4. Ijab Kabul || Om Yogi

1612 Kata
Aku berada di kamar Nenek, kamar dindingnya menggunakan wallpaper floral dengan warna dasar mocca. Interior di dalamnya anggun dan elegan. Tempat tidur dengan sisi berwarna emas penuh dengan nuansa klasik. Kamar nenek mertua ala kerajaan Inggris. Aku jadi ingat film ala-ala kerajaan Eropa. Aku duduk di tempat tidur sementara nenek merebahkan tubuh, ia sakit dan harus banyak beristirahat. Itu yang aku dengar dari Mbok tadi. Memang aku bisa melihat wajahnya yang pucat dan ia terlihat lemas. Namun, sejak aku masuk aku bisa melihat jika ia terus tersenyum seraya memegangi tanganku. "Reya, Nenek percaya bahwa kamu bisa menjaga Yogi. Dan kamu adalah gadis yang paling tepat untuk cucu nenek." Nenek berbicara sambil mengusap punggung tanganku. Sejujurnya, ada rasa aneh juga. Bagaimana bisa nenek percaya padaku yang jelas sekali belum mereka kenal dengan baik? "Maaf Nek saya bahkan baru mengenal kalian. Maaf, maksudnya ... Saya mengerti ini perjanjian. Dan sejujurnya saya enggak yakin bisa berinteraksi secara baik dengan suami saya itu. Karena semua terlalu tergesa-gesa." Ini ungkapan hatiku, aku belum bisa membayangkan bagaimana rasanya menjadi seorang istri, atau apa yang harus aku lakukan nanti. Semua masih terlalu awam. "Kamu pasti bisa," ucapnya yakin. "Yogi memang kelihatannya sulit di mengerti. Tapi, sebenarnya tak seperti itu. Yogi hanya perlu perhatian, sejak kecil ayah dan ibunya sibuk pada pekerjaan. Ia hidup sendiri, sementara aku harus di Amerika karena pengobatan almarhum suamiku. Aku sakit, dan sudah tua dan tak Ingin cucuku itu terus hidup sendirian." nada bicara nenek terdengar penuh harap. Keinginan nenek memang baik mungkin. Tapi saat ini aku mulai berpikir. Apa mungkin pria itu benar masih sendiri? Bagaimana jika ia punya kekasih atau wanita yang ia cintai? Bukankah hidup akan lebih baik jika kau menikahi orang yang kau cinta? Atau aku memang naif karena memikirkan hal klise seperti itu? "Apa Om itu enggak punya pacar Nek?" tanyaku memberanikan diri. "Ada seorang wanita yang terus mengganggunya. Tapi kamu harus lawan dia, jangan sampai ia bertindak aneh-aneh lagi." Kepalaku pusing membayangkan harus melawan Tante-tante pengganggu. Maksudku, diusianya saat ini pasti orang yang menyukainya adalah wanita yang jarak usianya tak jauh dari paman pucat itu. Tok tok "Masuk." sahut nenek. Pintu terbuka menunjukkan sosok Yogi, pria yang sedari tadi kami bicarakan. Ia berjalan tanpa menatapku, lalu duduk di samping nenek. Aku menatapnya, saat kemarin di rumah netraku tak terlalu bisa melihat detail wajahnya. Kali ini semua terlihat ia punya bibir mungil, mata layaknya bulan sabit, kulit yang sangat putih, serta jemarinya lentik. Tatapan kami beradu sesaat, aku tak suka mengalah dan ia kalah karena akhirnya berpaling dari tatapanku. "Yogi kamu sudah tau kan? jika kalian dinikahkan sejak lama?" Tanya nenek dijawabnya dengan anggukan olehnya. "Reya, saat ini adalah cucu mantuku, ia juga kini menjadi bagian keluarga ini. Yang terpenting adalah dia adalah istrimu. Nenek minta jaga dia dengan baik." Paman itu menghela napas, dan mengangguk kemudian. Aku tau jelas jika ia juga tak terlalu menyukai pernikahan ini. Aish, kenapa ia setuju jika enggan? "Reya, nenek tidak akan meminta kalian berhubungan layaknya suami-istri kau masih ingin berkuliah. Nenek ingin kamu selesaikan kuliah juga dengan baik." "Maaf?" Berhubungan suami-istri? Hmmm, hubungan seperti apa itu? Hmm? Seperti itu? Atau seperti ... entahlah! "Kau paham maksud nenek," jawab nenek seraya tersenyum dan aku mengerti maksudnya adalah hubungan seperti itu. "Besok akan dilakukan pernikahan kalian secara agama. Sederhana saja, di KUA. Nenek sudah menghubungi ayah juga nenekmu. Mereka akan datang malam ini." "Me-menikah? Secara agama?" tanyaku coba meyakinkan apa yang aku dengar tadi. Nenek Fatma mengangguk. "Ya betul, pernikahan resmi. Yang terpenting kalian menikah dulu." "Baik Nek." Pria pucat itu menjawab singkat. Apa ia tak ingin protes atau semacamnya? Hidupnya memang diatur seperti ini? Aish. *** Aku terbangun pukul lima pagi saat Mbok Mar mengetuk pintu kamar. Lalu membawa beberapa kebaya untuk aku kenakan. Kata bibi semua itu di beli dan dipilih Yogi untukku. Gila memang, buang-buang uang. Padahal aku akan pakai apa saja yang diberikan apalagi dalam situasi seperti ini. Dan alasan aku menerima pernikahan ini adalah karena Yogi yang mapan. Aku tau, ini hal wajar yang aku lakukan di usiaku saat ini, harus menikah. Mungkin terdengar materialistis tapi, kapan lagi aku bisa menikah dengan pria yang sudah mapan seperti Om Yogi? Toh nenek mengatakan aku tak harus berhubungan dulu dengan Si Om pucat, jika tak ingin. Mungkin ini cara Tuhan untuk mengubah nasib hidupku. Kabur? Aku sempat memikirkan ini. Namun, ini jelas akan menyulitkan ayah dan nenek. Lalu aku berpikir lagi. Jika aku di sini tentu saja pengeluaran ayah dan nenek akan berkurang. Mereka bisa menghemat sementara aku di sini dibiayai. Sudahlah terima nasib saja, aku tak ingin jadi berlebihan dengan melarikan diri. Aku di rias dengan sederhana sekali. Nenek bilang aku tak boleh di poles terlalu tebal. Ia ingin aku terlihat natural karena aku sudah cantik. Aih, nenek buat aku malu saat ia beri pujian. Setelah selesai ayah dan nenekku masuk. Ayah tampan dan gagah sekali. Juga nenek dengan kebaya yang cantik di rias dan disanggul dengan cantik. Ayah memeluk, juga nenek yang mendekat lalu memelukku erat. "Ayah minta maaf ya Nak?" Ayah lirih pasti sedih sekali melihat anaknya menikahi pria secara tiba-tiba. "Enggak apa-apa Yah. Lagian nenek bilang Reya harus kuliah dulu. Pernikahan ini cuma simbolis dan mengikat aja. Kata orang juga orang tua enggak mungkin pilih calon yang buruk buat anaknya." Meski masih ada sedikit rasa enggan. Aku simpan rapat-rapat. Ambisi menikah dengan Om kaya harus jadi prioritas utama. Demi masa depan yang lebih baik! Ayah menatap, ia heran. "Kamu kemarin enggak mau. Sekarang kenapa gini?" "Mau enggak mau. Reya teh bingung. Ya udahlah, pokonya ayah tenang Reya bakal jaga kesucian sampai lulus kuliah." Jelas ku. Kata-kataku membuat ayah dan nenek membulatkan matanya. Aku tersenyum saja. Pikiran enggan ini harus aku usir jauh-jauh. Kenapa ayah dan nenek terkejut sekali? Bukankah itu hubungan yg wajar bagi suami istri? "Nenek cuma berharap kalian bahagia. Dan nenek juga enggak mau kamu macem-macem dulu. Ngerti kan Reya?" Aku mengangguk lalu memeluk nenek. "Nenek tenang aja." "Ayah enggak tau mau ngomong apa. Ayah khawatir sekali di rumah. Tapi, begitu lihat kamu di sini kok sepertinya baik-baik aja?" Setelah obrolan dan petuah yang lupa ayah sampaikan kami berangkat ke KUA terdekat. Hanya ijab, dan hebatnya Om Yogi bisa melafalkan dalam satu tarikan napas dengan baik. Dan kami SAH! Oke Reya sekarang Lo udah jadi seorang istri . . . Nenek dan ayah menginap semalam. Dan pulang pagi ini. Setelah kami sarapan aku membantu Mbok Mar mencuci piring. Om Yogi menghampiri. "Jadi hari ini kita ke apartemen saya ya?" Aku hanya mengangguk, dan segera menyelesaikan kegiatan. Kembali ke kamar mengambil sedikit barang bawaan. Kata Om Yogi nenek sudah sediakan semua untukku. Aku melangkah keluar kamar mengikuti langkah Si Om judes. Ia menatapku lalu langkahnya terhenti. "Jangan ngerepotin ya." Kata-kata pertama yang keluar dari mulutnya untukku sungguh indah sekali. Aish! "Maaf?" "Gadis muda seperti kamu selalu merepotkan," ucapnya. "Gadis seperti aku itu gadis seperti apa?" tanyaku yang tak terima dengan ucapannya seolah ia mengenalku dan gadis lain sepertiku? "Maksudnya ya gadis seusia kamu," ketusnya lagi. "Om bahkan bayi kembar yang lahir dari rahim yang sama pun pasti punya perbedaan. Terus gimana bisa, seseorang lain yang seusia dengan aku yang lahir dari jutaan, puluhan juta rahim yang berbeda, Om sama ratakan bahwa kami semua merepotkan?" protesku aku tak suka disamaratakan seperti ini. Ia menatapku lekat seraya melipat kedua tangannya, seolah membacaku layaknya buku yang coba ia pelajari. "Hmm, men-nye-bal-kan itu kamu, ngerti?" Katanya sambil lalu. "Terima kasih," ucapku. Bagiku jika berhasil membuat orang kesal maka aku adalah pemenang. Setelah pembicaraan singkat tanpa makna tadi kami segera berangkat ke apartemen. Di dalam mobil kami hanya terdiam sampai mobil tiba di tempat tujuan. Berjalan masuk pun dalam diam. Aku hanya terus mengikutinya, menatap punggungnya yang terus berjalan mendahuluiku. Di lantai tiga kami berhenti, dan melangkah ke salah satu pintu yang berada di sisi kiri lift. Ada tiga koper yang telah berada di sana. Ia mendesah kesal sambil menekan tombol untuk memasukan kode pintu masuk. "Koper ini pasti punya kamu," ucapnya seraya membawa satu koper yang paling besar masuk. Lalu aku membawa yang lain yang lebih kecil. Aku menyusul masuk, apartemen miliknya dibuat lebih minimalis dengan nuansa putih, dan abu-abu. Aku tak pandai mendeskripsikan tapi saat masuk akan ada ruang tengah yang luas dengan sofa berwarna abu-abu tua yang bisa di duduki sekitar lima belas orang. Sofa itu benar-benar besar, lalu ada sebuah mini bar di sisi kanan yang sekaligus tersambung dengan dapur. Di sana ada meja makan marmer kecil dengan dua pasang bangku kayu. Di sisi depan di dekat ruang tengah ada pintu, aku rasa itu kamarnya. "Kamar kamu di sana," ucapnya menunjuk kamar di sebelahnya tersekat tembok ruang tengah. Aku berjalan masuk, sementara Om judes sibuk memakai jasnya. "Om mau pergi?" "Iya, kamu enggak berpikir saya akan menemani kamu seharian kan?" Aku tak boleh kesal, jika kesal aku kalah. "Oke oke." "Rapiin pakaian kamu, besok kamu akan mulai masuk kuliah." "Heh? Kuliah??" "Kuliah kamu pasti ngerti kan?" tanyanya diikuti senyuman, jujur itu manis tapi menyebalkan. Aku tak bergeming, berdiri dan menunggunya keluar dari sini. Ya meski ini rumahnya, aku tau. "Makan apapun yang ada, hati-hati menggunakan kompor. Saya enggak mau rumah ini kotor dan berantakan. Akan ada yang membersihkan rumah jam sebelas siang ini," jelasnya lalu melangkahkan kakinya. Belum jauh ia terhenti. "Kode pintunya, 030303," ia kembali melangkah keluar dan benar-benar pergi kali ini. Aku masuk ke dalam kamar, yang dikatakan adalah kamarku. Benar-benar minimalis dan cantik. Kasur ukuran sedang di sana dengan seprai berwarna peach, lemari kayu bercat putih dengan pola gemerlap berwarna silver, juga meja belajar dan kursi yang dicat serupa, dan ada rak-rak yang disusun di tembok. Ini cantik, dan aku mulai berpikir jika ia membuat ini untuk calon anaknya bersama gadis yang nenek maksud. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN