Dalam beberapa detik, Susi mampu mengendalikan keterkejutannya pada pernyataan Ari, meski dalam hati ia mengutuk semua hal yang memacu jantungnya agar berdegub kencang. Gadis itu memutar tubuhnya, kembali melangkahkan kaki menuju meja Ari. Pria itu sama sekali tidak mengubah posisi, seolah semua tatapannya menjuru pada Susi seorang. Dalam langkah yang terasa panjang dan melelahkan, Susi dengan santai menjulurkan tangan kekening Ari, mengernyit berpikir bahwa suhu badan pria itu terasa normal. "Bapak kejedot pintu? Apa jatoh pas lagi berak? Atau kurang minum obat tadi pagi, kok tiba-tiba ngelantur. Saya masih mau hidup, berumur panjang dan pengen nikah. Jangan lah bapak nakutin saya dengan kalimat-kalimat mantra begitu." Ari menyingkirkan tangan Susi gemas, namun tak mengatakan apapun. Se

