"Kau seharusnya berterima kasih kepadaku," ucap William menggoda Grace yang sedang terkagum-kagum melihat desain ruangan itu. Desainnya sangat cocok dan sesuai seleranya seolah William bisa membaca apa yang ada di dalam angannya. "Aku sudah melakukannya tadi." Grace memajukan bibirnya. "Itu belum cukup." William berbicara pelan sangat dekat di telinga Grace membuat bulu kuduknya terasa meremang. Grace menjauhkan tubuhnya dari lengan William yang sejak tadi merangkul pundaknya. "Apa di otakmu hanya ada itu?" bola mata Grace membesar menatap William dengan tatapan galak. William menaikkan sebelah alisnya. "Benar," ucapnya di sertai seringai di bibirnya. Andai bukan karena kau mewujudkan mimpiku, aku benar-benar ingin menendang bokongmu hingga kau terpental dari atas sini! "Kalau begi

