Foster menatap kedua kakinya, merenung lama. Dia memain-mainkan ujung tangannya membentuk pola melingkar di sisi kursi yang menjadi penopang lengan tangan. Ia mendongak, kemudian tersenyum getir. "Apakah Charlotte berpikir aku membencinya?" tanyanya lirih. Lyana tak bisa berkomentar apa pun. Dia tidak mempercayai matanya saat ini. Rasanya, dia melihat Foster yang sedang memendam kepedihan yang telah terakumulasi lama. Seharusnya itu hal yang mustahil, bukan? Mungkin, lama-lama bukan hati Lyana saja yang kacau, matanya juga jadi tidak objektif melihat sesuatu. "Aku jatuh terpuruk. Sangat dalam. Kaki ini adalah penopangku dalam segala hal. Jadi, agar ia tak tertarik jatuh bersamaku dan mengurangi kebahagiaannya, aku menceraikannya!" Charlotte adalah wanita yang sangat enerjik, penuh

