Outfit Berbahaya Pilihan Jo

2019 Kata
Aku terbangun dengan rasa berat yang masih menekan kelopak mataku. Cahaya pagi masuk lewat celah tirai, membuat kamar terasa jauh lebih terang dibandingkan semalam. Beberapa saat aku hanya berbaring, menarik dan menghembuskan napas pelan, mencoba menangkap sisa mimpi yang perlahan menghilang. Tanganku bergerak ke samping, lalu ke sisi lainnya. Kosong. Kemana mereka? Aku berusaha membuka mata lebih lebar dan meraih ponsel di meja kecil di dekat ranjang. Layarnya menyala, menunjukkan pukul tujuh. Pagi sudah berjalan, dan aku sendirian di kamar. Jo tidak ada. Chatrin juga tidak. Seprai yang semalam masih terasa hangat kini dingin dan rapi, seolah-olah sejak awal aku tidur sendiri. Kamar terasa terlalu sunyi. Tidak ada suara langkah, tidak ada obrolan pelan, tidak ada tanda-tanda orang lain selain napasku sendiri. Jo dan Chatrin jelas sudah bangun lebih dulu. Aku duduk di ranjang dan mengusap wajah, mencoba benar-benar sadar dan menyesuaikan diri dengan pagi. Saat itulah aku mendengar sesuatu. Pelan. Tidak jelas. Suara napas yang terdengar lebih berat dari biasanya. Ada irama yang tidak asing, diselingi desahan yang seolah ditahan. Suara itu datang dari arah ruang tengah. Aku terdiam. Bukan karena terkejut. Lebih karena naluriku langsung mengerti apa yang sedang terjadi. Dadaku naik turun perlahan. Aku tidak merasa marah. Tidak juga diliputi cemburu. Yang ada justru perasaan aneh, campuran antara sadar, waspada, dan keinginan untuk memastikan dengan mata kepala sendiri. Aku terdiam beberapa detik, memastikan pikiranku benar-benar jernih. Lalu aku bangkit dari ranjang dan melangkah keluar kamar dengan gerakan pelan. Setiap langkah kakiku di lantai terdengar jelas di telingaku. Semakin dekat ke ruang tengah, suara itu makin terasa—ritmenya tenang dan intim, seperti dua orang yang sepenuhnya tenggelam dalam momen yang mereka ciptakan. Dan di sanalah mereka. Jo dan Chatrin berada di sofa. Dengan tubuh Chatrin ada di atas, bergerak naik turun. Tidak ada kepanikan, tidak ada gerakan terburu-buru. Semuanya terlihat mengalir, seolah mereka lupa waktu dan lupa tempat. “Ahh… ahhhh… ahh… ahhh…” suara desahan Chatrin terdengar merdu di telingaku. Aku berdiri beberapa langkah dari mereka, mencoba mencerna apa yang aku lihat. Beberapa detik kemudian, Jo membuka mata dan langsung menyadari keberadaanku. Ia tidak tampak kaget. Sebaliknya, senyum kecil muncul di wajahnya, dengan napas yang masih belum sepenuhnya tenang. “Pagi, Ra,” katanya pelan. Chatrin ikut menoleh. Pipinya tampak hangat, matanya sempat melebar sesaat sebelum ia tersenyum kecil. Ada rasa canggung di sana, tapi ia tidak menjauh. “Ssshhh… Pagi, Mbak,” ucapnya lirih. Tidak ada dari Jo atau Chatrin yang berhenti. Tidak ada kepanikan, tidak ada usaha untuk menutupi apa pun. Mereka hanya menyapaku, seolah kehadiranku memang bagian wajar dari pagi itu. Aku menyandarkan punggung ke dinding dekat pintu dan menyilangkan tangan di d**a. Anehnya, aku tidak merasa marah. Tidak juga cemburu. Yang kurasakan justru kesadaran penuh akan posisiku di antara mereka. “Oh,” kataku pelan, suaraku masih serak karena baru bangun. “Pantes rumahnya berisik.” Jo terkekeh singkat. “Maafin kalau buat kamu bangun.” Aku menggeleng kecil, sudut bibirku terangkat sedikit. “Enggak, aman kok,” jawabku jujur. “Aku cuma kebangun aja.” Jo menghela napas panjang, lalu bicara dengan suara rendah tapi jelas. “Ra, kamu mandi dulu aja, ya.” Nada suaranya tidak terdengar seperti perintah. Lebih seperti permintaan yang sudah dipikirkan matang-matang, seolah ia ingin memastikan aku baik-baik saja. “Nanti kalau aku udah selesai sama Chatrin, kita nyusul.” Aku mengangguk pelan. “Iya Jo,” jawabku singkat. “Santai aja.” Tidak ada rasa tersingkir. Tidak ada cemburu yang terasa menusuk. Yang ada justru kejelasan—tentang peranku, tentang pilihan yang kuambil, dan tentang kepercayaan yang kami bangun semalam. Aku berbalik menuju kamar mandi dengan langkah ringan. Pintu kututup perlahan, menyisakan ruang di luar sana tanpa rasa berat. Di dalam, aku menarik napas panjang. Air akan membersihkan tubuhku. Tapi pagi ini, yang terasa paling tenang justru hatiku—karena aku tahu kapan harus mendekat, dan kapan memberi ruang. Dan bagiku, itulah bentuk kedewasaan yang paling nyata. Aku berdiri cukup lama di bawah pancuran, lebih lama dari biasanya. Air hangat mengalir di punggungku, menenggelamkan suara rumah yang kini kembali sunyi. Ada bagian kecil dari diriku yang berharap mendengar langkah kaki mendekat, suara Jo memanggil namaku, atau Chatrin menyusul dengan komentar ringannya. Tapi tidak ada. Hanya suara air yang jatuh, dan pikiranku sendiri yang berdetak pelan, menemani diam itu. Aku menunggu beberapa menit lagi, lalu tersenyum kecil pada diriku sendiri. Ada rasa geli saat menyadari aku menunggu sesuatu yang sebenarnya tidak perlu ditunggu, walau sebenarnya aku juga menginginkan hal itu. Mereka tahu aku di sini. Dan aku juga tahu, pagi ini tidak harus dijalani bersama sejak awal. Aku akhirnya mematikan shower. Setelah mengeringkan tubuh dengan handuk, aku merapikan rambut seadanya dan mengenakan jubah tipis sebelum kembali ke kamar. Langkahku terasa ringan, pikiranku sudah mulai bergeser ke hal-hal biasa: pekerjaan, jadwal, dan dunia di luar rumah ini. Begitu pintu kamar kubuka, aku berhenti sejenak. Jo dan Chatrin ada di sana. Keduanya masih telanjang, berdiri di depan lemari pakaianku yang terbuka, seolah kamar itu sudah menjadi ruang pribadi mereka sejak awal. Chatrin memegang beberapa potong pakaian, terlihat ragu memilih, sementara Jo tampak jauh lebih santai—bahkan terlalu akrab dengan isi lemariku. Jo menoleh lebih dulu dan tersenyum kecil. “Oh, udah selesai mandi.” “Iya,” jawabku singkat. Aku menyandarkan bahu di kusen pintu. “Kalian lagi ngapain?” “Nyari baju,” kata Chatrin jujur sambil mengangkat satu atasan. “Aku nggak tahu mana yang boleh kupakai.” Aku tertawa pelan. “Ambil aja yang buat kamu nyaman.” Di sisi lain, Jo sudah menarik satu set pakaian dari gantungan. Ia menilainya sebentar, lalu mengangguk puas, seolah baru saja mengambil keputusan penting. “Ini,” katanya sambil menoleh ke arahku. “Kamu pakai ini buat kerja hari ini.” Jo lalu mengangkat satu set pakaian dari gantungan. Kali ini pilihannya jelas. Atasan off-shoulder berwarna putih gading, potongannya pas di badan dan membentuk siluet yang feminin tanpa berlebihan. Dipasangkan dengan rok pendek putih di atas lutut, dengan aksen ruffle bertingkat yang memberi kesan ringan dan rapi, lalu sepatu yang mempertegas kaki. Semuanya… sangat seksi, jauh dari pilihanku sehari-hari untuk ke kantor. Aku menatap pakaian itu beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya. Ada dorongan untuk memprotes, ingin bilang terlalu terbuka, terlalu berani, terlalu menunjukkan diriku. Tapi aku tahu, hanya dari tatapan Jo. Itu tatapan seseorang yang sudah memutuskan, dan yakin aku akan menurut padanya begitu saja. “Jo… ini terlalu seksi,” gumamku pelan. Jo tersenyum tipis. Bukan senyum yang menggoda, melainkan penuh keyakinan. “Aku tahu, justru itu aku mau kamu pakai itu.” Chatrin melirik ke arahku sekilas, lalu tersenyum kecil. Tidak berkata apa-apa, tapi ekspresinya seperti mengatakan bahwa pilihan itu memang pas untukku. Aku lalu menarik napas dalam-dalam. “Kalau kamu sudah mutusin gitu…” kataku pelan, lalu mengangguk kecil, “…aku bakal pakai.” Ia lalu mengangguk singkat, seolah yang ia hargai bukan hasil akhirnya, tapi keputusanku sendiri. “Nah gitu lho nurut,” katanya singkat. Aku mengambil pakaian itu dari tangannya. Saat jemariku bersentuhan dengan jemarinya, ada getaran halus yang sulit dijelaskan, seolah seperti rasa percaya yang terbangun tanpa perlu kata-kata. Aku lalu berdiri di depan lemari, membelakangi mereka berdua. Pakaian pilihan Jo sudah kugantung rapi di gagang lemari. Tanganku meraih laci paling bawah, tempat aku biasa menyimpan pakaian dalam untuk bekerja. Belum sempat laci itu terbuka penuh, suara Jo terdengar dari belakangku. Tenang, tapi jelas. “Ra.” Aku berhenti. “Pakai tanktop aja,” lanjutnya. “Nggak usah yang lain.” Tanganku diam di pegangan laci. Aku menoleh setengah badan ke arahnya. Tatapan kami bertemu. Tidak ada tekanan, tidak ada nada memaksa. Hanya keputusan yang sudah ia ambil, dan disampaikannya apa adanya. Aku terdiam beberapa detik. Tanganku masih menahan pintu laci yang setengah terbuka. Ada kebiasaan lama yang muncul begitu saja—soal rasa aman, aturan yang biasanya kuikuti tanpa banyak berpikir. Tapi pagi ini memang terasa berbeda. Sejak awal aku tahu aku punya pilihan, dan kata-kata Jo bukan jebakan atau paksaan. Aku menutup laci itu perlahan. “Oke,” jawabku singkat. Aku menarik sebuah tanktop tipis dari tumpukan di rak, lalu memakainya. Bahannya ringan, hampir tidak terasa di kulit. Setelah itu, aku meraih atasan off-shoulder berwarna putih gading pilihan Jo. Saat kupakai, potongannya jatuh pas di badanku, membentuk siluet yang feminin dan rapi tanpa terasa berlebihan. Bahuku terbuka dengan cara yang tenang dan elegan. Aku melanjutkan dengan rok pendek putih di atas lutut, dengan lipit bertingkat yang memberi kesan manis dan ringan. Rok itu bergerak lembut saat aku melangkah, membuat keseluruhan tampilan terasa lebih hidup, lebih berani, tapi tetap terkendali. Aku lalu merapikan semuanya di depan cermin. Ada sensasi yang jelas muncul di dadaku. Aku merasa sangat seksi. Bukan karena siapa pun yang melihat, tapi karena aku sadar sepenuhnya pada apa yang kupakai dan kenapa aku memakainya. Ada ketegangan kecil yang bercampur dengan rasa percaya diri yang jarang kurasakan, tapi kali ini nyata dan tidak perlu disangkal. Sementara aku mulai mengenakan pakaianku, Jo beralih ke Chatrin. Aku melihatnya dari pantulan cermin. Ia memilihkan baju untuknya. Potongannya berani, hampir seperti milikku, tetapi tetap terasa pas untuk Chatrin. Tidak berlebihan dan tidak meniru. Jo tampak benar-benar memperhatikan perbedaan kami. Tank top itu tanpa lengan, potongannya crop dan berhenti tepat di atas pinggang. Lehernya bulat. Bahannya terlihat lentur dan pas di badan, mengikuti garis tubuh dengan alami. Jo lalu mengambil celana pendek dengan pinggang karet dan tali serut. Sederhana dan santai, tapi cukup terbuka tanpa perlu dijelaskan. “Pakai ini,” kata Jo pada Chatrin. Chatrin menatap pakaian itu sebentar, lalu menoleh ke arahku. Ada senyum di wajahnya. Sedikit canggung, tapi tidak ragu. Lalu ia mengangguk pelan. “Oke, Mas.” Ia mengenakan pakaian itu tanpa banyak komentar, tanpa drama. Tank top tersebut pas di tubuhnya. Bahannya mengikuti bahu dan pinggangnya dengan lembut. Celana pendeknya ringan dan santai, cukup terbuka hingga menonjolkan kaki jenjangnya. Tidak ada pakaian dalam, sama seperti yang Jo arahkan tadi. Aku memperhatikan semuanya dengan perasaan yang sulit dirumuskan. Tidak ada rasa iri. Tidak ada perasaan dibandingkan. Yang terasa justru kejelasan. Jo bersikap konsisten. Apa yang menurutnya tepat, ia terapkan dengan cara yang sama. Dan entah kenapa, melihat itu membuatku merasa tenang. Setelah semuanya siap, aku kembali memusatkan perhatian pada diriku sendiri. Aku mengambil tas kerja, memasukkan barang-barang seperlunya, lalu mengenakan sepatu. Gerakanku teratur, seperti rutinitas pagi sebelum bekerja. Namun ada rasa lain yang menyertai. Aku sepenuhnya sadar akan tubuhku, pakaian yang kupakai, dan pilihan yang kuambil pagi ini. Aku terlihat berbeda. Lebih berani. Lebih terbuka. Namun itu bukan hal yang paling mengejutkanku. Yang paling terasa justru satu hal lain: aku tidak kehilangan kendali. Sebaliknya, aku sedang memegangnya. Aku menjalani semua ini dengan caraku sendiri. Dan pagi itu, sebelum melangkah keluar kamar, aku tahu satu hal dengan pasti. Apa pun yang orang lihat dariku hari ini, keputusan itu tetap milikku. Jo dan Chatrin bersiap pergi lebih dulu. Mereka akan menuju rumah Chatrin. Helm sudah di tangan mereka saat aku sampai di depan. Sebelum mereka melangkah keluar, aku lalu menghampiri Jo. Tanpa berkata apa-apa, aku menunduk dan mencium punggung tangannya. Gestur itu sederhana, tapi terasa bermakna bagiku. “Hati-hati,” katanya singkat. “Iya, kalian juga,” jawabku. Aku lalu menutup dan mengunci pintu. Sementara itu, Jo membuka pagar dan mengeluarkan motor Chatrin. Setelah mereka siap, aku menyusul mengeluarkan motorku sendiri. Jo lalu menutup pagar kembali, dan aku menguncinya dari luar. Semua dilakukan tanpa tergesa, seolah sudah menjadi kesepakatan diam-diam. Di luar, kami berpisah dengan cara yang alami. Aku menyalakan motorku dan melaju lebih dulu, sendirian. Angin pagi menyentuh lenganku yang sedikit terbuka, dan rokku bergerak pelan mengikuti laju kendaraan. Aku merasa benar-benar hadir di tubuhku sendiri. Tak lama kemudian, aku melihat mereka dari belakang. Jo yang mengendarai motor, Chatrin dibonceng di belakang. Tangan Jo memegang setir dengan tenang, sementara Chatrin duduk dekat, posisinya nyaman, seolah itu sudah biasa bagi mereka. Di persimpangan, kami melambat dan menunggu sebentar sampai kondisi jalan lebih sepi. Aku menoleh sekilas. Jo membalas tatapanku dengan anggukan kecil. Chatrin tersenyum tipis. Saat jalanan terbuka, kami melaju. Kami bergerak ke arah yang berbeda, tanpa rasa kehilangan dan tanpa drama. Hanya tiga orang dewasa yang tahu ke mana mereka pergi, dan mengapa mereka memilih jalan itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN