Rambut diikat ekor kuda, poni udah rata dan rapi, liptin murah meriah dengan harga diskon cukup untuk membuat bibir Susi yang kering jadi lebih segar. Bedak bayi dengan wangi buah-buahan, serta penjepit bulu yang selalu menyusahkan Susi karena macet pas lagi dipakek pun melentikkan bulu mata, persis dengan artis-artis papan atas yang lebih suka memakai bulu mata anti badai.
Menilik penampilannya sekali lagi, Susi tersenyum bangga. Meskipun ia tidak seglamour karyawan yang lain, memakai barang branded setidaknya Susi masih bisa berbaju yang layaknya manusia biasa. Bukan dengan emas permata, apalagi berlian.
Hari ini makan nasi, besok urusannya nanti. Toh rejeki sudah ada yang atur, tinggal manusianya aja mau mencari kemana pemberian Tuhan. Jangan juga terlalu menggebu, tidak baik juga jadi manusia yang pasif. Semua harus seimbang, seperti Tuhan yang maha pengasih memberikan Susi kesabaran berlapis-lapis kayak tango.
Dengan kepercayaan diri penuh gadis itu melangkah keluar dari kamar kecilnya, menyapa emak dan bapak yang tengah sarapan. Melewati pagi ini dengan penuh rasa syukur dan berharap akan menjadi lebih baik lagi.
Setelah berpamitan dengan emak kandungnya (gak berniat nambah emak tiri), Susi segera naik kemotor yang beberapa bulan lagi akan lunas. Berkurang angsuran wajib Susi setelah itu, ia bisa memikirkan hal lain lagi untuk membuat kehidupan mereka lebih baik.
Sepanjang perjalanan, Susi banyak bercerita dengan ayahnya. Mulai dari awal mereka datang kejakarta, kegagalan ayahnya dalam membuka usaha sampai drama pernikahan kakak kedua Susi yang sempat gagal karena calon istrinya tidak menerima keadaan keluarga mereka. Banyak hari menyakitkan dalam kehidupan mereka, namun sekali lagi Susi harus bersyukur kedua orang tua nya mendidik dengan baik begitu juga membekali akhlak yang berguna bagi kehidupan dan pergaulan jaman sekarang.
Susi masih suci, dan ia bangga mempertahankan kesucian dirinya meski otak seratus persen kotor naudzubillah akibat tercemar video ke-uwuan anak-anak sekarang.
Sesampainya didepan pintu gerbang masuk kehalaman perusahaan, ayah Susi-Sulaiman memberhentikan motor. Membantu putri bungsunya melepas helm, membiarkan Susi mencium tangannya dan menatap penuh cinta wajah renta itu.
"Doain adek ya pak, semoga gak budek setiap kali dengerin pak boss marah."
Pak Sulaiman tertawa namun menganggukkan kepalanya.
"Doa emak sama bapak, selalu ada buat kamu nak. Semangat!"
Gadis itu ikut tertawa, hingga ayahnya memutar balik motor dan pergi. Melambaikan tangan seolah itu adalah perpisahan berarti, lebay kali Sus. Ya namanya juga perang, melawan penjajahan atas nama Ari Setiawan.
Seperti hari-hari sebelumnya, Susi selalu menebar senyum dan sapaan yang tak henti kepada setiap orang dilobi. Hingga ia berada dibiliknya sendiri pun wanita itu masih tersenyum ramah, benar-benar mengawali hari dengan penuh senyuman.
"Pagi mbak. Segar banget ya kalo masih jam segini." Sapa Winda, perempuan muda yang baru saja lolos training dikantor mereka.
"Pagi Win, iyanih mumpung masih pagi harus banyak-banyak bikin pahala. Sebelum negara api menyerang dan gue mulai berbuat dosa lagi." Susi merapikan meja kerjanya, melihat-lihat berkas mana yang akan ditanda tangani oleh boss besar.
"Udah sarapan mbak? Kalo belom, sekalian nih sama aku nitipnya."
"Gue sarapan dirumah setiap hari win, kecuali kalo tuh harimau maksa dateng cepat. Baru gak sarapan, btw makasih ya tawarannya."
Winda tersenyum tulus, mengangguk pelan. Ia merasa diayomi dengan baik oleh senior seperti Susi, semua pekerjaannya sebagian Susi ikut membantu. Padahal urusan dia sendiri, semua orang tahu kalau Susi juga termasuk orang penting disini namun gadis itu tetap mau mengulurkan tangan menolong. Dan Winda tidak bisa mengabaikan kebaikan Susi yang satu itu, mungkin tanpa bantuan seorang senior berbakat seperti perempuan yang tengah mengecek komputer itu, entah bagaimana nasib Winda.
"Yaudah kalo gitu, Winda duluan ya mbak. Hati-hati nanti ada demit sendirian."
"Iya hati-hati Win."
Tak mau ambil pusing dengan perkataan Winda yang selalu menakutinya, Susi mulai fokus pada kertas menumpuk yang sejak kemarin belum selesai ia jamahi. Bahkan detik berlalu, menit lalu jam pun terlewat.
Sampai akhirnya Susi sadar bahwa boss mereka telah datang, dan baru saja masuk kedalam ruangan. Kepala cantiknya melirik jam tangan kesayangan, mengernyitkan alis bingung.
"Tumben baru dateng. Gak biasanya telat sampe jam segini." Gumamnya sendirian. Mengecek laporan sekali lagi, lalu ia beranjak dari kursi. Sedikit meregangkan otot kaku, barulah melangkah masuk kedalam kandang singa.
Tangannya berhasil mengetuk pintu, bebas hambatan dan sahutan yang nyaris tidak terdengar. Tubuh langsingnya berhasil melewati pintu kaca itu dengan mulus, berjalan bak model papan atas. Sambil tersenyum ramah, namun seperti biasa tak ada balasan. Santai Susi, kamu udah biasa dipelototinkan?
"Ini laporan yang bapak minta kemarin, saya sudah salin dan kirim ke manager kita. Silahkan bapak cek ulang lagi." Dengan sopan dan santun, Susi meletakkan tumpukkan map.
Melihat tak ada respon sama sekali, gadis itu berniat pergi. Ditengah perjalanannya menuju pintu, mendadak aura ruangan itu terasa mencekam. Bahkan pintu yang harusnya cuma lima langkah, berubah jadi ribuan mil jauhnya.
"Kamu kerja sama saya sudah berapa lama Sus, masih aja salah menuliskan gelar. Apa perlu saya bayarin guru bahasa indonesia, biar kamu tahu bagaimana cara menuliskan gelar orang penting seperti saya."
Dengan cepat badan Susi berbalik, mendekati meja bossnya dengan bingung. Seingatnya tadi ia sudah mengecek semua isi data laporan, bahkan tanggal dan nama perusahaan pun ia lihat berulang kali. Kenapa masih ada aja yang salah?
"Masa sih pak, saya udah cek berulang kali." Tatapan Susi berubah redup, pasalnya ia memang sudah melakukan dengan baik dan teliti. Komputer bangke!
"Sini kamu, coba lihat sendiri. Mata saya belum rabun untuk baca ini."
Dengan cepat ia berdiri disebelah boss-nya, aroma maskulin bercampur wangi shampoo men's pakaian khas lelaki menguar dihidung wanita itu. Membuatnya gagal fokus, otak gue tolong. Darurat nih!
"KAMU DENGERIN SAYA GAK SIH? SAYA DARI TADI SURUH KAMU LIHAT KESINI, BUKAN MALAH CIUM KEPALA SAYA SUS!"
Terkejut tentu saja, emang ia Susi nekat cium kepala bossnya? Perasaan baru beberapa detik deh dia berdiri disini.
Susi menampilkan cengiran tanpa dosanya, mengusap tekuk yang sama sekali tidak gatal.
"Maaf pak, khilaf. Pakek shampoo apasih pak? Wangi banget, bikin pen cium."
Hah? Wajah tercengang Ari menyadarkan Susi dari ucapan konyol dan memalukannya barusan.
"Otak kamu ketinggalan dirumah kayaknya Sus, coba ambil dulu lah. Kali aja perlu disetel ulang, atau cuci biar gak mesum."
"Yeh si bapak, m***m-m***m gini saya setia loh sama bapak. Buktinya masih kerja disini."
"Itukan memang kamu yang berjanji sama saya."
Susi memutar matanya malas mendengar perkataan Ari, sejenak melupakan permasalahan gelar tadi.
"Itu juga khilaf pak, bukannya saya mau."
"Saya gak peduli, yang penting ulang semua laporan ini. Bila perlu kamu ketik lagi, SEMUANYA!"
Ada yang nerima jasa santet gak nih, Susi pengen buat orang disebelahnya ini muntah darah. Ngeselin banget!
"Yang bener aja dong pak, masa disuruh ngetik ulang. Kerjaan saya numpuk!"
"Yang gaji kamu itu saya Sus, terserah saya dong!"
"Mana bisa gitu pak, saya juga manusia pak. Butuh belaian dan kasih sayang!"
"Apa kamu bilang? Gak ada yang mau belai kamu disini, hush! Pergi sana, kerjakan semuanya mulai dari awal lagi."
"Kalo gini ceritanya, nilai bapak sebagai boss sempurna berkurang!"
Ari menatap malas Susi yang mengambil paksa map dipegangnya, bibir gadis itu mengumpat pelan namun bisa didengar oleh telinga Ari. Membiarkan perempuan itu keluar dari ruangannya, tak henti bibir Susi mengomel. Masalah gelar aja bisa lembur seharian, cobaan hidup gini amat.
Pria berambut sebahu itu tersenyum samar, seolah senang dengan tingkahnya barusan yang mempersulit Susi.
Sedangkan Susi kembali melemparkan kesal map laporan yang sejak pagi ia kerjakan. Mendengar suara itu cukup keras, Rani dan Winda saling melirik dan tersenyum. Mereka tahu persis kalo sudah begini, pasti atasan mereka itu mendapat masalah baru.
"Mbak Susi. Kenapa nih udah cemberut aja?" Goda Rani yang mendekat sambil memainkan rambut ikal nya, juga kacamata baru yang entah sejak kapan ia beli.
"Iyanih mbak, pasti lagi dapet bonus ya dari pak boss."
Susi mendengus melotot kearah dua orang itu. Malas bercerita panjang lebar. Menguras tenaganya.
"Bonus apee?! Bonus kerjaan makin numpuk dan ruwet iyaa!"
Kedua gadis itu terkikik geli, melihat wajah memerah kesal Susi.
"Ah. Ciyee, padahal kan pak boss itu nilai nya A semua mbak. Masa iyaa sih bikin ruwet."
"A itu sempurna, dan gak cocok sama dia. Yang pas itu B, bego! Kesel gue dah. Minggir lo berdua, jangan bikin darah gue naik mulu."
Winda menarik Rani menjauh, sambil tertawa keras. Kalo sudah begini, ya alamat Susi lembur nganggur ngerjain hal sepele.