Epilog

3335 Kata

Epilog Pagi-pagi sekali wajah frustasi dari Sendi sudah tersaji di depan Imam. Mata yang biasanya memancarkan kesejukan untuk Imam pandangi, pagi ini seperti tertutup awan mendung. Imam sangat yakin sebentar lagi akan ada kristal bening yang akan mengalir di pipi Sendi. "Bagaimana?" Saat ini Imam tengah berjongkok di hadapan Sendi. Wanita yang sudah hampir setahun ini mengisi hari-harinya meringis sedih kembali. Sekilas hembusan napas lelah Imam begitu terdengar memenuhi ruangan kamar mereka. Tak ada yang ingin mengucapkan kalimat apa pun saat benda pipih di tangan Sendi hanya menunjukkan satu garis berwarna merah. "Bersabarlah, sayang. Kita kan sudah usaha. Mungkin memang belum saatnya," tangan besar dan hangat milik Imam langsung menakup sebelah tangan Sendi yang terasa sangat dingin

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN