Sepaham Bukan Berarti SejalanSetelah berdialog panjang antara Imam dan kedua orang tuanya, papi dan maminya merestui jalan Imam untuk menikah dengan Ell yang notabene berbeda agama denganya.
Imam merasa bahagia setelah mendapatkan restu itu. Dia langsung memberitahukan pada Ell masalah restu dari orang tuanya. Dan Imam berniat besok dia akan berkunjung ke rumah keluarga Ell agar pernikahan ini tidak tertunda kembali.
Keesokan harinya, Imam disambut hangat oleh keluarga Ell. Mereka tidak mempermasalahkan status agama Imam. Karena adik dari bapak Ell juga menikah dengan pria muslim. Sehingga bapak Ell tidak aneh saat putrinya berkata jika ada pria muslim yang akan melamarnya.
"Masuklah, Nak."
Imam dan calon mertuanya yang bernama Peter duduk berdampingan di ruang tamu rumah Ell. Sedangkan Ell dan mamanya sibuk membuatkan minuman di dapur.
"Bagaimana kabarmu, Nak?"
"Alhamdulillah baik. Maksud kedatangan saya ke sini, saya berniat untuk melamar Ell menjadi istri saya, Pak," jelas Imam to the point.
"Saya sudah tahu, Ell sudah memberitahukan pada saya kemarin. Jika memang sudah itu jalannya, saya bersedia menyerahkan anak saya pada pemuda sepertimu." Ditepuknya bahu Imam tanda dia bangga jika Ell menikah dengan pemuda seperti Imam.
"Jadi saya diterima, Pak? Alhamdulillah ...," ucapan syukur Imam tak hentinya saat mendengar persetujuan papa Ell untuk menikahkan mereka. Imam tersenyum menatap calon papa mertuanya itu, walau mereka berbeda agama di sinilah Imam merasakan toleransi kehidupan beragama yang sebenarnya.
"Tetapi untuk urusan agama, saya kembalikan lagi pada Ell. Karena adik saya, tante Ell setelah menikah dengan suaminya yang muslim langsung berubah keyakinannya mengikuti suaminya. Saya harap kamu tidak memaksa keyakinan dalam beragama seseorang. Namun jika Ell ingin berubah keyakinan mengikuti dirimu, saya serahkan semuanya pada Ell."
Sekali lagi Imam tersenyum, papa Ell saja yang beragama nasrani bisa dengan bijaknya menghadapi perbedaan ini. Mengapa kedua orang tuanya terlalu sulit hanya untuk merestui dirinya menikah dengan Ell?
"Iya, Pak, saya mengerti. Saya dan Ell sudah punya prinsip dalam hubungan rumah tangga kita kelak," jelas Imam.
Tak lama datang Ell dan mamanya membawa minuman dan beberapa kue untuk Imam. "Kenapa senyam-senyum?" tanya Ell.
"Aku cuma merasa bahagia, Ell," jelas Imam.
"Rencananya kapan orang tuamu datang ke sini, Nak?" Pertanyaan papa Ell menginterupsi kegiatan saling pandang Ell dan Imam.
"Insya Allah besok, Pak. Kebetulan kedua orang tua saya sedang ada di Jerman. Jadi sebelum saya balik ke Indonesia, saya harap saya dan Ell sudah menikah," jawab Imam. "Dan satu hal yang ingin saya minta lagi dari Bapak. Saya harap pernikahan ini menggunakan cara Islam. Karena jika saya melakukannya bukan dengan cara Islam sama saja saya berzina, Pak. Dan zina dalam agama saya bisa menimbulkan dosa."
Papa dan mama Ell nampak berpikir, dia juga tak ingin mengambil pusing soal perbedaan ini. Yang terpenting menurut mereka bagaimana Ell bisa bahagia dengan pendamping hidupnya.
"Lakukan yang terbaik saja, Nak. Kami mengikutinya," jawab papa Ell.
"Dan Mama harap kamu bisa menjaga Ell dengan baik."
"Pasti," jawab Imam yakin. Imam kembali menatap wajah Ell yang tersipu malu saat mereka beradu pandang.
"Kalau begitu, saya izin pamit dulu," ujar Imam.
"Kok buru-buru? Diminum dulu," sahut mama Ell.
"Maaf, saya sedang puasa."
"Maaf ya, Nak, kami tidak tahu." mama Ell merasa malu karena tidak seharusnya dia menawarkan makan dan minum tanpa bertanya dahulu.
"Tidak apa-apa," jelas Imam. Ell mengantarkan kepergian Imam menuju mobilnya yang terparkir di depan rumahnya.
"Makasih ya, Mas," ucap Ell lembut.
"Besok bersiaplah, aku akan datang dengan kedua orang tuaku untuk langsung menikahimu. Kita menikah di masjid yang terdekat saja. Karena lusa aku harus kembali ke Indonesia."
"Apa tidak terlalu cepat?" Ell sempat kaget dengan permintaan Imam. Apa harus mereka menikah besok?
"Ayolah, Ell. Aku ingin membawamu ke negara asalku. Karena aku akan sangat jarang datang ke sini. Perusahaanku yang di sini aku serahkan pada orang kepercayaanku."
"Baiklah, jika itu yang terbaik." Imam mengangguk, lalu masuk ke dalam mobilnya. Sedangkan Ell masih terus fokus menatap kepergian Imam. Dia tidak menyangka karena kekasih yang dia idam-idamkan sejak lima tahun lalu akhirnya besok akan resmi menjadi suaminya.
ꭃ
Acara makan sahur kali ini begitu berbeda. Bulan Ramadhan yang biasanya penuh berkah berbalik menjadi mencekam karena ulah Imam yang dianggap mami dan papi di luar logika.
Setelah melayani Imam dan papi bersantap sahur, mami kembali bertanya kepada Imam akan keyakinan putranya itu untuk menikahi wanita pilihannya.
"Insya Allah, Mi, Imam yakin dia jodoh Imam," jawabnya mantap.
"Ya, sudah, Mami tidak tahu harus bicara apalagi. Mami cuma bisa berdoa yang terbaik untuk kalian. Inget loh, Mas, jangan sampai lupa sama perintah Allah," ujar sang mami.
"Beres, Mi. Mami jangan sedih gitu, dong."
"Gimana Mami nggak sedih, anaknya susah diatur," gerutu mami.
"Maaf, Mi, Imam bukannya ingin melawan Mami. Tapi Imam sudah yakin dengan pilihan Imam."
"Lantas nanti malam kamu langsung nikah sama dia? Nikahnya di masjid kan, Mas? Sama penghulu?" tanya mami berkali-kali.
"Iyalah, Mi, Imam sama dia nikahnya di masjid. Dan kita akan panggil ahli agama nanti malam. Habis maghrib rencananya pernikahan ini dilaksanakan. Pagi ini Imam mau cari cincin dulu untuk Ell."
"Ya, sudah. Mami tenang kalau gitu. Yang penting nikahnya cara Islam."
Papi yang juga berada di sana hanya mendengarkan percakapan ibu dan anak itu. Dia sudah memberikan kepercayaan penuh pada Imam. Dan insya Allah anaknya itu tidak akan lalai dalam menjalankan perintah-Nya.
Sebelum maghrib, Imam beserta kedua orang tuanya sudah datang ke masjid yang disiapkan untuk acara ijab kabul Imam dan Ell. Tidak banyak orang yang dating, hanya beberapa keluarga terdekat Ell saja.
Sore itu Ell nampak sangat cantik dengan dress panjang yang menutupi hampir semua auratnya. Memang Imam yang sengaja memilihkan pakaian untuk Ell. Ell sendiri tidak pernah menolak itu, karena saat dikenakan pakaian ini terasa sangat nyaman. Sedangkan Imam, dia mengenakan baju koko putih dengan peci hitam yang dia pakai. Ell dan Imam benar-benar pasangan yang serasi sore itu.
Saat maghrib tiba, Imam beserta kedua orang tuanya dan beberapa ahli agama melakukan acara buka puasa terlebih dahulu. Sehabis mereka berbuka puasa sejenak, mereka memulai dengan sholat magrib berjamaah. Bahkan ada beberapa keluarga Ell yang muslim ikut sholat berjamaah bersama mereka. Tidak ada kecanggungan sama sekali yang ditunjukkan keluarga Ell yang berbeda keyakinan. Justru mereka saling menghormati dan menghargai pada kaum muslim yang sedang melakukan ibadahnya. Karena bagi mereka yang beragama nasrani, mereka dan umat muslim sama-sama berdoa pada Tuhan. Dan yang membuat mereka berbeda adalah cara mereka dalam melakukan ibadah itu.
Acara penting pun dimulai, ahli agama yang datang mulai membacakan ayat-ayat tentang pernikahan. Ell dan Imam nampak konsen mendengarkan ucapan dari ahli ulama itu. Walau Ell tak paham namun dia berusaha menghormatinya.
Dan tiba saatnya ucapan ijab kabul, ahli agama bertanya siapa wali nikah dari mempelai wanitanya. Lantas papa Ell mendekat dan berkata jika dialah ayah dari Ell.
"Apa bapak beragama nasrani?" tanya ahli agama sopan.
"Iya, saya dan putri saya, Sellma, beragama nasrani. Lalu apa yang harus saya lakukan?" Papa Ell mulai bingung karena dia tidak paham dengan ritual pernikahan secara Islam.
"Bapak yang akan menikahkan langsung putri bapak dengan Pak Imam. Karena Bapak dan putri bapak masih satu keyakinan. Dan jika Bapak dan putri bapak sudah beda keyakinan, maka Bapak tak lagi bisa menjadi wali nikahnya," jelas sang ahli agama.
Dengan dibantu oleh ahli agama, papa Ell mulai menjabat tangan Imam dan mulai membacakan ijab kabul tersebut. Dan dengan lantang dan dalam satu tarikan napas, Imam menjawab ijab kabul itu.
Beberapa saksi mengucapkan kata sah secara bersamaan.
Alhamdulillahirabbil alamin ....
Imam benar-benar bersyukur, akhirnya dia telah melakukan tindakan yang benar. Dia menikahi wanita yang sudah dia nantikan kehadirannya selama ini. Dan dialah Sellma. Ell diminta mencium tangan Imam, dan dengan malu-malu Ell melakukannya. "Terima kasih, Ell," ucap Imam.
"Aku yang harusnya berterima kasih padamu." Senyuman dari Ell membuat Imam semakin yakin jika Ell akan bahagia bersama dengannya.
Imam dan Ell mulai mencium tangan kedua orang tua masing-masing tanda memohon ampun dan berterima kasih pada mereka. Mami sudah tidak mampu menahan air matanya saat Imam memeluk mami dengan erat. "Maafkan Imam, Mi, Imam yakin Mami kecewa sama Imam," lirihnya.
"Seorang ibu akan selalu mendukung setiap keputusan anaknya, Mas. Jadi jangan merasa sedih. Mami akan terus berada di sisimu," jawab mami dalam isakan tangisnya.
"Terima kasih, Mi."
Saat giliran Ell memeluk mami, Ell ikut menangis. Dia merasa tak cocok dengan Imam yang menurutnya sangat sempurna. Apalagi jurang agama yang memisahkan mereka terasa begitu menyiksa diri Ell.
"Sudah, Nak, jangan menangis," hibur mami.
"Maafkan Ell, Tante."
"Jangan panggil Tante dong, panggil Mami mulai sekarang," ucap mami tegas. Lalu Ell dan mami tertawa secara bersamaan. Mungkin mereka memiliki satu pemikiran saat ini.
Ketika Ell hendak ingin mencium tangan papi, ada sedikit wajah tidak suka yang papi tunjukkan untuknya. Ell yakin, papi belum merestui hubungannya saat ini dengan Imam. Tapi Ell yakin suatu saat nanti papi akan menerima kehadirannya.
Setelah acara memohon doa restu, kedua orang tua Imam sibuk berbicara dengan kedua orang tua Ell. Sepertinya papi dan mami masih berusaha mencari tahu sosok Ell dari kedua orang tuanya.
"Mas," panggil Ell pada Imam. Suaminya itu tengah asyik berbincang dengan para ahli agama.
"Kemarilah, Ell, mendekatlah. Aku sedang berdiskusi dengan para ahli agama." Ell menuruti perkataan Imam, lalu dia memilih duduk di samping Imam sambil berusaha mendengarkan perbincangan mereka. "Apa kira-kira nantinya dampak dari pernikahan kami ini?" tanya Imam pada salah satu ahli agama.
"Perkawinan bukan hanya semata-mata untuk memenuhi kebutuhan biologis, tetapi juga memenuhi kebutuhan afeksional. Kebutuhan afeksional yaitu kebutuhan manusia untuk mencintai dan dicintai, rasa kasih sayang, rasa aman dan terlindung, dihargai, diperhatikan, dan lain sebagainya. Faktor afeksional suatu perkawinan tidak bersifat sementara, tetapi melandasi hubungan suami istri seumur hidup. Saling cinta dan saling mengasihi kedua belah pihak adalah suatu yang alami dan sejalan dengan hukum dan sunah Allah, itu sebagai bukti kebesaran Yang Maha Pencipta. Keluarga bahagia sulit terwujud jika suatu perkawinan tidak dilandasi keyakinan yang sama (seiman).
Perkawinan beda agama dapat menimbulkan tekanan psykolososial, berupa konflik kejiwaan yang pada gilirannya dapat mengakibatkan disfungsi perkawinan itu sendiri. Jika terjadi konflik perbedaan agama yang tidak dapat diselesaikan, suami atau istri kemungkinan tidak akan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya, tetapi memilih pola hidup sekuler. Pola hidup sekuler akan menimbulkan konflik baru yang sulit diatasi dan dapat menjurus kepada konflik keluarga.
Dampak Psycologi lainnya dari perkawinan beda agama adalah perkembangan pertumbuhan anak. Perbedaan agama antara ayah dan ibu dapat membingungkan anak dalam hal memilih agama, apakah ia akan memilih agama ayah atau agama ibu atau mungkin anak akan memilih tidak beragama sama sekali (Atheis). Dari tataran pemikiran tersebut yang perlu digarisbawahi, bahwa perkawinan beda agama menimbulkan dampak negatif Psycologis terhadap kedua belah pihak (suami dan istri) serta pertumbuhan keagamaan dalam diri anak
Oleh sebab itulah Islam menganjurkan perkawinan harus seagama sebagimana hadits Nabi :
تنكح المرءة لاربع لمالها ولنسابها ولجما لها و لدينها فا ظفر بذات الد ين تربت يداك
Artinya:
Wanita itu dinikahi karena empat hal, karena kekayaannya, karena keturunannya, karena kecantikannya, atau karena agamanya, akantetapi utamakanlah karena agamanya agar engkau memperoleh kebahagiaan," jelas beliau panjang lebar.
Setelah mendengar penjelasan itu, Imam melirik Ell yang mengangguk-angguk memahami penjelasan tersebut.
"Seharusnya kalian berdiskusi akan seperti apa kehidupan rumah tangga kalian ke depannya," ujar ahli agama itu pada Imam.
"Kita tetap sepakat pada agama kita masing-masing. Tapi jika kelak nanti Ell mau berubah mengikuti agama saya itu akan lebih baik. Dan untuk keyakinan yang akan diambil anak-anak kami kelak nanti akan kami diskusikan kembali. Karena memang belum tebesit oleh kami sampai ke sana," jelas Imam.
"Bolehkah saya bertanya sesuatu?" Ell berusaha menanyakan apa yang hatinya rasakan saat ini. "Saya pernah baca sebuah buku berjudul Not Without My Daughter, buku ini berisikan kisah nyata di mana ada seorang wanita nasrani yang menikah dengan pria muslim, dan keluarga suaminya tersebut menjadikan dirinya seorang tahanan. Apa saya akan diperlakukan seperti itu kelak nantinya?" tanya Ell takut-takut.
Imam menatap Ell lekat, dia kaget mendengar pertanyaan Ell. Apa Ell tidak yakin dengan perasaan sayang yang dia berikan? Lalu untuk apa Ell takut? Bahkan Imam percaya mami tidak akan melakukan hal keji seperti itu.
"Semua itu kembali kepada diri masing-masing. Karena seorang muslim sejatinya tidak akan melakukan kekerasan seperti itu tanpa alasan yang jelas. Ingat, seorang suami dalam Islam diperbolehkan memukul istrinya kalau ada sebabnya. Contohnya istrinya nusyuz (durhaka). Jika istrinya seperti itu, hal pertama yang dilakukan suami adalah menasihati istrinya, lalu jika masih dilakukan juga hal yang dilarang suaminya, maka suaminya berhak memukul istrinya," jelas ahli ulama itu.
"Tetapi ingat pukulan yang dimaksud adalah pukulan ringan yang tidak mengucurkan darah serta tidak dikhawatirkan menimbulkan kebinasaan jiwa atau cacat pada tubuh, patah tulang, dan sebagainya (dharb ghoiru mubbarih). Tujuannya adalah untuk mendidik, memperbaiki, dan meluruskan. Dan bukan pukulan yang keras hingga membuat istri takut dan lari dari suami," sambungnya lagi.
Imam setuju dengan penjelasan dari ahli agama itu. Karena yang dia tahu tidak mungkin seorang suami marah dengan istrinya tanpa sebab. Apa pun sebabnya jika masih bisa ditoleransi, maka nasihatlah yang harus dilakukan. Tapi Imam yakin, Ell tidak akan menjadi istri durhaka seperti dalam penjelasan itu.
"Jadi begitu, ya. Saya pikir pria muslim akan seenaknya memukul kami kaum wanita," gumam Ell tanda dia sudah mendapatkan jawaban dari semua pertanyaannya. "Terima kasih banyak atas penjelasannya," ujar Ell.
"Kami di sini hanya membantu. Kami harap Anda bisa sejalan dengan suami Anda." Ell hanya tersenyum mendengarkan perkataan para ahli agama tersebut. Dia tahu maksud dari kata 'sejalan' di sana.
Setelah acara itu selesai, Ell dibawa oleh Imam ke apartemennya dan bersiap-siap karena besok pagi mereka akan kembali ke Indonesia. Tentunya bersama dengan Ell juga.
"Mas, besok kita berangkat penerbangan jam berapa?" tanya Ell. Dia masih sibuk dengan barang-barang suaminya yang dia tata kembali di dalam koper.
"Jam sepuluh, Ell," jawab Imam sambil membalas banyak e-mail masuk ke dalam ponselnya. Pekerjaan yang dia tinggal di Indonesia sudah sangat menumpuk. Asisten pribadinya—Adit—sudah meminta Imam untuk kembali ke Indonesia. Karena dia tidak bisa menjalankan perusahaan seorang diri. Sedangkan papi juga sedang bersama Imam di Jerman.
"Terus besoknya mas langsung kerja?" tanya Ell kembali. Dia telah selesai merapikan barang-barang yang akan dibawa besok. Ell memperhatikan suaminya yang masih saja sibuk dengan ponsel di tangannya. "Mas ...," rajuknya.
"Iya, Ell. Tadi kamu tanya apa?" tanya Imam tak konsen.
"Sudahlah," sahut Ell lemas.
Dia berbaring membelakangi Imam. Dengan perasaan kesal dan cemburu dia merasa diabaikan di malam pertama pernikahan mereka.
"Ell," panggil Imam. Ketika Imam melihat di sampingnya, Ell sudah terlelap tidur dengan membelakangi dirinya. Dia tersenyum mengejek pada dirinya. Karena dia terlalu sibuk dengan pekerjaan, membuat Ell menjadi cemburu. Maklum saja, Imam harus berusaha beradaptasi terlebih dahulu. Sebelum menikah, memang rutinitas Imam hanya pekerjaan dan keluarga. Tak pernah ada wanita di sampingnya.
"Good night, Ell." Diciumnya kening istrinya lalu dia ikut terlelap di samping tubuh Ell.
-----
Continue..