Bab 3

2483 Kata
Setibanya Rhea di sekolah, ia langsung menuju ruang guru. Napasnya tersengal-sengal ketika sampai di sana. "Kakak, Adek?" Rhea menyapa kedua anaknya yang duduk diluar ruangan. "Ibuunn/ibun ..." seru keduanya yang langsung menghambur kepelukan Rhea. "Kalian nggak kenapa-kenapa kan?" Tanya Rhea sambil menatap dengan teliti kedua anaknya. Mahesa dan Noah mengangguk. Rhea sedikit lega melihatnya, kedua anaknya baik-baik saja. Hanya saja seragam sekolah mereka tidak baik. "Yaudah, Ibun ke dalam dulu yah. Kakak sama Adek tunggu di sini." Lagi, kedua anaknya itu mengangguk patuh. "Selamat siang, Bu." Rhea masuk ke dalam menyapa wali kelasnya si kembar. "Siang, terima kasih Ibu sudah hadir. Silakan duduk." Rhea mengangguk lalu duduk di hadapan wali kelas anak-anaknya. "Begini Ibu, saya baru kali ini melihat Mahesa lepas kendali. Dia memukul wajah Rio sampai wajahnya memar," Waduh, memar? Mahesa pasti memukul dengan kekuatan penuh. Perasaan yang mengikuti taekwondo itu Noah tapi kenapa Mahesa yang mempraktekannya. "Seperti yang Ibu katakan, Mahesa anak yang kalem. Dia pasti memiliki alasan kuat sehingga memukul temannya." "Benar, Bu. Namun, meskipun begitu tetap saja itu tidak dibenarkan." Rhea menghela napasnya, dia tahu sih wali kelasnya itu ingin memberi hukuman pada Mahesa. Namun, penjelasannya bertele-tele dan dia tidak menyukainya. "Langsung saja, Bu. Mahesa di skors berapa hari?" Wali kelas si kembar tersentak kaget mendengarnya. "Maaf, Bu---" "Tidak apa-apa, Bu saya mengerti." Tak lupa Rhea menampilkan senyum profesionalnya. "Satu Minggu, maaf Noah juga. Karena awal mula masalah ini dengan Noah." Rhea mengangguk saja, tak ingin membuang-buang waktunya lagi. "Kalau begitu, saya permisi!" Rhea bangkit dari duduknya kemudian pergi setelah menyalami wali kelas si kembar. Namun, sebelum Rhea membuka pintu ruangan guru tersebut, wali kelas Mahesa dan Noah bersuara. "Maaf, Bu sedikit saran. Tolong diberitahu ayahnya juga, karena peran ayahnya juga di sini penting. Kecuali kalau tidak ada ayahnya, saya maklum." Kedua tangan Rhea mengepal kuat, kemudian ia membuka pintu lalu keluar. Mahesa dan Noah masih menunggu dengan wajah bosan. "Ayo boys, kita pulang. Ibun mau bicara sama kalian." Si kembar tak seiras itu mengangguk patuh, mereka berjalan di depan Rhea. Perasaan si kembar jelas saja tidak karuan, ia takut pada ibunya itu. Sudah pasti mereka akan di omeli habis-habisan. "Jadi, siapa yang mau jelasin ke Ibun, alasan kalian berantem?" Rhea menatap kedua anaknya lewat kaca mobil di dalam. Kali ini noah duduk di depan, sedangkan Mahesa di belakang. Mahesa tidak berani duduk di samping ibunya, karena dia merasa bersalah. "Ini gara-gara Rio, Adek gak mau main sama dia Ibunnn ... tapi Rio maksa terus." Mulai Noah. "Habis itu Rio tiba-tiba ngatain Adek banci." Dumelnya dengan bibir yang ia majukan ke dalam. Sangat lucu sekali. "Kurang ajar ngatain Adek banci!" Rupanya Rhea ikut-kutan panas. Sedangkan Mahesa diam saja, dia masih merasa bersalah pada sang ibu. Jadi dia hanya mendengarkan saja. "Iya kan, Adek jawab lah. Adek ganteng gini, dari mananya banci! Eh Rio terus aja ngatain Adek banci. Terus Kak Mahesa nyamperin kita, awalnya Rio diem karena kak Mahesa datang. Eh gak lama dia ngatain lagi, terus dia bilang. Udah banci gak punya ayah lagi, dasar yatim! Gak lama bilang itu, Kak Mahesa nonjok mukanya Rio. Adek ikutan sih, jambak rambut Rio. Habisnya Adek marah!" Sial, wajar saja anaknya itu lepas kendali. Temannya itu saja yang keterlaluan, apa-apaan mengatai kedua anaknya banci dan yatim. Dia saja panas sebagai ibunya, mendengar anaknya dirundung seperti itu. "Kurang ajar! Dasar anak nakal! Bagus Kakak, Adek. Si Rio, Rio itu udah kurang ajar sama kalian!" "Ibun, nggak marah sama Kakak?" Rhea menatap anak sulungnya itu dari kaca. "Nggak, Ibun gak marah sama kalian. Kali ini tindakan kalian udah benar, enak aja anak-anak Ibun dihina begitu. Dia pikir dia siapa, huh!" "Nanti lawan aja lagi kalau dia buat ulah, sekali lagi dia bikin kalian marah. Ibun laporin balik dia!" Kedua anaknya itu tersenyum lebar, perasaan lega hinggap dihati Mahesa. Dia merasa tenang, karena ibunya tidak marah kepadanya. "Yeay! Emang ibun paling the best." Seru Noah senang. Rhea terkekeh melihatnya, ia mengelus rambut ikal Noah pun dirinya melihat Mahesa yang ikut tertawa juga akibat ucapan sang adik. *** "Hah! Apa? Si kakak nonjok temennya?!" Pekik Tere begitu duduk di sofa rumah Rhea. Sebelum Rhea dan Tere ke restoran, Tere diminta untuk ke rumahnya dahulu membawa beberapa bahan yang diperlukan di sana. Tere setuju saja, lantaran dirinya juga sedang libur bekerja. "Iya, gue gak tau sih muka anaknya kayak gimana. Cuman kata gurunya, wajahnya memar. Mungkin sekarang bengkak kali yah," "Uh gue gak bisa bayangin, sakitnya gimana coba. Itu si kakak aja gak ikutan taekwondo kebayang kalau dia ikutan. Apa gak berdarah tuh muka dibogem, haha ..." "Hus, sembarangan kalau ngomong." "Lagian yah, tuh bocah kecil-kecil udah ngebully, mau jadi apa nanti gedenya?" "Makanya itu, gue gak marahin si kembar. Biar tuh anak kapok. Tapi, yang paling sebel gurunya sih." Tere langsung mengangkat kedua kakinya, menjadi bersila. Sambil tubuhnya miring ke arah Rhea. Posisi paling enak untuk mendengarkan gosip. "Sumpah yah, Rhe. Kayaknya bukan murid aja yang kurang ajar, tuh buibu satu juga sama. Gak sopan, apa maksudnya coba nyindir elo!" "Gue awalnya biasa aja, gue maklumin. Tapi kok, makin sini makin rese. Kek sengaja apa emang gak tau?!" "Ck, kagak tau aja bapaknya si kembar siapa!" "Jerry Gautama!" Tanpa disadari oleh wanita dewasa itu, dua bocah kembar yang akan menghampiri mereka pada awalnya, seketika menghentikan langkahnya. Mereka jelas saja kaget, karena baru kali ini dia mendengar sangat jelas nama ayah mereka siapa. Mereka senang, tentu saja. Karena akhirnya dia tahu jika ayahnya masih hidup. Selama ini jika mereka bertanya mengenai ayahnya, sang ibu selalu mengalihkan pembicaraan. Dan seperti tidak mau membahasnya, atau wajah sang ibu selalu berubah menjadi sedih. Oleh karena itu si kembar mengira jika ayahnya telah tiada. Lalu obrolan kembali di lanjut, Mahesa dan Noah kemudian meninggalkan tempat persembunyiannya. Mereka masuk ke dalam ruang bermain lagi, takut ibu mereka mengetahui tindakannya. Dan benar dugaannya tak lama setelah mereka kembali bermain, pintu ruang bermain mereka diketuk oleh Rhea. "Boys, Ibun mau ke resto. Kalian mau ikut?" Tanya Rhea setelah masuk ke dalam. Kedua bocah itu sepakat menggelengkan kepalanya. "Nggak, kami mau di sini aja." "Yakin? Ibun malam pulangnya sayang, ikut aja yuk." "Nggak, Ibun. Kita mau di sini aja, kita udah besar juga kok. Ingat, kita udah 9 tahun!" Seru Mahesa yang diangguki oleh adiknya. Rhea menghela napasnya, pasrah. "Yaudah kalau gitu, ingat jangan aneh-aneh. Kalau mau ke resto, bilang Ibun. Nanti Ibun jemput," "Siapp/siap bos." Rhea terkekeh kemudian maju mendekati sang anak lalu menciumi seluruh wajah si kembar. "Uh huuh. Adek udah besar gak usah cium-cium!" Dumel Noah tidak suka. "Aish udah besar yah, yaudah kalau gak mau dicium, Ibun nanti mau cium Kakak aja. Kakak masih mau kan Ibun cium-cium?" Mahesa diam err sebenarnya yang dikatakan adiknya itu benar. Tapi, dia juga menyukai perhatian yang diberikan ibunya seperti ini. "Asal tidak cium-cium di sekolah, boleh." Jawab Mahesa membuat senyum lebar di wajah Rhea. Berbeda dengan Noah yang sudah memasang wajah tak suka. "Kakak kok gitu! Kenapa gak samaan!" "Yah kan itu Adek, bukan kakak." "Tau ah, Adek sebel!" Mulai drama ... "Oke,oke Ibun pergi dulu yah, makanan udah Ibun siapin, camilan kesukaan kalian juga ada di tempat biasa." Kembali si kembar menganggukan kepalanya. Setelah itu Rhea benar-benar pergi meninggalkan si kembar. Setelah kepergian sang ibu beberapa saat lalu, mereka berdua lalu bergegas meninggalkan ruang bermain. "Adek ayok, kita cari kartu nama papa." Noah mengangguk semangat, mereka mulai mencari di ruang kerja sang mama. Susah sekali rasanya mereka mencari, karena sudah setengah jam mereka tidak menemukannya juga. "Adek capek! Kakak aja yang carinya ah." Noah berjalan menuju sofa, lalu duduk membiarkan sang kakak yang terus mencari. Mahesa sendiri dia juga sebenarnya sudah lelah, tapi dia tidak boleh menyerah untuk mendapatkan kartu nama ayahnya itu. Dia harus mendapatkannya, mumpung ruang kerja sang ibu tidak dikunci juga. Sampai kemudian dia mendapatkan apa yang dicarinya dilaci paling bawah meja kerja sang ibu. "Dapat! Adek! Kakak dapat kartunya!" Serunya senang. Noah yang sedang bersantai lantas terperanjat kaget. Ia segera menghampiri kakaknya itu. "Mana Kak, mana?" Mahesa memperlihatkan kartu nama yang dicarinya. "Asyik! Kita ketemu papa, kita ketemu papa! Ayok Kakak kita pergi sekarang." Mahesa setuju, namun sebelum pergi mereka kembali membereskan dahulu kekacauan yang dibuat di ruang kerja sang ibu. Takut, jika ibunya itu tahu jika mereka ke sini. "Oke, kita pergi." *** Si kembar turun dari taxi yang dipesannya, mereka lalu menatap perusahaan di depannya. "Woah! Besar banget, Kakak!" "Iya, Adek." "Papa kita kaya berarti, yah. Asyiikk." "Ssttt. Adek diem ih, norak. Nanti kalau denger sama orang lain gimana? Jangan malu-maluin Kakak!" Noah memajukan bibirnya lucu. "Maaf Kakak." "Yaudah ayok masuk ke dalem, kita tanyain papa." Mahesa menggandeng tangan Noah. Mereka berjalan bersisian masuk ke dalam perusahaan besar tersebut. Seorang resepsionis menatap bingung kedua bocah yang berdiri di depannya. Anak-anak itu terlihat tampan, wajah salah satunya terlihat mirip dengan seseorang, namun dia lupa mirip dengan siapa. "Hallo, Adek-adek. Ada yang bisa Tante bantu?" Noah mengacungkan tangannya tinggi sambil meloncat-loncat. "Adek, adek! Adek mau ketemu Papa." "Hah!" Sang resepsionis tersebut bingung, papa? Siapa yang dimaksud? Apa klien pak Gautama? "Sstt Adek! Mending Adek diem. Biar Kakak aja yang ngomong!" Noah mengerucutkan bibirnya lucu, sangat menggemaskan batin Rere sang resepsionis tersebut. "Tante, apa tante tau di mana ruangan pak Jerry Gautama?" Mata Rere membola kaget mendengar pertanyaan bocah di depannya itu. "Tante boleh tahu, ada keperluan apa kalian cari pak Jerry?" "Aduh tante, kita itu mau ketemu papa kita!" Noah tidak sabaran, dan kembali berseru mendahului sang kakak. "Papa adek siapa namanya?" "Jerry, Jerry Gautama." Kembali Noah membalas. Rere sang resepsionis jelas saja tidak percaya, mana mungkin dua bocah ini anak atasannya. Beh sulit dipercaya. "Maaf Adek, sepertinya Adek-adek datang di saat yang tidak tepat. Bapak Gautama tidak ada di sini, beliau sudah pergi." Dustanya. Rere tidak mau mendapat masalah, pekerjaannya bisa dipertaruhkan di sini. "Yaahhhh ..." seru Mahesa dan Noah. Jelas sekali mereka kecewa. "Kakak, Adek mau pipis." Noah berbisik pada Mahesa namun bisikannya jelas dapat terdengar jelas oleh Rere. "Tante, boleh kasih tau kami di mana toiletnya? Adek saya mau pipis." Aih Rere gemas sekali melihat Mahesa yang lebih tua dari Noah begitu perhatian pada sang adik. "Tentu, kalian lurus saja dari sini yah. Setelah itu belok kanan, nanti di sana ada toilet yang dekat dengan lift." Mahesa mengangguk-anggukan kepalanya mengerti. Mereka berdua lantas pamit setelah mengucapkan terima kasih pada Rere. "Udah adek?" Tanya Mahesa ketika melihat Noah keluar dari dalam bilik toilet. Noah mengangguk. "Ayok kita pulang," ajak Mahesa namun ditahan oleh Noah. "Kakak, ayo kita cari papa lagi." "Adek nggak denger tadi tante yang di depan bilang apa?" "Ish kita bisa tunggu, Kakak. Mumpung Ibun pulang sore," Mahesa membenarkan perkataan sang adik. "Yaudah, kalau gitu mau cari dimana?" "Ayok kita cari ke atas?" Mahesa setuju, ia dan adiknya lalu berjalan menuju lift. Mahesa memencet tombol yang ada di sana, membuat lift itu terbuka. Buru-buru mereka berdua masuk ke dalam. "Terus kita pencet nomor berapa yah, Adek?" Mahesa mendongak menatap angka-angka yang berada di atas kepalanya. "Paling atas aja, Kakak." "Beneran?" "Iya, kalau gak ada kita cari aja nanti tiap angka." "Bener juga, Adek." "Ayok, kakak gendong. Adek nanti yang klik tombol nya oke?" Noah mengangguk, ia mengikuti perintah sang kakak untuk naik ke atas punggungnya. Lalu memencet tombol paling atas. Mereka sudah tinggi jelas, tapi kan tombol-tombol lift di atas melebihi tinggi mereka. Untung saja sedari tadi lift yang mereka naiki kosong, kedua bocah itu jadi lebih leluasa. Karena jujur saja mereka takut ditanyai macam-macam oleh orang lain. Tak lama kemudian lift berhenti, kedua bocah nakal itu keluar dari lift. Mereka berdua lantas kebingungan melihat di lantai ini begitu sepi dan mewah. Mereka berdua berjalan mencari ruangan ayah mereka, namun hanya ada 1 ruangan di sana. Di luar pun hanya ada satu meja yang sepertinya ditinggalkan oleh sang pemilik. Karena terbukti meja di sana berantakan oleh kertas-kertas. Mahesa dan Noah lantas menuju pintu di depannya, Mahesa lah yang mengetuk pintu di sana. Namun tak kunjung dibukakan membuat wajah Noah sudah berubah bete. Sampai kemudian Noah lah yang mengetuk pintunya dengan tak sabaran, membuat Mahesa melotot. "Adek! Ish gak boleh gitu! Nanti kalau pintunya rusak gimana?!" "Habisnya gak dibukain terus pintunya. Adek kan sebel, papa lama buka pintunya." "Kalau di dalam sana bukan papa gimana?!" Mahesa masih kesal pada adiknya itu yang suka semaunya. Kan dia takut kalau ada apa-apa dia lagi yang kena marah. Sedang ribut-ributnya kedua bocah itu, mereka tak sadar jika pintu itu sudah terbuka menampilkan sosok pria dewasa yang memandang mereka bingung. "Ekhem!" Pria dewasa itu menegur Mahesa dan Kara. Mahesa dan Noah membalikkan tubuhnya, mendongak memandang pria di belakangnya. "Papa!" Seru Noah senang. Pria itu mengernyitkan keningnya bingung. "Ish Adek! Jangan asal ngomong." "Maaf Oom, maafin Noah yah." "Kalian ke sini mau cari siapa? Orangtua kalian mana?" Pria itu bertanya pada Mahesa dan Noah. Sebenarnya ini bukan kali pertama dia melihat bocah tersesat saat mencari orangtua mereka di kantornya. Hanya saja, dia merasa aneh jikak kedua bocah itu bisa sampai ke lantai tempatnya berada. "Oom tahu pak Jerry Gautama, tidak?" Noah bertanya langsung, menurutnya terlalu lama menunggu sang kakak. "Kita mau ketemu papa, nama papa kita Jerry Gautama. Oom bisa kasih tau kita di mana ruangan papa?" Kini giliran Mahesa yang bertanya. Pria itu diam seribu bahasa, apa maksudnya lelucon ini? "Maaf, sepertinya kalian berdua salah orang. Saya tidak memiliki anak! Apalagi dua!" "Jadi Oom pak Jerry Gautama?" Jerry mengangguk. "Wah, papa Adek tampan." Noah malah mengangumi pria di depannya itu. Entah kenapa Jerry malah tersenyum tipis mendengar kalimat Noah. "Lebih baik, kalian berdua pulang yah. Karena saya memang tidak memiliki anak. Mungkin ibu kalian salah sangka." Sudah biasa seperti ini, banyak wanita yang mengaku-ngaku tidur atau menjalin kasih dengannya. "Iya gitu Kakak? Apa ibun salah?" "Ish, tapi kan kemarin ibun sendiri yang bilang ke tante Tere kalau nama papa itu Jerry Gautama." Iya benar jadi mereka berdua tidak sengaja menguping percakapan sang ibu dan sahabatnya itu. "Boys, boleh kasih tahu Oom siapa Ibu kalian?" Si kembar lalu mengalihkan tatapannya kepada Jerry. "Papa, Papa gak tau nama Ibun?" Noah malah balik bertanya. Jerry menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, dia bingung. Mahesa seolah tahu, jika mungkin saja dulu di masa lalu. Ayahnya dan sang ibu memiliki masalah, sehingga ayahnya tidak mengetahui soal hal ini. "Umm Oom maaf. Apa Oom punya waktu? Aku mau jelasin sedikit yang mungkin Oom ingat." Jerry awalnya ragu, tapi melihat mata si sulung entah mengapa ia luluh. Apalagi melihat adiknya yang terlihat seperti dirinya. "Oke, kalian boleh masuk." Jerry mempersilahkan kedua bocah aneh itu masuk ke dalam ruangannya. "Woah!" Seru Noah ketika masuk ke dalam ruangan Jerry yang terlihat menakjubkan.  Setelah mereka duduk dengan posisi bersisian di sofa panjang, Jerry, Mahesa dan Noah. Mahesa lalu berbicara. "Oom, aku sama Noah lahir bulan Agustus 2015- umur kami 9 tahun. Mungkin Oom ingat?" Jerry dipaksa untuk mengingat kejadian 9 tahun lalu, agak susah mengingat waktu itu, dirinya masih muda. Sampai kemudian Jerry teringat pada suatu kejadian yang membuatnya mengambil keputusan tersebut. "Kalian lahir di LN?" *** TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN