Iwan mengusap wajahnya. "Setidaknya kamu ingat nama jalan, atau nama gang-nya?"
Alena menggeleng.
"Nama komplek?"
Lagi-lagi hanya gelengan yang didapat oleh Iwan.
"Patokan jalan?"
"Patokan?" Kedua alis Alena nyaris bertaut.
Iwan mengangguk cepat.. Dari ekspresi Alena, gadis itu sepertinya memiliki sedikit petunjuk.
Namun, semua diluar dugaan Iwan. Karena detik selanjutnya Alena menggeleng.
"Astaga … kalau begini, aku harus mengantar kamu kemana?" Iwan memeluk kemudi. Benar-benar gemas melihat Alena.. Bisa-bisanya gadis itu lari, padahal tidak tahu arah jalan pulang.
Iwan menarik nafas. "Sekarang katakan. Siapa nama orang tuamu
Atau siapa nama om kamu. Bukankah tadi kamu mengatakan datang kesini untuk mengunjungi om kamu. Mana tahu aku mengenal salah satu dari mereka. Melihat dari penampilan dsnt barang yang kamu kenakan, bisa aku pastikan kedua orang tuamu bukanlah dari kalangan orang biasa." Menegakkan punggungnya.
Alena mengangguk. "Kedua orang tuaku asli orang Bali. Dan berasal dari orang menengah kebawah. Aku yakin kamu tidak akan mengenalnya. Lagi pula beliau sudah meninggal dunia beberapa tahun yang lalu."
Mulut Iwan terkatup rapat. Melihat Alena yang mengangguk, tapi tidak ada jawaban yang didapat
. Yang benar saja ia harus membawa gadis itu pulang.
"Walaupun begitu, aku memiliki orang tua angkat yang berasal dari keluarga yang berada. Dan aku rasa kamu mengenalnya." Mengubah posisi menghadap kepada Iwan.
"Bundaku bernama Shelina Agatha, ayahku Rendi William. Dan …"
"Tunggu! Rendi William?" pekik Iwan. Seandainya ia tidak salah menebak, Rendi William adalah seorang pengusaha sukses, yang baru saja menikah dengan mantan kekasih sahabatnya sendiri. Yudi Fernando. Hal yang sempat menjadi gosip hangat di kalangan para pengusaha.
Yang paling menguatkan dugaan Iwan adalah nama Shelina Agatha. tidak mungkin ada dua nama bersanding secara bersamaan.. Kalau bukan orang yang sama, sesuai dengan dugaannya.
Alena mengangguk."Ya, Rendi William. Apakah kamu mengenalnya?"
"Tentu saja. Siapa yang tidak mengenal Rendi William. Eh, tapi tunggu dulu! Bukannya Rendi tinggal di Bali dan rumah orang tuanya ada di Bandung. Seandainya kamu benar anak angkat Rendi dan Shelina, kenapa kamu bisa menyasar disini?" Mata Iwan menyipit.
"Kamu ingin menipuku?"
Mata Alena membesar. Tangannya terangkat menampar lengan Iwan. "Enak saja aku menipumu! Kamu tidak dengar apa, tadi aku mengatakan, aku tinggal di Bali. Dan baru dua hari tinggal disini. Disini aku tinggal bersama omku, yang tidak lain adalah sahabat ayahku!" cecarnya. Dengan nada suara yang begitu tinggi dan melengking di telinga Iwan.
"Stop! Stop!" Iwan mengangkat tangannya. Meminta Alena diam. Gendang telinganya bisa-bisa pecah karena suara Alena.
"Aku sudah tahu kemana harus mengantarmu pulang!" Iwan menekan pedal gas. Mulai menjalankan mobilnya membelah padatnya jalanan ibukota.
Bukannya senang Iwan sudah tahu kemana harus mengantarnya pulang, Alena justru ketakutan karena mobil mulai bergerak. Melawan arus jalan yang tadi dilalui.
Sehingga gadis itu menarik-narik lengan Iwan seraya berteriak.
"Aku membatalkan perjanjian kita. Aku tidak ingin pulang bersamamu!"
Tidak bisa berkonsentrasi karena ulah Alena, Iwan menghentikan laju mobilnya. Nyaris saja Alena membentur dashboard mobil. Seandainya ia tidak menggunakan sabuk pengaman.
Iwan menangkap pergelangan tangan Alena. "Dengarkan aku anak manja! Kamu itu tidak perlu takut dan khawatir kemana aku akan membawamu. Karena aku sudah tahu kemana harus mengantarmu pulang!"
Mata Alena mengerjap. "Ke-kemana?"
Iwan mendekatkan wajahnya pada gadis itu. "Ke rumah Yudi Fernando. Yang tidak lain adalah sahabat Rendi William. Putra dari Fery Fernando, serta ayah dari Arjuna Putra Carlos. Dan sebelum kamu marah-marah tidak jelas, aku ingatkan sekali lagi. Aku adalah Riswan Adijaya, rekan bisnis Yudi Fernando!"
Alena meneguk ludahnya. Iwan yang terlalu dekat dengannya, membuat ia takut terjadi sesuatu 'iya iya' diantara mereka berdua.
Bukannya apa, jarak Iwan darinya hanya beberapa sentimeter saja. Bahkan Ia bisa merasakan hangatnya nafas Iwan menerpa wajahnya.
"Aku sudah mengerti dan tak takut lagi sekarang. Bisakah kamu melepaskan aku dan mulai menjalankan mobil? Bukannya apa, jarak kita terlalu dekat saat ini," lirih Alena. Menatap ke dalam manik coklat pria berusia tiga puluh tahun tersebut.
Iwan tersentak. Ia juga baru sadar jaraknya dan Alena sangat dekat. Sehingga pria itu bisa melihat betapa lentiknya bulu mata yang dimiliki oleh Alena. Bukan hanya itu, saat pandangannya sedikit turun, ada bibir tipis yang sedikit terbuka dipoles dengan lipstik merah muda.
"Cantik!" gumam Iwan. Memiringkan kepalanya untuk menyesap bibir tipis tersebut.
Plak!!
Suara tamparan menggema di dalam mobil mewah tersebut. Ada Iwan yang terkejut dan mengusap pipi kanannya yang memanas. Karena tamparan Alena.
"Jangan mentang-mentang kamu rekan bisnis om Yudi, kamu bisa berlaku kurang ajar padaku!" sergah Alena. Menatap nyalang kepada Iwan.
Sadar atas kesalahan yang diperbuat, Iwan menutup rapat mulutnya. Ia juga mengumpat pada dirinya sendiri karena lancang ingin mencium gadis itu.
Alena yang marah atas perlakuan Iwan, membuang pandangannya ke luar jendela mobil. Dalam diam ia menangis karena merasa dilecehkan oleh Iwan. Dan bodohnya lagi bisa-bisanya percaya pada pria yang baru beberapa menit ditemui. Setelah ini, Alena bersumpah tidak akan mau lagi bertemu dengan Iwan.
**
"Mas, di mana dia?" ucap Stella. Tanpa melihat ke arah Yudi. Matanya yang memerah memperhatikan jalanan yang mereka lalui. Berharap melihat Alena di sana.
Namun, sepanjang perjalanan Stella tak kunjung melihat keberadaan Alena. Bahkan kini mobil yang ditumpangi sudah terparkir di depan apartemen.
"Mas …" ucap Stella. Alisnya nyaris bertaut karena Yudi malah mengantarkannya pulang.
"Kamu tunggu di sini saja! Aku akan mencari keberadaan Alena."
"Mas, aku ikut!"
"Tidak bisa, Stell. Kamu disini saja. Jangan lagi memperkeruh keadaan.. Aku pun ingin pulang ke rumah terlebih dahulu. Mana tahu Arjuna mengetahui nomor ponselnya." Membukakan pintu mobil untuk Stella.
Wanita itu membeku. Saat tubuh Yudi melintang di hadapannya karena membuka pintu.. Demi Tuhan. Stella sangat merindukan sosok Yudi. Aroma tubuhnya, wajahnya yang tampan, dan apapun itu yang berhubungan dengan pria itu.
"Turunlah!" pinta Yudi sekali lagi. Meminta Stella untuk turun untuk yang kesekian kalinya.
Mendengar nada suara Yudi yang mulai meninggi, Stella memilih mengalah saja. Dengan berat hati ia turun dan menutup pintu mobil. Padahal Stella masih ingin mencari Alena. Tidak. Tepatnya ingin bersama pria itu lebih lama lagi.
Begitu Stella turun dari mobil, Yudi langsung menancap gas. Segera pulang untuk menemui Arjuna. Dengan harapan putranya itu tidak marah karena Alena menghilang.
Tiga puluh menit kemudian …
Kedua alis Yudi nyaris bertaut. Melihat sebuah mobil mewah yang tak asing baginya ikut masuk ke pekarangan rumahnya. Pria itu ingat betul mobil mewah tersebut milik Riswan Adijaya. Rekan bisnisnya yang begitu berpengaruh di perusahaan.
"Suatu kehormatan rumah ini dikunjungi oleh pengusaha sukses seperti anda, Tuan Riawan Adijaya!" ucap Yudi. Saat ia dan Iwan sama-sama keluar dari mobil.
"Jangan terlalu formal begitu, Yudi. Ini bukan kantor. Bukankah kita bisa berteman saat di luar kantor?" timpa Iwan. Seraya membuka pintu mobil untuk Alena.
"Om …!" pekik Alena. Langsung berlari dan memeluk Yudi.
"Lena?" gumam Yudi. Sangat terkejut melihat Alena keluar dari mobil Iwan.
Iwan mengusap tengkuknya yang tiba-tiba saja meremang. Lumayan takut seandainya Alena bercerita tentang apa yang terjadi pada mereka di mobil.
"Aku menemukan Alena di halte bus. Dan aku meminjam ponselnya untuk menghubungi supir karena ban mobilku bocor. Sebagai imbalannya, aku mengantarkan dia pulang kesini. Karena dia tidak tahu jalan pulang. Dan aku tidak menyangka gadis ini benar-benar keponakanmu," tutur Iwan. Sedikit menjelaskan kronologi pertemuannya dengan Alena.
Yudi yang ingin mengajukan pertanyaan, mengurungkan niatnya. Karena Iwan sudah menceritakan apa yang terjadi secara garis besar. Sisanya, nanti ia akan bertanya kepada Alena saja.
"Terima kasih sudah mau direpotkan oleh keponakanku ini, Wan." Membalas pelukan Alena. Karena bagi Yudi gadis itu tak lebih dari seorang keponakan. Walaupun ia sempat terpesona melihat penampilannya.
"Aku tidak tahu apa yang akan terjadi dengannya, seandainya tidak bertemu denganmu," ungkap Yudi. Tulus dari dalam hatinya paling dalam.
Iwan mengangguk. "Kalau begitu aku pamit dulu. Sudah malam juga. Dan katakan pada keponakanmu, untuk mengingat alamat rumah sebelum keluar.. Agar hal ini tidak terjadi lagi."
"Tentu saja! Ini bisa menjadi pembelajaran bagiku dan keluarga." Yudi mengulas senyum dan sedikit membungkukkan tubuhnya. Sebagai tanda terima kasih atas jasa Iwan, yang dengan senang hati mau mengantarkan Alena pulang.
"Sama-sama, Yud!" ucap Iwan. Sebelum masuk ke dalam mobilnya.
Yudi mengangguk sekali lagi, dan berucap pada Alena.
"Ayo katakan terima kasih."
Gadis itu menggelengkan kepalanya. "Aku tidak mau, Om."
"Loh, kenapa? Kalau tidak ada dia saat ini kamu masih luntang lantung di jalanan, Len."
"Aku lebih suka luntang lantung di jalanan, Om. Dibandingkan hutang budi pada om-om mes'um itu..Om tau, nggak? Tadi nyaris saja dia mencium bibirku!" gerutu Alena. Dengan bibir yang mengerucut sempurna.
"A-apa?" Yudi tersentak. Tidak percaya apa yang dikatakan oleh Alena. Mana mungkin pria sedingin dan sekaku Iwan mampu melakukan hal tersebut. Setahunya pria itu tidak pernah terdengar memiliki kekasih. Bahkan ada gosip yang mengatakan bahwa Iwan adalah pecinta sesama jenis.