Bab 6. Satu per Satu

2297 Kata
“Baju-baju ini, dimasukkan semua ke dalam kardus-kardus ini, Non?” tanya Bi Inah. Ia menyentuh tumpukan pakaian di lantai, semua sudah bersih, wangi dan terlipat rapi. “Sayang sekali, kan, Non? Ini semua milik Bapak, masih bagus dan layak pakai. Bibi bahkan baru saja mencuci dan menyetrika jaket ini.” “Yah, mau bagaimana lagi, Bi,” sahut Chiara sambil menghela napas panjang. “Katanya, tidak baik kalau kita terus menyimpan barang-barang milik orang yang sudah meninggal. Lebih baik dibagikan kepada orang yang lebih membutuhkan. Orang yang meninggal akan terhambat untuk pergi ke tempat yang lebih baik kalau orang yang ditinggalkan di dunia menahan barang-barang mereka terlalu lama. Itu menandakan kita tidak merelakan mereka mencapai tempat yang lebih baik di sana.” “Benar juga, Non. Bibi hanya sedih,” ujar Bi Inah dengan suara serak. Matanya berkaca-kaca dan ia mengelusi pakaian yang ada di tumpukan teratas. “Bibi masih tidak menyangka, Tuan pergi begitu cepat dan mendadak. Sama sekali tidak ada tanda atau firasat apapun sebelumnya.” Chiara menatap Bi Inah. Wanita setengah baya di depannya ini sudah bersama dan bekerja pada keluarganya sejak ia masih berada di kelas lima sekolah dasar. Dia tinggal di belakang rumah Chiara, datang untuk bekerja pada pagi hari dan pulang pada sore hari. Sesekali dia akan menginap bila diminta untuk menemani Chiara apabila Ayah atau Ibunya harus pergi keluar kota. Bi Inah sangat menyayangi Chiara dan seringkali mendapat teguran dari orang tua Chiara karena dianggap terlalu memanjakan Chiara, yang hanya ditanggapi Bi Inah dengan tawa. Keluarga Chiara sudah menganggap Bi Inah sebagai bagian dari mereka. Ketika suami Bi Inah meninggal dunia karena sakit dan meninggalkannya sendiri karena mereka tidak mempunyai anak, Bi Inah praktis lebih banyak berada di rumah Chiara daripada pulang ke rumahnya sendiri. Belakangan setelah kedua orang tua Chiara semakin sibuk, mereka meminta Bi Inah tinggal sepenuhnya di rumah mereka untuk menemani Chiara. Bi Inah menjual rumahnya dan pindah ke rumah Chiara. Chiara menggeser posisi duduknya mendekat kepada Bi Inah. Ia memeluk bahu Bi Inah dan menyandarkan kepala ke bahunya. “Aku juga masih tidak percaya kalau semua ini nyata, Bi,” gumam Chiara. “Sudah lebih dari dua minggu dan aku merasa mereka masih ada di sekitarku. Aku masih merasa kalau mereka hanya sedang pergi keluar kota seperti biasanya dan akan segera kembali.” Airmata Bi Inah meluncur tanpa terbendung lagi. Chiara juga terisak-isak. Mereka bertangisan sambil berpelukan. Suara hujan rintik-rintik di luar jendela kamar, membuat suasana menjadi terasa sangat dingin. Tidak pernah sebelumnya, rumah yang tidak terlalu besar ini terasa sangat dingin seperti sekarang. Setelah urusan pemakaman Ershan dan Nina Priyadi usai, hanya tinggal Chiara dan Bi Inah di rumah ini. Chiara memindahkan kasur dari kamar Bi Inah ke kamarnya sendiri, agar Bi Inah tidur di sampingnya setiap malam. Perasaan kesepian, sedih, dan kehilangan yang dirasakan oleh Chiara sungguh tidak tertahankan dan satu-satunya orang yang ada bersamanya sampai saat ini hanya Bi Inah. Chiara akhirnya menghapus airmata dari pipinya dan menegakkan diri. “Ayo, Bi, kita bereskan saja semua. Lebih cepat lebih baik. Aku akan mengirim semuanya ke beberapa tempat. Panti-panti asuhan dan rumah jompo. Aku juga sudah memisahkan banyak pakaian yang masih terbilang baru untuk Bibi dan keluarga Bibi, di dalam kotak yang di pojok sana. Bibi harus menerimanya, sebagai kenang-kenangan.” Bi Inah menghapus airmatanya dan mengangguk. Ia bekerja dalam diam. Kesedihannya sama sekali tidak berkurang, tetapi ia tidak ingin membuat Nona mudanya menjadi semakin bersedih. Tuan dan Nyonya Riyadi pasti tidak ingin putri kesayangan mereka bersedih terus. Ia akan menjaga Chiara dengan lebih baik lagi. Seperti halnya ketika Tuan dan Nyonya Riyadi juga menjaganya saat ia kehilangan suaminya beberapa tahun yang lalu. “Non, setelah ini, apa yang akan Non Chia lakukan?” Chiara menoleh dan menghentikan gerakannya menumpuk buku-buku milik orangtuanya ke dalam kardus. Ia ingin sekali mengatakan semua hal yang telah didengar dan diketahui olehnya, dari para pengacara ayahnya dan pengacara PT. Buana Biru, tetapi lidahnya terasa kelu. Bi Inah pasti akan sangat bersedih jika sampai mengetahu nasibnya. Chiara bahkan belum memberitahukan semua hal tentang utang-piutang ayahnya dan pernikahan yang mungkin harus dijalaninya dengan laki-laki bernama Jovan, kepada Tantenya—Ella dan suaminya Om Mike, di Canberra. “Sepertinya, aku akan menerima tawaran Tante Ella untuk tinggal bersama mereka, Bi. Hanya mereka kerabat yang kumiliki sekarang dan meskipun tidak dekat, tetapi setidaknya mereka masih keluargaku.” “Tapi, Non Chiara sudah diterima kuliah di kampus yang Non inginkan, kan? Apa tidak sayang untuk meninggalkannya, Non?” “Itu bisa diurus, Bi. Lagipula, ada masalah di perusahaan Papa yang harus diselesaikan. Papa mempunyai banyak utang yang belum selesai dan harus segera dibayar. Om Doni dan Om Ginting sudah membicarakan hal itu dan sepertinya aku harus sepakat dengan usul mereka untuk menjual perusahaan supaya uangnya bisa digunakan untuk membereskan semua masalah utang-piutang. Mereka akan mencarikan pembelinya dan membereskan segalanya.” “Bagaimana dengan butik Nyonya dan rumah ini?” “Aku juga akan menjualnya, Bi. Aku memerlukan uang untuk hidupku yang baru di mana pun nanti aku akan berada dan melanjutkan kuliah. Aku tidak ingin menjadi beban orang lain, walau orang itu adalah tanteku sendiri. Uang yang kudapat nanti bisa membuatku mandiri sampai waktunya aku bekerja nanti.” Raut wajah Bi Inah berubah menjadi sedih. “Lalu, bagaimana dengan Bibi, Non? Bibi akan kehilangan semua orang yang Bibi sayangi di rumah ini.” “Maafkan aku, Bi,” ujar Chiara dengan berat hati. “Aku menyayangi Bibi, tetapi aku harus melanjutkan hidupku. Andai saja aku bisa membawa Bibi ke sana. Namun, Bibi jangan khawatir. Aku pernah mendengar Bibi mengatakan kepada Mama bahwa Bibi ingin pulang ke desa dan merawat Ayah Bibi yang sering sakit-sakitan, bila sudah tidak bekerja lagi. Mungkin sekarang adalah waktunya Bibi untuk kembali dan mengurus Ayah Bibi di desa.” “Ya, Non. Bibi ingin berkebun dan beternak sambil merawat Ayah Bibi. Namun, Bibi benar-benar tidak menyangka kalau waktunya begitu cepat.” Chiara tertawa getir, tetapi ia berpura-pura menyibukkan diri agar Bi Inah tidak melihat sudut matanya yang basah. “Bibi jangan khawatir, ya. Aku sudah meminta Om Doni untuk mengurus juga semua keperluan Bibi untuk pulang ke desa. Om Doni akan membelikan rumah dan tanah yang Bibi dan keluarga Bibi tempati sekarang. Apa saja yang Bibi perlukan di sana, Bibi tinggal mengatakannya kepadaku dan aku akan meminta Om Doni mengurusnya sebaik mungkin.” “Bibi tidak meminta apa-apa, Non. Selama Bibi bekerja di sini, semua kebutuhan Bibi sudah terpenuhi, bahkan Bibi bisa menabung dan mengirimkan uang gaji Bibi secara teratur ke desa. Di sana ada dua orang keponakan Bibi yang menemani Ayah Bibi dan merawatnya. Nanti, Bibi akan leluasa merawat mereka juga. Tapi, Non ... sejujurnya, Bibi khawatir pada Non Chia.” “Jangan khawatir, Bi. Aku akan baik-baik saja. Ada Om Doni dan Om Ginting. Mereka bukan hanya pengacara Papa, tetapi juga sahabat Papa dan Mama sejak mereka masih sama-sama sekolah. Aku juga dekat dengan keluarga mereka dan aku yakin mereka akan selalu siap membantuku. Aku juga masih mempunyai seorang Tante.” Bi Inah mengangguk dan membenarkan ucapan Chiara dengan berat hati. Sebagian dari hati kecilnya merasa senang karena pada akhirnya ia bisa pulang ke desa untuk merawat ayahnya dan menjaga dua orang keponakannya yang juga sudah yatim piatu. Namun, kesedihannya juga tetap tinggal di sebagian hati kecilnya, beserta dengan kekhawatiran akan keadaan Chiara nanti. Sejak kecil, Chiara bukan seorang anak yang suka bergaul. Dia lebih suka menghabiskan waktu di dalam kamarnya, membaca atau sekedar bermain sendiri. Chiara adalah anak yang sering sakit-sakitan ketika masih kecil dan karena itu dia menjadi agak tertutup dan pendiam. Sifatnya itu terbawa sampai remaja, meskipun kondisi fisiknya menjadi semakin membaik. Itu sebabnya Chiara bercita-cita ingin menjadi seorang dokter dan dia berusaha sangat keras untuk meraih keinginannya itu. Bi Inah sangat mengetahui sifat Chiara. Ia menemani Chiara setiap hari dari mulai bangun tidur sampai menjelang waktunya tidur lagi. Ia tahu apa yang disukai, apa yang dibenci, apa yang membuatnya terganggu, dan apa yang membuatnya senang. Bi Inah tidak bisa mempunyai anak karena almarhum suaminya mandul dan ia terlalu mencintai suaminya sehingga memilih untuk tidak menikah lagi setelah suaminya meninggal dunia. Chiara memenuhi kebutuhan Bi Inah untuk menyalurkan naluri keibuannya dan mengurus Chiara membuatnya bahagia. Bi Inah berharap, Chiara akan mendapatkan yang terbaik di hari-harinya ke depan. Ia sangat menyayangi Chiara. “Non Chia harus mengunjungi Bibi di desa suatu saat nanti, ya. Harus sering-sering mengabari keadaan Non Chia kepada Bibi juga.” Chiara mengusap airmatanya dan airmata Bi Inah sambil tersenyum. “Tentu saja. Bibi sudah kuanggap seperti keluarga dan selama ini Bibi juga seudah mengurus dan menjagaku dengan baik. Aku pasti akan datang ke rumah Bibi suatu hari nanti.” Chiara mengulurkan tangan dan memeluk Bi Inah erat-erat. Ia tidak tahu apakah setelah hari ini ia masih bisa bertemu dengan Bi Inah atau tidak, sama seperti ia juga tidak tahu akan seperti apa masa depannya nanti. Chiara akan menjadi seorang istri, dari laki-laki yang bahkan tidak pernah dikenal sebelumnya. Bahkan, mendengar namanya saja baru beberapa hari ke belakang setelah ia mengetahui perjanjian bodoh yang dibuat oleh papanya. Namun, tidak perlu membebani Bi Inah dengan semua ketakutan dan kebingungannya. Bi Inah sudah cukup mengabdi kepada keluarganya. Dia sangat setia, rajin, dan menyayangi Chiara. Sudah waktunya dia beristirahat selagi kembali ke tengah keluarganya dan menikmati masa tuanya di tempat kelahirannya. Chiara akan memastikan Bi Inah mendapatkan semua yang dibutuhkan dan pantas didapatkannya. ***o*o*** “Om, apa semua urusan di rumah sudah diselesaikan?” tanya Chiara kepada Ginting, yang hari datang ke rumah untuk menemui Chiara di rumah. Ia merasa tidak berdaya karena selama ini sama sekali tidak tahu menahu soal apapun. “Maksudmu, urusan Bi Inah, Pak Pardi, dan Pak Damun?” Dua orang laki-laki yang disebutkan belakangan adalah penjaga rumah yang merangkap sebagai tukang kebun dan sesekali menjadi sopir untuk Chiara. “Tenang saja, Nak, semua sudah diurus. Om Doni memastikan mereka semau mendapat penghargaan yang sesuai dengan pengabdian dan masa kerja mereka. Bahkan, kalau tidak salah, Om Doni akan mempekerjakan Pak Damun sebagai sopir pribadinya karena sopirnya yang sekarang akan mengundurkan diri bukan depan. Pak Pardi memilih pensiun karena katanya ingin menikmati hari tua dengan cucu-cucunya di desa, berkebun dan bercocok tanam.” “Syukurlah,” desah Chiara lega. Bi Inah sudah diantar kembali ke desanya kemarin oleh Pak Damun dan sekarang ia benar-benar tinggal sendiri di rumah. Pak Pardi juga memutuskan untuk menginap di rumah salah satu kerabatnya sebelum kembali ke desa. Pak Damun tetap tinggal karena Doni memintanya menjaga rumah dan Chiara. “Jangan terlalu banyak berpikir, Chia. Kau bisa sakit, nanti. Percayakan semua urusan kepada Om dan Om Doni. Kami akan mengurus semuanya dengan sebaik-baiknya. Sebenarnya, Om ingin mengajakmu tingal bersama Om sementara sampai semua urusan ini jelas, supaya kau tidak sendirian terus. Bagaimana?” tawar Ginting dengan nada penuh harap-harap cemas. Istrinya memikirkan Chiara dan meminta Ginting membawa Chiara ke rumah mereka. Chiara tersenyum dan menggelengkan kepala. Ginting mempunyai dua orang anak kembar laki-laki yang masih kecil, sekitar enam atau tujuh tahun. Mereka sangat lincah dan tidak bisa diam. Istri Ginting adalah seorang wanita ramah yang suka bicara. Ginting dan istrinya terlambat menikah dan lebih lambat lagi mendapatkan anak-anak mereka. Chiara tidak bisa membayangkan dirinya tinggal di rumah Ginting dan harus mendengarkan celoteh ribut dua orang anak kembar laki-laki balita dan ibunya. Ia sedikit merinding hanya dengan membayangkan suasana yang akan dihadapinya. “Tidak apa-apa, Om. Aku akan baik-baik saja di sini. Ada Pak Damun yang menjaga dan sebenarnya ... aku tidak ingin meninggalkan rumah ini karena terlalu banyak kenangan sejak aku lahir di sini bersama Mama dan Papa. Mereka masih ada di sini dan aku masih tidak tega meninggalkan semua kenangan bersama mereka di sini.” Ginting tertegun, mendengar ucapan Chiara yang diucapkannya dengan suara serak dan tersendat-sendat. Airmata Chiara menggantung mengenaskan di sudut matanya dan tanpa pikir panjang, Ginting memeluk Chiara erat, menenggelamkan tubuh mungil gadis itu ke tubuhnya yang besar. Tangis Chiara meledak dalam pelukan Ginting. “Jangan khawatir, Nak, tidak ada yang akan meninggalkanmu. Aku dan Doni akan selalu mendampingimu. Bahkan Bi Inah, Pak Pardi, dan Pak Damun akan selalu mendampingimu melalui doa-doa mereka. Kedua orang tuamu juga akan selalu mendampingimu dari tempat mereka,” hibur Ginting sambil mengelus-elus punggung Chiara yang terguncang-guncang. Chiara menangis selama beberapa saat dan melepaskan diri dari pelukan Ginting setelah ia merasa lega. Ia menghapus airmatanya dan tertawa kecil melihat kemeja Ginting yang basah. “Aku membuat kemeja Om Ginting basah dan kotor. Tante Iska mungkin akan marah saat Om pulang nanti.” Ginting tertawa. “Tidak apa-apa. Iska mungkin akan memarahiku bukan karena kemejaku kotor, tetapi karena aku tidak berhasil membawamu pulang ke rumah kami.” “Maafkan aku, Om,” ujar Chiara menyesal. “Aku merepotkan terus.” “Hus! Jangan bilang begitu. Kau adalah anakku juga, begitu juga Doni menganggapmu seperti anaknya sendiri. Kau tidak boleh menyembunyikan apapun kesulitanmu dari kami. Selain itu, papamu sudah menunjuk kami menjadi wali untukmu, lama sebelum dia pergi.” Chiara mengangguk sambil tersenyum lebar. Ia merasa aman dan tenang. “Jadi, bagaimana sekarang, Om? Semua urusan yang perlu dibereskan sudah diurus satu per satu, tinggal soal ... perjanjian itu.” Ginting menekuri kedua tangannya yang saling bertaut dengan wajah murung. Ia dan Doni membicarakan soal perjanjian itu setiap hari, sejak pertama kali mendengar soal perjanjian itu dari para pengacara PT. Buana Biru. “Chiara, soal itu, semua keputusan ada padamu. Om dan Om Doni sama sekali tidak memiliki hak untuk menentukan apa yag seharusnya kau lakukan atau apa yang seharusnya kau jalani. Perjanjian itu, bagaimana pun juga akan mempengaruhi hidupmu untuk keputusan apapun yang kau ambil. Ini hidupmu, Chia. Kami hanya bisa memberi saran atau masukan di sana-sini, tetapi keputusan akhir tetap ada di tanganmu.” Chiara menghela napas panjang. “Bisakah aku berpikir dulu sebelum memutuskan, om? Hanya beberapa hari saja.” “Tentu, Chiara. Tentu.” ***o*o***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN