BAB 2

1157 Kata
Tamu Tak di Undang                Sepulang dari rumah Bude Rini, Harumi tidak banyak bicara. Seperti malam-malam sebelumnya dia mengajar mengaji anak-anak desa kemudian berkutat di dapur mencuci pakaian, piring dan juga menu yang akan di masak besok pagi.                Saat Harumi tengah asik berberes, sebuah mobil mewah merepat di rumahnya. Darta yang sedang berbaring di kamar keluar lalu mengintip dari jendela.  Harumi melihat apa yang dilakukan sang Ayah, lalu mencoba mendekat untuk mencari tahu juga. Tetapi langkahnya terhenti ketika Darta keluar dengan cepat dan menubruk si empunya mobil tersebut.                Harumi segera berlari, dia ingin mengetahui siapa yang datang malam-malam begini ditambah lagi dia tidak mengerti kenapa ayahnya melakukan hal seperti itu, tetapi sejurus kemudian Harumi mendengar suara gelak tawa dari halaman. Seorang pria paruh baya, berpakaian rapi bersama seorang pria juga yang tidak kalah rapi dari pria tadi.  Namun, usianya terpaut jauh.                  Harumi tak salah lihat, pria berpakaian rapi itu tengah berpelukan dengan ayahnya sambil bercanda satu sama lain. Harumi mengernyitkan dahinya, dia yang mengintip dari balik pintu berpikir keras apa hubungan ayahnya dengan orang tersebut.                  Lalu Harumi kembali ke dapur ketika melihat ayahnya berjalan bersama pria tersebut masuk ke rumah mereka.                “Rum,,, Rumi. Buatkan Teh, Nak,” teriak Darta dari ruang tamu.                  “Iya, Yah.” Rumi menyahut tanpa menoleh ke ayahnya. Dia sedang asik meracik wedang jahe yang memang sedang dibuatnya tadi. Karena setiap malam dia harus menyuguhkan minuman tersebut untuk ayahnya.                  Rumi mempertajam pendengarannya, dirinya bertanya-tanya dalam hati siapa sebenarnya pria yang sedang mengobrol dengan ayahnya. Mereka kelihatan akrab dan saling bercanda sedari tadi. Setelah selesai menuangkan minuman ke dalam gelas, Rumi pun menyusun  camilan, untung dia masih punya persedian roti, jadi tidak perlu sibuk pergi ke warung untuk membelinya.                Harumi berjalan menuju ruang tamu dan menyuguhkan minuman tersebut kepada tamu ayahnya tersebut.  Pria itu menatap tajam ke arah Harumi, membuat Harumi sedikit risih dan segera beranjak dari ruang tamu tanpa berlama-lama.                  Namun, langkah kakinya terhenti begitu mendengar namanya di panggil oleh ayahnya.                  “Rum, duduk sebentar, Nak.” Rumi berbalik sambil tersenyum, dirinya pun mengikuti apa yang dikatakan ayahnya. Rumi duduk berhadapan dengan ayahnya dan juga pria itu.  Rumi hanya merunduk,  wajahnya tertutup oleh jilbab yang dipakainya sedari tadi.                  “Ini anakmu Dar?” tanya pria itu sambil tertawa.  Rumi masih enggan untuk mengangkat wajahnya, dia risih berada di anatar pria-pria tua ini.  Sementara Darta hanya tertawa tanpa menjawab pertanyaan dari pria itu.                  “Rum, kenalkan ini sahabat, Ayah. Namanya Pak Tanta. Dia juga berasal dari kampung ini dan sekarang tinggal di jakarta, hidupnya sudah sukses sekarang.” Tawa Darta menggelegar memenuhi ruangan petak yang tidak begitu luas itu.                Harumi pun mengangkat wajahnya dan menatap pria bernama Tanta itu lalu tersenyum.                  “Harumi, Pak,” ucapnya sedikit kelu, lalu menunduk kembali, Rumi tidak memperdulikan pria itu tengah tersenyum kepadanya, melihat wajahnya yang malu-malu seperti kepiting rebus.                “Sudah besar anakmu ya, Dar,” ucapnya smabil menepuk paha Darta. “Panggil Pakde saja, Nduk. Aku lebih tua dari ayahmu. Walau kadang ayahmu ini tidak mau memanggilku abang.” Selorohnya menggoda Darta yang sudah terkekeh mendengar candaannya.                  “Baru juga beda 5 bulan, ya aku ndak mau panggil kamu Abang. Enakin kamu nanti bisa suruh-suruh aku seenaknya,” jawab Darta tak mau kalah.                “Tuh kan, lihat nih kelakuan ayahmu yang tak tahu sopan santun ini. jangan ditiru ya, Rum.” Perkataannya barusan sukses melukis senyuman di bibir Rumi.  Dia sudah canggung lagi dan dia menikmati obrolan malam ini.                  “I...Iya, Pak de.” Lirihnya pelan.                Lalu Harumi meninggalkan kedua pria itu  dan membiarkan mereka larut dalam manisnya kenangan yang sudah mereka lewati beberapa fase ini. terkadang Harumi tertawa sendiri mendengar cerita keduanya sata masih muda dahulu.                  Dan disinilah Harumi baru tahu jika awalnya, almarhum ibunya dijodohkan dengan Pak Tanta karena beliau dari keluarga yang kaya. Namun Ibu Harumi tidak pernah menaruh rasa kepada Tanta dan begitupun sebaliknya, sebab Tanta sudah menganggap Ibu Harumi seperti adiknya sendiri.                  Harumi bergegas untuk tidur terlebih dahulu, terlebih rumah mereka kedatangan tamu jauh, jadi besok pagi dia harus bangun lebih awal untuk menjamu tamu mereka dengan sesuatu yang enak dan lezat.  Harumi jelas tidak ingin mengecewakan tamu spesial mereka pada malam hari ini. ***                Harumi sudah sibuk di dapur pukul 4 subuh, dirinya meracik sendiri bumbu dan pergi ke belakang untuk menangkap ayam peliharaan mereka. Tentu saj di temani ayahnya yang juga sudah bangun untuk membantu Harumi.                  Harumi begitu bersyukur sebab dari dulu ayahnya tidak pernah membiarkannya sendirian. Kadang Harumi sering berpikir, bagaimana jika nanti Harumi tidak di sisi ayahnya, bagaimana Darta akan hidup sebatang kara saja.  Dan begitupun sebaliknya, Harumi berpikir apakah dia bisa  hidup tanpa ada ayahnya di sisinya.                  Harumi dan Darta saling membantu dan bekerja sama, saat Harumi meracik bumbu Darta yang membersihkan ayam dan juga memotongnya menjadi kecil. Lalu Harumi siap untuk memasak menu pagi ini.                Rumi menatap ayahnya yang tengah duduk sambil meminum wedang jahe yang masih ada sisa di periuk.  Dalam heningnya pagi samar-samar sudah terdengar suara orang mengaji di masjid pertanda subuh sebentar lagi. Harumi ingin bertanya kepada Darta, sebuah pertanyaan yang sudah dipendamnya dari tadi malam.                  “Ayah, Teman Ayah itu ada keperluan apa sih datang ke sini?” Darta yang mendengar omongan Rumi barusan sejenak beristighfar melihat anaknya asal bicara.                “Pelan-pelan, Rum. Nanti kalau Tanta dengar gimana? Kamu ini, kalau ada tamu itu ya dihormati saja, bisa jadi dia datang karena kangen, bukan karena ada maksud tertentu.” Tegas Darta sambil menasehati putrinya itu.                “Iya, Yah. Rumi kan cuma nanya doang. Maaf, Yah,” ujarnya sedikit sedih.                  “Ayah bukannya marah sama kamu, tetapi sedang ngasih tahu kamu dengan tegas agar lain kali tidak diulangi lagi,” jelasnya pelan sambil membelai kepala Rumi yang dibalut jilbab marun itu.                  Lalu keduanya hening, tidak keluar sepatah katapun dari mulut Ayah dan anak tersebut.  mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing.                  Rumi tampak asik menggoreng ayam tersebut dengan bumbu racikannya. Harumnya saja sudah menggugah selera.                Suara adzan mulai berkumandang disambut kokokan ayam yang melengking pertanda seluruh aktivitas makhluk bumi segera di mulai.                Harumi menempati ayam goreng yang sudah selesai dia masak ke piring, dia menatanya dengan rapi sembari menunggu ayahnya yang masih berada di kamar mandi. Setelah selesai, dia mencuci piring di luar. Tempat khusus untuk mencuci piring tidak menyatu dengan kamar mandi. Sekaligus menjemur pakaian yang sudah di cuci malam tadi.                  Aktivitasnya begitu setiap pagi, setelah selesai dan bersih, Rumi pun bermaksud untuk ke kamar mandi. Membersihkan diri dan salat subuh, tetapi sudah keduluan oleh Tanta.  Tanta menoleh begitu melihat Harumi yang berjalan mundur begitu melihatnya masuk.                  “Si...silakan duluan, Pakde,” ucapnya mempersilakan. Tanta tersenyum dan  masuk terlebih dahulu. Harumi menunggu sambil membaca buku agar dia tidak merasa bosan. Tak lama Tanta keluar dan Harumi pun bersegera untuk masuk, dia takut menunda lagi, sebab waktu subuh bergulir cepat.                “Rum, nanti kalau ada waktu Pakde mau bicara sebentar, bisa?” Harumi bingung sebab Tanta tiba-tiba ingin mengajaknya bicara.                  “Iya, boleh, Pakde,” jawabnya sedikit gugup lalu masuk ke kamar mandi. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN