“Tidak bisa, Keyra sudah bangun,” balas Alka yang sontak membuat Zello langsung menoleh ke arahnya.
“Ha?! Serius lo?!” tanya Zello yang tak percaya.
“Ya, lebih baik kita bicarakan lewat telepon nanti,” jawab Alka yang membuat Zello mengangguk-anggukan kepalanya.
“Yaudah deh, tapi lain kali boleh dong gue kenalan sama Keyra,” balas Zello yang hanya mendapat lirikan tajam dari Alka. Dan tak berselang lama, guru pengajar pun masuk ke kelas mereka untuk memulai pelajaran pertama pada hari ini.
***
Pagi ini, Keyzia tengah bergulat di dapur untuk membantu sang ibu membuat kue. Ya, setiap pagi memang Keyzia selalu membantu ibunya membuat kue untuk mereka jual nantinya di toko kue.
“Keyzia,” panggil Kania pada sang putri.
“Ada apa bu?” tanya Keyzia sambil memasukkan adonan kue yang sudah jadi ke dalam oven.
“Ibu berangkat duluan ya, soalnya sudah jam segini…, waktu toko buka tinggal 5 menit lagi, dan juga ibu belum menata semua kue ini,” jawab sang mama sambil memasukkan box-box yang terisi kue ke dalam semua keranjang dorong besar.
“Iya bu, biar sisa kuenya nanti Keyzia yang bawa ke sana,” balas Keyzia yang membuat sang ibu tersenyum padanya.
“Baiklah, kalau begitu ibu pergi dulu ya Keyzia,” ujar Kania lalu bergegas mendorong keranjang tersebut dan membawanya keluar rumah.
“Lebih baik aku mengganti pakaian terlebih dahulu,” gumam Keyzia yang langsung berlari menuju kamarnya untuk berganti baju terlebih dahulu.
***
Setelah selesai mengganti pakaiannya, Keyzia kini sudah kembali berkutat dengan kegiatannya di dapur yaitu membuat kue. Saat ini, ia tengah asyik menghias kue-kue tersebut dengan telaten dan penuh perhitungan.
“Sudah selesai semua, lebih baik aku bergegas ke toko sekarang juga,” gumam Keyzia yang kemudian langsung memasukkan box-box berisi kue tersebut ke dalam keranjang yang tidak terlalu besar namun pas untuk keempat box tersebut.
Keyzia membuka pintu rumahnya dan mengernyit saat mendapatkan sosok Viola yang kini tengah berdiri di teras rumahnya. Keyzia yang sejujurnya masih mengingat kejadian saat itu merasa takut dengan sosok wanita yang tengah menatapnya tajam itu.
“Pagi,” sapa Keyzia tersenyum samar pada Viola.
“Pagi juga jalang,” balas Viola yang membuat Keyzia tersentak kaget.
‘Sebenarnya, apa tujuan Viola datang kemari?’ tanya Keyzia dalam hati.
“Permisi, saya harus pergi,” ujar Keyzia yang ingin berusaha untuk mengabaikan Viola.
“Hey, lo mau kemana jalang?” tanya Viola dengan sebuah seringai yang terbit di sudut bibirnya.
“….” Keyzia diam, tak berniat untuk menjawab pertanyaan Viola. Bahkan, ia malah terus melanjutkan langkahnya menuju toko sang ibu.
“Berhenti di sana dasar tidak berguna!” titah Viola dengan kesal pada Keyzia.
“Apa?” tanya Keyzia sembari membalikkan tubuhnya guna menghadap sang pembicara.
“Apa maksud lo ngerayu cowok gue? Jawab! Lo kira gue tidak tau kalau selama ini lo itu berusaha deket sama Zello sambil negrayu dia buat jadi pacar lo?”
“Saya tidak—“
“Tidak perlu bohong jalang, gue tau semuanya. Bahkan saat lo jalan berdua sama Zello pun gue tau. Jadi, lo bisa mengelak apa lagi?”
“Saya—“
“Susah ya memang, kalau pada dasarnya p*****r ya sampai kapan pun dia gk akan diam saat ngeliat cowok ganteng dikit aja.”
“Saya memang jujur tidak pernah merayu Zello sekalipun. Bisakah kamu berbicara baik-baik tidak perlu memakai urat yang pastinya akan membuatmu menjadi terus berburuk sangka pada orang lain.”
“Berani mengajari, ya? Makhluk aneh, tolong dengarkan baik-baik perkataan gue. Zello, beberapa hari ini jadi jarang ketemu sama gue. Dan itu semua, gara-gara lo kan? Terlebih lagi, gue memang melihat saat lo dan Zello sedang jalan berdua malam-malam. Jadi, apa yang perlu lo jelasin lagi dari itu semua, hah?!” Viola membentak, wajahnya kini sudah benar-benar memerah akibat rasa kesalnya yang begitu memuncak.
Keyzia sedikit tersentak saat mendengar penuturan Viola barusan. Jadi, wanita itu benar-benar melihatnya dengan Zello? Tapi bagaimana bisa? Seingatnya, malam itu Keyzia dan Zello memilih tempat yang sangat tepat agar tidak terlalu mencolok. Tentu saja, itu pun atas permintaan Keyzia yang merasa sedikit risih jika harus berada di tengah keramaian.
“Diam? Lo tidak bisa mengelak lagi bukan?” tanya Viola dengan sarkasnya.
“Akan tetapi kami berdua hanya—“
“Mau alasan apa lagi? Udah terbukti kan? Selama ini emang diam-diam lo itu cuma bisa goda laki-laki. Tidak heran kalau lo waktu itu pernah di perkosa. Tapi sebenarnya itu bukan p*********n bukan? Karena pasti lo yang memancing terlebih dahulu? Tidak perlu berpura-pura lagi w***********g! Tidak usah berlagak seperti wanita suci lagi di depan siapapun. Lepaskan saja topeng busukmu itu dan menjauhlah dari kekasihku!” potong Viola dengan berbagai kalimat kejamnya yang ia lontarkan untuk Keyzia.
Mungkin Viola tidak sadar, tubuh Keyzia seperti kaku, pandangan matanya pun sulit dijelaskan dengan kata-kata. Keringat dingin pun mulai mengaliri pipi mulus gadis phobia tersebut. Ah, rupanya Viola telah membuat luka yang baru saja kemarin pulih harus kembali terbuka.
Saat menyadari hal itu, Viola tersenyum miring, dirinya puas setelah kembali merusak mental gadis itu untuk yang kesekian kalinya. Tentu saja, sejak dulu Viola memang merupakan oknum yang membuat mental Keyzia semakin memburuk. Dengan semua kalimat kejamnya, mampu membuat luka Keyzia semakin dalam.
Viola senang dan puas melihat gadis dihadapannya yang kini tengah tremor layaknya melihat sesuatu yang amat menakutkan. Sungguh, ini merupakan pemandangan terbaik baginya.
“Ah, ada apa Keyzia? Jangan bilang sekarang lo lagi menyadari dan menyesali semuanya? Lo sadar kalau lo memang hanyalah perempuan penggoda yang selama ini selalu memakai topeng suci lo itu?” tanya Viola lagi yang tentu saja sengaja untuk memancing Keyzia agar semakin menjadi.
“T—tidak, aku tidak pernah menggoda siapapun. Aku bersumpah, sungguh…,” balas Keyzia dengan susah payah. Air mata juga kini telah mengalir di pipinya. Dengan arah pandangan yang kosong dan lurus, Keyzia sudah benar-benar terluka saat ini. Sedangkan Viola, kini wanita itu tertawa dengan puas.
“Keyzia! Lo tahu? Perempuan seperti lo itu tidak pantas untuk hidup. Kenapa? Lo itu sadar tidak sih? Lo punya begitu banyak kekurangan dalam diri lo. Perlu gue sebutin satu-satu agar lo paham dan sadar? Kalau perlu, gue bisa bantu menyebutkan semua kekurangan lo tanpa terkecuali.” Viola menatap nyalang Keyzia yang kini tampak semakin tertekan.
“Cukup! Tolong hentikan!” pekik Keyzia sembari menutup kedua telinga serta kedua matanya rapat-rapat. Keyzia begitu ketakutan, ia masih berusaha keras untuk mengontrol dirinya baik-baik. Ia tidak bisa seperti ini terus, ia tidak ingin menyusahkan ibunya lagi jika ia kembali seperti kemarin. Terlebih lagi, saat pagi hari seperti ini akan banyak orang yang berlalu lalang. Ia tidak ingin membuat sang ibu semakin berat menanggung malu.