Bab 14

2819 Kata
A.T.MImam berjalan masuk ke dalam apartemennya yg nampak gelap. Tak ada tanda-tanda Ell di dalamnya. Langkah kakinya terus berjalan menaiki tangga menuju kamar tidurnya, rasanya begitu lelah. Dilemparkannya sembarang jas, dasi, beserta tas kantor yang berisikan beberapa surat-surat penting. Dibukanya semua pakaian yang membalut tubuhnya. Lelah yang dia rasakan tidak hanya untuk lelah fisik, tapi lelah hati juga. Kali ini dia kembali kesulitan untuk memperistri Sendi. Karena papinya sangat menentang keinginannya itu. Untuk itu Imam berusaha memutar otak bagaimana caranya agar Sendi tetap menjadi miliknya. Setelah sekian tahun lamanya, janji yang pernah dia ucap tak pernah terwujud. Imam tak berniat untuk mandi malam ini, dia langsung saja merebahkan dirinya di atas ranjang. Dipejamkan kedua matanya, namun bayangan gadis itu berputar kembali dalam pikirannya. Sebut saja Imam sudah gila, dia memang gila karena sebuah kata 'cinta'. Kata yang singkat namun bisa melumpuhkan sistem organ-organ vitalmu. Seperti otak Imam saat ini. Tak lama ponsel Imam yang tadi dia lemparkan sembarang berbunyi nyaring. Dia angkatnya panggilan itu tetap dalam kondisi mata terpejam. "Halo." "Mas ...," lirih Ell. "Ell, kamu di mana?" Imam mulai panik mendengar Ell menangis. "Aku di jalan, Mas, tadi aku belanja keluar. Lalu taksi yang kupakai mogok," isaknya. Dengan cepat Imam bangun, lalu memakai pakaian dengan seadanya. Dia bergegas menjemput Ell yang tengah sendirian di jalan. Pikiran Imam sudah memikirkan hal yang tidak-tidak. Dia sangat takut akan terjadi suatu hal buruk pada Ell. Jika sampai hal itu terjadi, sudah bisa dipastikan dia akan menyesal hingga akhir hidupnya. Mobil Jeep Imam menyusuri jalanan kota Jakarta yang sudah sedikit lengang. Matanya terus mencari sosok Ell di tempat yang sudah disebutkan tadi. Saat mata Imam sudah menangkap sosok Ell yang tengah duduk di warung pinggir jalan, dia langsung menepikan mobilnya. "Mas." Ell tersenyum menyadari Imam sudah datang menjemputnya. "Bodoh. Kamu tahu sudah malam kenapa masih saja keluar. Kalau terjadi sesuatu denganmu bagaimana?" kesal Imam sambil memeluk tubuh Ell. "Maaf, Mas. Maafkan aku," isaknya takut karena mendengar Imam mengamuk. "Janji pada Mas jangan seperti ini lagi," sesaknya. "Iya, Mas, aku janji." Ell bersyukur memiliki seorang suami seperti Imam. Yang selalu siap siaga jika dirinya butuh. Apa ini jawaban dari Tuhannya untuk menjadi satu dengan Imam? "Ya, sudah, kita pulang," ajak Imam. Dia menggenggam tangan Ell posesif seperti tidak ingin kehilangan Ell sedikit pun. "Mas," lirih Ell. "Kamu marah, ya?" "Bagaimana aku nggak marah, istriku malam begini masih di luar sendirian," kesal Imam. Saat mereka dalam perjalanan pulang, Ell melirik Imam yang duduk di belakang kemudinya. Wajah Imam memang sangat lelah, seperti banyak beban yang saat ini berada di pundaknya. Sungguh Ell menyesal membuat Imam khawatir seperti ini. "Mas, jangan stres begitu mukanya. Aku kan nggak papa," goda Ell. Imam mengembuskan napasnya berat, sebelah tangannya memijit bahunya yang terasa sangat lelah. "Coba kamu ada di posisiku, apa yang akan kamu rasakan?" Imam melihat Ell sekilas sebelum kembali fokus ke jalanan Jakarta malam hari. "Mungkin aku akan gila, Mas. Kehilangan orang yang aku cinta," jujurnya. "Mas, kamu tahu mencintai kamu itu ibarat sambungan telepon di Indonesia. Kita butuh posisi tertinggi dan terdekat dengan tower agar sambungannya tetap terjaga dan tidak terputus. Posisi tertinggi itu harus berada di dalam hatimu yang paling tinggi alias paling dalam. Aku tahu, meraih itu membutuhkan banyak waktu dan pengorbanan. Dan saat ini aku tengah berusaha mengokohkan posisiku itu," jelas Ell. "Lalu towernya?" Tanya Imam. "Towernya itu agama atau keyakinan," lirih Ell. "Memang saat ini aku belum mampu mempunyai tower yang sama, namun aku yakin keyakinan untuk memiliki tower itu sangat besar," tegas Ell. "Dan satulah lagi, Mas, walau kita tinggal di Indonesia, aku ingin sambungan telepon kita seperti tinggal di luar negeri," kekeh Ell. "Bisa saja kamu." Tangan Imam mengusap lembut rambut Ell yang duduk di sampingnya. "Ell, kamu tahu, pernikahan kita ini bagaikan sebuah cahaya lilin dalam ruangan gelap. Tertiup embusan napas sedikit saja, maka cahaya akan bergerak memakan sumbu dan menghabiskan tubuh lilin itu. Semakin banyak gerakan karena angin, semakin cepat pula lilin itu akan habis. Maka dari itu, sebisa mungkin kita menjaga agar tidak ada angin yang berembus agar lebih bertahan lama." "Kok lilin, Mas? Berarti cinta Mas ke aku nggak abadi, dong!" ketus Ell. "Ell, dengarkan Mas, nggak ada cinta sesama makhluk hidup yang abadi di dunia ini. Kamu tahu, saat ada pertemuan suatu saat pasti akan ada perpisahan." "Ya, sudah, diganti dong jangan lilin, kayaknya rentan banget." Imam tersenyum jahil, "Ya, sudah, aku ganti jadi petromak," kekehnya geli. "Apa itu petromak?" "Itu lampu yang ada di tukang nasi goreng," Imam menunjuk seorang penjual nasi goreng yang sedang mendorong gerobaknya. Sebuah lampu petromak menggantung di gerobaknya sebagai penerang untuk dia berjualan. "Dih, kok lampu begituan?" "Terus maunya?" tanya Imam bingung. "Ell, bukankah lebih baik menyalakan lilin daripada harus duduk di dalam gelap, dan tidak pernah berniat untuk membuat sebuah cahaya?" "Iya juga, sih," jawab Ell bingung. "Jadi? Tetap pada lilin apa petromak?" goda Imam sekali lagi. "Mas Imam." Dicubitnya gemas perut Imam. "Ampun, Ell. Sudah, kita sudah sampai." Ell tersenyum bahagia, dengan percakapan seperti ini saja sudah membuatnya yakin Imam masih sama seperti dulu. Masih memperjuangkan Ell dengan sepenuh hati. Akan tetapi walau mereka sudah menikah, Ell tidak akan pernah tahu isi hati Imam yang sebenarnya seperti apa. Lalu bagaimana mereka akan berjuang bila untuk jujur perasaan satu sama lain saja tidak, lantas apa yang masih ingin diperjuangkan? ꭃ Pagi-pagi sekali, ponsel Imam sudah berdering. Dia yang baru saja terlelap setelah subuh masih setia berbaring menemani Ell dalam pelukannya. "Assalamu'alaikum, Mi," salam Imam setelah melihat call id mami yang tertera di layar ponsel pintarnya. "Wa'alaikumsalam, Mas, kamu lagi di mana?" "Imam di apartemen, Mi, memang Imam di mana lagi?" jawabnya. Sebelah tangan Imam masih setia menjadi bantal untuk Ell tidur dan sebelah lagi kembali merangkul Ell. Ponselnya diletakkan di atas telinganya tanpa ia repot-repot untuk memegang. "Mas, Mami mau bicara sama kamu. Ke rumah Mami nanti siang," ucap mami tegas. "Ada apa, Mi? Ada masalah sama Sabrin?" "Masalahnya sama kamu!" bentak mami. Imam sukses membuka matanya saat mendengar bentakan mami. Dia sudah paham mengapa mami marah seperti ini padanya. "Iya. Iya, Mi, nanti Imam ke rumah. Pulang kerja." "Sebelum ke kantor mampir dulu ke rumah!"  perintah mami tak terbantahkan. "Iya, Mi." Setelah mengucap salam, panggilan dari maminya terputus. Dengan sebelah tangan, Imam mengusap wajahnya. Rasa sesak kembali menyerangnya. Apa maminya akan menolak permintaannya kali ini? Sama seperti apa yang papinya lakukan? "Ada apa, Mas?" Ell menatap Imam yang berbaring di sebelahnya. "Nggak papa, Ell, Mami cuma minta aku mampir ke rumah," jawab Imam setenang mungkin, dia tidak ingin membuat Ell curiga. Karena pikiran Imam sudah dipenuhi oleh pertanyaan-pertanyaan yang akan ditanya oleh mami, akhirnya membuat Imam tidak bisa tidur kembali. Dia memutuskan untuk segera bersiap pergi ke rumah mami. ꭃ Mobil Jeep hitam kebanggaan Imam sudah terparkir di halaman rumah bergaya minimalis dengan halaman yang cukup luas. Nampak seorang satpam menyapa kehadiran putra dari pemilik rumah itu yang sangat jarang datang berkunjung. "Pagi, Mas Imam." "Pagi, Pak." Imam nampak gagah dengan kemeja biru shappire dipadukan dengan dasi hitam yang melingkar di lehernya. Sepatu mengilap menuntun langkahnya menuju ke dalam rumah itu. "Assalamu'alaikum, Mi." "Wa'alaikumsalam." mami datang menyongsong kedatangan Imam. "Ada apa?" tanya Imam tanpa basa basi. "Kamu itu, Mas, jarang main ke sini sekalinya datang seperti orang ngajak ribut," sembur mami dengan segala ocehannya. "Imam ada meeting, Mi." "Mas, keluarga itu nomor satu dibandingkan pekerjaan. Buat apa sih kamu bekerja keras kalau bukan untuk keluarga?" "Iya, Mi, iya." Imam selalu saja mati kutu saat berdebat dengan maminya. "Kamu ada masalah apalagi? Kemarin Papi yang kasih tahu Mami." Ditariknya tangan Imam untuk duduk di sebuah sofa yang berada di ruang keluarga. "Mas nggak ada masalah, Mi," jawabnya penuh kebohongan. "Lalu Sendi?" "Mi, Sendi bukan sebuah masalah. Sendi itu gadis yang ingin Imam nikahi." "Astagfirullah al'adzim, nyebut, Mas. Ingat, kamu udah menikah." "Lalu? Ada yang salah jika Imam meminta Sendi untuk menjadi istri kedua Imam?" ucap Imam sedikit kesal. "Imam! Mami nggak pernah ngajarkan kamu begini! Apa pengaruh budaya barat membuatmu begini? Hingga lupa akan istighfar. Ya, Allah, Mas, ingat dosa. Jangan kamu lakukan hal yang membuat dosa seperti ini. Belum bisa membahagiakan Ell dengan sempurna sudah mau menikah lagi." "Terus saja salahkan Imam. Mami tahu, kalau Imam nggak benar sejak dulu, mungkin banyak gadis yang udah Imam tiduri. Lagi pula memangnya Mami tahu apa tentang Imam sudah sempurna membahagiakan Ell atau tidak. Yang tahu hanya Ell, Mi, jadi Imam harap Mami tidak perlu sok tahu. Dan satu hal lagi, poligami bukan sesuatu yang dosa, Mi. Tolong beritahu Imam bagian mana dari poligami yang menjadi dosa?" lawannya penuh penekanan. "Anak nggak tahu diri kamu!" kesal mami. "Dulu kamu juga seperti ini waktu mau menikahi Ell. Sekarang begini lagi? Apa Mami bisa yakin setelah Sendi tidak akan ada Ell dan Sendi yang lain? Sampai kapan, Mas, kalau kamu terus saja mengikuti nafsu? Memang sebelum menikah perempuan akan terlihat indah dan memikat di matamu, namun setelah menikah maka perempuan lain akan lebih menarik hati dan pikiranmu. Bila terus seperti ini istrimu akan sangat banyak, Mas. Coba untuk istighfar, Mas. Ingat, Tuhan tidak pernah mengajarkan sesuatu yang berlebihan." "Mi, Imam begini karena cinta. Mami tahu, setiap makhluk hidup bernama manusia pasti mengenal cinta. Cinta menjadikan prajurit rela mengorbankan nyawa demi negara. Cinta menjadi ikatan orang tua pada anaknya. Cinta menjadi bahan kegalauan manusia usia remaja. Cinta pula yang menjadi alasan sepasang manusia memutuskan menikah dan merajut rumah tangga. Cinta, selalu menjadi dalih berbagai tindakan manusia, dari tindakan mulia hingga tindakan diskriminatif. Jika Mami hanya menyalahkan Imam, apa kabarnya ustadz-ustadz di luar sana yang istrinya banyak? Imam hanya meminta satu, cuma Sendi. Setelahnya Imam janji tidak akan ada perempuan lain. Karena Imam sadar, Imam mencintainya sejak enam tahun yang lalu," ucap Imam masih dengan nada kesal. "Tapi caramu mencintai sudah salah, Mas," lirih mami. "Salah di mananya, Mi? Mami tahu bagaimana cara mencintai dengan benar?" "Mas, Mami hidup lebih dulu darimu. Dan karena cinta Mami lah kamu hadir ke dunia ini." "Mi, hidup lebih dulu nggak menjamin orang bisa mendeskripsikan bagaimana cara mencintai dengan baik," kesal Imam. Nada bicara Imam sudah mulai meninggi. "Mami tahu, jangan membeda-bedakan dia dengan orang lain ataupun membeda-bedakannya dengan diri kita. Baik berupa beda daerah, beda agama, beda kasta, dan lain-lain. Ingat, semua manusia itu sama. Hanya manusialah yang membedakan manusia. Karena Tuhan tidak pernah seperti itu," ucap Imam. Mami diam sejenak, ditatapnya wajah putra yang sudah dilahirkannya lebih dari seperapat abad. Sudah dua kali ini Imam berkata meninggi seperti ini padanya. Hatinya merasakan sakit karena pelakuan putranya yang tidak mau mendengar perkataan dari dirinya. "Mi, dengarkan Mas, jangan membeda-bedakan manusia. Tapi apa yang Mami lakukan waktu Imam mau menikahi Ell, Mami sama Papi menolak keras. Padahal Ell tidak salah apa-apa, Mi. Imam mencintai dia, dan dia mencintai Imam. Cuma karena keyakinan saja kami berbeda, selebihnya kami sama. Dan saat ini, Mami dan Papi juga menentang Imam menikahi Sendi. Kenapa? Sebutkan alasannya? Karena poligami? Bahkan Rasulullah menyontohkan kita seperti itu. Lalu apa lagi kesalahan Imam? Sebutkan, Mi, sebutkan!" teriaknya di depan wajah mami. "Cukup, Mas, Mami benar-benar sudah salah mendidikmu." Mami menggelengkan kepalanya. Sebelah tangannya mengusap hatinya yang terasa sakit karena Imam semakin memakinya, "Ada dua hal lagi yang terlewatkan olehmu, yang pertama jangan terlalu berlebihan dalam mencintainya. Cintailah dia sebagaimana wajarnya orang mencintainya. Karena tidak semua orang suka diperlakukan secara berlebihan atau jika ada orang yang suka diperlakukan demikian, maka jika kamu menikah dengannya dia akan menjadi orang yang manja. Dan yang kedua, jangan memaksakan kehendak. Segala sesuatu tidak bisa dipaksakan dan orang sangat tidak suka dipaksa. Jika dia terpaksa menerima kamu, maka hubungan antara kamu dengan dia tidak akan berjalan mulus. Jika dia menolak kamu, biarkan saja. Laki-laki baik untuk wanita yang baik dan sebaliknya. Jadi, jika dia menolakmu, maka mungkin ada banyak hal yang dia pikirkan," jelas maminya. Imam kembali bungkam. Dia mulai berpikir, apa karena Ell membuat Sendi menolak pinangannya kemarin? "Mas, sholat istikharah lah. Minta petunjuk sama Allah. Jika memang Sendi jodohmu, Dia akan memberikan petunjuknya. Ingat, Mas, jangan pernah lelah berdoa padaNya." Mami mulai melunak, diusapnya bahu Imam yang menegang. "Ingatlah, Nak, janji pada manusia lebih mudah dibandingkan janji dengan Tuhan. Akan tetapi saat kita tidak bisa menepati janji dengan manusia, maka manusia itu akan murka seumur hidup. Beda dengan Tuhan. Tuhan sangat mudah memaafkan umatNya yang mau bersungguh-sungguh bertobat," sambung mami dengan penuh perasaan. Walaupun semua kata-kata Imam sudah begitu keras kepadanya, mami tidak akan membalasnya. Karena biar bagaimanapun, Imam adalah putranya. Jika Imam seperti itu kepada dirinya, yang paling besar disalahkan adalah ia sendiri. Mami adalah seorang ibu dari Imam Abdul Hamid yang sudah gagal mendidik putranya hingga bisa berucap kurang ajar di depan dirinya sendiri. Setelah percakapan panjang mereka ditutup dengan nasihat mami, Imam berangkat ke kantor dengan segala pikiran berkecamuk di otaknya. Jika dia sampai tidak kuat iman, mungkin saja saat ini dia bisa stres. ꭃ "Assalamu'alaikum," ucapan salam lembut dari bibir seorang gadis menyambut cerahnya siang ini. Bibir pink-nya tak henti mengulum senyum saat nampak seorang wanita paruh baya menyambutnya. "Wa'alaikumsalam. Sudah datang, Sen?" ucap mami senang. "Iya,  Mi." Diciumnya punggung tangan mami. Siang ini memang Sendi diundang mami untuk menemaninya dalam upacara siraman sahabat maminya itu. "Mi, memang nggak apa-apa Sendi yang temani Mami bukan Sabrin?" "Nggak apa-apa dong, kan Mami sudah anggap kamu anak Mami juga. Kamu sama Sabrin itu sama, sayang. Mami nggak pernah bedakan kalian." "Tapi Kak Ell," lirih Sendi. Hatinya sakit saat menyebut nama Ell, karena masih berhubungan dengan pria yang sudah membuatnya melakukan hal bodoh yang dilarang oleh Allah. "Nanti Ell juga ikut." Deg! Sendi diam, dia bingung harus bersikap seperti apa nanti jika Ell berada di sekitarnya. Apa dia mampu memakai topengnya kembali? Atau Ell akan tahu bila ada hal yang mengganjal di dalam dirinya.   "Siang, Mi," sapa Ell riang saat dia baru saja tiba di rumah mami. "Diantar sopir atau naik taksi?" tanya mami sambil mencium kedua pipi Ell. "Sopir, Mi, kan Mas Imam masih marah gara-gara semalam," lirih Ell. Tadi pagi dia sudah menceritakan kepada mami tentang semua kemarahan Imam. Karena itu mulai hari ini Imam menyewakan seorang sopir untuk mengantarkan Ell kemana pun. "Kamunya harus hati-hati, Ell," ujar mami. "Ayo, kita berangkat." Ell melihat sekilas ke wajah Sendi yang tersenyum hambar dengan dia. Dalam hatinya penuh tanya, apa Sendi ikut juga? Selama perjalanan, mami selalu berbicara dengan Ell dan Sendi. Dia memang tidak memilih kasih pada dua wanita muda yang menemaninya saat ini. Sesungguhnya mami melakukan ini ingin tahu, mengapa putranya begitu berjuang untuk memiliki keduanya. Mami memang sudah mengenal Sendi sejak dulu. Dia adalah gadis yang baik. Bahkan kini jauh lebih baik dan sholeha dibandingkan dulu saat masih sekolah. Mami sangat mendukung perubahan Sendi menjadi lebih baik seperti ini. Lalu dengan Ell, walau baru mengenalnya, sejauh ini mami bisa merasakan Ell adalah perempuan baik dan penyabar. Setipe dengan Sendi yang lebih banyak diam atas apa yang tengah dipikirkan. Apa mungkin karena kesamaan itu, Imam ingin menjadikan Ell dan Sendi untuk berada di sisinya. Saat tiba pada tempat yang dituju ternyata sudah banyak undangan yang hadir. Bahkan acara sudah akan dimulai. Sebelum acara siraman dimulai, semua undangan mulai membaca surat Al Fatihah dan doa untuk kedua calon pengantin. Lalu dilanjut dengan seorang ustadzah yang melakukan ceramah singkatnya. Judul yang diangkat dalam ceramah itu sangat menarik, membuat pendengar menjadi fokus pada isi ceramahnya. "Dalam proses menikah memang yang sangat dibutuhkan ATM, apalagi angka yang berbaris rapi di dalamnya membuat yakin akan pernikahan ke depannya dapat tercukupi. Tapi tolong bagi kalian wanita muslimah muda yang belum menikah, kalian juga harus memperhatikan ATM yang satu ini. Tidak berbentuk, tidak terlihat, tapi mampu menjadi bekal kalian untuk menuju tahap pernikahan. Yang pertama, AMATI. Pada dasarnya cinta tumbuh karena sedikit banyak kita pernah mengamati lawan jenis kita. Lalu cinta itu akan tumbuh sedikit demi sedikit. Ya, seperti, sedikit-dikit ngeliatin dia, sedikit-dikit mikirin si dia, sedikit-dikit ngebayangin dia. Awalnya memang sedikit, tapi lama kelamaan akan menjadi banyak. STOP, jika sudah cukup menurutmu hentikan semua itu. Cukup pada bagian kalian mengamati. Lalu lanjutkanlah ke tahap kedua. Tahap kedua, TA'ARUF. Ta'aruf di sini pertemuan kedua belah pihak bersama dengan keluarga besar mereka. Mungkin bisa sekalian bertukar proposal dengan jati diri masing-masing agar kamu bisa mengenal siapa sih dia yang sudah kamu amati kemarin ini. Dan yang terakhir adalah MENIKAH. Setelah amati sudah, ta'aruf sudah, tinggallah hal terpenting yang terakhir adalah menikah. Menikahlah dengan dia yang baik-baik. Akan tetapi sebelumnya kamu harus yakin, kamu juga baik-baik. Ingatlah, cintai dirimu sendiri dengan cara memperbaiki diri terlebih dahulu. Baru bisa bicara tentang bagaimana mencintai orang lain." Sang ustadzah itu mendapat sambutan yang sangat meriah dari semua undangan yang mendengar sedikit tausiahnya. Sendi mengulum senyum sambil menjawab dari ustadzah itu. Menurut Sendi tausiah singkat ini memang begitu bermanfaat. Sangat cocok dia kembangkan untuk calon imamnya kelak nantinya.   Calon imamku di sana. Tahukah aku menunggumu di sini. Menunggu cinta halal untukku. Cinta yang diibaratkan hiasan keramik antik. Ia sukar ditemui. Sukar diperoleh. Akan tetapi mudah untuk jatuh berderai. ---- continue.. Lanjut? Yang mau pesan bukunya, bisa langsung hubungi aku
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN