Hamil

2008 Kata
Putri memilih untuk duduk di kursi yang ada tepat di depan Gio. Dia melihat sajian makanan yang ada di depannya saat ini. "Siapa yang memasak untuk malam ini?" tanya dia kepada Gio. "Enzy." Putri menganggukkan kepalanya dengan pelan. Dia mengambil sepiring steak yang sudah disajikan, lalu langsung mengambil pisau juga garpu. Dia mulai memotong steak itu dan meringis pelan saat mengetahui bahwa saat ini jenis steak nya adalah medium rare. Jenis steak yang mentah pada bagian dalam nya dan tentu saja, dia tak diperbolehkan untuk memakan ini, karena dari yang Putri tahu, ibu hamil tak diperbolehkan memakan sajian daging mentah atau daging setengah matang. "Kenapa kau membuat steak medium rare? Itu sangat membahayakan aku." Putri memajukan piring itu. Mood makannya juga sudah hilang karena masalah ini. Untungnya saja, Putri lebih teliti lagi tadi saat memilih makanan, jadi dia bisa menduga kesalahan ini. "Putri, Enzy sudah membuatkan makanan ini dengan susah payah." "Lalu, kau ingin kandungan aku dalam bahaya? Daging mentah atau setengah matang itu berbahaya bagi ibu hamil. Ingat itu!" Putri membangunkan tubuhnya, dia memilih untuk pergi dari sana dan mengambil buah-buahan yang ada di kulkas. Mungkin, dengan makanan itu, dia tak lagi merasa lapar. Sementara itu, Gio hanya bisa menghembuskan napasnya dengan kasar saat mengetahuinya bahwa acara makan malam ini yang sudah berantakan. Sungguh, dia merasa sangat tak suka sekali. "Kau harusnya mengerti dengan keadaan Putri dan lebih memilih lagi makanan apa yang akan kau sajikan nanti." Gio berucap dengan lembutnya. Saat ini, dia tak ingin menyakiti hati Enzy atau menyinggungnya. Enzy hanya bisa menundukkan kepalanya, hingga membuat Gio tak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Namun, Gio yakin sekali kalau saat ini Enzy pasti tengah merasa bersalah atas apa yang dilakukannya tadi. "Sudah, Jangan dipikirkan, lebih baik sekarang kau masuk saja ke dalam kamar, aku akan berbicara dengan Putri." Enzy mengangkat kepalanya secara perlahan, lalu dia menganggukan kepalanya. Wanita itu juga sudah tak mood lagi makan saat ini dan memilih untuk langsung menuju ke kamarnya dan beristirahat. Sementara Putri sendiri, yang ada di dalam kamarnya sedang asik memakan buah apel seraya membuka aplikasi media sosial. Beberapa kali, dia akan tersenyum saat melihat pria dengan wajah tampannya sedang memamerkan sebuah foto dengan perut berkotaknya. "Sangat mengagumkan." Saat telinga nya mendengar suara pintu yang terbuka, dia langsung menaruh ponselnya itu ke atas meja dan menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang. Dia menengok, melihat Gio yang baru saja datang. "Kau tidak tidur bersama dengan Enzy?" tanya Putri. "Tidak, aku tidur di sini." Putri menganggukkan kepalanya. Dia kembali fokus dengan makanannya saat ini dan setelah menghabiskan makannya, dia langsung meminum obatnya. Setidaknya, setelah ini dia bisa tidur dengan nyenyak lagi, tanpa ada satu orang pun yang bisa mengganggu nya. Direbahkan tubuhnya, memakai selimut sampai dadanya dan mulai menutup matanya, dia merubah posisi tidurnya menjadi menyamping karena baik untuk kandungannya, lebih tepatnya membelakangi Gio. Tidurnya terganggu saat dia merasakan sebuah tangan yang memeluknya dengan sangat erat sekali. Dia mengerutkan keningnya dan secara perlahan, matanya terbuka dengan sangat lebar. Dia menengok, melihat Gio yang ternyata sedari tadi mengelusnya. "Kenapa?" tanya Putri. "Aku hanya ingin seperti ini saja," bisik Gio. Kini, tangan Gio sudah mulai mengelus perutnya. Senyum di wajah Gio muncul saat dia merasakan tendangan pelan dari perut ini. Anaknya sudah mulai menendang-nendang. "Jangan banyak bergerak, aku hanya ingin memelukmu saja." Putri berdecak pelan. Mungkin, dulu dia akan merasa sangat nyaman dengan posisi seperti ini, tapi sekarang? Yang dirasakannya justru sebaliknya. Dia tak merasa nyaman sedikitpun. Sebisa mungkin, wanita itu menutup matanya dan terlelap dalam tidur. Dia ingin waktu cepat-cepat berjalan, agar ketidaknyamanan yang ada dalam dirinya ini bisa hilang juga. *** Hari telah berganti. Kini Putri sudah bangun dari tidurnya, bahkan dia sudah mandi dan berganti baju, pakaiannya adalah kaus hitam putih dengan celana hot pants yang longgar, agar perutnya tak merasa terdesak sedikitpun. Setelah merasa penampilannya saat ini sudah sempurna, dia keluar dari kamarnya. Saat pintu dibuka, pandangannya langsung bertemu dengan mata sipit milik Enzy yang menatapnya dengan senyum lebar, hingga menunjukkan gigi-gigi yang tersusun rapi itu. Putri melipat tangannya di depan d**a. Dia langsung bertanya kepada wanita itu, "Ada apa?" "Di mana Gio? Aku ingin bertemu dengannya." "Dia sedang tidur saat ini." Putri memberikan tanggapannya, membuat Enzy langsung membulatkan mulutnya. "Bisa dibangunin? Aku ingin berbicara sesuatu yang penting dengannya." Putri menghembuskan napasnya dengan kasar. Dia mulai meminggirkan tubuhnya, sehingga ada ruang untuk masuk. "Kau bisa membangunkan nya sendiri." Enzy tersenyum senang, dia langsung masuk tanpa sedikitpun rasa ragu di dalamnya. Putri hanya bisa menggelengkan kepalanya saja. "Menjijikan." Daripada menonton kemesraan suaminya dengan selingkuhannya itu, Putri lebih memilih untuk pergi dari tempat itu. Dia akan ke taman, melihat-lihat bunga yang membuat hatinya bahagia dan juga bisa mencuci matanya. Namun, sebelum itu dia harus ke dapur untuk mengambil minuman. "Taman yang indah." Putri berucap setelah di sampai di depan taman yang sudah dibuatnya dengan baik. Berbagai macam bunga yang memiliki nilai visual menarik sudah tertata dengan rapi. Tak sia-sia Putri membuat tempat ini, setidaknya dia bisa merasakan ketenangan hanya dengan melihat pemandangan seperti ini. Wanita itu memilih untuk duduk di gazebo seraya memandangi taman, dengan temannya sebotol teh hangat. Saat angin menerpa nya, rambutnya berterbangan kesana dan kemari. "Putri," panggil seseorang yang membuat pandangannya teralihkan. Dia melihat Gio yang ternyata sudah rapi dengan pakaian jas nya. "Kau mau kerja?" tanya Putri. Gio menganggukkan kepalanya. "Ya, sekalian aku akan mengajak Enzy juga." Mata Putri menyipit tak suka mendengar apa yang baru saja Gio katakan itu. Apakah mereka berdua tak memiliki Mali sedikitpun atau tak bisa menghargai seseorang? "Tak apa, bawa saja dia, sekalian perkenalkan sebagai istrimu di depan para karyawan, aku tak masalah." "Putri, bukan itu maksudku. Aku hanya ingin mengajaknya pergi saja, memang apa salahnya?" "Aku tak mengatakan bahwa kau salah. Ya sudah, bawa sana dia." Gio menghembuskan napasnya dengan kasar, cukup sulit berdebat dengan Putri. "Aku ingin mengantarkan Enzy ke rumah sakit untuk memeriksa sesuatu juga, itulah salah satu alasan aku mengajak nya." "Oo." Hanya itulah tanggapan yang Putri berikan. Putri lebih memilih memakai headset agar tak lagi mendengar suara Gio yang justru semakin membuatnya sakit hati. *** Seharian ini, Putri menghabiskan waktunya dengan menonton drama yang akan mengobati rasa bosannya saat ini. Dia begitu fokus menonton drama itu dengan ditemani oleh salad sayur. Sore telah datang dan Gio juga Enzy belum juga pulang. Entah apa yang mereka lakukan saat ini, Putri juga berusaha untuk tak peduli dan tak memikirkan masalah itu. Lebih baik, dia menghabiskan waktunya dengan menghibur diri daripada membuat suasana hatinya menjadi lebih buruk lagi. "Seandainya saja aku bisa menjadi wanita itu, aku akan kabur dan hidup bahagia tanpa seorang suami yang menemani." Putri menutup laptopnya. Baru saja dia menyelesaikan menonton drama nya, drama yang memiliki alur sama dengan kehidupannya saat ini. Putri mendesah pelan. Dia mengambil piring bekasnya tadi makan salad, lalu dia membawa keluar dari kamarnya. Telinga sempat mendengar suara mobil yang masuk dari pekarangan rumahnya dan sepertinya, mereka baru saja pulang saat ini. Saat Putri berada di ujung anak tangga, matanya menatap ke arah pintu, di mana dua sejoli itu muncul seraya bercanda tawa. Dapat Putri lihat kalau Enzy membawa sebuah paper bag di tangannya. Putri memilih untuk tak peduli, dia melewati Gio dengan Enzy begitu saja tanpa memberikan mereka sapaan sedikitpun. Dia tetap menuruni anak tangga dan menaruh piring itu ke atas meja. "Putri, aku ingin berbicara denganmu nanti." Gio berucap dengan nada tingginya, agar Putri bisa mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh nya itu. Putri mendesah pelan. Sungguh, dia tak ingin menghabiskan waktunya hanya untuk berbicara tak penting saja dengan Gio. Namun, apa boleh buat, pria itu yang memaksanya saat ini, membuatnya tak bisa apa-apa. "Ya." Putri menuju ke ruang tengah, dia duduk tepat di depan Gio. Melihat bagaimana Gio menatapnya dengan penuh serius, membuat satu alis nya menukik naik. "Ada apa?" Putri yakin sekali, kalau Gio ingin membicarakan sesuatu yang sangat penting pada dirinya saat ini. "Aku hanya ingin memberitahumu, bahwa saat ini Enzy juga tengah hamil." Gio berucap dengan ragu nya. Dia memperhatikan wajah Putri, bahkan kini raut wajah wanita itu sudah berubah menjadi datar dan penuh amarah. Putri mengeraskan rahangnya. Apakah sudah sejauh itu hubungan mereka? Sangat mengecewakan sekali. Putri menghembuskan napasnya. Sebisa mungkin dia menahan air matanya agar tak terjatuh. Dia tak akan mau terlihat menyedihkan di mata mereka. "Hamil? Memalukan." Putri tersenyum kecil. Dia menyandarkan punggungnya dan menatap penuh intimidasi pada sepasang sejoli yang ada di depannya ini. "Aku diam, bukan berarti aku setuju. Keberadaan ku di sini seperti tak dianggap. Kalau begitu, kenapa kau tak menceraikan aku saja? Aku tak membutuhkanmu lagi, Gio? Dan kau juga bisa menikah dengan babu itu. Semuanya terasa mudah, kalau kau tak menyulitkan semuanya ini." "Kenapa kau tak bisa menerima keputusanmu? Aku tak akan menceraikan mu sampai kapanpun itu dan tolonglah terima Enzy, jangan hina-hina dia lagi, dia tak salah apa-apa." Sungguh, Putri tak habis pikir dengan Gio saat ini. Pria itu seenaknya berbicara tanpa memikirkan perasaannya. "Kalau begitu, ya sudah, aku juga akan mencari pria lain untuk ku jadikan suami ku, bagaimana?" Gio menggeram kesal. "Jangan bermain-main, Putri. Aku tak akan membiarkanmu bersama dengan pria lain--" "INI ADALAH KEPUTUSAN KU DAN KAU TAK BERHAK UNTUK MENGURUS NYA!" bentak Putri. Napas wanita itu sudah terengah-engah saat ini, setelah dia mengeluarkan seluruh tenaganya Saat air matanya sudah tak tertahan, dia langsung membuang mukanya dan mengusap wajahnya dengan kasar. Tak akan dirinya biarkan air mata itu terlihat dan membuatnya tampak seperti wanita yang menyedihkan. "Kau tahu, Gio. Aku bukanlah wanita yang bisa kau atur. Aku akan melakukan apapun yang ku suka dan kau, tak berhak mengurus hidupku." Putri berucap seraya menunjuk wajah Gio. "Aku suami mu." Gio berucap dengan geram nya. Dia mulai mendekati Putri dan menarik tangan wanita itu, sengaja dia cengkram tangan Putri dengan sangat kuat, hingga membuat wanita itu meringis kesakitan. Dengan susah payah, Putri menyentak tangan Gio dengan kuatnya. "Semenjak pernikahan kita hancur, hubungan kita hanya memiliki nama tanpa makna. Jadi, untuk saat ini, aku bebas melakukan apapun, persetanan dengan hubungan kita." Langsung saja Putri berbalik dan pergi dari tempat tersebut. Dia sudah tak kuat lagi berdebat dengan Gio yang justru akan membuat hatinya semakin sakit saat ini. Putri menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang, dia mengelus perutnya. Terasa sangat nyeri sekali perutnya saat ini. "Maafkan Ibu yang tak memikirkan mu, sayang." Tentu saja Putri merasa bersalah. Dia akan memisahkan anaknya dengan Gio. Dia tak mau, jika suatu hari nanti, justru anaknya akan condong menyayangi Enzy juga. Karena, Putri hanya memiliki anaknya ini saja sebagai harapan nya untuk terakhir kali. Ya, hanya anaknya saja. *** Pagi itu, suasana di dalam rumah terasa begitu mencekam. Putri yang tak semalaman keluar dari rumah, membuat Gio cemas sendiri. Beberapa kali, pria itu akan mengetuk pintu kamar Putri, tapi gak kunjung juga jawaban dari dalam sana. Sementara Putri, yang semalam tampak stress kini justru sedang asik tidur dengan sebuah headset yang menyumpal telinga nya. Sungguh, saat ini dirinya tak ingin diganggu oleh siapapun itu juga. Ya, setidaknya itu adalah keinginannya pagi ini. Sampai pada pukul 10.00, matanya itu akhirnya terbuka dengan lebar juga saat ini. Putri menguap dengan lebarnya, sedikit dia melakukan peregangan pada tubuhnya, hingga membuatnya merasa sedikit lebih segar. Dia membangunkan tubuhnya dan membuka tirai jendela dengan lebarnya, membiarkan cahaya matahari itu masuk ke dalam kamarnya. Perutnya terasa lapar saat ini, ingin rasanya dia mengisi perutnya dengan makanan saat ini. Putri memilih untuk langsung keluar dari kamarnya dan mengambil makanan. Keluar dari kamar, dia tak menemukan keberadaan siapapun di sini. Gio mungkin sudah berangkat kerja dan pastinya, semalaman Gio menghabiskan waktunya bersama dengan Enzy. "Untuk apa aku memikirkan mereka." Putri menggelengkan kepalanya dengan pelan. Dia tak boleh memikirkan mereka yang telah membuat hidupku menjadi berantakan seperti ini. Putri lebih memilih untuk terus melangkah, hingga dia telah sampai di lantai satu. Matanya menatap ke arah Enzy yang saat ini tengah asik memotret guci-guci kesayangannya. "Semoga saja, wanita itu tak membuat masalah." Putri berharap, dapat dipastikan dia akan mengamuk jika guci kesayangannya itu sampai rusak karena ulah mereka. Memilih untuk tak peduli, Putri tetap melangkah menuju ke dapur, langkahnya terhenti kala dia mendengar sebuah suara. Brak!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN