rela melakukan apa saja untuk mendapatkan hal tersebut. ** Langkah kaki Stella amat berat memasuki unit apartemen yang telah lama ia tinggalkan. Unit yang menjadi saksi bisu apa yang dulu dilakukan disana. Menyiksa almarhumah Sandara dengan luka batin, dengan berhubungan suami istri bersama Yudi di hadapannya. Luka tersebut dialami oleh Sandara, hingga gadis itu meninggal dunia setelah melahirkan Arjuna ke dunia. Hai... Ini karya orisinal aku yang hanya exclusive ada di Innovel/Dreame/aplikasi sejenis di bawah naungan STARY PTE. Kalau kalian membaca dalam bentuk PDF/foto atau di platform lain, maka bisa dipastikan cerita ini sudah DISEBARLUASKAN secara TIDAK BERTANGGUNG JAWAB. Dengan kata lain, kalian membaca cerita hasil curian. Perlu kalian ketahui, cara tersebut tidak PERNAH AKU IKHLASKAN baik di dunia atau akhirat. Karena dari cerita ini, ada penghasilan saya yang kalian curi. Kalau kalian membaca cerita dari hasil curian, bukankah sama saja mencuri penghasilanku? Dan bagi yang menyebarluaskan cerita ini, uang yang kalian peroleh TIDAK AKAN BERKAH. Tidak akan pernah aku ikhlaskan. Walaupun karyaku tidak sebagus milik penulis lain, setidaknya ini adalah hasil karyaku sendiri. Dari hasil kerja keras memeras otak dan tenaga.. Dan aku berharap, kalian semua menyayangiku seperti aku menyayangi kalian semua. Salam Desi Nurfitriani
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN