Sebuah Perintah

1005 Kata
Setelah selesai belanja, akhirnya mereka sudah sampai rumah saat ini. Putri merebahkan tubuhnya, sungguh dia merasa sangat lelah sekali saat ini. Apalagi, tadi Cinta smepat meminta ingin ke tempat arena permainan dulu, membuatnya harus menunggu dengan posisi berdiri dalam waktu hampir satu jam. Dia menengok, melihat jam saat ini, sudah pukul 19.00 dan sudah seharusnya saat ini dia bersiap-siap untuk bekerja besok. Wanita itu langsung membangunkan tubuhnya. Dilepaskan cardigan nya dan membuang nya ke dalam keranjang pakaian bekas, lalu kakinya mulai melangkah menuju ke kamar mandi. Berendam dengan air hangat juga mencium aroma mint, berhasil membuat hatinya tenang saat ini. Matanya tertutup, kembali dia mengingat beberapa kenangan pernikahannya dengan Gio dulu, kenangan yang baik, membuat sebuah senyum muncul di wajahnya, tapi saat dia mendapatkan kenangan yang buruk, dia langsung membuka matanya. Kepalanya menggeleng pelan. Tak seharusnya dia memikirkan pria b******k itu. Pria yang hanya bisa memberikan rasa sakit pada dirinya. Dia memilih untuk menyelesaikan mandinya saat ini dan mengistirahatkan tubuhnya di atas ranjang. "Ibu." Kepala Putri menengok, dia melihat ke arah Cinta yang baru saja datang saat ini dengan memeluk sebuah boneka kelinci di tangannya. "Ada apa, sayang?" "Aku tidur sama Ibu." Putri menganggukkan kepalanya dengan pelan. Dia menggeser tubuhnya, membiarkan Cinta tidur di sampingnya. Putri menatap manik anaknya, manik yang sama dimiliki oleh Gio. Manik yang membuat Putri semakin melupakan Gio. Putri memeluk tubuh Cinta. Untuk malam ini, dia tak ingin melihat manik mata itu jauh lebih lama, karena rasa rindu yang ada di dalam dirinya akan bertambah banyak. Tangannya mengelus pelan puncak rambut Cinta, hingga tak beberapa lama kemudian, dia merasakan Cinta yang mulai tertidur dengan nyenyak saat ini. Anak itu memeluknya dengan sangat erat, membuat Cinta tersenyum kecil. "Kau adalah hidup Ibu," bisik Putri. Dia mulai memejamkan matanya dan ikut tertidur, menyelam alam mimpi yang sangat indah. *** Saat itu, matahari belum memancarkan cahayanya, seorang wanita yang tadinya tertidur dengan nyenyak, kini mulai terbangun karena merasakan hawa dingin saat pagi hari. Dia mengusap wajahnya dengan kasar dan menengok ke arah jam. 05.25 Dia menguap dengan besarnya. Ingin kembali melanjutkan tidurnya sepertinya percuma juga, karena apa yang dilakukannya itu justru akan membuatnya kesiangan nantinya. Wanita itu lebih memilih untuk melakukan aktivitas yang lain, membersihkan rumahnya atau membuat sarapan untuknya dengan anaknya. Keluar dari kamar, kakinya langsung melangkah menuju ke sebuah dapur dan mulai asik di ruangan itu, membuat sarapan untuk pagi ini. Setelah selesai dia membuat sarapan, dia memilih untuk langsung ke taman buatannya dan membersihkan daerah itu. "Hey." Seseorang menyapa nya saat dia akan menyiramkan air ke tanaman. Panggilan itu cukup mengejutkan Putri. Dia menengok, menemukan Vano yang saat ini tengah tersenyum lebar kepada dirinya dengan tangan yang melambai. Vano melangkah dan mendekat ke arahnya. "Apakah kau sedang sibuk hari ini?" Putri menganggukkan kepalanya. "Ya." "Aku ingin mengundangmu ke acara makan malam nanti, soalnya aku ingin meninggalkan kota ini. Apakah kau ingin datang?" Vano berucap. Putri mengerutkan keningnya. Dia yakin sekali kalau kontrak kerja Vano telah habis di kota ini, cukup sedih juga mendengar bahwa Vano akan pergi sebentar lagi. Putri sudah sangat akrab dengan Vano, bagaimanapun juga pria itu datang saat dia membutuhkannya. Namun, mau bagaimana lagi. Secara perlahan, Putri menganggukkan kepalanya. "Ya, aku mau. Nanti malam aku akan datang ke rumahmu." Wanita itu berucap. "Aku tunggu kedatanganmu." Vano mulai melangkah pergi dari sana, sepertinya pria itu tengah jalan pagi, menikmati angin dingin pada pagi hari juga mengenang kembali tempat ini. "Huh, aku harap akan ada tetangga yang lebih baik menempati rumah itu." Putri menaruh selang air yang dipakainya tadi untuk menyiram air, lalu dia langsung ke dalam rumah, melihat Cinta yang tengah menghabiskan satu potong sandwich seraya menonton film kartun kesukaannya. "Cinta, bersiap-siap. Nanti kau akan terlambat sekolah." Cinta menengok, dia menganggukkan kepalanya dan memilih untuk langsung membersihkan tubuh. Hari ini Cinta memang akan sekolah. Untungnya Cinta tak menghadapi masalah rumit di sekolahnya, dan kini Cinta telah memiliki teman baru yang membuatnya sangat bahagia. *** Selama lima tahun terakhir ini, Putri bekerja di salah satu restoran dengan menjabat sebagai manajer. Dia lah yang mengawasi restoran ini dan dipercaya untuk menjaganya, tentu saja Putri senang dengan jabatan itu, karena gaji yang diberikan untuknya cukup besar. Dia memasuki restoran yang memiliki kesan monokrom itu dan melihat beberapa waitress sudah datang dan membersihkan restoran ini. Banyak yang memberikan sapaan untuk Putri, wanita itu pun hanya membalas dengan sebuah senyuman saja. Dia memilih untuk langsung ke ruangannya dan mengisi beberapa data yang diberikan untuknya, setelah itu memeriksa pengeluaran dan pemasukan yang didapatkan oleh restoran ini. Telepon genggam yang ada di dekatnya berdering dengan sangat kencang, membuatnya langsung mengambil telepon tersebut dan menjawab telepon yang masuk. "Halo ada yang bisa saya bantu?" 'Halo, Bu Putri. Saya Dinda asisten Pak Bayu, saya ingin menyampaikan pesan kepada Anda bahwa Anda akan dipindah tugaskan Ke Jakarta oleh Pak Bayu.' Kening Putri mengerut saat dia mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh wanita yang bernama Dinda itu. Pindah tugas? Astaga, tentu saja dia tak mau. Namun, mau bagaimana lagi? Dia tak bisa lagi berbuat banyak, kecuali menurut jika ingin mendapatkan gaji dari pekerjaannya. "Maaf, apakah Anda bisa mengirimkan berkas pindah tugas nya. Masih ada hal yang harus saya pikiran juga." 'Baik, Bu.' Sambungan telepon itu telah terputus. Putri menaruh telepon genggam nya ke atas meja. Dia merasakan nafasnya yang mulai terengah-engah saat ini, otaknya tak bisa lagi berpikir dengan baik. Bagaimana caranya dia bisa menolak perintah dari atasannya itu? Tak berapa lama kemudian, dia mendapatkan sebuah email dari Dinda tadi, isi email itu menunjukkan perintah dari atasan untuknya bekerja di cabang utama perusahaan ini, yaitu Jakarta. Jakarta, tempat yang membuatnya merasakan sakit dalam pernikahan dan tentu saja, dia tak ingin kembali ke tempat itu. Lalu, apa yang harus dilakukannya untuk menghindari tempat tersebut? Putri menggigit bibirnya dengan kuat. Sepertinya, dia harus memikirkan masalah ini lebih lama. Dia tak ingin, ada segala kemungkinan buruk yang didapatkannya. Dia menghembuskan napasnya dengan kasar. "Ya, aku tak akan pernah tinggal di tempat itu." Putri menggelengkan kepalanya dengan pelan, sungguh dia tak mau kembali ke masa lalu yang membuat hidupnya menderita seperti ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN