Profesor Garry Pramudya, bukan nama yang asing di dalam ilmu genetika. Dia juga merupakan salah satu orang yang paling sering berkutat di LAPAN. Berbagai penelitian dia lakukan, thesis, jurnal dan desertasinya banyak menolong ilmu pendidikan di tanah air. Berkat dia pula Indonesia berhasil mengembangkan rekayasa genetika untuk pangan serta ilmu medis. Profesor Garry sempat meraih penghargaan dari Kemenristek beberapa tahun silam. Berkat tangan dinginnya juga ia telah menelurkan ilmuwan-ilmuwan berbakat di bidang sains, salah satunya adalah Galuh Savitri Devi. Galuh sempat menjadi mahasiswanya, bahkan kalau tidak karena usulannya mungkin dia tidak bisa menjadi profesor. Pria itu sampai memiliki laboratorium kerja sendiri, sempat juga beberapa tahun menjadi ketua penelitian di LAPAN.
Sebagaimana biasanya, hari ini adalah hari dimana dia menghabiskan cangkir kopi yang kesekian kali di laboratoriumnya, sementara para pegawai laboratoriumnya masih belum kelihatan. Profesor Garry bukan orang yang akan peduli dengan dunia luar. Dia sama sekali tak mengikuti perkembangan politik dan berita-berita terbaru seputar negeri. Dia hanya peduli dengan penelitiannya. Maka dari itulah, meskipun berada di laboratorium selama sebulan pun dia betah-betah saja selama ia bisa bersama dengan penelitiannya. Dia baru keluar dari laboratorium setelah penelitiannya mendapatkan hasil, kemudian menghabiskan waktu selama sebulan untuk berlibur. Rutinitas ini sudah dihafal oleh seluruh pegawainya. Wataknya sangat keras, sarkas dan teliti dalam setiap hal. Banyak yang bilang kalau perangainya buruk, tak terkecuali Galuh.
Galuh sendiri mengira kalau dosennya ini punya kelainan dalam masalah pergaulan. Entah bagaimana ia bisa memiliki keluarga, hanya saja meskipun demikian wataknya yang keras, tak kenal menyerah dan tak ingin dibantah sudah melekat dari dulu. Mungkin dengan wataknya yang seperti itu maka penelitiannya benar-benar membuahkan hasil. Terbukti dia sudah berkali-kali mendapatkan penghargaan oleh negara. Ia juga diundang untuk seminar global warming di Swiss, juga menjadi salah satu orang yang pernah bergelut di lingkungan NASA selama beberapa bulan, ia juga ikut dalam cangkok daun telinga pada organ tubuh yang masih utuh. Salah satu jurnal yang dipakai oleh Galuh untuk penelitian geofisika adalah tentang mutasi biota laut akibat dari global warming. Jurnal itu mendapatkan penghargaan dari salah satu lembaga sains di Amerika, bahkan Galuh bisa mendapatkan gelar profesornya salah satunya dengan menjadikan jurnal itu sebagai salah satu rujukan.
Profesor Garry menghentikan aktivitasnya sambil memijat-mijat kedua matanya. Dia sudah mengalami insomnia berat, tetapi masih saja ingin bekerja. Semua saja heran bagaimana ada manusia yang bisa hidup dengan kondisi seperti itu. Dia juga terkadang baru makan setelah tiga hari. Dia terlihat lebih kurus dari orang kebanyakan, bahkan tulang pipinya sampai kelihatan. Tapi dia tak peduli dengan penampilannya, rambutnya yang acak-acakan dengan panjang yang melebihi leher membuatnya mengikat rambut tersebut.
Ketukan di pintu mengagetkannya. Belum sempat ia berjalan meraih gagang pintu, seseorang sudah nyelonong masuk. Tamu itu tidak biasa, bahkan dia sendiri sebenarnya tak pernah punya orang untuk ditemui. Melihat seorang dengan pakaian loreng khas militer agaknya membuat sang profesor mengangkat alisnya. Buat apa ada seorang prajurit TNI masuk ke dalam laboratoriumnya?
“Silakan masuk, pintu tidak dikunci,” ucap Profesor Garry meskipun terlambat. Sebenarnya dia sedang mengejek.
“Profesor Garry, maafkan kalau saya lancang. Tetapi negara sedang membutuhkan bantuan,” ucap prajurit tersebut.
Profesor Garry melirik ke nama yang tertera di d**a tentara itu. Nama “Rio Prasetya” tertera jelas dengan huruf balok. Lelaki paruh baya itu mengernyit. “Bisa dijelaskan, kenapa negara yang setiap hari memalak pajak itu membutuhkan bantuanku?”
“Kami baru saja menumbangkan makhluk asing, Anda sebagai seorang yang ahli di bidang genetika dibutuhkan oleh negara untuk meneliti makhluk tersebut,” ucap Rio Prasetya.
“Untuk apa? Aku tak tertarik,” jawab Profesor Garry. “Cari saja yang lain!”
“Tapi di negeri ini hanya Anda yang bisa kami mintai tolong, kami juga telah menghubungi ilmuwan-ilmuwan yang lainnya,” jelas Rio.
Profesor Garry menggeleng. “Aku tak tertarik. Jadi silakan pergi, karena aku masih sibuk.”
“Profesor, saya tak akan pergi tanpa membawa Anda. Bahkan, kalau Anda menolak maka saya akan memaksa!” ancam Rio.
Profesor Garry mendesah kesal. Dia lalu berjalan mendekat ke arah prajurit itu. Ingin rasanya ia menampar, memukul, menendang atau kalau perlu membanting prajurit yang lancang tersebut. Tetapi apa mau dikata, prajurit itu tentunya adalah perpanjangan tangan dari atasannya. Ia tak bisa berbuat banyak, kalau ingin menghajar maka hajar saja atasannya. Sangat dilema menjadi seorang prajurit seperti itu. Mau membantah salah, mau menuruti juga salah, serba salah. Sang profesor mendekatkan diri lagi ke arah Rio sampai tinggal sejengkal. Dengan posisi berdiri sempurna tampak Rio tak gentar dengan wajah tak suka sang profesor.
“Kau aku bayar dari uang pajakku, lalu sekarang memaksaku. Wah, negeri para b*****h. Baiklah, tapi aku perlu ganti baju,” ucap Profesor Garry.
Setelah berganti baju dengan kemeja warna putih lusuh dan celana pantalon berwarna abu-abu segera saja Profesor Garry diajak oleh perwira angkatan darat tersebut untuk keluar dari laboratorium. Bagi lelaki tua yang sudah menghabiskan waktu berhari-hari di dalam ruangan melihat sinar matahari untuk pertama kalinya seperti mendapatkan energi baru. Bola matanya mencalang dibalik kelopak matanya untuk menyesuaikan diri dengan cahaya matahari yang sangat menyilaukan. Saat mengetahui ia diijemput dengan mobil mewah sekelas sedan berwarna hitam mata Profesor Garry berbinar-binar.
“Wah, aku tak tahu kalau kalian menjemputku dengan mobil semewah ini? Apa merknya? Buatan Jerman? Marcedes? BMW?” tanya lelaki tua itu. Tetapi ia tak mendapatkan jawaban apapun dari perwira yang menjemputnya.
Tak banyak bicara dan sepi dari perbincangan. Itulah yang dirasakan oleh sang profesor. Perjalanannya menuju ke pangkalan udara memang tak penuh pembicaraan, sepi dan gersang seperti di padang pasir. Tetapi lelaki tua itu cukup terhibur dengan berbagai minuman dingin yang tersedia di dalam mobil sedan tersebut. Ia bahkan menghabiskan tiga kaleng soda buah. Tiba di pangkalan udara, segera dia digiring untuk menuju ke pesawat Foker milik TNI AU. Tujuannya menuju ke pangkalan udara Abdul Rahman Saleh di Malang.
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 30 menit, dia pun akhirnya sampai di Pangkalan Udara di Propinsi Jawa Timur tersebut. Angin dingin langsung menerpanya ketika mendarat dengan selamat di kota yang terkenal dengan buah Apelnya itu. Di bandara itu ada beberapa orang yang sudah menunggunya dengan salah satu orang dengan pangkat yang sepertinya sudah selevel Jendral lengkap dengan baju dinasnya.
“Selamat datang di Malang, Prof,” sapa sang Jenderal sambil menyalami Profesor Garry. “Saya Panglima Komando Angkatan Udara Jenderal Aris Yusvian. Maaf kalau acara penjemputannya tidak menarik.”
“Sebaliknya, justru sangat ramai sekali dan meriah,” ucap Profesor Garry dengan gaya sarkasnya.
Sang Jenderal tersenyum kecut. Dia tahu itu sarkasme. “Baiklah, sambil jalan saya akan jelaskan secara singkat apa yang diinstruksikan oleh Panglima TNI tentunya atas arahan Bapak Presiden.”
“Boleh. Bisa kita melakukannya sambil makan? Aku belum makan sama sekali,” ujar Profesor Garry.
“Sayangnya tidak. Tetapi saya berjanji akan memberikan apapun yang dibutuhkan,” jelas Jenderal Aris.
Mereka langsung menuju ke mobil Hummer yang sudah disediakan oleh pihak militer. Beberapa mobil lain terlihat menjadi pengawalnya. Ada dua mobil SUV di depan lengkap dengan sirine serta dua mobil SUV lainnya di belakang. Segera kedua orang penting itu masuk ke mobil sedan BMW yang berada di tengah.
“Kami telah menumbangkan makhluk dari luar angkasa. Makhluk itu sekarang sedang dalam pengamanan di bungker milik TNI,” terang Jenderal Aris.
“Anda mau melucu?” tanya Profesor Garry.
“Anda tidak melihat berita?”
“Bagaimana aku bisa melihat berita sedangkan aku selalu fokus dengan pekerjaanku?”
“Profesor, satu hal yang ingin aku sampaikan kepada Anda yang sangat logis dan realistis, mungkin Anda tak akan percaya dengan ekstra terestrial atau yang semacamnya, tetapi ini nyata. Anda mungkin tak akan percaya dengan apa yang akan anda lihat sebentar lagi,” jelas Jenderal Aris berapi-api.
“Sudahlah, yang penting aku ingin melihatnya. Tetapi bukan berarti aku sama sekali tak percaya dengan yang namanya alien. Aku percaya ada kehidupan lain di luar sana, tetapi bentuknya seperti apa? Bagaimana mereka hidup? Maka itu persoalan yang belum diketahui. Biarpun aku telah lama bekerja di LAPAN, pembahasan tentang makhluk alien yang bisa bernapas tanpa menggunakan oksigen sudah menjadi pembahasan tetapi tidak pernah diketahui entitas lain bisa hidup di luar bumi,” terang Profesor Garry. “Kalau begitu bisa deksripsikan kepadaku seperti apa makhluk itu?”
“Dia datang entah darimana. Kemudian masuk ke atmosfir bumi, lalu menyerang empat pesawat kami. Tiga pesawat tumbang dan satu pilot gugur. Tetapi salah satu pilot terbaik kami telah menumbangkannya,” ujar Jenderal Aris.
“Satu orang bisa menumbangkannya? Sepertinya bukan pilot biasa. Yang aku ketahui mereka punya teknologi canggih, bisa berjalan melebihi kecepatan cahaya, dan juga memiliki senjata yang sangat kuat,” tukas Profesor Garry.
“Iya, memang benar. Tetapi anak itu memang telah menumbangkan alien itu. Bentuk alien itu berbeda dari perkiraan kita sebelumnya, makhluk itu lebih terlihat seperti naga terbang daripada alien dengan wajah seperti bayi bermata lebar yang sering dipublikasikan oleh orang-orang,” jelas Jenderal Aris.
Profesor Garry mengernyit. Dia makin penasaran, “Baiklah, kau sudah meyakinkanku. Aku ingin melihatnya langsung.”
“Saya yakin, Anda tak akan kecewa, Prof,” ucap Jenderal Aris.
Dengan saling mengekor kendaraan-kendaraan beroda empat itu membelah jalan raya yang sebenarnya macet. Iring-iringan voojrider dengan sirine meraung-raung membuat kendaraan-kendaraan lainnya cepat-cepat minggir. Selama perjalanan tanpa halangan berarti itu mereka terus menuju ke barat, ke tempat yang lebih sepi di daerah Batu. Hari sudah mulai sore ketika mereka sampai di tempat tujuan.
Bungker rahasia itu ada di daerah di perbukitan. Tak banyak orang yang tahu karena masuk ke dalam jalanan yang sangat sepi tak berpenghuni. Namun, setelah membelah hutan jalanan mulai berubah dengan aspal yang mulus. Saat itulah ada pos penjagaan, beberapa kali mereka melewati pos penjagaan setiap 1 km. Hingga kemudian mereka masuk ke lorong yang cukup gelap, tetapi cuma sesaat. Setelah kurang lebih beberapa puluh meter, akhirnya ada cahaya-cahaya yang menuntun mereka untuk menuju ke tempat yang lebih dalam lagi. Profesor Garry takjub ketika menyadari kalau Indonesia memiliki bungker seperti ini.
Mereka akhirnya sampai di tempat yang paling dalam dari lorong panjang dan gelap tadi. Lorong gelap itu berakhir di tempat yang sangat luas dengan berbagai kendaraan seperti tank, pesawat helikopter serta beberapa kotak-kotak yang ditumpuk sedemikian hingga. Ada ruangan-ruangan besar di dalam bungker tersebut. Ruangan-ruangan itu cukup terang dengan orang-orang yang mengisinya. Mereka semua memakai pakaian anti radiasi mirip astronot. Tetapi sang Profesor tidak tertarik ke mereka melainkan kepada sesuatu yang berada di tengah tabung kaca raksasa. Di sana hanya ada dua orang yang mendekat ke sesuatu yang sangat besar melingkar seperti ular naga dengan sepasang sayap besar. Sang profesor langsung paham makhluk itulah yang dimaksud.
“Kalian tidak bercanda ternyata,” gumam Profesor Garry. “Demi Alpha dan Omega makhluk apa sebenarnya ini?”
“Selamat datang di bungker kami, Prof,” ucap sang Jenderal.
Mengetahui sang Jenderal beserta rombongannya datang, langsung ada seseorang yang asing bagi Garry berjalan mendekati mereka. Orang itu menyambut kehadiran rombongan tersebut. Wajahnya tampak masih muda, memakai kacamata, rambutnya tersisir rapi ke samping perawakannya sedang selaras dengan badannya yang kurus.
“Selamat datang Jenderal, Profesor, kami sudah menunggu kalian,” ucapnya.
“Perkenalkan Prefesor, namanya Didik Apriyadi. Dia salah satu ilmuwan yang kami tugaskan untuk memimpin penelitian ini,” terang sang Jenderal memperkenalkan orang yang baru datang tadi.
Garry menyambut jabat tangan Didik. Didik tampak berseri-seri menerima jabatan tangan tersebut, “Saya sangat suka dengan jurnal-jurnal Anda prof, sangat membantu saya.”
“Aku kira aku yang menjadi kepala penelitian ini,” gumam Profesor Garry.
“Itu bisa diatur kalau Profesor bisa membuahkan hasil dari makhluk itu,” ucap Jenderal Aris sambil menunjuk ke arah alien yang tidak sadarkan diri.
“Kenapa ditaruh di tabung kaca?” tanya Profesor Garry.
“Kami menginject-nya dengan obat bius untuk menghindari berbagai kemungkinan. Sampai sekarang kami tak tahu apakah obat bius berefek kepadanya, terlebih dia telah menempuh perjalanan selama jutaan tahun hingga sampai ke bumi,” jawab Didik.
“Kalau kau tahu tak yakin, maka kau harus pastikan. Aku tak yakin kalau dia mempan dibius. Kalau ada makhluk yang tak pernah membutuhkan oksigen kemudian kalian bius, apa dia akan bereaksi?” tanya Prefesor Garry. Ini sebenarnya pernyataan retoris. “Bagaimana lukanya?”
“Dia dalam kondisi meregenerasi tubuhnya. Penyembuhan dirinya sangat cepat,” ujar Didik.
“Lalu bagaimana cara dia berkomunikasi?”
“Untuk itulah kamu ada di sini Prof,” ucap Jenderal Aris.
“Tetapi aku bukan ahli bahasa,” kata Garry.
“Tetapi kau bisa menyelidiki dari bentuk tubuh alien ini, bedah saja terserah. Dengan begitu kau akan memahami bagaimana dia berbicara. Setidaknya pikirkan dari genetik DNA yang ada di tubuhnya, selidiki dia berasal dari keturunan hewan apa, kalau sudah ketemu mungkin kita bisa mengkonfrontasinya dengan makhluk yang ada di bumi,” jelas Sang Jenderal.
“Itu konyol! Mana bisa seperti itu?” tukas Garry.
“Memangnya Anda punya cara yang lebih baik?” tanya Jenderal Aris.
“Iya, caranya dilepaskan. Biarkan dia bebas!” ucap Garry.
Suasana hening sesaat. Sang Jenderal lama-lama tak suka dengan cara bercanda Garry. “Tak lucu, Prof.”
Profesor Garry tertawa. Setelah itu wajahnya berubah serius. “Aku serius.”
“Sayangnya kita tak bisa melepaskannya setelah menghancurkan jutaan dollar uang yang kita miliki,” tukas Jenderal Aris.
“s**t, baiklah. Aku ingin semua record dari semua blackbox yang sudah diselamatkan, serta aku ingin bertemu dengan pilot yang menumbangkan makhluk alien itu,” ucap Profesor Garry.
“Kenapa? Anda punya rencana?” tanya Didik. Dia kebingungan dengan tingkah polah Profesor Garry.
“Gampang, aku bisa menghubunginya,” ucap Jenderal Aris. “Tapi untuk mengetahui isi blackbox tersebut kita butuh waktu.”
“Tak masalah, bukankah aku bisa melakukan hal lain selain menunggu blackbox itu bukan, misalnya saja meneliti makhluk itu. Selain itu, aku ingin makan dulu,” ucap Profesor Garry sambil mengelus-elus perutnya yang sudah keroncongan.
* * *
Galuh sampai juga di kamar kosnya. Dia meletakkan ransel dan tas yang selalu ia bawa ketika keluar. Hari ini rasanya capek, sehingga ia memutuskan untuk langsung merebahkan diri di atas kasur. Ia masih belum mengganti baju yang tadi ia pakai untuk bertemu dengan Windi dan yang lainnya. Pipinya diletakkan di atas kasur, matanya pun terpejam. Meskipun capek, tetapi ternyata ia cukup sulit untuk memejamkan mata. Matanya terbuka lagi, ia masih belum mengantuk meskipun tubuhnya sudah lelah.
“Mbak, Mbak Galuh?!” panggil suara dari luar kamar. Dari suaranya jelas itu suara Ririn.
“Iya?” buru-buru Galuh menjawab sambil bangkit dari kasur.
“Dicari orang,” ucap Ririn.
“Hah? Siapa?” tanya Galuh.
“Tukang ojek!” jawab Ririn.
“Tukang ojek? Aku nggak pesen,” kata Galuh merasa heran.
“Tukang ojek cakep yang kemarin itu loh. Yang nganterin mbak,” jelas Ririn.
Segera saja Galuh beranjak dari kamarnya lalu membuka pintu. Ririn ada di depan pintu. Melihat sepupunya berbinar-binar Galuh merasa ada sesuatu yang aneh. “Maksudnya? Driver ojol kemarin?”
“Iya mbak, tuh orangnya di depan. Udah kenal akrab yah? Apa dia pedekate ama mbak?” selidik Ririn.
Galuh tak suka. Dia pernah menggunakan kekuatannya di hadapan orang itu. Bahkan orang itu terlalu kuat untuk dia pengaruhi, sama seperti Samudra. Kekuatan ajaibnya tak mempan untuk mereka yang memiliki hati kuat. Cowok itu pasti punya sesuatu yang membuat hatinya kuat, tetapi dia baik orangnya. Tidak macem-macem. Galuh jadi ingat peristiwa lama saat ia masih SMA. Kenapa namanya berbeda? Apakah terjadi sesuatu dengannya sehingga namanya diubah?
“Gimana kak? Aku usir aja yah?” ucap Ririn.
“Eh, bentar. Aku mau temuin koq. Bentar, aku mau ganti baju,” kata Galuh yang buru-buru menutup pintu lagi untuk ganti baju.
Ririn mengangguk-angguk, kemudian menuju ke teras, tempat Agi duduk di kursi rotan yang ada di tempat tersebut. Biasanya tamu-tamu yang nge-kost di tempat itu terutama para cowok harus bersedia duduk di teras. Dengan ditemani binatang penghisap darah yang selalu ingin menghisap setetes darahnya, Agi cukup bersabar menunggu hingga Ririn keluar menemuinya.
“Orangnya masih ganti baju mas. Barusan nyampe tadi,” kata Ririn menjelaskan kondisi Galuh.
“Oh, begitu. Baiklah, aku tunggu saja di sini,” ujar Agi.
“Mau minum apa mas?” tawar Ririn.
“Nggak usah repot-repot,” tolak Agi.
“Seriusan ini, mau yang dingin apa yang anget?” lanjut Ririn.
“Yang anget kalau boleh,” jawab Agi.
“OK, tunggu ya!” Ririn pamit untuk masuk lagi.
Agi kembali menunggu dengan ditemani teman-teman kecil bersayapnya yang berisik. Tak berapa lama kemudian muncul juga orang yang dia tunggu-tunggu. Galuh muncul dari dalam rumah dengan baju yang lebih santai, memakai kaos lengan panjang dengan kerudung warna pastel spandeks langsung pakai dengan motif bunga. Melihat pemuda itu di teras, gadis itu sedikit terkejut.
“Kamu?” sapa Galuh.
Agi mengangguk. “Iya, aku. Mbak Galuh atau aku panggil Bu Galuh?”
“Kalau di luar kampus kau boleh panggil aku apa saja,” jawab Galuh tegas.
“Baiklah. Aku panggil kamu mbak saja deh,” kata Agi.
Galuh kemudian duduk di kursi yang kosong. “Ada keperluan apa ke sini? Tentunya bukan perkenalan bukan? Karena kita sudah tahu nama masing-masing.” Benaknya sudah berpikiran macam-macam tentang Agi, bagaimana tidak? Kekuatan mata ajaibnya saja tidak berpengaruh kepadanya.
“Ehm, mau tanya-tanya aja. Di sini kos putri kan? Masih ada kamar kosong?” tanya Agi.
“Ada sih, tapi itu bukan aku yang punya wewenang di sini. Aku cuma numpang saja, kebetulan Ririn sepupku. Jadi yang punya tanggung jawab itu orang tua Ririn. Memangnya siapa yang butuh kos-kosan?” selidik Galuh.
“Adikku. Dia sudah lama tinggal di Tokyo, trus mau kuliah di sini. Aku bertanggung jawab untuk mencari tempat tinggal untuknya. Siapa tahu saja di sini cocok,” jawab Agi.
Galuh menipiskan bibirnya. Dia mulai menganalisa pemuda itu, cara bicaranya tenang dan tidak mengada-ada, juga tak ada perubahan nada seperti orang yang memiliki modus. Hanya saja, seperti pengalaman yang pernah dia alami kalau tidak setiap pemilik kekuatan ajaib itu orangnya baik, apakah Agi orang yang baik? Tetapi dia pernah menyelamatkan nyawanya bukan?
“Adikmu orang Jepang?” Galuh mencoba untuk mencari tahu.
“Bukan, sih walaupun masih ada darah Jepang dari neneknya. Dia ingin lebih dekat denganku, karena kami sudah lama tidak pernah bersama,” terang Agi.
“Memangnya kenapa sampai begitu?”
“Ceritanya cukup rumit. Yakin mau dengar?” tanya Agi.
“Nggak cerita juga nggak apa-apa koq,” jawab Galuh dengan nada sedikit sewot. “Kamu ke sini mau tanya soal tempat kos saja?”
Agi mengangguk. “Iya, itu aja sih.”
“Ehm, di sini itu fasilitasnya kamarnya cukup luas, ada lemari, kasurnya spring bed, ada mesin cuci yang bisa dipakai, trus kamar mandinya gantian. Tempat jemurannya ada di atap. Trus di sini makannya terserah, mau ikut makan urunan atau beli makan sendiri di luar. Kalau urunan maka yang urunan harus bisa masak, kalau nggak bisa masak maka makanan apapun yang dimasak harus diterima. Gitu sih aturannya di sini. Oh iya, di sini juga ada aturan jam malam. Pintu pagar tak boleh dibuka kalau sudah lewat jam sepuluh kecuali yang kerja lembur atau ada keperluan khusus, serta harus sudah ada izin dari ibu kos,” jelas Galuh.
“Baiklah, aku mengerti. Aku akan beritahukan ke adikku nanti,” ujar Agi sambil mengangguk. “Berapa sewa kamarnya?”
“Sewa kamarnya yang tahu Ririn, mau aku panggilkan Ririn?” tanya Galuh.
“Ehm, boleh,” jawab Agi.
Galuh kemudian beranjak sebentar untuk masuk ke dalam memanggil Ririn. Tak berapa lama kemudian Ririn dan Galuh kembali ke teras.
“Oh, jadi masnya punya adik toh yang mau kuliah di sini juga?” tanya Ririn.
“Iya,” jawab Agi. “Berapa biaya kosnya?”
“Kalau ngekos di sini per kamar per bulan 400.000 mas. Ada yang lebih murah, cuman kamarnya udah terpakai. Tinggal satu saja,” jawab Ririn.
“Adikku kemungkinan akan tiba besok jadi kalau boleh aku langsung booking di sini nggak apa-apa ya?” tanya Agi. Dia mengeluarkan dompetnya untuk mengambil uang. “Sekalian saya bayar langsung untuk tiga bulan.”
“Wah, langsung dibayar? Nggak lihat-lihat dulu? Siapa tahu nanti adiknya nggak cocok,” ucap Ririn.
Agi menggeleng. “Sementara biarlah di sini. Saya percaya koq tempat ini baik untuk ditinggali. Dari gambaran Mbak Galuh tadi sudah bisa saya mengerti koq bagaimana kondisi di tempat ini. Yang saya inginkan sih adik saya bisa menyesuaikan diri dengan baik di negeri ini.”
“Oh begitu.”
Galuh dan Ririn melirik isi dompet Agi yang cukup tebal. Meskipun terlihat muda, tetapi pemuda ini punya segepok uang ratusan ribu. Dengan mudahnya ia mengeluarkan uang yang dibutuhkan untuk kemudian diserahkan kepada Ririn.
“Saya terima ya mas. Saya tulis kwitansi tanda terima dulu ya,” ucap Ririn.
Agi mengangguk. “Boleh.”
Segera Ririn kembali ke dalam untuk mengambil kwitansi dan menuliskan tanda terimanya. Galuh cukup penasaran dengan pemuda ini. Agi ini termasuk tipe orang pekerja keras. Dengan dia menjadi driver Ojol saja sudah menjadi bukti. Tetapi ada sesuatu perasaan yang aneh ketika dia menatap lama-lama pemuda ini. Ada beban yang tersirat di wajah Agi. Beban itu tampaknya berat sehingga beberapa kali terlihat cowok ini lebih banyak menunduk daripada menatap lawan bicaranya.
“Boleh kita ketemu besok?” tanya Agi kepada Galuh.
“Maaf, besok mungkin aku sibuk,” jawab Galuh.
“Begitukah? Maaf, aku tak bermaksud... tentu saja. Kau sibuk. Persiapan untuk mengajar semester depan ini,” ujar Agi dengan gugup
“Kalau ada hal yang penting bicarakan saja sekarang.”
Agi menggeleng sambil tersenyum. “Lain kali saja kalau begitu. Baiklah, sampai ketemu di kampus.”
* * *