Ingkar

2133 Kata
Selamat membaca ~ - “Seseorang dapat dilihat dewasa bisa dari penampilan, namun tidak dengan pikiran.” Alena Senakila Lopika   -             Ruang auditorium kampus sudah penuh dengan mahasiswa yang satu persatu mulai masuk dan mencari tempat untuk mereka duduk. Sebentar lagi akan dilakukan voting pemilihan Kahim dan Wakahim baru untuk kepengurusan periode baru di Himpunan Sastra Indonesia. Mata Sena tampak berkeliling dengan resah, agaknya ia sedang menunggu kedatangan seseorang saat ini. “Sena, Galen belum datang?” tanya salah seorang kakak tingkatnya yang sudah demisioner.             Sena menggeleng, “Belum kak. Tapi gue terus berusaha buat nyari dia kok,” jawab Sena dengan wajahnya yang tak enak hati.             Ruangan semakin ramai, dan jam pun terus berputar. Sepuluh menit lagi acara akan di mulai, namun Galen belum juga menunjukkan keberadaannya di samping Sena. Tidak lucu dong kalau Sena nanti akhirnya naik keatas podium sendirian tanpa pasangan? Dalam hatinya, Sena sudah menyupah serapahi lelaki bermata tajam ini. Ia kesal lantaran Galen belum juga datang dan mengambil alih situasi disaat dirinya sendiri sedang nervous. “Galen udah datang,” teriak salah satu anggota Himpunan yang ikut melancarkan acara pada hari ini. “Dia dimana?” tanya Sena saat tidak sengaja mendengarnya. “Ada di belakang, beresin diri sendiri. Lusuh banget,” jawab gadis berambut pendek itu.             Dengan langkah tergesa, Sena berlari menuju tempat Galen berada. Sena masuk saat melihat ruangan tersebut sepi dan hanya menampakkan seorang lelaki tengah duduk bersimpu sambil meminum sekotak s**u yang ada di genggamannya. “Belum jadi Kahim, udah hilang tanggung jawab lo?!” ucap Sena dengan nadanya yang cukup keras.             Galen mendongak, ia menatap kearah Sena yang kini sedang menatap kearahnya dengan penuh amarah. Galen menggeleng, ia juga berusaha untuk mengatur napasnya yang masih tersenggal. “Engga, bukan gitu,” lirih Galen. “Bukan gitu gimana? Acara penting kayak gini aja masih sempat buat telat? Lo pikir dong Len, dimana otak lo?!” seru Sena dengan menatap tajam Galen. “Lo sendiri yang bersih kekeh buat maju, dan sekarang lo ingkar. Lo telat di saat voting diadakan?!”             Emosi Sena benar-benar tersulut setelah menunggu Galen sendirian. Ia kalut akan ketakutan yang menghampiri dirinya saat sedang sendiri. Galen yang ia rasa mampu mengambil alih keadaan, namun belum datang dan hanya memberikan janji padanya bahwa ia akan datang. “Gue bisa jelasin semuanya,” ucap Galen yang masih dengan napasnya yang tersenggal. “GALEN,”             Ben datang dengan raut wajahnya yang cemas. Ia langsung melihat kondisi Galen yang tampak lemas dan lusuh. “Lo gapapa bro?”  tanya Ben dengan penuh kekhawatiran. “Emang sialan banget tuh orang,” umpat Ben kesal saat melihat wajah Galen yang tampak lusuh. “Gue gapapa,” jawab Galen dengan menepuk pundak Ben agar ia merasa tenang. “s**u strawberry mana? Lo punya? Gue beliin dulu ya, tunggu sebentar,” ucap Ben yang sepertinya tahu kebiasaan Galen. “Udah, gue punya.” Balas Galen dengan suaranya yang berat namun terdengar lemas.             Sena pun kembali ke aula auditorium karena pengurus acara sudah memulai acaranya dengan sapaan pada seluruh mahasiswa yang hadir. Sena duduk pada bagian depan, dimana kursi tersebut sudah di tata untuk para calon Kahim dan Wakahim sebelum naik keatas podium.             Tak membutuhkan waktu lama, Galen pun akhirnya duduk di samping Sena tepat satu menit sebelum mereka di panggil untuk maju keatas podium. Terdengar helaan napas berat keluar dari mulut Galen, rupanya bukan hanya Sena yang gugup. Galen pun merasakan hal yang sama. “Baik, untuk pasangan calon Kahim dan Wakahim baru Sastra Indonesia angkatan 2021 dengan nomor urut dua. Galen Gibson Rajendra, dan Alena Senakila Lopika. Silahkan untuk menyampaikan beberapa kalimat pendukung.” Ucap Tasya sekalu pembawa acara.             Galen pun mengambil mic, Sena melihat bahwa tangan Galen saat ini gemetar walau sudah ia sembunyikan di balik badannya. Satu tarikan napas besar telah Galen lakukan, kini ia menjadi harus percaya diri. “Saya mewakili team, ingin menyampaikan bahwa selama masa kepemimpinan yang akan saya pegang bersama Sena dan teman Himpunan lainnya. Meyakini bahwa kepemimpinan akan berjalan sesuai rencana, baik kepengurusan dan sumber daya manusia. Selain itu, dengan adanya program kerja unggulan yang sudah kami sampaikan, akan mendukung kepengurusan himpunan agar menjadi lebih baik lagi kedepannya.” Ucap Galen dengan tegas.             Semua orang yang berada disana mengaangguk seraya bertepuk tangan. Entah karena melihat paras tampan Galen, atau tersanjung dengan setiap kalimat yang keluar dari mulutnya itu terdegar sangat gagah dan keren. Sena tertegun, ia merasa bersalah karena sudah marah kepada Galen hari ini. Galen tidak berbohong padanya untuk mengambil alih seluruh masalah dalam himpunan yang akan mereka pimpin, hanya saja kurangnya rasa kepercayaan pada diri Sena untuk Galen yang membuat Sena tidak akan pernah bisa memberikan kepercayaannya pada lelaki dingin ini.             Galen melangkah mundur setelah memberikan beberapa kalimat pendukung untuk teamnya. Helaan napas lega terdengar jelas di telinga Sena dan otomatis membuatnya menegadahkan kepalanya untuk menatap Galen yang kini hanya menatap lurus dengan tatapan penuh kerisauan. “Kok muka lo lebam?!” seru Sena tertahan saat menyadari bahwa wajah Galen terdapat beberapa lebam disana.             Galen menoleh dan mendapati Sena tengah menatapnya dengan penuh kekhawatiran. “Fokus sama pemilihan.” Seru Galen dengan suaranya yang dingin. “Kenapa muka lo bisa lebam?” tanya Sena lagi yang tidak mengindahkan seruan Galen.             Galen diam, ia tidak menjawab pertanyaan Sena. Dengan cepat Sena menarik pergelangan tangan milik Galen, namun dengan cepat pula Galen menepisnya. “Lo harus di obati,” ucap Sena. “Gak perlu. Fokus sama acara.” Tegas Galen dengan menatap tajam Sena.             Pemilihan sudah berjalan sekitar lima jam, dan kini sudah memasuki penghitungan suara. Jarak antara pasangan pertama dan kedua hanya 5 suara. Dimana pasangan pertama mendapatkan 595 suara untuk Juan dan Tari, dan pasangan kedua mendapatkan 600 suara untuk Galen dan Sena.             Sedari penghitungan suara, Galen terlihat sangat tidak tenang. Ia terus memainkan bibir maupun jemarinya, serta menghela napas dengan berat beberapa kali. “Biasa aja, kalau rezeki juga kita yang bakalan menang.” Ucap Sena yang terus memperhatikan tingkah Galen.             Tidak menjawab, Galen hanya melirik Sena sekilas. Ia terus bergelut dengan harapan besar yang ia taruh untuk menjadi seorang pemimpin. “Di kotak tinggal satu surat suara tersisa, dan ini adalah penentuan untuk kemenangan antara pasangan calon nomor urut satu dan dua.” Ucap Tasya.             Doni selaku petugas pada penghitungan suara pun mengambil surat tersebut dan menunjukkannya pada seluruh mahasiswa yang hadir. Bukan hanya Galen yang merasa gugup, Juan dan Tari pun merasa gugup dengan hasil putusan akhir yang akan dibacakan. Ya walaupun mereka tahu pemenang mutlak berada ditangan Galen dan Sena dengan pointnya yang unggul. “Surat suara ini memilih pasangan nomor,” ucap Tasya dengan segaja menggantungnya. “Nomor 2. Selamat untuk Galen dan Sena sudah menjadi Ketua Himpunan dan Wakil Ketua Himpunan yang di periode baru ini.” Ucap Tasya dengan nada yang amat riang.             Terdengar suara gemuruh yang berasal dari tepuk tangan seluruh mahasiswa dan mahasiswi yang hadir untuk menyaksikan pemilihan ini. Galen dan Sena tersenyum sembari menunduk sebagai ucapan rasa syukur sekaligus berterima kasih. “Saya, Galen Gibson Rajendra. Bersama Alena Senakila Lopika berjanji akan memimpin Himpunan Sastra Indonesia agar bisa dipandang dengan apik atas segala skill, dan talenta yang kami punya. Juga akan membuka tangan selebar mungkin untuk seluruh mahasiswa Sastra Indonesia yang mengalami keluhan.” Ucap Galen tanda akhir bahwa pemilihan telah berakhir.   -                 Ben menghampiri Galen yang tengah duduk sendiri di belakang Auditorium. Ya, kini Galen sedang memikirkan cara untuk menghilangkan lebam pada wajahnya sebelum pulang. Karena jika ia pulang dengan wajah seperti ini, Rajendra akan memarahinya lagi. “Emang gila si Eric,” ucap Ben kesal setelah mengetahui kejadian asli yang dialami Galen sebelum sampai sini. “Lo sendiri kali yang bilang kalau ini udah biasa di geng motor,” balas Galen mengingatkan ucapan Ben saat Galen pertama kali tahu Jeno di keroyok oleh Mario. Setelah Jeno berhasil mengalahkan Mario tepat dihadapan gadis yang diincarnya. “Ya tapi ngga gini juga. Ini mah bodoh banget si Eric, beraninya keroyokan.” Sahut Ben kesal. “Gak ada otak.” Tegas Ben lagi.             Galen menatap lurus sembari menghembuskan napas berat. Ia merasa sangat lelah hari ini. “Tapi Len, lo menang hari ini. Itu tandanya lo harus tepatin janji lo buat balapan lawan Eric,” ucap Ben mengingatkan akan janji Galen saat berada di rumah tua. “Gue akan lawan Eric, demi kemeja gue yang udah dia bikin lusuh dan robek.” Tegas Galen dengan matanya yang nyalang.             Ya, kemeja yang digunakan Galen hari ini adalah baju kesayangannya. Ia merasa jika menggunakan kemeja pemberian Ayana disaat penting seperti ini, rasa percaya dirinya akan tumbuh. Rasa takut yang menghantuinya akan sirna, karena ia merasa bahwa Ayana ada disampingnya. Dan jika ada yang berani merusaknya, ia benar-benar akan mengejar orang tersebut hingga Galen puas.             Lamunan Galen buyar saat mendegar suara ketukan pada pintu belakang Auditorium. Tak lama muncul sosok gadis yang tadi sempat memarahinya hari ini karena sudah datang terlambat. Sena berjalan dengan langkah perlahan kearah Galen dan Benny yang sedari tadi menatapnya. “Sorry, gue kesini cuma mau obatin luka Galen,” ucap Sena dengan menatap Galen dan Benny secara bergantian. “Gak perlu.” “Oh yaudah, tolong obatin ya Na,” sahut Ben dengan cepat saat Galen menolak tawaran Sena secara langsung. “Lo apaan sih?!” ucap Galen tertahan dengan menatap Ben tajam. “Lo mau dimarahin sama bapak lo? Udah nurut aja, cewek lebih perhatian soal luka,” jawab Ben yang rupanya rasa takutnya pada Galen perlahan pudar. “Sena, gue nitip Galen ya. Minta tolong obatin yang benar lukanya, kalau dia nolak lagi geplak aja kepalanya. Emang anaknya sok jual mahal,” tambah Ben yang kini menatap Sena untuk berbicara.             Sena mengangguk paham. “Lo mau kemana b**o?” teriak Galen saat langkah Ben sudah di ujung pintu belakang Auditorium. “Beliin lo s**u Strawberry.” Balas Ben.   -                 Sena tampak fokus mengompres luka lebam Galen dengan es batu. Terkadang Galen meringis kesakitan saat lukanya tak sengaja disentuh oleh Sena. Suasana dingin tiba-tiba menyelimuti mereka berdua. Tidak ada yang membuka suara setelah ucapan terima kasih Galen diatas panggung untuk semua orang yang hadir dan membuat mereka menang dalam pemilihan. “Gue mau minta maaf,” ucap Sena memulai pembicaraan. “Lo gak salah,” “Tapi gue merasa bersalah.” Jawab Sena dengan menatap Galen.             Jarak antara keduanya sangat dekat, bahkan hembusan napas mereka bisa dirasakan keduanya. Galen balik menatap Sena dengan mata elangnya. Seolah terkunci, Sena enggan memalingkan tatapannya dari mata tajam Galen.             Galen tetaplah seorang laki-laki dewasa yang jika ditatap dengan intens hasratnya keluar. Ia pun segera memaligkan tatapannya dan memilih mengalah untuk saat ini. “Lo hobi berantem?” tanya Sena lagi.             Memang benar, jika Sena dipadukan dengan Galen ibaratnya seperti air dan es batu. Sena yang terus berusaha mencairkan suasana dingin karena Galen yang enggan untuk berbicara. “Gue boleh tanya sesuatu?” tanya Sena lagi saat pertanyaan pertamanya tidak dijawab oleh Galen.             Galen hanya berdehem sebagai tanda bahwa Sena boleh menanyakan suatu hal. “Kalau lo lagi berantem, lo merasa bangga sama diri sendiri ngga?” tanya Sena dengan menatap Galen lembut. “Tergantung,” “Maksudnya?” tanya Sena tidak paham.             Galen menghela napas panjang, “Gue akan bangga, kalau yang gue bela itu penting,” jawab Galen. “Termasuk kemeja baju lo ini?” tanya Sena lagi yang langsung mendapatkan anggukan mantap dari Galen.             Saat datang kesini, Sena dengan samar mendengarkan percakapan Galen dan Ben mengenai kemeja yang dikenakan Galen hari ini. Mendengar suara Galen yang penuh akan dendam, Sena pun menyimpulkan bahwa Galen akan balas dendam untuk hari ini. “Lo lebih pilih kemeja daripada nyawa lo sendiri?” tanya Sena menyimpulkan. “Iya,” balas Galen singkat. “Tapi buat apa? Lo bisa beli kemeja lagi kan? Tanpa harus balas dendam dan melibatkan nyawa sendiri. Lo masih muda Len,” tegas Sena dengan raut wajahnya yang kini menunjukkan keseriusannya.             Galen tersenyum miring menatap gadis yang meremehkan barang yang sangat ia jaga. “Lo pernah punya barang kesayangan, sampai harus lo jaga sekuat tenaga gak?” tanya Galen dengan suara beratnya.             Sena menggeleng. “Pantas. Gak pernah tahu caranya menghargai.” Balas Galen dengan tegas.             Sena mengernyit, “Kok lo ngatain gue sih?! Gue baik ya udah ingatin lo buat pilih hal yang lebih bermanfaat daripada sekedar berantem cuma buat belain kemeja,” sahut Sena dengan suaranya yang sedikit meninggi.             Rupanya perkataan Galen tadi berhasil menyulut emosi gadis dengan rambut sebahu ini. “Dalam hidup gue, yang paling gue jaga dan lindungi adalah Bunda, Zea, dan kemeja.” Ucap Galen dengan tegas. “Gue akan lakuin apapun untuk ketiga itu. Meskipun nyawa taruhannya.” Lanjut Galen suara berat dan matanya yang tajam menatap Sena. “Gila lo. Ngga ada otak.” Balas Sena dengan melemparkan kompresan es batu pada tubuh Galen.             Sena pun pergi dan meninggalkan Galen sendirian dalam sunyi. Lagi, ia memang ditakdirkan untuk berteman dengan kesunyian.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN