IL. 30

2283 Kata
Yudha bergadang semalaman demi kontrak dan beberapa nasihat yang Ferry berikan pada Yudha untuk memulai bisnis toko laundry milik Yudha kedepannya nanti, kini selepas sholat subuh Yudha memutuskan untuk tidur sejenak beberapa jam sebelum jam 1 siang nanti ia berkerja di restoran. Yudha tak ada kelas atau jam mata kuliah hari ini yang mana membuat Yudha tak begitu sibuk untuk hari ini. "Ferry, dimana Yudha." Tanya Agas cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Ferry yang kini baru saja turun dari lantai atas kosan itu. "Lagi tidur mungkin, aku sejak pulang sholat subuh berjamaah tadi sama sekali belum melihat Yudha." Jawab Ferry cepat dengan jujurnya itu. "Yah, padahal aku ingin mengajaknya membuatkan surat-surat daftar murid baru untuk anak-anak itu." Ucap Agas cepat terdengar begitu pasrah. "Tunggu saja sebentar lagi nanti Yudha pasti akan bangun kok." Ucap Ferry cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Agas. "Menurut mu bagaimana Ferry kalau aku menyekolahkan mereka bertiga di sekolah Sd ku sewaktu aku kecil dulu." Ucap Agas cepat terdengar begitu semangatnya itu. "Memangnya kau pernah kecil? Bukanya lahir langsung sebesar gajah ya?" Ledek Ferry cepat dengan tawa kecilnya itu. "Astaga! Bagaimana kau tau." Ucap Agas cepat dengan tawa terbahak-bahaknya itu. Setelah 3 jam tertidur kini Yudha pun segera membuka kedua matanya dan segera bangkit dari kasurnya untuk membersihkan diri pergi ke kamar mandi, Yudha melakukan aktifitas rutin di setiap pagi yaitu mandi. Selesai memakai baju Yudha turun ke lantai bawah kosannya itu namun tak ada seorang pun di lantai bawah yang mana hanya ada sebuah pesan di ponsel Yudha kalau kini Agas dan Ferry sedang keluar untuk mempersiapkan dokumen-dokumen baru untuk ketiga anak-anak pengamen itu dapat bersekolah lagi nantinya. Yudha yang merasa menyesal karna tak dapat ikut bersama dengan Agas dan Ferry yang sedang sibuk menyiapkan dokumen-dokumen itu sontak saja segera mengambil kunci motornya dan ia segera berkendara ke rumah ketiga anak-anak pengamen kecil itu dengan motor meticnya itu. Yudha mampir sebentar ke warung sembako untuk membelikan beberapa makanan dan minuman untuk Yasril dan adik-adiknya itu setelah itu barulah ia kembali menjalankan motornya ke arah rumah ketiga anak-anak itu. Sesampainya di rumah Yasril dan adik-adiknya Yudha terkejut akan Tirta anak ketiga dan termuda di antara Yasril dan Dendy kini sedang tertidur di kasurnya dengan wajah pucat dan suhu badan yang panas. "Sudah berapa lama, Titra deman?" Tanya Yudha cepat dengan wajah paniknya itu setelah menyentuh dahi Tirta yang terasa panas karna demam tinggi itu. "Sejak semalam," Ucap Yasril cepat dengan wajah sedihnya itu merasa kasihan pada Tirta adik kecilnya itu. "Kalau begitu ayo kita ke rumah sakit sekarang!" Ucap Yudha cepat segera membawa Yasril dan Dendy untuk ikut membawa Tirta menuju ke rumah sakit terdekat dari rumah ketiga anak-anak itu. Sesampainya di rumah sakit kini Tirta dengan cepat segera di tangani oleh dokter di UGD, yang mana membuat Yudha, Yasril dan Dendy kini senang menunggu di kursi tunggu di luar ruangan itu. Beberapa menit kemudian seorang dokter pria pun seger ke luar dari raungan UGD itu setelah memeriksa kondisi Tirta, Yudha pun segera menghampiri sang dokter itu untuk menayakan keadaan Tirta saat ini. "Bagaimana keadaan adik saya, Dok?" Tanya Yudha cepat dengan wajah khawatirnya itu menatap lekat ke arah sang dokter pria itu. "Adik anda mengalami demam karna kelelahan dan mungkin kekuatan daya tubuhnya berkurang karna faktor gizi dan vitamin tidak terpenuhi seperti anak-anak lainya, kami menyarankan adik anda di rawat selama satu hari di rumah sakit ini.. selepas ia sudah pulih maka anda boleh membawanya pulang." Ucap sang dokter pria itu cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Yudha. "Baik, Dokter.. saya akan segera mengurus administrasinya." Ucap Yudha cepat dengan wajah seriusnya itu. "Baik, kalau begitu saya pamit untuk pergi dulu." Ucap sang Dokter pria itu cepat dengan wajah seriusnya itu segera melangkah pergi meninggalkan Yudha, Yasril, dan Dendy. "Kak Yudha, Tirta sakit demam?" Tanya Dendy cepat dengan wajah khawatirnya itu. Yudha hanya bisa menganggukan kepalanya dengan cepat dan berkata "Iya, Tirta nanti seharian ini sampai besok akan berada di rumah sakit.. jadi kalian mau pulang atau mau menjaganya disini?" Tanya Yudha cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Yasril dan Dendy. "Yasril, mau menjaga Tirta disini." Ucap Yasril cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Yudha. "Sama, Dendy juga." Ucap Dendy dengan cepat dan wajah seriusnya itu. "Yasudah, kalian memang Kakak-kakak yang baik buat Tirta." Ucap Yudha cepat dengan wajah tersenyum kecilnya itu. Selepas Tirta di pindahkan ke ruang rawat inap, kini Yudha segera memberitahu Agas dan Ferry tentang Tirta yang di rawat di rumah sakit. Agas dan Ferry pun segera datang ke rumah sakit setelah mendengar kabar itu yang mana mereka berdua sempat syok dan terkejut saat ketiga anak-anak itu setelah di cek memang kekurang gizi dan vitamin yang seharusnya anak-anak dapatkan di masa pertumbuhannya. "Seharusnya dari awal aku sudah mengetahuinya kalau tubuh mereka itu kurus seperti orang-orang yang kurang gizi." Ucap Ferry cepat dengan nada suara menyesalnya itu. "Jangan menyalahkan dirimu, Ferry.. kita juga sibuk dengan berbagai macam hal! Bukan hanya kau saja yang bersalah tapi kita semua." Ucap Yudha cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Agas dan Ferry. "Yudha, benar! Jangan terlalu menyalahkan dirimu.. kita sejak awal bertemu dengan mereka kita memang orang-orang yang sibuk dan belum lagi kita bertiga segera mengurus-urus kepentingan mereka bertiga seperti sekolah, itu membutuhkan waktu dan pikiran.. Tirta demam itu juga adalah cobaan untuk kita, mulai sekarang kita harus lebih memperhatikan mereka bertiga." Ucap Agas cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Yudha dan Ferry. "Iya," Ucap Yudha cepat dengan wajah seriusnya itu. Yudha, Agas, dan Ferry pun kembali ke ruangan rawat inap Tirta yang mana disana ada Yasril dan Dendy yang sedang menjaga Tirta. "Yasril, dan Dendy.. mulai besok kalian sudah bisa masuk sekolah." Ucap Agas cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Yasril dan Dendy. "Sekolah? Beneran." Ucap Dendy cepat dengan wajah semangat bahagianya itu. "Benar dong, dan niatnya kami sebelum mengetahui Tirta sedang sakit kami ingin mengajak kalian bertiga untuk membeli semua peralatan sekolah tapi karna Tirta sedang sakit maka kami akan membelikannya saja tampa mengajak kalian memilih.. tidak apa-apa kan?" Ucap Ferry cepat dengan wajah seriusnya itu. "Tidak apa-apa, Kak Ferry.. kami bertiga sudah sangat bersyukur Kakak-kakak mau menyekolahkan kami bertiga, kami tak mau meminta banyak-banyak lagi.. kami senang karna dapat bersekolah lagi." Ucap Yasril cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu. "Insyaallah, kami akan menyekolahkan kalian bertiga hingga sekolah menengah keatas nanti." Ucap Yudha cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu, yang mana membuat Yasril dan Dendy tersenyum bahagia saat mengetahui bahwa mereka akan dapat bersekolah tampa memikirkan biayanya. Setelah berada di rumah sakit begitu lama kini waktu jam kerja Yudha hampir tiba yang mana membuat Yudha mau tidak mau harus kembali pulang dan berangkat ke restoran secepatnya. Yudha pulang ke rumah dengan tergesa-gesa dan langsung mengganti pakaiannya untuk berkerja di restoran itu, baru selesai Yudha melangkahkan kakinya di anak tangga terakhir yang menghubungkan lantai pertama dengan lantai kedua kini suara bel rumah kosan berbunyi yang mana membuat Yudha dengan cepat membukanya. Deg.. ternyata sosok wanita tua yang wajahnya mirip dengan wajah Agas lah yang sedari tadi membunyikan bel rumah kosanya itu. "Eh, Ibu adalah Ibunya Agas bukan?" Tanya Yudha cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu. "Iya, dimana Agas ya? Dari kemarin susah di hubungi," Ucap Ibu Agas itu cepat dengan wajah yang terlihat khawatirnya itu. "Agas, ada di rumah sakit Bu." Ucap Yudha cepat menjawab pertanyaan dari Ibunya Agas itu. "Apa? Di rumah sakit? Kenapa Agas bisa masuk rumah skait?" Tanya Ibunya Agas itu cepat dengan wajah syok dan paniknya itu. "Bukan, bukan Agas yang sakit.. tapi anak-anak kecil kenalan Agas dan saya Bu, yang sakit dan saat ini di rawat di rumah sakit." Ucap Yudha cepat menjelaskan maksud perkataannya sebelumnya itu dengan cepat pada Ibunya Agas. "Anak-anak kecil siapa? Kok, kalian bisa kenal." Ucap Ibunya Agas cepat dengan tatapan kedua mata yang menyelidikinya itu. "Begini saja, apa Ibu mau saya antarkan kesana? Maksudnya ke rumah sakit?" Tanya Yudha cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Ibunya Agas yang super penasaran itu. "Boleh, Ibu mau lihat juga anak-anak seperti apa yang kalian kenal." Ucap Ibunya Agas cepat dengan wajah seriusnya itu seolah-olah tak percaya pada ucapan Yudha. Yudha hanya bisa tersenyum tipis karna memang sifat Ibu-Ibu seperti ini, mereka akan melakukan apa pun dan bersikap lebih garang jika sudah menyangkut dengan anaknya. Yudha segera merapihkan dirinya dan berniat mampir ke rumah sakit dahulu sebelum berangkat kerja di restoran. Selama di perjalanan Ibunya Agas sesekali bertanya pada Yudha tentang diri Yudha dan asal usul Yudha, dan Yudha menjawab semua pertanyaan itu dengan jujur serta apa adanya yang mana membuat Ibunya Agas tak terasa begitu garang di saat awal bertemu tadi. "Ini rumah sakitnya?" Tanya Ibunya Agas cepat dengan menatap lekat ke arah rumah sakit besar yang ada di hadapanya itu. "Iya Bu, berhubung rumah sakit ini yang paling dekat dengan rumah anak kecil yang sedang sakit itu." Ucap Yudha cepat setelah memarkirkan motornya di pakiran khusus motor di rumah sakit itu. "Mari Bu, saya tunjukan ruangan rawat inapnya." Ucap Yudha cepat segera mengajak Ibunya Agas untuk segera masuk ke dalam bangunan rumah sakit itu dan berjalan menuju ke ruangan rawat inap Tirta di rumah sakit itu. Selepas mengatarkan Ibunya Agas ke ruangan rawat inap Tirta dan bertemu dengan Agas juga Ferry kini Yudha dengan cepat segera berjalan ke luar bangunan rumah sakit dan menuju ke pakiran motor miliknya untuk segera bergegas pergi ke restoran tempatnya berkerja. Selama di perjalanan menuju ke restoran Yudha selalu saja mengambil rute tercepat agar segera sampai disana, dan benar saja baru saja Yudha sampai disana jam buka toko sudah hampir saja lebih dulu dari jam masuk Yudha. Keterlambatan Yudha beberapa hari ini membuat sang pemilik restoran itu merasa sedikit tak menyukai Yudha dan saat jam istirahat Yudha pun di panggil ke ruangan sang pemilik restoran itu. "Kinerja mu semenjak di bagian kasir, sangat-sangat mengecewakan Yudha! Jangan buat aku menyesalnya karna telah memilih mu dan mengakat mu menjadi kasir di restoran ini." Ucapan pemilik restoran itu masih menggema di benak dan di telinga Yudha yang mana membuat Yudha terbengong setiap saat jika sedang tak melayani tamu restoran hingga jam kerjanya usai. Setelah selesai berkerja Yudha memutuskan untuk pergi ke suatu tempat dan