Cuaca hari itu mendung. Sebenarnya bukan waktu yang tepat untuk jalan-jalan keluar, tetapi Agi menekadkan diri untuk keluar. Biarpun bukan Agustus tetapi cuaca cukup dingin. Bahkan sekarang saja embun pagi menutupi beberapa daerah di kota Malang. Halaman kampus juga diselimuti embun, bahkan butiran-butiran airnya bisa terasa saat berjalan keluar. Wajah Agi tertampar oleh ratusan butiran embun. Dia menghabiskan waktu dengan joging keliling kampus. Lingkungan kampus masih sepi waktu itu, hanya terlihat beberapa orang yang sedang joging sambil bersantai di bangku. Butiran-butiran embun menetes dari ujung dedaunan yang basah, Agi sengaja memukul batang pohon agar butiran-butiran itu jatuh ke tanah. Meskipun hal itu iseng, tetapi ia suka melakukannya.
Saat ia mulai melewati setapak jalanan lurus di antara pepohonan, dia pun berpapasan dengan seseorang yang tentu saja ia kenal. Galuh tampak juga melakukan joging. Dia memakai baju training lengan panjang berwarna biru dongker dengan kerudung berwarna abu-abu. Agi langsung melambai kepadanya.
“Hai?!” sapa Agi.
Galuh cuma tersenyum sambil mengangguk. Ia tetap berlari meninggalkan pemuda itu. Merasa tidak diacuhkan segera Agi mengejarnya. Mereka pun berlari beriringan.
“Koq menghindar?” tanya Agi.
“Nggak apa-apa. Ingin konsen lari saja,” jawab Galuh.
“Baiklah, aku akan temani,” ucap Agi.
Keduanya berlari beberapa meter, hingga Galuh berhenti lalu berjalan. Agi menghentikan larinya. Keduanya mengambil napas sejenak. Rasa sejuknya udara pagi membuat paru-paru mereka terasa lebih segar. Dengan sedikit jengkel Galuh berkacak pinggang.
“Ada apa sih? Rese’ amat?” tanyanya.
“Lho, akukan cuma ingin lari bersama,” jawab Agi.
“Nggak usah. Aku kepingin lari sendiri,” ujar Galuh.
“Kau memikirkan tentang ucapakanku beberapa waktu lalu?” tanya Agi seraya mengingatkan tentang perjumpaan mereka tempo hari.
“Tidak juga. Aku terlalu sibuk untuk urusan seperti itu,” jawab Galuh. Dia lama-lama jengkel juga dengan pemuda yang satu ini.
“Baiklah, sepertinya kau tak ingin diganggu. Padahal aku ingin bicara tentang banyak hal. Alien, kekuatanku, juga tentang resonansi,” jelas Agi.
“Ada apa tentang alien?”
“Begini, aku sudah pernah bilang kepadamu kalau aku mungkin bisa berkomunikasi dengan alien tersebut. Aku pernah pingsan setelah berkomunikasi dengan alien itu lalu kemudian aku sadar sudah di rumah sakit dan Dokter Windi yang memeriksaku,” jelas Agi.
“Oh, dari situ kau tahu tentang Windi,” ucap Galuh manggut-manggut.
“Iya. Nah, sebelum pingsan itu rasanya makhluk itu mengirimkan sesuatu kepada otakku. Semacam bayangan, dimana waktu itu aku seperti melihat apa yang dia lihat. Rasa-rasanya otakku dan otaknya berhubungan satu dengan yang lain. Kemudian ada suara seperti ketukan di kepalaku. Aku tak bisa menjelaskannya tetapi suara itu bergema dengan ritme teratur,” ujar Agi.
“Maksudmu, kamu dengan kekuatanmu bisa berkomunikasi dengan alien itu dan menyatukan pikiran?”
“Tepat sekali. Aku sangat yakin kalau alien itu masih berada di bumi. Hanya saja aku tak tahu di mana tempatnya atau mungkin sedang ditahan oleh pihak militer,” ujar Agi.
“Lalu apa hubungannya dengan resonansi yang kau sebutkan tadi?”
Agi berdehem kemudian tangannya mulai bergerak-gerak menjelaskan sesuatu yang menurut teorinya adalah cara alien tersebut berkomunikasi. “Aku tahu sampai sekarang tak ada yang bisa berkomunikasi dengan alien tersebut, sebab kalau sudah ada pasti beritanya sudah menyebar kemana-mana. Alien yang kita ketahui ini tidak berbicara dengan cara yang biasa. Kita berbicara dengan komunikasi suara, lalu bahasa. Makhluk ini tidak seperti itu. Dia berbicara dengan resonansi yang mana apabila ada makhluk dengan frekuensi yang sama maka dengan cara itulah mereka berkomunikasi.”
“Maksudmu dengan frekuensi gelombang suara yang sama?”
Agi mengangguk. “Iya, tepat sekali. Maka dari itulah aku bisa berkomunikasi dengan alien tersebut.”
“Itu tidak masuk akal. Bagaimana sains bisa menjelaskannya? Ketahuilah! Kekuatanku sendiri tak bisa dijelaskan secara ilmiah. Bagaimana aku bisa menjelaskan secara ilmiah kalau mataku bisa mempengaruhi orang lain? Aku ini pemilik kekuatan pesona. Aku bisa mempengaruhi orang lain dengan sekali menatap mereka,” jelas Galuh.
“Aku sudah tahu,” ucap Agi.
“Kau sudah tahu? Bagaimana kau bisa tahu?”
“Aku ini pemilik kekuatan psikokinesis. Aku bisa mengetahui isi pikiranmu. Aku bisa menyelam lebih dalam lagi tentang apa yang kamu pikirkan sekarang ini. Aku bahkan bisa mengetahui masa lalumu dan apapun yang terjadi denganmu,” jawab Agi.
Galuh menelan ludah. “Kau... tahu segalanya?”
Agi mengangguk. “Aku tahu.”
“Tentang aku dan Windi kau juga tahu?”
Agi mengangguk lagi. “Aku tahu tentang masa lalumu. Kau tak perlu takut kepadaku, karena kekuatanmu itu tak akan berpengaruh kepadaku.”
“Bagaimana mungkin? Buktinya kau sudah terpengaruh kepadaku!”
Agi menggeleng. “Ini bukan karena pengaruh kekuatanmu. Kau ingat ketika kita pertama kali bertemu? Apakah kau menggunakan kekuatanmu kepadaku?”
Galuh mengingat-ingat lagi saat ia dan Abisoka bertemu untuk pertama kalinya. Dia sama sekali tak ingat pernah menggunakan kekuatannya kala itu. Ketika setiap benda yang bergerak dihentikan oleh pemuda yang ada di hadapannya ini. Tetapi tetap saja ia tak percaya kepada Agi. Memberikan kepercayaan kepada orang yang tidak dikenalnya sangatlah berbahaya. Ia tak mau seperti itu. Ia pernah memberikan kepercayaan kepada Daniel, tetapi ternyata tak seperti yang dia duga.
“Sudahlah, aku tak ingin mempercayainya. Sudah banyak hal yang aku lihat. Aku sudah memberikan solusi kepadamu untuk bertemu dengan Johan. Dia satu-satunya orang yang bisa mengerti keadaan kita,” ucap Galuh. Dia memang berpikir rasional. Hanya Johan yang bisa mengerti keadaan Agi saat ini. Seorang Geostreamer yang mampu berkomunikasi dengan planet tentu saja bisa mengerti keadaannya. “Sampai jumpa!”
Galuh kemudian bergegas pergi. Agi memejamkan matanya untuk bisa menahan emosinya. Dia tak suka kalau ada orang yang sangat keras kepala seperti Galuh, kenapa juga sampai gadis itu berusaha menjaga jarak dengan siapapun? Apakah karena Agi tidak setara dengan dirinya?
“Kau itu sombong,” ucap Agi.
Galuh menghentikan langkahnya lalu membalikkan badan. “Maksudnya?”
“Iya, kau itu sombong. Kau memandang remeh diriku bukan? Begitu juga dengan orang-orang yang baru kau kenal. Kau pandang remeh semuanya, makanya kau seolah-olah seperti orang yang menutup diri. Katakan kalau aku salah,” ucap Agi. Ucapannya ini benar-benar seperti menyulut api.
“Kau sinting. Aku bukan orang seperti itu,” bantah Galuh.
“Kau seperti itu. Aku bisa mengetahuinya. Kau memikirkan kalau aku ini tidak setara dengan dirimu. Kau itu seorang profesor, seorang yang berpendidikan tinggi sedangkan aku hanyalah seorang mahasiswa biasa yang pendapatnya tidak lebih dari anak kemarin sore. Begitu kan pikiranmu?”
“Itu tidak benar!” bantah Galuh.
“Iya, itu benar. Akui saja. Aku bisa membaca pikiranmu. Kau jelas mengatakan itu di dalam hatimu,” ucap Agi membantah Galuh.
“Itu tidak benar. Kau jangan bicara seenaknya!”
“Kalau tidak benar lalu kenapa kau berkata kalau aku bukan orang yang berkompeten untuk diajak berbicara. Masih anak kemarin sore, masih belum mendalami teori-teori sains. Apapula yang kau gumamkan dalam hati itu?” ucap Agi. Dia benar-benar telah menyelami pikiran Galuh.
Galuh merasa tak bisa mengelak. Sebab memang itu yang dia pikirkan selama ini kepada Agi. Dia merasa Agi tidak sebanding dengannya. Baik dalam hal akademis dan pengalaman. Dia selalu mencari orang yang lebih tinggi tingkat pengetahuan daripada dirinya. Maka dari itulah ia sangat menghormati profesor Garry yang selama ini menjadi tutornya, menjadi orang yang paling baik diajak berdiskusi. Kata-kata Agi sudah bisa membuktikan kalau pemuda itu bisa membaca pikirannya tetapi Galuh bersikeras bukan itu maksud yang sebenarnya.
“Aku tak habis pikir, aku bisa bertemu dengan orang sepertimu. Kau berubah, Bu Dosen!” ucap Agi. Dan kata-kata Agi itu menohok sekali.
“Kau sok tahu. Kau sama sekali tak tahu tentang diriku,” ucap Galuh. “Pergilah, jangan temui aku lagi!”
“Aku tak bisa,” ucap Agi.
“Terserah!”
Galuh kesal. Dia berjalan menuju gerbang kampus yang langsung terhubung dengan jalan raya. Agi masih mengamatinya dari jauh. Ada kesan ia sangat bodoh dalam urusan ini. Galuh sedang mengalami masa trauma. Trauma bukan kepada sesuatu, melainkan trauma kepada dirinya sendiri. Akibat kekuatannya banyak kekacauan terjadi. Agi tahu kalau Galuh tidak bermaksud demikian. Dia tahu kalau Galuh pernah berbuat baik dengan menolong sahabatnya, memaksa Gagah Prambudi untuk mengakui perbuatannya sendiri itu adalah hal yang baik.
“Aarrgghhhh, bodoh. Aku bodoh!” seru Agi mengutuk dirinya sendiri. Segera dia berlari mengejar Galuh.
Galuh termenung di pinggir trotoar. Dia menatap kosong. Perkataan Agi terngiang-ngiang di kepalanya. Apakah ia benar-benar sombong dan memandang remeh orang lain? Apakah selama ini ia seperti itu? Bagaikan tertusuk pedang, ia serasa sesak memikirkan ucapan Agi yang begitu menusuk. Tetapi ia tak butuh ditolong, ia juga sudah tak mau percaya lagi kepada siapapun. Baginya hanya sahabat-sahabat dekatnya saja yang bisa dia percayai sekarang ini. Windi, Samudra, Ratri, Jimmy, dan Johan. Mereka orang-orang yang bisa dia percayai.
Kaki Galuh kemudian melangkah. Dia menginjak aspal tanpa menengok kanan dan kiri. Galuh terus menatap kosong ke depan. Dia tak tahu kalau dari arah samping muncul mobil dengan kecepatan tinggi hendak menabraknya.
Dalam keadaan seperti itu Agi yang sudah ada di belakangnya menyadari sesuatu akan terjadi. Dia segera mengerahkan seluruh kekuatan psikokinesisnya untuk menghentikan semua kendaraan yang ada di tempat tersebut. Akibatnya waktu sekali lagi seperti terhenti. Setiap manusia, setiap benda yang bergerak berhenti laksana waktu yang berhenti secara tiba-tiba.
Galuh masih tidak menyadari apa yang terjadi. Dia menundukkan kepala lalu naik ke trotoar yang ada di seberang. Kemudian dia mulai menoleh ke arah yang lain. Terkejut karena semuanya berhenti. Di seberang jalan tampak Agi sedang tersenyum kepadanya.
“A-apa yang terjadi?” gumamnya. Ia baru menyadari kalau di dekat ia tadi berjalan ada mobil yang nyaris menghantamnya. Dia lalu menyadari kalau Agi baru saja menyelamatkan dia untuk yang kedua kalinya.
Setelah itu Agi berjalan ke arahnya. Pemuda itu masih belum melepaskan pengaruh kekuatannya kepada setiap benda dan makhluk hidup yang berada di tempat tersebut. Semuanya berhenti bergerak seperti manequin kecuali dia dan Galuh.
“Kau...?” Galuh tak bisa berkata apa-apa.
“Aku minta maaf. Mungkin kata-kataku tadi membuatmu jadi melamun. Aku memang bodoh, aku memang tak tahu diri. Maaf, kalau aku tadi menghinamu. Maafkan aku,” kata Agi berkali-kali meminta maaf. “Tetapi, aku bersungguh-sungguh kepadamu kalau...aku sekarang ini benar-benar menyukaimu.”
Galuh hanya menatapnya tanpa berkedip. Pemuda ini benar-benar terus mengejarnya, entah apa yang akan dilakukannya lagi. Rasa-rasanya ia ingin pergi saja dari tempat ini.
“Kau jangan pergi!” ucap Agi yang tahu jalan pikirannya. “Aku tak akan mengganggumu lagi. Baiklah kalau kau mau sendiri, aku tak akan mengganggumu. Sampai nanti!”
Pemuda itu segera melepaskan pengaruh psikokinesisnya, seketika itu juga semua benda yang berhenti bergerak kembali seperti semula. Galuh sempat kaget mendengar suara ban mobil berdecit. Mungkin sopir tersebut menyadari akan menabrak Galuh, hanya saja kemudian setelah melihat tak ada apa-apa di hadapannya ia pun merasa aneh. Segera ia kembali menginjak pedal gas untuk melajukan mobilnya lagi.
Galuh menatap punggung Agi yang mulai menjauh. Entah kenapa dia tiba-tiba saja memanggilnya. “Abisoka, tunggu!”
Agi berhenti. Dia lalu berbalik.
“Kau mau minum kopi bersamaku?” ajak Galuh. “Anggap saja ini balas budiku, yah... meskipun tidak sebanding.”
Agi mengangguk. Galuh tersenyum. Setidaknya ia ingin mendamaikan perasaannya sendiri yang sekarang tidak karuan.
* * *
Tak butuh waktu lama untuk keduanya sudah duduk di emperan mini market. Agi menikmati secangkir kopi s**u yang tersaji di gelas plastik, Galuh juga menikmati kopi panasnya sambil menyeruputnya pelan-pelan. Galuh bingung bagaimana caranya agar pikirannya tak bisa dibaca oleh Agi. Mendadak Agi melirik ke arah Galuh, dia juga membaca apa yang ada di pikiran Galuh. Ia terseyum.
“Kau membaca pikiranku juga barusan?” tanya Galuh. Dia merasa jengkel karena setiap dekat dengan Agi seakan-akan tidak ada yang perlu disembunyikan darinya.
Agi memutar bola matanya. “Aku tak bisa mengendalikannya. Kekuatanku ini tak bisa ditutup seperti telinga begitu saja.”
“Tapi kan pasti ada caranya,” ucap Galuh bersikeras.
“Ada sih. Pertama kau lindungi pikiranmu, kedua aku tak menghiraukanmu. Tapi ini mustahil karena kita tak bisa melakukan keduanya,” jelas Agi. “Ada banyak hal dan faktor yang menghalangi kedua cara itu. Pertama kau belum pernah melakukan cara untuk melindungi pikiranmu. Kedua aku tak bisa menghiraukanmu begitu saja. Menganggapmu sesuatu yang tidak penting, aku tak bisa melakukan hal itu.”
Galuh mendesah. Dia tahu mustahil baginya sekarang untuk bisa lolos dari pengguna psikokinesis ini. Dia mulai memperhatikan Agi yang kembali menikmati kopi panasnya. Kalau dilihat-lihat cowok ini ada sisi maskulin di dalam dirinya. Dari badannya terlihat kalau Agi suka olahraga. Anak ini sepertinya masih bersikeras untuk bisa mendekatinya, biarpun dengan cara yang terkadang tidak biasa.
Agi menikmati bagaimana pikiran Galuh berbicara. Dia dalam hati tersenyum begitu saja mendengar komentar-komentar Galuh di dalam hati. Galuh mengernyit menyadari kalau hatinya membicarakan cowok yang ada di hadapannya.
“Ah, sial. Kau dengar itu juga?” tanya Galuh.
“Apa?” tanya Agi pura-pura tidak tahu.
“Abisoka, aku tidak suka orang yang berbohong,” ujar Galuh.
“Aku tak mengerti,” kata Agi.
Dengan wajah bersemu merah Galuh beranjak dari tempatnya duduk. Ia merasa jengkel dekat dengan Agi dalam radius sedekat itu. Seolah-olah ia sama saja menelanjangi dirinya.
“Aku mau pulang, nikmati saja kopinya,” ucap Galuh sambil meninggalkan tempat dia duduk.
“Bu Dosen tunggu!” cegah Agi.
“Ada apa lagi?” tanya Galuh sambil berbalik.
“Kau tak perlu sewot seperti itu. Aku sudah bilang, aku tak bisa mengendalikan kekuatanku dalam soal ini. Tetapi aku bisa melatihmu agar pikiranmu tidak bisa lagi aku baca,” ucap Agi.
Galuh menggeleng. “Aku tak tertarik. Biarpun kau bisa membaca pikiranku, tak ada hal yang berarti yang bisa aku bagi kepadamu.”
“Termasuk membayangkan tubuh atletisku?” tanya Agi sambil mengusap-usap perutnya.
Wajah Galuh sekarang makin memerah. “B-bukan seperti itu. Wajar saja seorang perempuan membayangkan macam-macam kepada seorang pria. Apalagi pria itu suka berolah raga.”
“Tak perlulah begitu, kalau kau mau aku bisa koq ngasih lihat perutku yang rata,” ucap Agi sambil menaikkan kaos trainingnya hingga terlihat perutnya seperti gambaran roti sobek.
Galuh untuk sedetik melotot, tetapi kemudian ia memejamkan matanya rapat-rapat. Tubuhnya berbalik. “Ih, dasar porno. Aku pergi.”
“Lha?? Bu dosen, tunggu! Kapan-kapan kita ketemu lagi?” tanya Agi.
“Terserah!” ucapnya sambil berlalu.
Agi tertawa ngikik karena berhasil menggoda wanita pujaannya. Sedangkan Galuh hampir saja kepalanya meledak karena wajahnya sekarang benar-benar merah padam karena malu. Baru kali ini dia digoda seorang laki-laki sampai malu seperti itu. Hanya saja, ia tak marah ataupun sebal. Dia merasa nyaman dengan orang yang lebih mengetahui apa yang dia pikirkan, sehingga ia tak perlu bicara panjang lebar tentang kondisi yang sedang ia alami.
* * *
profesor Garry menyipitkan mata. Ia membaca seluruh pembicaran yang berhasil direkam di dalam kotak suara yang ada di dalam pesawat milik Samudra. Dia membaca frekuensi gelombang elektromagnetik yang diterima oleh pilot. Ada sesuatu yang membuat signal radionya terjadi jamming. profesor Garry mendengar dengan seksama rekaman tersebut.
Di layar monitornya ada sederetan rekaman suara yang tersusun dalam bentuk model gelombang longitudinal. Dia memejamkan mata sambil meresapi bunyi yang ia dengarkan. Memang benar ada suara-suara statis saat rekaman itu diputar. Suara statis itu menghalangi apapun yang didengarkan oleh menara ATC. Bisa jadi makhluk luar angkasa itu menggunakan suatu frekuensi untuk mengacak frekuensi yang digunakan pilot dengan ATC. Awalnya ia mendengarkan dalam mode biasa. Tak ada petunjuk selain suara stagnan, gemerisik, seperti gesekan dedaunan.
profesor Garry mencoba untuk melambatkan suaranya. Saat itulah dia mengernyit. Dahinya makin berkerut ketika ia mendengarkan dengan seksama suara-suara tersebut. Ada sesuatu di dalam suara itu yang tidak biasa saat diperlambat. Bukan suara statis lagi, meskipun suara statisnya masih ada, tetapi suara statis itu teratur dan membentuk suara yang lain. Penasaran dia mencoba untuk melambatkannya lagi berkali-kali lipat. Setelah melambatkannya dia kemudian menemukan sesuatu yang membuatnya terbelalak.
Ketika suara statis itu dia perbesar volumenya kemudian terdengarlah suatu suara yang jelas, meskipun statis tetapi ada ritme yang konstan dan teratur. Ketukan-ketukan bergema di dalam headset yang sedang terpasang di telinganya. Dia segera merekam suara itu. Setelah itu ia mencoba lagi untuk melambatkan, tetapi hasilnya jelek.
“Apa ini? Kau ingin berkomunikasi dengan gelombang 432hz? Jangan bercanda! Kau membuat jamming, tetapi sebenarnya itu bukan jamming biasa. Makhluk ini berusaha untuk merusak gelombang elektromagnetik lainnya yang ingin menggangu komunikasinya dengan sesuatu di planet ini. Dia datang ke planet ini karena terpancing dengan sesuatu itu?” gumam profesor Garry. Dia sering berbicara sendiri ketika sedang bersemangat untuk mengerjakan sesuatu.
profesor Garry kemudian berdiri. Ia beranjak menuju keluar dari tempat ia meneliti. Dia mencoba untuk menuju ke ruang kontrol di mana biasanya para prajurit berkomunikasi dengan orang luar. Ketika mengetahui profesor tersebut hendak masuk ke ruang komunikasi yang dijaga ketat oleh beberapa orang, maka orang yang sedang berada di dalam ruang komunikasi langsung mempersilakannya masuk daripada ribut di luar.
“Masuk saja. Biarkan profesor Garry masuk!” ucap Jendral Aris Yusvian.
profesor Garry segera masuk ke dalam ruang komunikasi. Dia mencari-cari alat untuk bisa berkomunikasi seperti radio dengan gelombang tinggi. “Aku ingin tahu apa ada alat yang bisa mendeteksi gelombang dengan frekuensi lebih dari 432hz?”
Jendral Aris Yusvian mengernyit. “Memangnya ada?”
“Aku sangat membutuhkannya, sebab makhluk itu berkomunikasi dengan frekuensi 432hz. Suara statis yang kalian dengar saat berkomunikasi dengan pilot itu bukan suara statis biasa. Aku telah merekamnya dalam perlambatan berkali-kali dan aku bisa mendengar suatu ritme. Seperti suatu kode, ketukan yang menggema,” jelas Profesor Garry.
“Prof, kita tak punya alat seperti itu,” jelas Jendral Aris.
“Tak ada? Tetapi kalian punya alat untuk mendeteksi gelombang radio?” tanya sang profesor sekali lagi.
Sang Jendral memberi aba-aba agar prajuritnya menunjukkan alat tersebut. Salah seorang prajurit memberikan isyarat agar mendekat kepadanya. Dia lalu memberikan seperangkat alat komunikasi radio. Profesor Garry tersenyum gembira melihatnya. Dia segera memasangkan headset ke telinganya. Setelah itu dengan cepat ia memutar-mutar alat untuk mencari frekuensi yang mencurigakan.
Semuanya hanya diam melihat tingkah aksi yang dilakukan oleh sang profesor. Dia mencari satu frekuensi yang mencurigakan hingga akhirnya dia menemukan sesuatu. Terdengarnya memang suara gemerisik, tetapi ada sesuatu ciri khas yang membuat Profesor Garry yakin ini adalah ulah dari alien yang mereka sandera.
“Kalian dengar itu?” tanya Profesor Garry. Buru-buru ia menyerahkan headsetnya kepada sang Jendral. Sang Jenderal menerimanya tetapi hanya suara statis, tak ada yang lain.
“Aku tak mendengar apapun,” ucap sang jendral.
“Bisa direkam suara ini?” tanya Profesor.
Sang prajurit yang ada di mejanya segera mengangguk. Dia menyalakan alat untuk merekam suara tersebut. Selama satu menit dua menit mereka menanti agar suara gemerisik itu bisa direkam. Sang Jendral hanya mengamati apa yang akan dilakukan oleh si profesor jenius tersebut. Setelah itu Profesor Garry membuat speed rekamannya melambat beberapa kali, kemudian dia memperbesar volume suara.
Semua yang ada di ruangan itu mulai mendengar sesuatu. Memang ada suara statis, tetapi di antara suara statis tersebut ada dentuman, lalu menggema beberapa kali. Sang Jendral serasa tak percaya berusaha memasang telinganya.
“Ini cara mereka berkomunikasi,” kata Profesor Garry. “Ini cara makhluk itu berkomunikasi, sekarang permasalahannya adalah aku tidak memiliki alat untuk bisa menangkap gelombang ini. Memang gelombang ini berada di frekuensi tinggi jadi manusia tidak akan bisa mendengarnya, tetapi apabila dilambatkan sampai beberapa kali, maka akan bisa diketahui makhluk itu berkomunikasi dengan sesuatu yang memiliki frekuensi yang sama. Anda tahu tentang percobaan garputala yang mana akan ikut bergetar apabila memiliki frekuensi yang sama? Seperti inilah cara makhluk itu berkomunikasi. Sekarang permasalahannya adalah makhluk itu berkomunikasi dengan siapa?”
“Maksud Anda?” tanya Jendral Aris.
“Makhluk itu berkomunikasi dengan sesuatu di bumi ini. Entah itu manusia, entah itu hewan atau mungkin juga dengan sesuatu alat. Aku tidak tahu, kalau kita bisa menyelidiki kemana gelombang ini dipancarkan dan diterima, maka tentu saja kita bisa mengetahui dengan siapa makhluk itu berkomunikasi,” jelas Profesor Garry.
“Baiklah, apa yang Anda inginkan?” tanya Jendral Aris.
“Aku ingin orang yang pandai dalam bidang elektronika. Apa Didik bisa menyediakannya untukku?” tanya Profesor Garry.
“Itu bisa diatur,” jawab Jendral Aris.
“Kalau begitu lebih cepat lebih baik, karena waktu kita tidak banyak. Makhluk itu mungkin sedang merencanakan sesuatu yang mungkin saja buruk. Aku tidak mau kalau kita sama sekali tidak mendapatkan apapun dalam penyelidikan ini. Iya kalau makhluk itu bersahabat, tetapi bagaimana kalau dia selama ini mengirimkan sinyal khusus kepada teman-temannya di luar angkasa sana untuk menyerbu kita?”
“Apa perlu kita musnahkan saja dia?” tanya sang Jendral.
“Tidak, Jendral. Aku tidak suka objek penelitianku dimusnahkan begitu saja sebelum kita menemukan sesuatu. Lagipula aku belum membedah tubuhnya. Paling tidak biarkan aku membedah tubuhnya dulu, mempelajari DNA yang ada di dalam tubuhnya baru kemudian setelah aku mendapatkan segalanya baru kau apakan saja terserah. Maka dari itu aku ingin menyelesaikannya dengan cepat sebelum kau musnahkan objek itu,” jelas Profesor Garry. Ia merasa tidak suka kalau ada yang mencampuri penelitannya, sekalipun itu orang nomor satu di negara ini.
“Baiklah. Aku mengerti,” ucap Jendral Aris. “Kalau begitu lakukan dengan cepat profesor. Aku akan menyuruh Didik untuk mencarikan orang yang tepat untuk Anda.”
“Terima kasih. Aku sangat menghargainya,” ujar Profesor Garry. Setelah itu dia melangkah pergi meninggalkann ruang komunikasi.
Semua orang kemudian menatap ke rekaman yang baru saja mereka miliki. Rekaman dari gelombang yang dipancarkan makhluk itu. Memang aneh karena makhluk itu berkomunikasi dengan gelombang tertentu. Tetapi yang lebih menjadi pertanyaan adalah dengan siapa makhluk ini berkomunikasi? Dengan kawan ataukah dengan lawan?
* * *