Kembali

804 Kata
Hari itu aku di kantor. Aku akan meeting seharian karena kami sedang merencanakan launching kantor cabang baru di Bandung. Jam makan siang pun tiba. Kepalaku pusing sekali karena belum makan dari pagi. Aku gak sempat sarapan karena sibuk menyuapi anakku dulu, yang akhirnya membuatku hampir telat kalau Mada gak ambil alih. Kopi di ruanganku sudah dingin tapi aku belum berani meneguknya karena aku belum sarapan apa-apa. "Tar, bengong aja!" tegur kolegaku, Mbak Rani yang melintas di depan ruanganku. "Beli makan siang, yuk!" ajaknya. "Yuk, Mbak. Aku laper banget, puyeng," sahutku. "Lha, udah tau laper kok ya bengong. Yaudah, hayuk, aku ambil dompet dulu. Ke kantin belakang aja?" "Iya, Mbak, boleh. Pengen soto Betawi. Seger kayanya abis meeting begini", Aku pun beranjak mengambil dompetku juga lalu melangkah keluar ruangan. Kami berdua menunggu dua orang lagi kolega kami lalu turun dari lantai 30 menuju kantin di belakang gedung kantor kami. Lift yang kami naiki berhenti berkali-kali karena, ya, jam makan siang. Aku jadi mual. Liftnya pun akhirnya penuh. Mungkin hanya cukup untuk satu atau dua orang lagi. Tapi aku berdoa semoga gak berhenti lagi lift ini sampai bawah. Syukurlah doaku dikabulkan. Sampai luar gedung aku menarik napas panjang seakan kehabisan udara. Aku memang agak tidak suka ruangan tertutup dan sempit. Aku akhirnya menyalakan hp-ku dan melihat sudah ada chat dari Mada, suamiku. "Ra," Ya, hanya Mada yang panggil aku 'Ra', saat semua orang memanggilku 'Tar'. Katanya kalau 'Ra' artinya Dewa Matahari di budaya lain, dan aku seperti Matahari buatnya. Dia gak ngomong langsung, karena tau aku pasti jail ngatain dia romantis. Tapi itu yang memang bikin kami makin lengket. "Kenapa, Da?" balasku. "Gak lupa makan, kan?" Aku meleleh. Kami sudah menikah 5 tahun tapi Mada masih bikin aku meleleh. "Gak, sayang. Ini udah lagi jalan ke kantin sm Mbak Rani, Ajeng, sm Dara." "Okeh, slmt makan nanti." "Kamu jugaaa, chef gak boleh telat makan, nanti siapa yg masak? Kisses buat Dahlia ya, makan yg pinter sama Oma", tiap aku ke kantor, Mamaku lah yang volunteer menjaga Dahlia sampai aku pulang. Dengan bantuan Mada juga tentunya. Mertuaku ada, tapi beliau cukup sibuk dengan pekerjaannya sebagai konselor yang sudah pensiun tapi masih dipekerjakan oleh perusahaannya karena kinerjanya yang baik sehingga hubungan perusahaan dengan klien-kliennya terjaga dengan baik pula. Aku sudah hampir oleng menunggu makananku dibuatkan oleh ibu penjual sotonya. Akhirnya aku duduk saat ada meja dan bangku kosong, mengisyaratkan kepada Dara yang kulihat sedang melihat ke arahku kalau aku akan duduk di meja itu, sambil aku memesan teh manis hangat ke penjual sebelah tenda soto Betawi. Tiba-tiba ada sesosok yang awalnya kukira Mbak Rani, melainkan seorang pria, yang berdehem di sampingku, meminta izin untuk duduk dan bertanya apakah ada yang menempati. Aku dengan enggan menjawab tanpa menoleh, "Maaf ada orangnya ini buat berempat, Mas." "Sebentar aja, kok", sahutnya. "Tara, bukan, ya?" tanyanya tiba-tiba, sontak bikin aku kaget dan langsung menoleh tanpa memedulikan kepalaku yang makin sakit karena gerakan tiba-tiba itu. "Hah? Kok tau? Iya, siapa, ya? Sorry gak ngenalin, maskernya," kataku sambil menunjuk ke arah masker orang asing itu. Aku berusaha mengamati rambut hingga fitur-fitur wajah yang biasanya memudahkanku mengenali siapa pun walaupun dengan masker. Thanks to the pandemic, I'm getting good at it. Walaupun sekarang sudah mulai diperbolehkan tidak memakai masker lagi kalau sedang berada di outdoor. "Oh, iya, lupa lepas. Maklum kebiasaan pake masker," ujarnya. "Kalau gini, inget gak?" Kagetku bukan main, jantungku serasa pindah ke kepala. Orang ini.....bukan hanya wajahnya yang ternyata terpatri dalam ingatanku, tapi orang ini yang menjadi semangat hidupku dulu. "A...Aldi???" "Hehe, iya nih, Tar, apa kabar? Dari tadi udah ngelihat pas lo di dalam lift, tapi gue gak bisa masuk liftnya karena penuh" Aku masih bengong. Berusaha keras mencerna apa yang sedang terjadi di depanku saat ini. Sulit sekali. Sampai akhirnya aku kembali sadar saat makananku dan teman-temanku datang di saat yang bersamaan. "Tar? Siapa?" Tanya Dara mendelik. Dia mau duduk karena sudah lapar sekali tapi masih ada Aldi yang kelihatannya masih menunggu reaksiku. "Eh? Oh, temen, Dar. Di, bentar, yuk, ngomong di sana aja" Aldi mengikuti langkahku sambil diikuti oleh ketiga pasang mata penasaran dari meja yang kami tinggalkan barusan. "Gila, berapa tahun, ya, Di?" kataku tiba-tiba. "20, Ra." "Wahahah, lama banget, ya! Lo bukannya di Perth, ya? Udah PR, kan?" "Iya, Ra." "Waah, hebat! Well, it's an easy fit for you, though. Terus ke Jakarta lagi liburan aja atau emang ada keperluan?" Sebelum Aldi menjawab, aku sudah menyambar lagi dengan rasa penasaranku yang makin menyeruak. "Sumpah, gue gak nyangka bisa ketemu lo lagi setelah sekian lama. We were kids the last we met!!" Aldi menyunggingkan senyum tipisnya. He was always that attractive. "Ra, maaf, ya. Maafin gue selama ini. Gue yang salah." Aku menatapnya bingung. Jelas bukan waktunya dia tiba-tiba confess sesuatu. "Minta maaf apa, ya, Di?" "Kita, Ra." Aku diam. Akhirnya paham.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN