11 | Getaran Kosmis

4385 Kata
Agi berada di ruangan serba putih. Dia duduk di atas kursi. Entah kenapa ia dimasukkan ke ruangan ini. Sedangkan di salah satu sudut ruangan tersebut ada kaca yang mengarah langsung ke makhluk asing yang terkurung di dalam kaca. Sepertinya pandangan Agi memang sengaja diarahkan ke sana dengan maksud tertentu. Apalagi kalau bukan untuk bisa berkomunikasi dengan makhluk asing itu. Selama perjalanan menuju ke fasilitas rahasia militer ini, dia mendengar ketukan yang makin lama-makin kencang. Suara itu menggema di dalam kepalanya dan makin kencang saja ketika mendekati makhluk itu. Di ruangan itu terdapat dua CCTV yang terpasang di sudut ruangan dimana dua kamera itu terus merekam apapun yang dilakukan oleh penghuni ruangan tersebut. Pintu terbuka. Agi menoleh dan mendapati Samudra masuk ke dalam. Lelaki berjambang tipis itu kemudian duduk di seberangnya. Kedua orang ini kemudian saling berhadapan. “Tenang saja, apapun yang kau katakan tak akan didengar oleh mereka. Kamera itu tak merekam suara,” ucap Samudra. “Jadi percakapan kita tentang Kesadaran Bumi dan lain-lain tak akan diketahui oleh siapapun.” Agi menghela napas. Ia tahu kalau Samudra ini orang baik, setidaknya begitu. Dia cukup khawatir kalau-kalau Samudra punya niat jahat atau maksud lain. Tetapi seperti yang dikatakan Galuh kalau Samudra adalah salah satu temannya membuat Agi nyaman berada di dekat orang-orang ini. “Bagaimana setelah kau melihat makhluk itu dari dekat?” tanya Samudra sambil menoleh ke arah kaca. Agi juga menoleh ke arah tersebut. Makhluk itu tak bergerak, tetapi dia tahu kalau makhluk itu masih hidup. “Aneh saja. Beberapa kali aku mendengar ketukan. Dia berkomunikasi denganku dengan cara yang tidak biasa. Seperti telepati.” “Kekuatanmu itu, psikokinesis bukan? Mungkin hanya orang yang memiliki kekuatan psikokinesis yang mampu berkomunikasi dengannya. Ceritakan kepadaku bagaimana agar bisa berbicara dengan makhluk itu!?” Agi menggeleng. “Aku juga tidak mengerti. Aku hanya mengerti apa yang dia lakukan. Aku seolah-olah seperti melihat apa yang dia lihat. Merasakan apa yang dia rasakan. Seperti kau tahu siaran televisi yang dibroadcast ke seluruh negeri ini. Kita seperti melihat, mendengar dan merasakan sesuatu yang sama. Aku sempat pingsan ketika pertama kali berkomunikasi dengannya.” “Lalu apa yang kau rasakan sekarang?” tanya Samudra penasaran. “Tak ada. Hanya ketukan yang menggema,” jawab Agi. “Seperti ini?” tanya Samudra sambil mengetuk meja dengan irama tertentu. Agi mengernyit lalu menjentikkan jarinya. “Tepat seperti itu. Bagaimana kau bisa tahu?” “Proefesor yang memberitahukan kami dan merekam bagaimana gelombang itu bisa masuk ke dalam salurah komunikasi. Ada gelombang statis yang menginjeksi saluran komunikasi kami sehingga semua alat komunikasi tidak bekerja. Dan ini yang kami dengar setelah suara itu diperlambat lagi,” jelas Samudra. “Siapa profesor yang kamu maksudkan?” tanya Agi. “Apakah dia sangat ahli di dalam bidang ini?” “Dia sangat ahli. Tentu saja sangat ahli, bahkan sekarang ini dia sedang meneliti tentang pengembangan bahan pangan yang akan bisa digunakan jangka panjang. Sayangnya ada persoalan seperti ini sehingga kami harus membawanya kemari,” terang Samudra. “Tunggu dulu. Siapa nama profesor itu?” tanya Agi. “Profesor Garry,” jawab Samudra. “Profesor Garry Pramudya?” tanya Agi untuk meyakinkan. Samudra mengangguk. “Iya.” Agi segera bangkit dari tempat duduknya. Tampak raut wajahnya berubah. Dia memeluk tubuhnya sendiri seakan-akan ketakutan. Dagunya tampak gemetar. “D-dia a-ada di sini?” Samudra mengangguk. “Iya, dia ada di sini.” “Tidak. Tidak mungkin. Pulangkan aku! Bawa aku pergi dari sini. Cepat!” seru Agi. Dia segera menuju ke pintu, tetapi Samudra menghalanginya. “Tenanglah apa yang sebenarnya terjadi? Kau kenal dia?” tanya Samudra. “D-dia ayahku. Tolong jangan sampai aku melihatnya, tolong! Aku mohon kepadamu! Jangan sampai aku mendekatinya,” terdengar suara Agi mengiba. Samudra tak pernah melihat ketakutan terpancar dari raut wajah seseorang seperti ini. Terlihat Agi seperti baru saja melihat hantu. “Kau tahu aku tak bisa melakukan itu. Keberadaanmu dibutuhkan di sini,” ucap Samudra. “Apapun itu aku tak mau. Aku tak bisa! Aku harus keluar dari tempat ini. Harus!” seru Agi. Samudra memegangi kerah baju Agi. “Dengarkan aku! Aku tak bisa membiarkanmu keluar dari tempat ini. Aku tak bisa melakukannya. Kau harus tenang. Apa yang terjadi antara kau dengan ayahmu?” “Kau tak mengerti, kau tak mengerti!” seru Agi. Dengan satu hentakan tiba-tiba tubuh Samudra terpental hingga menghantam tembok. Agi lalu segera menuju ke pintu untuk membukanya. Saat itulah Samudra hendak menggunakan kekuatan anginnya tapi melihat CCTV yang berada di ruangan itu, ia pun mengurungkan niatnya. Dia tak mau kemampuannya mengendalikan angin terekam oleh kamera. Segera ia bangkit untuk mengejar Agi yang sudah keluar dari ruangan tersebut. Ternyata di luar ruangan itu sudah ada dua prajurit yang berjaga. Keduanya berusaha untuk menghalangi Agi agar tidak pergi. Tetapi seperti sebelumnya, belum sempat mereka menangkap pemuda itu dengan kekuatan psikokinesisnya Agi melempar kedua orang itu ke udara. Samudra kemudian dengan sigap menerjang Agi dari belakang sambil mengunci tubuhnya. Lengan Agi ditekuk sambil dia tindih. “Abisoka! Dengarlah, aku juga pemilik kekuatan ajaib. Aku bisa menjatuhkanmu, tetapi saat ini kita tak bisa berbuat seenaknya. Aku akan menggunakan cara apapun agar kau tetap ada di sini. Saat ini dunia sedang membutuhkanmu!” ujar Samudra. Detik itu Agi tak bisa bergerak. Seberapapun ia mencoba untuk menggunakan kekuatannya rasanya ada sesuatu yang membendungnya. Entah apa. Padahal tidak ada apapun di sampingnya, bahkan di atasnya hanyalah Samudra tetapi lelaki ini sannggup menimpa tubuhnya dengan berat laksana beratnya seekor gajah Afrika. Samudra tidak sendiri, dia dibantu oleh sahabatnya tentu saja, Angin. Angin mendorong Samudra hingga mengunci Agi agar tidak bergerak. Sekuat apapun dorongan yang dilakukan oleh Agi, maka Samudra akan menekannya lebih kuat lagi. Ditambah, pilot muda kebanggaan TNI ini pandai ilmu silat, sehingga untuk menjatuhkan orang seperti Agi tidaklah sesulit yang dibayangkan. Perlahan-lahan Agi pun mulai tenang. Ia capek sendiri dengan usahanya untuk melepaskan diri. Dia bingung antara harus mengikuti apa yang disarankan oleh Samudra ataukah tidak. Ada sesuatu di dalam tubuhnya yang memberontak setiap nama ayahnya disebut. Ada perasaan gelap yang amat mengerikan dimana jiwanya terhisap di dalamnya. Kegelapan yang mencekam, membuat hatinya menghitam tak bisa melihat apapun yang ada di hadapannya. Samudra terpaksa memborgol Agi lalu meletakkannya lagi ke ruangan putih tadi. Sementara itu kedua orang yang diterbangkan oleh Agi tampaknya tak terluka, meskipun begitu mereka baru kali ini mengalami kejadian luar biasa seperti ini. Dengan dibantu oleh beberapa orang, Agi disuntikkan zat penenang agar tidak berbuat yang aneh-aneh. Zat tersebut dengan suskes telah mengacaukan pikirannya sehingga ia tak bisa fokus untuk menggunakan kekuatan psikokinesisnya. Sebagai seorang yang sama-sama memiliki kekuatan ajaib, Samudra ikut merasa peduli dengan keadaan Agi. Dia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan pemuda itu. Bagaimana ia sampai berbuat seperti itu saat nama Profesor Garry disebut? Apa yang sebenarnya terjadi kepadanya? Untuk mengetahui jawaban itu, maka dia segera bergegas untuk menemui Galuh yang masih berada di dalam fasilitas tersebut. Atau kalau toh Galuh tidak ada, ia ingin langsung mendengar dari mulut sang profesor. Apa yang sebenarnya terjadi dengan mereka? Trauma apa yang menyebabkan Agi sampai bertindak seperti itu? Di laporan yang ia terima Abisoka alias Agi Syahputra mendapatkan trauma. Tetapi kejelasan tentang trauma tersebut tidak dituliskan dengan lengkap. Di dalam laporan itu hanya ditulis bahwa Agi memiliki kekuatan aneh setelah kecelakaan yang dialami, itu aneh. Karena, siapa yang bisa mengetahui ia memiliki kekuatan ajaib itu kalau bukan ayahnya sendiri. Dari sini Samudra mengambil kesimpulan yang mengisi ini pasti Profesor Garry. Dia tahu tentang Agi dan telah terjadi sesuatu dengan keduanya. Trauma apa yang menyebabkan Agi sampai takut seperti itu kepada orang tua itu? Segera Samudra bergerak menuju ke tempat dimana Profesor Garry berada. Dia tahu pasti Galuh juga ada di sana. Tanpa ada halangan dari siapapun ia pun masuk ke dalam ruangan laboratorium. Masuk ke ruang pembersihan sebagaimana Galuh juga melewatinya hingga kemudian menemui Profesor Garry yang saat itu sedang berbicara dengan Galuh dan juga Rio. Melihat kedatangan Samudra, maka Profesor Garry tahu telah terjadi sesuatu. Tanpa permisi segera saja Samudra mencengkeram kerah baju Profesor Garry. Galuh sampai terkejut melihat bagaimana kemarahan Samudra. Sebab sebagaimana yang Galuh ketahui tentang Samudra, pemuda itu tidak marah pasti ada alasan yang menyebabkannya demikian. “Apa yang sebenarnya telah kau lakukan kepadanya?” desak Samudra. Dia mendorong lelaki paruh baya itu sampai menghantam lemari yang ada di pinggir ruangan. Kemudian dengan kepalan tangannya ia menghantam lemari tersebut hingga hancur. Pukulan itu hanya berjarak beberapa sentimeter saja dari kepala sang Professor. “Katakan kepadaku apa yang sudah kau lakukan kepadanya!?” suara Samudra meninggi. “Sabar Kap, kita bisa bicarakan hal ini!” ucap Profesor Garry berusaha menenangkan Samudra yang sedang naik pitam. “S-Samudra apa yang sebenarnya terjadi? Lepaskan dia! Kau gila?” bujuk Galuh sembari mencoba menenangkan Samudra. Samudra menoleh ke Galuh. “Kau tahu apa yang terjadi dengan Agi? Dia takut ketika mendengar nama orang ini disebut. Sebenarnya apa yang dilakukan orang ini sampai Agi begitu ketakutan?” “Kapten Samudra, kita bisa membicarakan ini asal kau lepaskan dulu tanganmu!” ujar Profesor Garry. “Kapten. Kita masih membutuhkan Profesor, sabar! Kita bisa bicarakan hal ini,” ucap Rio berusaha membujuk Samudra untuk sabar. Samudra kemudian menghempaskan tangannya hingga Profesor Garry terdorong. Samudra lalu berbalik mengambil kursi yang ada di ruang laboratorium itu. Dengan menatap tajam ke arah lelaki paruh baya tersebut Samudra berusaha untuk tenang sambil berusaha mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh ilmuwan ini. Profesor Garry merapikan bajunya sambil membersihkan tenggorokannya. Dia mencoba tenang sambil menarik napas dalam-dalam. Tak ada raut wajah menyesal atau takut. Dia cukup tenang. Melihat sorot wajah Samudra dia sedikit bisa memahami kenapa Samudra semarah itu. “Dia mengeluarkan kekuatannya?” tanya Profesor Garry. “Iya, dia menerbangkan aku dan dua prajurit,” jawab Samudra. Lelaki paruh baya itu mendesah. Dia mengambil tempat duduk di depan Samudra. Ia meremas lututnya sambil mendongakkan wajah untuk mengingat-ingat sesuatu. “Ada sesuatu yang memang aku rahasiakan, tapi tak apa aku bisa menjelaskan. Aku harap kalian tidak menghakimiku terlebih dulu, karena kita sekarang dalam keadaan darurat. Maka dari itu aku hanya menceritakan apa yang perlu, selebihnya kita harus kembali kepada pekerjaan kita,” ucap Profesor Garry. “Itu tidak membantu,” ucap Samudra. “Kenapa?” “Karena kau tak mengerti apa yang aku lihat di dalam ruang isolasi. Dia benar-benar ketakutan! Ketakutan macam apa yang kau berikan kepadanya bahkan ketika mendengar namamu saja ia seperti itu? Orang yang memiliki kekuatan psikokinesis seperti dia bisa-bisa membuat fasilitas ini hancur!!” bentak Samudra. Profesor Garry nyengir. “Bagaimana kau bisa yakin fasilitas ini bisa hancur?” “Kau tidak mengerti kalau orang-orang yang memiliki kekuatan khusus seperti dia bisa bertindak yang di luar nalar. Aku sendiri pernah melihat orang yang mengeluarkan kekuatan seperti itu,” ucap Samudra. “Kau kira aku tidak tahu? Aku tahu semuanya. Beberapa tahun yang lalu ada kejadian luar biasa seorang perempuan bernama Aprilia bisa mengeluarkan kekuatan api dari tangannya. Ia membuat seorang remaja terluka setelah menjatuhkan lampu jalan, kemudian dia diisolasi di suatu tempat khusus sampai mentalnya yang tidak stabil sembuh. Kemudian beberapa tahun setelahnya ada peristiwa yang sangat menghebohkan tanaman-tanaman raksasa misterius muncul di tengah kota Jakarta, orang-orang tiba-tiba bunuh diri tanpa sebab, setelah itu tanaman itu dibakar habis oleh api yang entah munculnya dari mana. Sepuluh tahun yang lalu juga ada peristiwa tsunami yang nyaris menenggelamkan kota Jakarta, entah bagaimana ombak sebesar itu bisa terhenti begitu saja. Dan satu kamera dari pesawat helikopter meliput dari udara memperlihatkan pertarungan yang sangat hebat antara manusia yang bisa terbang dengan monster raksasa batu. Mereka bertarung cukup hebat hingga kemudian di akhiri dengan badai petir yang menghancurkan monster raksasa batu tersebut. Aku tahu itu semua dan aku mempelajari orang-orang yang terlibat. “Setidaknya ada dua orang yang aku tahu identitasnya. Mereka adalah Aprilia dan Dina. Aprilia seseorang gadis remaja yang bisa mengeluarkan api. Kemudian dia dikeluarkan dari rumah sakit jiwa, setelah itu ia menjadi bidan. Pada malam munculnya api yang membakar pohon-pohon raksasa itu dia hilang, tak ada kabar. Sedangkan satu lagi Dina, gadis ini adalah seorang manusia yang bisa berkomunikasi dengan tanaman-tanaman. Dialah yang membuat Jakarta tertutup oleh tanaman raksasa itu. Dia sendiri yang memberikan rekaman pengakuan setelah ia menghilang selama berhari-hari pada peristiwa hebat itu. Dia mengaku kalau melakukan semua ini karena orang yang sangat dicintainya yaitu Kapten Bumi. Sampai sekarang pihak yang berwajib tidak mengetahui siapa yang dia maksud dengan Kapten Bumi. Aku juga belum tahu. “Jadi kesimpulanku, orang-orang yang memiliki kemampuan seperti ini kebanyakan mereka memiliki persoalan dengan mental mereka. Kau lihat sendiri bagaimana berbahayanya mereka. Yang satu psikopat, yang satunya seorang yang terobsesi dengan orang lain. Lalu buat apa juga ia membunuh orang lain untuk tujuannya? Dan juga termasuk Abisoka. “Aku mengetahui Abisoka anak yang spesial setelah kecelakaan itu. Semuanya aneh, serba aneh. Bagaimana ia bisa selamat dari jatuhnya pesawat tersebut sedangkan seluruh penumpang dan awak pesawat tersebut tewas. Aku juga memergoki dia bisa memindahkan meja hanya dengan menggunakan pikirannya. Ia bahkan mampu membaca pikiranku, saat itulah aku kemudian memaksa dia untuk tidak menggunakan kekuatannya secara sembarangan. Aku mengintimidasinya, bertindak kasar, mengurungnya, semuanya karena sebab itu. Kalau dia tidak aku perlakukan khusus, kau tahu apa yang akan terjadi kepadanya? Dia akan seperti Aprilia dan Dina. Itulah alasanku melakukan perbuatan itu. Dan nyatanya cara tersebut efektif. Dia bisa menyalurkan kekuatannya itu untuk berbuat baik, cukup dia mengetahui kalau ayahnya adalah orang jahat bukan orang lain. Memang caraku salah, tetapi aku sangat menyayangi anakku. “Aku memaksa dia untuk tidak menggunakan nama Agi Syahputra karena aku tak ingin dia dipanggil dengan nama itu. Dia adalah Abisoka. Aku yang menamainya ketika dia lahir. Aku sangat menyayanginya. Kalau tidak, buat apa aku harus menyediakan beasiswa sampai dia lulus kuliah? Membiayai seluruh hidupnya, kuliahnya bahkan membantunya tanpa ia ketahui. Semua perilaku kasarku, semua didikan keras itu aku lakukan agar dia tidak lepas kendali dan menggunakan kekuatannya untuk menyakiti orang lain. Cukup aku saja yang dia sakiti.” Profesor Garry menarik napas dalam dalam. Ia telah menceritakan panjang lebar alasannya. Dia mendesah. Samudra menggeleng-gelengkan kepalanya. Galuh mengernyit. Dia paham sekarang apa yang dirasakan oleh Agi. “Aku tak pernah menyangka kau seperti itu, Prof,” ucap Galuh. “Apa boleh buat? Kau tak menyadari apa yang aku lihat. Aku berpikir jauh ke depan. Aku tidak pernah berpikir pendek,” ujar Profesor Garry membela diri. “b******k! Aku ingin bekerja sama dengan orang lain. Aku akan minta Jendral untuk mengusirmu dari projek ini,” ucap Samudra sambil bangkit dari duduknya. “Kau tak akan bisa melakukannya,” ucap Profesor Garry. “Kenapa?” tanya Samudra. “Rio, katakan alasannya!” ujar Profesor Garry menyuruh Rio. “Iya, panglima TNI yang meminta Profesor Garry memimpin projek ini. Dia sudah mendapatkan persetujuan dari presiden. Waktu kita tak banyak. Kita hanya punya waktu satu minggu untuk mengetahui apa yang dikehendaki oleh makhluk asing itu,” terang Rio kepada Samudra. “Meskipun begitu aku tidak ingin profesor ini ada di sini. Dia harus dienyahkan dari fasilitas ini,” ucap Samudra sambil menunjuk wajah sang profesor. “Silakan saja kau protes ke panglimamu, tetapi kau harus sadar kalau waktu kita tak banyak. Memangnya siapa orang yang akan menggantikanku di posisi ini? Abisoka adalah anakku, aku punya alasan yang kuat untuk berada di dalam projek ini. Apalagi dalam waktu satu minggu, apa yang bisa kau lakukan untuk mencari penggantiku?” tanya Profesor Garry. “Galuh. Galuh yang akan memimpin projek ini,” ucap Samudra sembarangan. Ia tak bisa berpikir panjang. “A-aku? Sam, kau gila!” protes Galuh. “Kau ingin projek ini dipimpin oleh orang gila ini? SINTING!” Samudra memprotes balik. “Tapi Kapten. Kita tetap tak bisa berbuat sembarangan seperti ini Jendral Aris pasti akan naik pitam terhadap keputusan ini. Ia sudah memutuskan Profesor Garry untuk menangani projek ini. Kita tak bisa berbuat apa-apa,” sanggah Rio. Samudra juga terlihat bingung. Napasnya tampak penuh dengan amarah. Dia mengepalkan tangannya kuat-kuat lalu menghantamkannya ke meja. Berkali-kali dia mengumpat. “Sam, sabar. Kita bisa menyelesaikan ini semua. Saat ini yang paling penting adalah Agi bisa membantu kita berbicara dengan makhluk itu bukan? Aku bisa membujuknya. Aku bisa membujuk Agi agar bisa bekerja sama dengan kita,” ucap Galuh. “Percaya kepadaku! Saat ini dia hanya akan bisa mendengarkanku.” Samudra menghela napas. Dia menatap Galuh dengan keyakinan. Galuh punya kekuatan pesona. Dia pasti bisa membujuk Agi. Sekuat apapun Agi, pasti akan takluk oleh kekuatan pesona miliknya. Samudra sudah pernah menyaksikan kekuatan itu. Ia percaya kepada Galuh. “Baiklah. Tetapi, kau prof. Aku tak akan membiarkanmu mendekati Agi ataupun menemuinya. Kalau sampai kau menemuinya aku akan menghajarmu!’ ancam Samudra sambil menunjuk wajah Profesor Garry. Sang profesor mengangkat bahunya. Segera setelah itu Samudra melangkah pergi dengan diikuti oleh Galuh. Semetara itu Profesor Garry melempar pandangannya ke arah yang lain. Rio sendiri tak tahu harus berbuat apa. Persoalan kali ini benar-benar pelik. * * * Ruangan isolasi. Begitulah mereka menyebutnya untuk ruangan tempat Agi ditahan. Obat penenang telah membuat dia tenang untuk beberapa saat. Masalahnya adalah untuk berapa lama? Sebab kalau hanya diborgol saja pemuda itu bisa melepaskan diri dengan mudah, sekarang pun demikian. Tangannya diborgol di kursi, demikian juga kakinya, serta perutnya teringat dengan tali yang membelit. Sementara itu kepalanya berusaha untuk tegak tetapi selalu menunduk kembali. Pandangan Agi kabur, suara-suara yang dia dengar di sekitarnya berbenturan satu sama lain. Dia selalu mencoba untuk fokus tetapi tak berhasil. Akibatnya ia tak bisa menggunakan kekuatannya untuk melepaskan diri. Semua panca indra di tubuhnya serasa diacak. Galuh melihat Agi dari layar monitor. Dia merasa kasihan kepada mahasiswanya itu. Dia bertanya kepada Samudra. “Dia kenapa?” “Aku memberikannya obat penenang. Sebab kalau dia sampai dalam keadaan tersadar, sesuatu yang buruk akan terjadi. Kita tidak menyukai hal itu. Tapi jangan khawatir, pengaruh obatnya akan hilang beberapa saat lagi,” jawab Samudra. “Untuk sementara kita harus menjauhkan dia dengan ayahnya. Kau temannya bukan? Apa yang sebenarnya terjadi kepadanya sampai seperti itu?” “Dia tak cerita banyak. Yang aku tahu, dia trauma dengan masa kecilnya. Terutama ayahnya,” jawab Galuh sambil mendesah. “Ini seharusnya tidak terjadi. Kau tahu apa yang akan terjadi kalau sampai dia dalam keadaan sadar? Bukan saja ia tak mau membantu kita, tetapi juga akan sangat berbahaya bagi yang lain,” jelas Samudra. “Kau tahu sendiri bagaimana kekuatan anak itu. Kau sudah pernah melihatnya, tetapi kenapa kau tidak menceritakannya kepadaku ataupun kepada Windi?” “S-sebab aku kira itu hal yang wajar. Aku juga punya kekuatan seperti itu,” ucap Galuh. “Itu tidak wajar, Gal. Kita bukan orang yang normal. Aku bisa mengendalikan angin, Windi mengendalikan air, dan kau punya pesona. Apa ada manusia normal memiliki apa yang kita punya?” Galuh terkesiap. Dia setuju dengan perkataan Samudra. Dia tidak normal. Teman-temannya tidak normal. Apakah karena alasan itu ia enggan berdekatan dengan orang-orang yang normal? Rasanya tidak nyaman dekat dengan orang yang tidak memiliki kekuatan ajaib. Mereka ibaratnya out of league. “Maaf, aku juga mengalami masa-masa sulit. Menahan kekuatan ini sendirian tidak mudah bagiku, aku ada pada kondisi di mana aku tak bisa mengendalikan kekuatanku. Efeknya juga sangat besar, kau juga sudah tahu apa yang terjadi denganku,” ucap Galuh. “Tetapi ketika aku mendekat kepada kalian, kepada Windi, kepada Ratri, kepadamu. Rasa-rasanya aku bisa melihat orang-orang yang seperjuangan. Orang-orang yang memiliki masalah yang sama. Aku kira seperti itu.” “Jadi itu sebabnya kau merasa nyaman bersama dengan Abisoka?” tanya Samudra. Galuh mengangguk. “Dia tak mau dipanggil Abisoka. Kau jangan memanggilnya dengan nama itu.” “Aku bisa mengerti. Tetapi kau bisa membantu kami? Tolong bujuklah dia!” pinta Samudra. Galuh mengangkat bahu. “Aku tak tahu apakah aku akan berhasil membujuk dia atau tidak. Tetapi aku bisa berusaha untuk membujuknya. Dia sangat menyukaiku.” Samudra menahan tawa. “Benarkah? Bagus kalau begitu.” “Jangan meledekku!” keluh Galuh. “Bukan bermaksud begitu, tetapi aku bisa mengerti bagaimana dia menggenggam tanganku lama-lama seperti tadi. Kau sendiri diam saja ketika diperlakukan seperti itu,” goda Samudra. “Sam, itu karena aku juga takut. Dan wajar kalau dia mencoba menenangkanku!” protes Galuh. “Oh ya? Kau sudah merasa nyaman dengannya? Sebenarnya tak masalah sih. Banyak koq mahasiswa yang akhirnya jadian dengan dosennya sendiri,” goda Samudra sekali lagi. Pipi Galuh memerah. “Sekali lagi kau goda aku, aku akan menyuruh Windi untuk melemparmu ke Samudra Atlantik!” Samudra terkekeh. “Iya, iya. Maaf.” Suasana hening sesaat. Galuh mencoba untuk mempersiapkan diri sebelum berbicara dengan Agi. “Apa yang harus aku bicarakan dengannya? Rasanya alasan membujuk untuk membantu kalian dengan keberadaan ayahnya di sini tak akan bisa kita lakukan.” “Bilang saja, ayahnya tak akan mengganggunya. Aku akan menjamin hal itu,” ucap Samudra memberikan keyakinan kepada Galuh. “Kalau ia masih tak percaya, buat ia mempercayaimu. Dia pasti mau.” Samudra mengambil kotak kecil. Dia membuka kotak itu untuk menunjukkannya kepada Galuh. Ada satu alat suntik yang sudah terisi. Galuh tak tahu apa artinya. “Kau butuh ini. Kalau dia tak terkendali, suntik dia dengan ini. Ia akan tenang lagi. Kita tahu kemungkinan berhasilnya kecil, ini hanya untuk jaga-jaga,” ucap Samudra sambil menyerahkan alat suntik itu. Dia menutup kembali tutup kotaknya. Galuh pun menerimanya. “Aku baru kali ini melakukan hal seperti ini,” kata Galuh. “Berada di fasilitas militer, harus membujuk orang dengan kekuatan ajaib, alien. Semua hal ini membuatku serasa hidup dalam dunia science-fiction. Sebenarnya aku lebih ingin menikmati hidup daripada harus berurusan dengan ini semua.” “Tapi ini adalah kenyataan, Gal. Kalau kenyataanmu adalah science-fiction, maka kau harus bersyukur menikmati kenyataan itu dan perlu membanggakan diri karenanya. Kau tak perlu repot-repot untuk menyewa kru film untuk mendokumentasikannya. Hidup sendiri adalah dokumentasi untuk setiap insan,” ujar Samudra. Galuh tersenyum mendengar penjelasan Samudra. “Kau makin bijak saja. Aku sampai tak menyangka kau ini adalah temanku ketika SMA.” Samudra tak merespon mendapatkan pujian itu. Dia sebenarnya tersipu malu, tetapi ia sembunyikan dengan wajahnya yang tanpa ekspresi. Galuh menepuk bahunya sebelum ia berbalik untuk menemui Agi. Perempuan itu berhenti sejenak untuk menoleh terakhir kalinya kepada Samudra. “Oh iya, temuilah Windi! Kau tahu bagaimana dia yang selalu bersabar untuk bisa menunggu waktu yang tepat untuk bertemu denganmu? Kurasa dia lebih menunggu jawaban dari setiap penantiannya selama ini,” kata Galuh sebelum pergi meninggalkan Samudra. Samudra hanya mengangguk. Dia tak bicara, membuat Galuh sendiri ragu apakah Samudra ada di situ ataukah tidak. Untuk sesaat Galuh tak memikirkan apa yang terjadi dengan Samudra dan Windi. Sekarang ia menatap ke depan, kepada Agi Syahputra yang berada di ruang isolasi. Ruangan isolasi itu ada di samping tempat mereka berada. Ruangan itu dijaga oleh dua orang bersenjata lengkap. Saat Galuh berada di depan pintunya kedua orang itu membukakan akses kepadanya untuk masuk. Galuh pun masuk ke dalam ruangan serba putihi dengan salah satu dindingnya terbuat dari kaca tebal. Dari situ Galuh bisa melihat makhluk asing itu terkapar di dalam tabung kaca raksasa. Perhatiannya kemudian beralih ke Agi. Napas Agi teratur tetapi kepalanya berputar-putar mencoba untuk fokus. Galuh dengan tenang duduk di hadapannya. Galuh meletakkan kotak yang berisi alat suntik di meja. Dia menggigit bibirnya sendiri. Bingung, takut dan waspada. Suasana hati yang tidak bisa dia gambarkan saat itu. Tetapi ia tetap harus berpikir positif. Kalau Agi benar-benar mencintainya maka pasti suaranya akan didengar, meskipun mungkin saja tidak. “Agi?” panggil Galuh. “Kalau kau mendengarku, konsentrasilah kepada suaraku. Aku tahu obat penenang itu mengacak panca indramu, tetapi kau harus fokus kepada suaraku. Aku ingin bicara.” Agi saat itu mendengarkan suara Galuh seperti menjauh lalu mendekat. Tak tentu. Pandangannya masih kabur, tetapi ada suara-suara lain di dalam otaknya, ketukan cepat lalu ketukan pelan. Suara-suara itu menggema membuat kepalanya makin sakit. Dia tak bisa mengendalikan pikiran di otaknya. Pupil mata pemuda itu membesar dan mengecil. Di hadapannya ada Galuh, tetapi sekaligus juga ruangan kelabu dan gelap dengan berbagai warna-warna suram. Dia juga melihat dirinya sendiri dari luar tubuh. Setelah itu ia melihat bayangan dari ingatan lain, truk yang hendak menabrak Galuh, sepeda motor yang hendak menabrak Galuh, bayangan wajah adiknya, semuanya berbenturan satu sama lain. Otaknya juga mengakses memori di mana dia berada di dalam pesawat, terbelah, jatuh, melayang hingga diselamatkan oleh Ultima. Tiba-tiba tubuhnya terasa berat. Dia melawan bayangan-bayangan itu. Akibatnya terjadi sesuatu yang mengejutkan. Gedung fasilitas rahasia ini bergetar hebat. Tangan Agi mengepal, ia berusaha menyingkirkan semuanya. Galuh panik lalu beranjak untuk mendekati Agi. “Agi, kau harus tenang! Agi!” seru Galuh. Samudra yang mengawasinya di layar monitor khawatir. Fasilitas rahasia ini benar-benar bergetar hebat seperti terkena gempa. Lampu-lampu juga mengedip aneh. Para prajurit dan ilmuwan yang berada di dalamnya keheranan dengan apa yang sedang terjadi. Saat kepala Agi berputar-putar, Galuh pun menangkapnya. Kedua tangannya menangkap kepala Agi agar tidak bergerak. Mata Agi tidak fokus, ia seperti melihat Galuh dari kejauhan, sedangkan di sekeliling perempuan itu seperti komidi putar yang terus berputar tanpa henti. Pusaran air atau pusaran angin topan terlihat hendak menenggelamkan wajah Galuh dari pandangannya. Agi menyipitkan mata, memaksa fatanya untuk fokus. “Agi, kau bisa dengar aku. Fokus! Aku ingin kau fokus! Tenanglah. Aku ada di sini!” pinta Galuh. Tetapi rasanya percuma. Getaran di gedung itu makin hebat. Lampunya pun berkedip tidak karuan. Samudra mengambil satu mic yang terhubung langsung ke pengeras suara di ruang isolasi. Dia menekan tombol ON yang berada di pengeras suara tersebut. “Gal! Tenangkan dia!” desak Samudra. “Ambil alat suntiknya!” Galuh tidak menggubris permintaan Samudra. Dia punya cara lain yang lebih ampuh. Dia pernah mencoba untuk mempengaruhi Agi dengan kekuatan pesonanya, tetapi Agi tak bisa dipengaruhi. Kekuatan hati adalah salah satu antithesis dari kekuatan pesona. Maka ada satu cara yang akan dilakukan Galuh meskipun mungkin menggelikan. “Kalau kau mencintaiku, maka tubuhmu akan bereaksi dengan ini,” ucap Galuh. Tiba-tiba ia menempelkan bibirnya ke bibir pemuda yang ada di hadapannya. Ia mengecup bibir Agi. Tiba-tiba goncangan itu berhenti. Samudra terperangah menyaksikan peristiwa ini. What the hell did I just saw?? Panca indra Agi fokus kepada satu hal. Perasaan. Dia tahu tak bisa menggunakan matanya untuk melihat, tak bisa menggunakan telinganya untuk mendengar, tak bisa menggunakan mulutnya untuk bicara, tetapi ia memiliki perasaan suka kepada Galuh. Perasaan cinta yang kemudian disambut oleh Galuh. Kedua perasaan ini beresonansi menggagalkan seluruh teori fisika kuantum, teori kimia dan teori-teori sains yang lain. Getaran kosmis keduanya tersinkronisasi, menyebabkan suara-suara dari hati mereka terdengar satu sama lain. “Aku mencintaimu.” “Aku juga mencintaimu.” * * *
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN