Melihat Kebahagiaan

1021 Kata
"Jika anak itu membuat ulah pada mu dengan bermain tangan, kau bisa membalasnya. Percayalah, Ibu ada di depanmu jika kau mengalami masalah dengannya," ucap Putri. Dia merasa sangatop beruntung sekali karena Cinta sudah tak lagi tertutup dengannya, Cinta akan mengungkapkan seluruh keresahan pada dirinya. Putri pun berusaha untuk memahami keinginan dari anaknya itu dan menuruti setiap keinginan nya. "Apakah kau tak salah memberikan ajaran seperti itu pada Cinta?" tanya Vano. Kini mereka sudah berada di dalam mobil, hanya berdua. Cinta ingin di rumah dan tentu saja dia terbiasa ditinggal sendirian, jadi Putri tak begitu cemas. Lagian juga, dia tahu aktivitas yang Cinta lakukan saat ini, pasti tengah menonton salah satu acara kartun kesukaannya. "Yang mana? Membiarkannya membalas rasa sakit? Menurutku itu tak salah. Aku hanya tak ingin jika nantinya Cinta menjadi gadis yang lemah dan mudah ditindas." Vano tersenyum kecil, dia merasa cukup kagum dengan diri Putri, wanita itu bahkan memberikan ajaran berbeda untuk anaknya dan tampaknya Cinta juga sudah mulai tumbuh menjadi anak yang berani, tapi masih memiliki sopan juga santun yang ditunjukkan nya sehari-hari. Ajaran Putri memang tak salah. Hanya saja dirinya merasa sedikit khawatir jika nantinya Cinta justru akan mendapatkan masalah besar karena hal ini. "Kau tak perlu cemas, aku bisa mengatasi semuanya." Putri menjawab dengan santainya. Semua yang dilakukannya ini sudah dipikir dengan baik-baik dan tentu saja, dia sangat yakin bahwa Cinta tetap akan merasa nyaman menjadi dirinya sendiri. Vano menganggukkan kepalanya dengan pelan. Dia memberhentikan mobilnya,kini mereka sudah sampai di restoran itu lagi. Putri dan Vano keluar dari mobil itu. "Sepertinya aku ingin berkeliling restoran ini dulu untuk hari ini." Putri berucap seraya melihat bangunan bergaya ala Eropa yang ada di depannya saat ini. "Ya, kau bisa melakukannya." Putri tersenyum senang, langsung saja dia melangkah masuk ke dalam restoran itu, cukup ramai juga ternyata sampai saat ini, meski jam makan siang akan berakhir sebentar lagi. Dia menuju ke beberapa tempat, salah satunya adalah bagian outdoor, di mana akan ada danau buatan yang menjadi pemandangan indah. Putri mengambil ponselnya, dia memotret beberapa kali untuk danau buatan ini, terutama pada dua ekor angsa yang sangat cantik itu. Dia tersenyum senang saat melihat hasil foto itu yang menurutnya sangat sempurna. Dia menyimpan ponselnya lagi, lalu berbalik hendak pergi dari tempat itu. Senyum di wajahnya mulai luntur kala dia melihat ke arah satu objek, di mana ada sebuah keluarga yang terlihat sangat bahagia sekali dengan canda tawa nya. Pria itu, pria yang selalu ada di dalam pikirannya selama ini, dengan wanita yang sangat dibenci olehnya. Mereka tampak sangat bahagia sekali. Gio dan Enzy, juga ada satu sosok anak kecil yang tak Putri kenali. Ini tak dipercaya, Putri bisa melihat suaminya itu dengan langsung lagi. Tangannya mengepal dengan sangat kuat, sungguh dia merasa sangat tak suka sekali saat melihat mereka sangat bahagia, terutama Gio. 'Sepertinya pria itu sudah benar-benar memulai hidup baru nya.' Putri menghembuskan napasnya dengan kasar. Entah mengapa, Putri merasa sangat iri sekali, disaat hidupnya susah dengan Cinta, tapi pria itu justru merasa sangat bahagia dan begitu nyaman dengan keluarga barunya. 'Ini tak adil.' Dia mengambil sebuah masker, untuk saat ini, dia tak ingin keberadaannya tercium oleh Gio, dia tak ingin bertemu dulu dengan pria b******k yang telah menghancurkan hidupnya itu. "Mungkin hari ini, kau bisa merasakan kebahagiaan. Namun nanti, aku yakin pasti ada sebuah karma yang akan menghampiri mu dan membuatmu hancur." Sebisa mungkin, Putri mengendalikan dirinya sendiri. Dia tak ingin mengamuk di depan pria itu. Langsung saja Putri pergi meninggalkan tempat tersebut. Rencananya untuk jalan-jalan di restoran ini telah gagal, dia sudah tak mood lagi menjalankan rencananya itu dan memilih untuk bekerja saja. Karena hanya dengan bekerja, semua masalahnya bisa teralihkan dan dia pun tak memikirkan masalahnya lagi. Ya, setidaknya itulah yang ada di dalam pikiran Putri saat ini. Ketika dia sudah di lantai empat, dia menemukan keberadaan Vano. Tangan Putri terangkat, dia menghapus air mata yang kini telah keluar. Tentu saja, Putri tak ingin menunjukkan kesedihannya kepada pria itu. Dilepaskan masker itu, dia tersenyum cukup lebar kepada Vano, agar pria itu tak curiga kepadanya. Namun, mata elang Vano bisa melihat mata Putri yang kini memerah juga ada setetes air di pipi nya. Tangan Vano terangkat, menyentuh tetes air itu dan berkata, "Kau habis menangis? Apakah kau memiliki masalah?" tanya Vano. Dia tak tertipu sedikitpun dengan wajah bahagia yang ditunjukkan oleh Putri saat ini Vano sangat memahami bagaimana Putri. Satu tahun mengenalnya, membuatnya tahu beberapa hal yang berkaitan dengan Putri. Senyum di wajah Putri itu pun sudah mulai luntur. "Hanya masalah kecil, aku bertemu dengan tikus menyebalkan juga babu nya, huh rasanya sangat kesal." Vano mengerutkan keningnya, terasa sangat sulit sekali untuknya mengerti maksud dari ucapan Putri itu. "Sepertinya, kau memang sangat membenci orang itu." Putri menganggukkan kepala. Ya, dia memang sangat membenci mereka, terutama Enzy. Babu itu, astaga melihat hidupnya saja sudah membuat Putri ingin menghancurkan wanita itu. *** Seorang pria menatap ke arah sebuah danau, tak salah tadi dia sempat melihat ada seorang wanita yang memiliki bentuk tubuh tak asing di matanya sedang berdiri di pinggir danau itu. Apakah di tadi tak salah lihat? Tentu saja tak mungkin, dia melihat dengan benar. 'Mungkin orang lain.' Dia menggelengkan kepala nya dengan pelan, untuk saat ini dia tak mau memikirkan masalah rumit satu itu. Pandangannya teralihkan, dia melihat pada sosok gadis kecil yang tampak sangat menggemaskan saat ini. "Hey, apakah kau senang dengan pancake nya?" tanya pria itu. Gadis kecil yang ada di depannya langsung menganggukkan kepalanya. "Ya, Ayah. Makanan ini terasa sangat lezat sekali." "Sayang, makannya jangan berantakan, ya." Wanita yang ada di samping pria itu mengambil sebuah tisu dan mengelap kotoran yang berada dekat pada bagian ujung bibir anaknya itu. "Enzy biarkanlah makanannya berantakan. Namanya juga dia masih kecil." Gio berucap. Enzy tersenyum kecil. "Aku hanya tak ingin baju seragam nya terkena noda makan itu." Suara Enzy yang sangat lembut itu, setidaknya membuat Gio merasa sedikit sedikit lebih tenang. Enzy memang memiliki sifat keibuan, yang membuatnya semakin menyayangi wanita itu. Ya, itu terlihat hanya di matanya. Wanita yang menikahinya secara siri dan sampai saat ini, pernikahan mereka belum sah di mata negara. Namun, setidaknya dengan hubungan ini, mereka terlihat sangat bahagia.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN