"Lo apa?!" Tere memekik kaget begitu dikabari hamil oleh Rhea.
"Hamil, H A M I L!"
"Gue kira, gak bakal jadi, Rhe."
Rhea malah senyum-senyum sambil mengusap perutnya yang masih rata. Dia senang sekali di dalam perutnya kini ada bayi.
"Terus habis ini gimana?"
"Gimana apanya?" Rhea malah balik bertanya.
"Iya itu, lo emang bener bisa jaga kandungan lo?"
"Lo gak percaya sama gue, Ter?"
"Bukan itu, lo sendirian Rhea. Gue gak bisa selalu datang tepat waktu,"
Rhea menggelengkan kepalanya. "Nggak masalah, doain aja semoga anak gue gak rewel."
Tere menghela napasnya, namun mengangguk saja. Ia mengaminkan doa Rhea.
"Betewe, lo yakin, Rhe bakal balik Indo? Nggak mau apply lamaran di sini aja?"
Rhea menggelengkan kepalanya, "niat gue ke sini udah tercapai, jadi buat apa gue stay di sini. Lagian, gue masih cinta tanah air."
Tere mendengus sebal mendengarnya.
"Gue juga kayaknya mau buka usaha aja deh, lumayan tabungan dari bokap nyokap gue."
Kali ini Tere membenarkan letak duduknya, fokus pada pembicaraan.
"Setuju, bakat lo dari dulu harus disalurkan, Rhe. Lagi pula waktunya flexible juga, lo bisa sambil urus anak."
Rhea mengangguk, ini juga alasannya dia ingin buka usaha. Karena dia akan segera menjadi orangtua, dan jika dia bekerja pada orang lain, dia pasti akan kesulitan.
"Jadi, rencana lo balik ke Indo kapan?"
"Mungkin abis trimester pertama,"
"Bagus deh, gue masih ada temennnya berarti di sini,"
Bumil satu itu mendengus mendengarnya.
***
Rhea terlahir dari keluarga berada, dia sudah selesai kuliah, sejak SMA dirinya sudah hidup sendiri. Orangtuanya sudah memiliki kehidupan baru bersama pasangannya masing-masing. Ketika dirinya ditanya oleh kedua orangtuanya, ingin hidup dengan siapa, Rhea menjawab jika dirinya ingin hidup sendiri. Kedua orangtua Rhea langsung setuju tanpa bertanya lebih jauh. Mungkin bagi mereka, Rhea salah satu penghalang kebahagiaan mereka dengan pasangan masing-masing. Karena terbukti, ketika Rhea sudah tinggal sendiri, kedua orangtua Rhea menghilang. Mereka hanya mengirimkan uang pada Rhea untuk biaya hidupnya, tanpa perlu bertanya bagaimana keadaannya. Karena Rhea seorang anak tunggal, jelas saja dia kesepian. Sampai kemudian terlintas di pikirannya, ketika dia lulus SMA dia ingin memiliki anak suatu saat nanti setelah dirinya siap. Dan benar saja, ketika dirinya telah lulus kuliah, dia langsung menyusul Tere sahabat SMP nya yang berkuliah di LN.
Dan sekarang setelah dirinya mendapatkan apa yang dia mau. Dia akan kembali ke negera asalnya, meninggalkan Tere yang masih sekolah di sini.
"Lo jaga diri baik-baik, ya Rhe. Kalau ada apa-apa hubungin gue,"
Tere melepaskan pelukannya, sambil menghapus air matanya. Dia sedih harus berpisah dengan Rhea meskipun nanti dia juga akan kembali menyusul Rhea setelah study-nya selesai. Tere lantas menunduk dia mengusap perut Rhea yang terlihat membesar.
"Hi jagoan, Onty. Jangan nakal-nakal di sana yah, kasian Mama kalian. Onty tunggu kalian lahir, jangan susahin Mama oke?"
Seolah mengerti dengan ucapan Tere. Bayi yang di dalam kandungan Rhea bergerak, membuat Tere tersenyum senang.
"Aish, Onty seneng deh. Sehat-sehat yah kalian," setelah itu Tere membenarkan tubuhnya.
"Kabarin kalau udah nyampe, awas kalau gue telfon lo harus langsung angkat, jangan bikin gue khawatir!"
Perempuan yang di khawatirkan oleh sahabatnya itu malah terkekeh, merasa lucu mendengarnya. Bukan keluarga sendiri yang mengkhawatirkan dirinya, melainkan orang lain, yang tidak memiliki pertalian darah.
"Siap ibuu. Gue cabut dulu yah, Ter. Lo juga jaga diri baik-baik, jangan maen mulu. Cepet susul gue ke Indo,"
Kali ini giliran Tere yang tertawa.
"Yaudah gue masuk dulu ke dalam yah,"
Dan setelah itu Rhea kembali ke Indo untuk melanjutkan hidupnya bersama dengan anaknya.
***
Rhea mengusap keningnya, dia begitu stress. Anak-anaknya kini berusia tiga tahun dan sedang aktif-aktifnya. Benar, dia ternyata memiliki dua anak kembar, kembar tak seiras. Yang jadi pertanyaan, mengapa bisa anaknya seaktif ini, perasaan dulu dirinya tidak seperti ini. Lalu, dari mana kah ke aktifan anak-anaknya itu berasal? Sudah pasti dari ayahnya.
Baru saja Rhea mengganti baju kedua anaknya, sekarang anaknya itu kembali berulah.
"Astaga!" Rhea memekik kaget melihat dapurnya sudah seperti kapal pecah. Bahan-bahan untuk sampel masakannya kini sudah tidak karuan akibat kedua anaknya.
"Mahesa! Noah!"
Kedua anak kembarnya itu seketika menghentikan aksinya yang tengah memainkan tepung. Mereka lalu berjalan ke arah Rhea sambil tersenyum tanpa raut bersalah.
"Iibuuunn/buuunnn." Seru kedua anaknya yang menghampiri Rhea dengan wajah yang penuh tepung.
Rhea ingin ingin menangis saja rasanya, dia tidak mempunyai babysitter atau asisten rumah tangga. Semua dia lakukan sendiri. Dia bukan pelit, tapi dia tidak mau membuang-buang uang sebelum usaha yang dibangunnya membuahkan hasil. Padahal kalau dia mau, dia bisa menyewa asisten rumah tangga. Tapi, Rhea tidak mau. Lebih baik uangnya ditabung untuk masa depan anak-anaknya kelak.
Itu umur 3 tahun, lain lagi dengan si kembar yang berusia 6 tahun. Mahesa dan Noah sudah masuk taman kanak-kanak. Dan dua minggu sekali dirinya selalu dipanggil oleh guru di sana.
"Bu, maaf yah. Ini Noah kenapa kok lebih nakal dari abangnya yah."
"Maaf yah, Bu. Lain kali saya akan lebih awasin lagi Noah-ya."
"Iya, Bu. Tolong yah. Noah ini kalau diganggu sedikit dan gak mau selalu main pukul, main tendang."
Rhea hanya bisa tersenyum tipis, sambil meminta maaf kepada guru tersebut.
"Astaga! Gue stress!" Teriak Rhea begitu sampai di apartement Tere.
"Kenapa lagi kali ini?" Tere terkekeh melihat Rhea yang berteriak ketika memasuki apartementnya.
"Keponakan kesayangan elu, tuh. Astaga! Gue heran banget sama si Noah. Kok bisa sih dia beda sama kakaknya, gue rasanya stress mulu tiap gue dipanggil ke sekolah. Adaaaaa aja masalahnya." Adu Rhea sambil mendumel.
Tere mendengarnya hanya bisa terkekeh melihat Rhea.
"Wajar kali, Rhe. Anak umur segitu, lagian pasti dia gak akan nakal kalau gak di duluin sama temennya."
"Iya sih, cuman astaga. Gak pake mukul sama nendang aja kali."
"Hahaha. Turunan bokapnya pasti tuh, bukan elo."
"Yakali elo begitu waktu kecil,"
"Haahhhh ..." Rhea mengeluarkan napasnya keras.
Tiba-tiba saja Tere berubah serius, dia menatap Rhea dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Rhe, lo yakin gak akan kasih tau bapaknya soal si kembar?" Tanyanya hati-hati.
Rhea yang sedang menyandarkan kepalanya pada sofa, seketika bangun lalu menatap Tere.
"Nggak! Si kembar anak gue! Bukan anak bapaknya! Gak ada hubungannya sama dia!"
Tere mengangguk, yang dikatakan Rhea benar. Tapi, dia sedikit berharap jika Rhea mau berubah pikiran soal ini.
***
TBC