Cinta Ditolak Doa BertindakJika menurut banyak orang saat cintamu pada seseorang ditolak atau tak terbalaskan, maka dukunlah yang bertindak. Namun berbeda bagi Sendi, gadis itu saat merasakan hatinya sakit, yang dia lakukan adalah semakin mendekatkan diri pada Allah. Sebenarnya dia tak yakin apa yang dia rasakan saat ini. Tetapi saat tahu sosok Imam telah menikah, ada dari sebagian hatinya tak terima.
Sungguh Sendi tidak berniat untuk merasakan iri atau membenci dengan wanita yang telah menjadi istri Imam. Tapi apa dia harus merasakan sakit di hatinya. Semua ini terjadi di luar kontrol dirinya. Apa hatinya telah berkhianat karena telah mencintai hal lain selain Allah?
Sendi ingin sekali menangis, dia bingung bagaimana caranya menghilangkan rasa sakit di hatinya. Baru kali ini dia merasakan hal seperti ini. Lantas apa yang harus dia lakukan?
"Saat cinta tak bisa dimiliki, namun hati masih bisa mencintai."
Seperti itulah yang Sendi pikirkan saat ini. Biarlah jika memang Imam bukan takdirnya. Namun bukan berarti hatinya tak bisa mencintai sosok pria itu. Karena rasa cinta itu tak akan bisa dicegah. Sendi ingin dia terus mencintai Imam dalam setiap doanya. Mengingat sebuah nama Imam Abdul Hamid dalam setiap sujudnya. Karena hanya itu yang bisa dia lakukan. Dia tak berniat membuat Imam tahu apa yang dia rasakan. Biarlah ini menjadi rahasia hatinya dan Tuhan.
Sendi berdoa untuk Imam, bukan doa yang macam-macam, atau doa yang lagi trend sekarang. Misalkan, bila dia bukan jodohku maka jadikanlah dia jodohku. Itu sebuah doa atau pemaksaan? Kalau kita dipaksa akan sesuatu juga tidak mau, masa kita mau memaksakan kehendak kita pada Allah.
Jadi yang Sendi lakukan mendoakan Imam yang baik-baik. Bila kita mau dan mampu untuk paham apa yang sudah dirancang Allah untuk kita, maka sakit hati itu akan segera sirna.
Aku ingin mencintaimu karena agamamu, bila agamamu hilang atas dirimu, maka hilang jualah cintaku padamu ....
Setelah cukup lama Sendi berdoa, dia ingin mencari sesuatu untuk menghilangkan rasa kantuknya. Langkah kaki Sendi yang berniat ingin ke arah kantin rumah sakit sedikit terhenti karena pandangannya menangkap sesuatu yang sebenarnya tak ingin dia lihat sekarang ini.
"Ya, Allah, kuatkan hatiku!" jerit hati Sendi.
Sendi memasang wajah senormal mungkin jikalau kedua orang itu nanti memanggilnya. Setelah memesan teh hangat dia memilih duduk di pojok kantin menghindari pria yang tidak ingin dia temui untuk saat ini.
"Sen," panggil Imam. "Kemarilah, kita duduk sama-sama." Fatah yang sedang menemani Imam minum kopi, mengikuti arah pandangan Imam.
"Terima kasih, Mas, Sendi duduk di sini saja," tolaknya lembut. Sebenarnya jika Imam tahu apa yang tengah ia rasakan, hatinya sudah meloncat-loncat seperti ingin keluar karena merasa Imam masih menegurnya.
Tapi Imam seperti tak kehabisan akal, dia mengangkat cangkir kopinya dan berpindah duduk satu meja dengan Sendi. Kemudian Fatah mengikuti jejak Imam. Dia juga memilih duduk di meja yang sama.
"Terima kasih, Sen. Karena sudah menolong Sabrin tadi," ucap Fatah yang berusaha memecah kesunyian.
"Sabrin sudah seperti saudaraku. Sakitnya juga berarti sakitku. Karena itu aku sangat tahu apa yang dia rasakan," ujar Sendi.
"Mas harap kebaikanmu akan dibalaskan oleh Allah," sambung Fatah.
Sendi hanya mengangguk sambil terus menundukkan pandangannya. Sebenarnya dia risih dengan kedua pria di dekatnya sekarang ini.
"Mas Imam," suara Sendi yang begitu pelan membuat Imam lantas memperhatikan dia. Imam tak yakin baru saja Sendi memanggilnya. "Barakallahu lakuma wa barakallah alaikuma wa jama'a bainakuma fii khoiiir. Semoga Allah memberkahimu dan memberkahi atasmu serta mengumpulkan kamu berdua dalam kebaikan," ucap Sendi tulus dengan senyuman.
Lalu Imam tersenyum, dia menganggukkan kepalanya saat pandangan matanya dan Sendi bertemu. Tetapi lama kelamaan senyum di bibir Imam memudar saat dia menatap wajah Sendi yang sedikit tidak wajar. Imam menangkap ada setitik kesedihan di sudut matanya. Entah dia benar atau salah tapi itulah yang bisa Imam simpulkan.
"Sendi izin ke kamar Sabrin dulu, ya," pamitnya karena merasa tak enak ditatap intens oleh Imam. Langkah kakinya terburu-buru sampai Sendi tak melihat telah menabrak Ell.
"Maaf," lirih Sendi.
"Tidak apa-apa. Kamu baik-baik saja, kan?" tanya Ell panik.
"Aku baik. Sangat baik, insya Allah," ucap Sendi dengan terburu-buru, lalu menghilang menuju lorong kamar Sabrin.
Sementara Ell hanya menatap dengan penuh kebingungan melihat reaksi aneh Sendi. Dia terus menatap ke arah Sendi pergi hingga tanpa sadar Imam sudah ada di sebelahnya berdiri bersama Fatah.
"Kamu lihat apa, Ell?" tanya Imam.
"Itu, Mas, cuma merasa aneh."
Fatah dan Imam saling menatap bingung melihat jawaban Ell. "Sudah, ayo kembali ke kamar. Angin malam tidak baik buat kamu," ujar Imam. Dia merangkul bahu Ell dan berjalan berdampingan menuju kamar rawat Sabrin.
Kamar yang Sabrin tempati saat ini masih sama seperti kamar rawatnya yang dulu sempat dia tempati. Ruangan rawat ini lebih menyerupai kamar pribadinya. Karena semua isinya sangat lengkap. Hingga terdapat dua tempat tidur dan dua sofa besar serta satu sofa kecil di dalam kamar rawat mewah itu.
Saat Imam, Fatah, dan Ell masuk, hanya terdapat Sendi di dalam sana. Mama dan papa Fatah serta Adel dan Umi sudah pamit pulang. Lalu mami dan papi Sabrin entah ke mana perginya.
Ketika Sendi tahu yang masuk mereka semua, perasaan canggung kembali dia rasakan.
"Ai, tidurlah. Sudah malam," perintah Fatah. Dia duduk di samping ranjang Sabrin sembari mengusap lembut kening istrinya.
"Mas, bisa coba jelaskan apa arti ikhlas itu?" tanya Sabrin tiba-tiba. Semua yang di ruangan itu langsung menatap ke arah Sabrin. Terutama Sendi, dia merasa Sabrin tahu apa yang dia rasakan.
"Loh, kenapa tiba-tiba tanya tentang ikhlas?"
"Kamu, Rin, sudah malam masih saja minta diceramahi Fatah," sindir Imam. Dia memilih duduk di sofa dengan Ell dalam pelukannya. Sedangkan Sendi, dia duduk di sofa lain sambil pura-pura membaca Al-Qur'an kecil di tangannya.
"Memangnya aku nggak boleh tanya soal ikhlas? Karena tadi sebenarnya aku sempat nggak rela melahirkan tanpa suami di sisiku," jelas Sabrin membuat Fatah menjadi bersalah.
"Gini, Ai, ikhlas dengan rela beda, loh. Kalau rela belum tentu ikhlas, sedangkan kalau ikhlas sudah pasti rela. kita bekerja rela demi uang, demi keluarga. Kita belajar bisa karena ilmu, karena masa depan yang akan lebih baik. Bekerja maupun menuntut ilmu yang demikian bukanlah ikhlas, tapi baru rela. Ikhlas hanya dibenarkan jika apa pun yang dilakukan itu semata-mata, just, only, karena Allah. Contohnya jika kamu ikhlas memberikan seluruh hati dan perasaanmu pada Allah. Maka semua ibadah yang kamu lakukan tidak akan terasa berat karena kamu melakukannya dengan ikhlas," jelas Fatah.
"Oh, gitu ya, Mas. Jujur sih, tadi aku nggak ikhlas," lirih Sabrin merasa sedih.
"Bagus kalau kamu jujur bilang begitu. Daripada lain di mulut lain di hati."
"Maksudnya?"
Imam yang awalnya tak mendengarkan percakapan adiknya itu, lantas ikut serta dalam perbincangan itu.
"Misalkan, kamu bilang ikhlas di mulut kalau tadi aku nggak temani kamu. Tapi pada kenyataannya hati kamu nggak ikhlas. Kamu berdoa tapi kamu ngedumel, itu jauh lebih buruk."
"Jadi, kalau begitu nggak ikhlas namanya?"
"Ya, nggaklah, kamu gimana, Rin. Anak TK juga tahu," sahut Imam tak sabaran.
"Mas Imam apaan, sih? Kan aku lagi belajarnya sama Mas Fatah bukan sama Mas Imam. Abis belajar sama Mas Imam bayar."
"Kamu itu, Rin, contoh Sendi dong. Sedikit bicara. Ketika ada suara yang keluar dari mulutnya, lebih banyak lantunan Al-Qur'an daripada perkataan tidak jelas sepertimu itu," saat Imam usai dengan perkataannya. Ell menatap wajah suaminya itu. Lalu pandangannya beralih pada sosok Sendi yang masih setia membaca kitab kecil di tangannya.
"Bandingkan saja terus, aku mah apalah. Nggak ada bagus-bagusnya. Jauh dari kata sempurna, deh," sedih Sabrin.
Sendi menutup Al-Qur'an kecilnya lalu menatap wajah sedih Sabrin. "Kamu bicara apa? Allah memang mengajarkan kita merendahkan diri. Tapi bukan untuk menghina diri kita sendiri. Itu nggak baik, loh," jelas Sendi.
"Dia mah bukan menghina diri dia sendiri, Sen. Tapi malu-maluin diri dia," sindir Imam.
"Mas Imam apaan, sih? Urus saja sana istrinya. Pengantin baru ngapain di sini, sih? Harusnya mesra-mesraan."
"Jadi Mas diusir, nih? Ya, sudah, Mas pulang. Mas mau ibadah dulu di rumah sama Ell," rajuk Imam.
Bukkk!
Al-Qur'an yang tadi berada di tangan Sendi, tiba-tiba terjatuh di lantai. Karena bunyi suara itu membuat kedua pasangan suami istri itu melihat ke arah Sendi.
"Maaf, terlepas," lirih Sendi.
"Sudah, sudah. Adik sama kakak nggak pernah akur. Kamu tidur, Ai, masa pemulihan butuh banyak istirahat," ujar Fatah tak terbantahkan.
Imam yang mendadak merasa canggung lebih memilih untuk pulang bersama Ell. Dia juga tidak ingin mengganggu Sabrin untuk beristirahat.
Setelah berpamitan pada Sabrin, Imam dan Ell bergegas untuk pulang. Di tengah perjalanan, Ell membuka suaranya karena merasa lelah dengan perasaannya. "Mas, Sendi itu siapa?"
"Oh, dia sahabat Sabrin sejak sekolah. Dia juga sering menginap di rumah, jadi sudah dianggap seperti anak sendiri oleh Mami," jelas Imam.
"Begitu, ya. Pantas dia begitu berbeda," gumam Ell.
Imam mengerutkan keningnya, dia tidak yakin maksud dari kata Ell bila Sendi berbeda. Berbeda dari segi apa? Tapi dia tidak berniat bertanya lebih jelas dengan Ell.
Sekitar tiga puluh menit mobil yang dikendarai Imam sudah terparkir di halaman rumah maminya. Dia sengaja meminjam mobil Fatah agar tidak merepotkan sopirnya untuk menjemput mereka.
"Masuklah," ujar Imam saat melihat Ell hanya mematung di depan pintu. Banyak perasaan aneh yang merasuki hati Ell saat melihat rumah yang cukup besar ini. Bisa Ell rasakan hangatnya kasih sayang keluarga yang memancar dari aura rumah yang kini tepat di depannya.
Ketika langkah kaki pertama Ell di dalam rumah Imam, dia sudah disambut dengan bingkai besar dengan tulisan arab yang disulam dengan benang emas. Sangat indah menurut Ell. Ia penasaran apa arti dari tulisan arab itu dan ingin segera dapat membacanya. Karena hanya melihatnya saja hatinya menjadi tenang, apalagi jika ia mampu membacanya.
"Apa yang kau lihat?" Imam mengikuti pandangan Ell. "Itu adalah surat Yasin, surat yang kedua tersering dibaca umat muslim selain surat Al-Fatihah," jelas Imam.
Ell mengangguk tanda mengerti dengan penjelasan Imam. Dirinya seperti merinding karena merasa tulisan itu terus memanggil-manggil dia untuk melihatnya.
"Ayolah, aku sangat lelah," Imam menarik tangan Ell menuju kamarnya di lantai atas. Pintu kamar itu dibuka oleh Imam, ruangan yang kosong begitu terasa hangat walau lama tak ditempati.
Ell masih setia menatap sekeliling, sedangkan Imam telah membaringkan tubuhnya karena begitu lemas. Jemari lentik Ell menyentuh sebuah Al-Qur'an di atas sebuah meja di dalam kamar itu. Dan di sisinya terdapat sebuah bulatan-bulatan kecil berbentuk seperti kalung. Ell tidak tahu apa namanya, namun dia sering melihat Imam menggunakan ini saat beribadah.
"Mas," panggil Ell. "Mas Imam," sekali lagi dia memanggil Imam, tapi ternyata Imam sudah terlelap dalam alam mimpinya. Ell tersenyum melihat tingkah Imam yang tertidur masih dengan menggunakan pakaian lengkap tanpa mau bersusah payah mengganti pakaian itu terlebih dahulu. Dengan telaten, Ell membantu melepaskan sepatu dan jaket yang Imam pakai. Lalu dia selimuti Imam.
Ell merasa senang, ternyata semua keluarga Imam baik menerima dia. Tidak ada kata-kata benci yang Ell dengar. Karena itu dia akan bersungguh-sungguh menjadi istri yang baik.
ꭃ
Karena terlalu lelah, Imam baru terbangun dari tidurnya pukul 05:30 pagi. Dia langsung terburu-buru menyelesaikan sholat subuh. Di akhir sholatnya dia memperhatikan Ell yang masih terlelap di atas tempat tidurnya. Ini genap hari ketiga dalam hubungan pernikahannya dengan Ell. Akan tetapi Imam masih belum bisa menyentuh Ell dan menjadikan Ell satu-satunya milik dia. Entah apa yang mendasari keraguan dalam diri Imam. Dan Imam tahu Ell pun sama seperti itu. Untuk itu Ell tidak pernah meminta apa pun pada Imam.
Imam lebih memilih keluar dari kamarnya. Di dapurlah dia berada sekarang, menatap sang mami yang sibuk membuatkan makanan sehat untuk adiknya, Sabrin. Sosok mami adalah sosok ibu yang sangat Imam sayangi dan hormati. Walau begitu membangkangnya dia, mami tetap mendukung dan menasihatinya tanpa menghakiminya seperti yang lain. Mungkin jika ada perempuan lain yang sosoknya seperti mami sudah Imam nikahi sejak dulu. Tapi sampai di umurnya yang sudah begini matang, ia masih belum dapat menemukan perempuan seperti itu. Bahkan dengan sosok Ell yang sejatinya telah menjadi istrinya.
"Mi," panggil Imam.
"Kenapa, Mas? Galau?" ledek mami.
"Mas belum bilang apa-apa, kenapa Mami tahu?"
"Kamu itu anak Mami. Darah Mami mengalir di dalam tubuhmu. Sedikit banyak perasaan yang sedang kamu rasakan, Mami juga bisa merasakannya," jelas mami. "Duduklah, cerita sama Mami."
"Nggak ada yang Imam mau ceritain."
"Bagus, berarti Mas nggak jadi galau," sindir mami kembali.
"Mami selalu buat Imam nggak bisa berkutik kalau berbicara sama Mami," kesal Imam.
Kali ini mami memfokuskan pandangannya pada Imam. Api kompor yang tengah menyala, dia kecilkan dan mengambil duduk di seberang Imam. "Mas mau cerita apa?"
"Nggak jadi, Mi," dengusnya setengah kesal.
"Kamu itu, Mas, umur sudah lanjut. Tapi pikiran masih kayak anak kecil. Daripada galau yang nggak pasti. Lebih baik kamu siapkan hati kamu. Sambut cinta yang fitri, karena sebentar lagi kita akan merayakan hari kemenangan kita," ujar mami.
"Kalau Imam kayak anak kecil, berarti Imam harus beli baju baru terus sepatu baru. Kan mau lebaran."
"Wus, ngawur saja kamu!" kekeh mami. "Mas, kamu bahagia sama Ell?" tanya mami hati-hati. Dia tahu keyakinan anaknya pada istrinya itu mulai berkurang. Sangat berbeda saat mereka masih di Jerman kemarin. Mami tidak tahu pasti mengapa Imam berubah seperti itu.
"Bahagia, Mi. Banget, malah. Karena sudah ada yang perhatian sama Imam."
"Jadi kamu nikah biar ada yang perhatian sama kamu doang? Aneh kamu, Mas. Jangan-jangan kamu belum juga menyentuhnya?" tanya mami sarkatis.
"Mi, itu urusan Imam dengan dia!" kesal Imam.
"Mas, dosa kamu menunda berhubungan dengan istri. Lantas untuk apa kamu menikahinya?" ucap mami tak percaya.
"Mi, menikah bukan hanya untuk urusan seksual. Banyak yang harus dipikirkan."
"Pikirkan apa lagi? Kamu pikirkan perbedaan keyakinan kalian? Bingung doa apa yang harus disebut sebelum memulainya? Ragu apa Tuhan meridhoi percintaan kalian? Itu kan yang Mas pikirkan? Mas, kamu yang memilih dia menjadi istrimu. Dan sekarang ini kamu juga yang pusing karena pilihanmu. Kamu pasti tahu sejak awal akan seperti ini. Mengapa masih memilih jalan yang sulit ketika banyak jalan menuju kebahagiaan?"
"Ya, Allah, Mi, jangan bawa-bawa perbedaan itu. Kami memang berbeda, Mi. Tapi kerena perbedaan itu kami bisa bersatu."
"Bersatu kita teguh, ya kalau bercerai nikah lagi. Gitu saja repot. Inget loh, Mas, Imam Ghazali berkata: ‘Sepatutnya suami menjimak istrinya pada setiap empat malam satu kali. Ini lebih baik karena batas poligami adalah empat orang. Akan tetapi, boleh diundurkan dari waktu tersebut, bahkan sangat bijaksana kalau lebih dari satu kali dalam empat malam atau kurang dari ini sesuai dengan kebutuhan istri dalam memenuhi keinginan seksualnya. Hal ini karena menjaga kebutuhan seks istri merupakan kewajiban suami, sekalipun tidak berarti ia harus minta bersetubuh, sebab memang sulit untuk meminta yang demikian dan memenuhinya.’ Jadi jangan ditunda-tunda lagi. Jangan kebanyakan mikir," nasihat mami ditelan mentah-mentah oleh Imam.
Dia bingung dengan apa yang harus dia lalukan. Memang karena perbedaan ini langkah dia semakin tersendat. Apa harus dihapuskan saja perbedaan ini?
"Atau kamu impotent ya, Mas?" tanya mami tanpa berpikir terlebih dahulu. Wajah Imam sontak terkaget mendengar ucapan spontan dari ibunya.
"Astagfirullah al’adzim, Mami. Imam masih sehat wal'afiat. Jangan berpikir yang tidak-tidak," kesalnya. Dia pergi kembali ke kamar meninggalkan mami yang tertawa senang karena telah berhasil menggodanya.
Cukup sudah pikirannya yang pusing, ditambah mami yang membuat kepalanya menjadi ingin meledak karena semua tuduhan yang tak beralasannya.
"Ell, kamu kenapa?" Imam nampak panik saat dia baru saja kembali ke kamar lalu melihat wajah pucat istrinya.
"Nggak papa, Mas, cuma sedikit sakit."
"Ya, Allah, kita ke rumah sakit sekarang," Imam berniat menggendong Ell. Tetapi Ell tak mau dibawa Imam ke rumah sakit. Menurutnya ini masih dalam tahap normal sakit yang dia rasakan.
"Aku nggak papa, Mas, cuma masalah bulanan," kekeh Ell merasa lucu melihat kepanikan Imam.
Mendengar penjelasan Ell, Imam baru bisa bernapas lega. Ternyata istrinya tengah mengalami siklus bulanannya. Berarti memang Allah belum mengizinkan dia menyentuh Ell hingga seminggu ke depan. Imam mengucap syukur berkali-kali, dia masih mempunyai waktu untuk memantapkan hatinya yang sedikit bimbang kali ini. Bukan karena dia tidak mencintai Ell. Ini lebih karena perbedaan mereka. Akankah semua berjalan lancar setelah mereka melakukannya atau menjadi hal buruk setelahnya?
-----
Continue...
Mantul gak?