"Sepertinya kamu sedang patah hati." Iwan menyerahkan satu gelas minuman kepada Karin. Gadis itu menoleh. Matanya mengerjap beberapa kali saat melihat kepada Iwan. "Sepertinya wajahmu tidak asing bagiku. Apakah kita berdua saling mengenal?" Bukannya menjawab Karin malah bertanya kepada Iwan. Iwan berpikir sejenak. Mengingat siapa gadis yang ada di hadapannya kini. "Ah, aku tahu … kamu sekretaris Yudi Fernando, bukan? Ck, atasanmu itu sudah mengambil kekasihku. Padahal begitu banyak wanita diluar sana, termasuk kamu. Kenapa harus kekasihku yang dijadikan istri?" cecar Iwan. Semakin mendekati Karin yang berusaha menjaga kesadarannya. "Jangan salahkah aku. Aku sendiri sedang patah hati. Kamu tahu, tiga tahun bekerja di sana, belum bisa membuatnya jatuh cinta padaku. Padahal aku tidak