menenangkan dirinya sendiri, sejak ia bertemu dengan Alya dan ketiga anak-anak kecil itu membuat waktu dan pikiran Yudha menjadi terbagi-bagi Yudha yang sedang menenangkan dirinya di taman sontak pandangannya seketika melihat ke arah Alya dan Vino yang juga sedang bermain ayunan bersama dan terlihat tertawa bahagia itu. "Aku hanya ingin menenangkan diri ku, kenapa kau malah hadir dengannya Alya? Kau membuat hati ku bertambah sakit karna sangat terlihat diri ku ini masih tak pantas untuk bisa bersanding dengan mu." Gumam Yudha lirih dengan wajah sendunya itu. "Aku akan berusaha! Aku akan berubah! Tapi jika gagal, maka aku akan menghilang dari hidup mu selamanya Alya." Ucap Yudha cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Alya yang kini sedang bermain bersama dengan Vino di ayunan taman bermain. Yudha segera berjalan ke arah motornya dan segera pergi meninggalkan taman itu dengan rasa berat, kini Yudha harus berusaha lebih keras lagi! Untuk bisa bersanding dengan Alya dan melebihi Vino. Hanya satu kalimat yaitu berjuang! Yang terus Yudha tanamkan di dalam benaknya. Sesampainya di rumah kosanya Yudha bertemu dengan Agas yang baru saja mau kembali lagi ke rumah sakit untuk menjaga Tirta yang sedang sakit dan kedua Kakaknya itu. "Dha, masih sibuk ngga?" Tanya Agas cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Yudha yang baru saja mau menaiki anak tangga menuju ke lantai atas. "Sibuk si ngga, tapi ada beberapa yang harus aku urus.. memangnya ada apa, Agas." Ucap Yudha cepat dengan wajah seriusnya itu. Agas terlihat seperti enggan untuk berbicara pada Yudha namun sesaat kemudian Agas pun berkata "Begini Yudha, bisakah kau membayar sewa kosan ini lebih awal?" Tanya Agas cepat dengan wajah terlihat tak enak hati pada Yudha itu. "Bisa, Agas.. sebentar akan aku ambilkan uangnya." Ucap Yudha cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Agas. "Terimakasih, Yudha." Ucap Agas cepat dengan wajah tersenyum kecilnya itu. Setelah mengambilkan uang bayaran sewa pada Agas, Yudha yang penasaran sontak bertanya pada Agas. "Tidak seperti biasanya kau mengambil uang sewa lebih awal, Agas.. ada apa?" Tanya Yudha cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Agas. "Ibu ku menutup semua atm yang ku punya! Dia marah karna aku membantu kalian untuk menyekolahkan dan menjaga ketiga anak itu." Ucap Agas lirih dengan wajah sendunya itu. "Lalu bagaimana? Apa sebaiknya kau tak usah ikut membiayai Yasril dan adik-adiknya saja, Agas." Ucap Yudha cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Agas. "Tidak, Ibu ku salah! Dia melarang ku untuk berbuat baik.. aku akan tetap membantu mu dan Ferry untuk menyekolahkan dan membiayai hidup Yasril dan adik-adiknya itu." Ucap Agas cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Yudha. "Lalu bagaimana? Kau bahkan tak memiliki uang untuk dirimu sendiri, Agas." Ucap Yudha cepat dengan wajah seriusnya itu. "Aku akan berkerja!" Jawab Agas cepat dengan wajah seriusnya itu. "Kau yakin?" Tanya Yudha cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Agas pasalnya Agas sama sekali tak pernah berkerja. "Aku yakin, aku ingin membuktikan pada Ibu ku kalau aku mampu bertahan hidup tampa uang darinya." Ucap Agas cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Yudha. "Kalau begitu ayo kita ke rumah sakit, ada Ferry juga bukan disana?" Tanya Yudha cepat dengan wajah seriusnya. "Ya, Ferry masih disana." Ucap Agas cepat dengan wajah seriusnya itu. "Kita akan sambung lagi percakapan ini setelah sudah sampai di rumah sakit dan bertemu dengan Ferry." Ucap Yudha dengan cepat segefa menatap lekat ke arah Agas. "Oke," Jawab Agas cepat terdengar serius itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN