Perjalanan dari Jakarta hingga Lampung dengan memakai alat transportasi berupa pesawat memakan waktu sekitar 50 menit dan kini, Putri sudah sampai di Lampung. Ternyata, semua hal yang menjadi kebutuhan utama nya sudah dipenuhi oleh Rey di sini.
Rumah dan kendaraan.
Rey tak memiliki kekayaan sebanyak suaminya, hal itulah yang membuat Rey hanya membelikan rumah minimalis dengan sebuah kendaraan transportasi berupa motor, tentu saja Putri sangat mensyukuri bantuan dari Rey itu.
Ditambah juga, Rey telah mencari lowongan kerja untuk Putri, hingga nantinya jika Putri sudah melahirkan, dia bisa bekerja dan menitipkan anaknya sementara ke tempat penitipan anak.
Mungkin, mulai saat itu, hidup Putri akan berubah 180° dari kehidupan sebelumnya, dia akan berusaha mencari uang untuk hidupnya juga hidup anaknya nanti.
Wanita itu kini sudah berada di rumah minimalisnya. Dia memasuki rumah itu, pandangannya mengedar, melihat suasana rumah yang akan ditinggalkan selama-lamanya.
Rumah ini sangat indah menurutnya dan Putri sendiri begitu menyukainya. Dia tersenyum kecil, kakinya mulai melangkah pelan, naik ke atas tangga dan menemukan sebuah pintu kamar di sana.
Masuk ke dalam pintu kamarnya itu, dia langsung menuju ke ranjang. Tubuhnya direbahkan ke atas ranjang, matanya tertutup sejenak, berusaha menenangkan hatinya yang kini tengah risau.
Bagaimana kabar mereka saat ini?
Entah betapa marahnya Gio kepada dirinya karena masalah ini. Namun, Putri tak begitu memikirkan masalah tersebut, karena yang terpenting baginya saat ini adalah, dia berhasil keluar dari rumahnya.
Keluar dari neraka yang menyiksanya beberapa bulan ini.
Tangannya terangkat, menyentuh perutnya yang membuncit, dia tersenyum kecil. "Kini, kita hidup bersama, Nak. Ibu akan selalu berada disampingmu dan akan memberikan perhatian penuh untuk mu."
Putri mengusap wajahnya dengan kasar. Dia ingin menyingkirkan air mata yang telah luruh itu. Harusnya, saat ini dia bahagia, bukannya bersedih dan menangisi masalah ini.
"Semuanya akan dimulai dan kita akan hidup bersama, Nak." Putri menghembuskan napasnya dengan kasar, dia mulai menbangunkan tubuhnya dan mengambil tas nya itu.
Dibuka tas, dia menemukan benda persegi yang dipakainya untuk komunikasi. Rey tadi sempat menukarkan kartu Putri dengan yang baru, semetara yang lama langsung dipotongnya menjadi dua lalu dibuang ke jalanan.
Dia membuka ponsel itu, ternyata pesan yang ada dari kartu sebelumnya masih tersimpan di hp ini.
Semua pesan yang dikirim untuknya, berasal dari Gio, suaminya.
Gio.
|Ke mana kau!
|Jangan berani kabur!
|Putri, pulang atau aku akan menyeret mu nanti.
|Kau sudah berani menantangku? Baiklah, aku akan menunjukkan bagaimana kejam nya aku.
|Bersembunyi lah kau dengan pintar, karena aku yakin, suatu hari nanti, kita akan tetap bertemu!
|Sial, jika aku menemukanmu, aku pastikan akan mengambil anak itu jika kau sudah melahirkan.
|Hidupmu akan menderita
|Akan ku hancurkan orang-orang yang menolongmu.
Putri langsung menutup ponselnya. Entah mengapa, dia merasa sangat merinding sekali setelah dia membaca pesan yang dituliskan oleh Gio itu.
Sungguh, Gio terlihat sangat menyeramkan sekali di matanya, membuatnya merasa ketakutan sendiri.
Putri menggelengkan kepalanya dengan pelan. Harusnya, saat ini dia tak lagi memikirkan pria b******k itu.
"Aku harus melupakannya, ya melupakannya."
Mungkin, sulit untuk Putri meninggalkan semua yang ada di masa lalunya, tapi dia percaya dengan kenyataan hati yang sungguh-sungguh dan juga berjuang, dia pasti bisa memulai hidupnya dengan yang baru.
***
Sementara itu, di sebuah rumah mewah kini seorang pria tampak sibuk dengan laptopnya. Dia berdecak pelan saat melihat layar hitam yang ada di layar laptop nya.
Langsung saja dia mengambil vas bunga dan melemparkannya ke sembarang arah.
Sungguh, saat ini dirinya memang sedang sangat kesal sekali karena suatu hal. "Sialan, di mana dia?!" Pria itu menyandarkan punggungnya ke kursi. Rasanya dia sangat lelah sekali mencari keberadaan istrinya yang hilang saat ini.
Tangannya terangkat, memijat pelan keningnya agar dia tak lagi merasakan pusing saat ini.
Putri telah pergi meninggalkannya dan tentu ada rasa sedih dan kesal. Istrinya itu sudah bermain kabur-kaburan dengan dirinya dan dapat Gio pastikan, dia akan menemukan keberadaan Putri suatu hari nanti.
"Kau tak akan bisa pergi dari ku, Putri. Kau milikku dan hanya menjadi milikku sampai saat ini." Pria itu berucap berucap dengan sungguh-sungguh.
Pintu ruangan kerja nya terbuka dengan lebarnya, lantas dia langsung menengok dan melihat siapa yang berani datang ke ruang kerja nya.
Matanya menatap ke arah seorang wanita yang kini memakai gaun tidur tipis nya berwarna merah. Wanita itu melangkah dengan pelannya, menuju ke tempat Gio berada.
"Kau sudah menemukan keberadaan Putri?" tanya Enzy.
Gio menggelengkan kepalanya dengan pelan. Rasanya saat ini, dia benar-benar sudah pusing memikirkan semua masalahnya yang terbilang sangat rumit.
Enzy mendekat ke arahnya. Tangannya terangkat dah memberikan pijatan yang bisa saja membuat Gio sedikit merasa lebih tenang saat ini. "Jangan terlalu dipikirkan masalah tersebut, aku tak mau jika kau sampai kenapa-napa." Enzy memberikan bisikan yang sedikit membuat Gio tenang.
"Dia pergi, meninggalkan aku," lirih Gio.
Enzy menghembuskan napasnya dengan kasar. "Jangan memikirkan seseorang yang tak memikirkan perasaanmu. Aku yakin, Putri pasti meninggalkanmu karena dia memiliki pria lain dalam hatinya."
Gio menyorot Enzy dengan tatapan tajam nya. Sungguh, dia merasa sangat tak suka sekali setelah mendengar apa yang baru saja Enzy katakan itu.
"Apa maksud mu."
Enzy tersenyum kecil. Sampai saat ini, tangannya masih sibuk memijat bahu Gio. "Apakah kau tak curiga jika selama ini, Putri juga menjalin hubungan dengan pria lain? Aku yakin, pria itu pasti memiliki kekuasaan yang cukup hebat, hingga membuat mu tak bisa menemukan keberadaan nya."
Kalimat persuasif yang dikatakan oleh Enzy itu, benar-benar mencuci pikiran Gio saat ini. Secara perlahan, Gio menganggukkan kepalanya, dia mulai membenarkan apa yang dikatakan oleh Enzy tadi. "Ya, kau benar. Tak mungkin dia bisa kabur tanpa bantuan orang lain dan kemungkinan, seseorang yang membantu nya saat ini adalah selingkuhannya."
Enzy menganggukkan kepalanya. Kakinya melangkah, dia duduk di atas meja kerja Gio, tepatnya di depan pria itu. "Jadi, kenapa kau merasa bersalah? Dia juga melakukan kesalahan yang sama dengan apa yang kau lakukan saat ini, kau tak perlu memikirkan nya lagi. Biarkan dia kabur."
Mungkin apa yang Enzy katakan itu mudah, tapi tidak untuk Gio. Ada banyak hal yang dipikirkan olehnya saat ini, salah satunya adalah anak yang ada dalam kandungan Putri itu.
"Tapi, anakku---"
"Jika kita menemukan keberadaan Putri, kau bisa merebut hak asuh nya, dengan begitu kau tak perlu lagi mencemaskan nya saat ini."
Gio menyunggingkan senyum nya. Dia mulai terpengaruh ucapan dari Enzy. "Kau benar, aku akan merebut anakku suatu hari nanti dan membuat hidupnya menderita."