Pagi-pagi sekali saat langit belum sepenuhnya biru, cicit burung yang bersahutan dari pepohonan rindang, serta mentari yang malu-malu merangkak naik ke peraduan, kini Adelia yang masih mengenakan piyama lengan pendek dan celana pendek merah marun bermotif embos bunga-bunga mengendap-endap masuk ke kamar kakak kembarnya. Wanita itu membuka serta menutup pintu kamar kakak kembarnya dengan sangat perlahan agar tidak menimbulkan suara. “Lio masih tidur, aku harus cepat-cepat membongkar lemarinya,” bisik Adelia dalam langkahnya. Jarak antara dirinya dengan lemari pakaian Adelio yang dituju olehnya semakin dekat. Tangan kanan Adelia diulurkan untuk meraih pintu lemari tersebut. Tiga langkah, dua langkah, dan satu langkah lagi Adelia akan berhasil meraih pintu itu. “Berani sentuh lemariku mak

