"Gak perlu melotot gitu, gak perlu juga baper aku bakal ehem ehemin. Dah sana tidur.!" Samuel melempar bantal lumayan wangi pengharum di beberapa jasa cuci.
Yasmin menangkap bantal, memilih tidur di atas dipan yang hanya di alasi kayu dan tikar. Kepalanya merasakan menyentuh bantal. Mencoba memejam mata, ingatan gadis itu melayang saat pertama menemukan nama sekolah Nusantara di kolom pencarian sekolah berasrama, kala mellihat indahnya lokasi, tak berpikir panjang Yasmin sendirilah yang meminta ibunya segera mendaftarkan dirinya ke sekolah yang ia tempati saat ini.
Ia berhayal memiliki kamar serupa dongeng dalam film kartun bertajuk sekolahan berasrama. Ternyata pada fakta di lapangan, Yasmin menemukan kamar dengan usia dipan puluhan tahun, hanya beralas karpet tanpa kasur, tanpa busa, itulah spring bed empuk sebenarnya. Guru? Jangan tanya seperti apa! Lebih banyak bermuka masam dengan kerutan jeruk purut daripada berwajah ramah nan keibuan. Sekolah Yasmin dituntut disiplin sempurna, untuk itu jarang sekali guru yang tersenyum manis. Sekolahnya lebih mirip asrama militer, hanya saja asrama nusantara lebih mengedepankan moral dengan aturan beragama.
Bagaimana dengan teman?
Yasmin harus bekerja keras untuk beradaptasi dengan penghuni yang super heterogen, majemuk, plural segudang karakter. Terlalu banyak istilah yang pas untuk kemajemukan yang ditemukan. Seharusnya perlu ada ralat persepsi atau ralat depenisi tentang sebuah konsep sekolah berasrama. Sebab tidak semua yang ada di dalamnya serba enak, justru rasanya bagai terpenjara. Termasuk keusilan para individunya.
Dari data statistik yang Yasmin punya, banyak anak di “campakkan” oleh orang tua untuk tinggal di sekolah berasrama karena berstempel sebagai anak bermasalah, nakal, baik dari psikologi maupun intelijensi bahkan bermasalah dengan hal ekonomi, termasuk juga bermasalah dengan penyakit lingkungan, kenakalan remaja, narkoba, dan kenakalan-kenakalan lainnya. Risa dan Rosi salah satu contoh anak broken home, selain nakal, Risa super penguasa. Rosi si tomboy nekat. Yasmin yakin mereka lebih nekat dari yang terlihat sebenarnya.
“Hei jangan lupa kunci kamarmu, kecuali kau ingin--“
“Tutup mulutmu, Samuel! Minimal kau sikat gigi sana, biar mulutmu tidak berbau jika bicara,” balas Yasmin memenggal kalimat Samuel yang mulai mengganggunya. Senyum kecil terbit di bibir Samuel. Sedikit banyak ia paham karakter Yasmin. Wanita rapuh, penakut, tapi sok berani.
Begitu juga Yasmin, meskipun belum yakin apakah sikap Samuel tidak sepenuhnya mengerikan Yasmin merasa harus waspada.
Kali ini Yasmin sudah paham cara menutup kamar itu tanpa takut dibuka dari luar. Samuel membiarkan Yasmin masuk ke kamarnya tanpa berniat mengganggu lagi. Mengamati sejenak gerak-gerik manusia di dalam, hanya butuh beberapa menit Yasmin sudah terlelap. Samuel tersenyum melihat pintu kamar yang tertutup itu, ia mengambil topi capingnya lalu keluar dari kamar lewat belakang pintu darurat.
“Hai gadis, aku tinggal dulu. Jangan sampai mimpi indah, karena aku tidak suka kau bermimpi indah.” Pemuda itu tersenyum miring. Kakinya melangkah ke arah kebun.
Memanen daun cannabis hal paling menyenangkan bagi Samuel, daun cannabis yang yang lebih dikenal dengan ganja, daun yang masih segar ia pisah tempatnya, sementara yang kering akan dikirim ke pasar via agen.
Samuel memasukkan daun ganja yang sudah kering ke dalam karung lima puluh kilo, sebelum besok ia akan menyuruh gadis itu membawanya ke kota lewat belantara.
“Akhirnya aku menemukan kurir tanpa harus digaji.” Samuel tertawa sendiri, duduk lesehan, memberi kecupan jarak jauh pada pohon-pohon randu yang berhasil membuat Barka dan kawan-kawan pusing dan mual.
“Samuel dilawan, KO—kalian.”
Membuka ponsel dengan fitur terkini Samuel menekan menu menjawab panggilan, seseorang yang tidak tersimpan di kontak dengan kode empat angka saja, memanggil.
“Ini bos baru, dari Taiwan langsung ke sini, aku yakin kau tergiur, Sam. Harga sangat memanjakan kita. Fantastis.” Tanpa ucapan hallo, atau basa-basi salam, si penelpon langsung ke tujuan utama.
“Aku harus membagi dengan rumah sakit jiwa dan kampus-kampus farmasi di kota," jelas Samuel menolak permintaan si penelpon tersebut.
“Hei, anak kecil, kau tau apa tentang dunia Cannabis? Jangan sok jadi mafia suci bak Robinhood, seorang mafia tidak bicara dan tidak berprilaku dengan hati, ingat itu! Kau bisa mendekam di penjara selamanya, jangan harap melakukan kebaikan, apalagi demi pendidikan. Persetan dengan anak kuliahan itu, mereka selesai bakal cikal b***k juga, jangan membantah bos kami!”
“Aku paham, tapi panen kali ini, aku sudah menerima orderan dari kampus-kampus farmasi. Apa tidak bisa ditunda sampai panen berikutnya?”
“Kau pikir berapa angka yang harus keluar menunggu tiga bulan kemudian.”
“Aku akan buat pertumbuhannya pesat dengan cara hydroponic. Bagaimana?”
“Kau yakin itu berhasil?”
“Kalau kalian meragukan Samuel silakan cari produsen Cannabis dengan harga selangit, pasti banyak.”
“Kau yakin aman? Bukannya kau masih anak ingusan, rokok saja kau hanya bisa beli yang murahan, bagaimana aku percaya.”
“Jangan lupa sediakan lap untuk ingusmu yang bakal meleleh terus saat melihan ganja kering buatanku viral di dunia kedokteran. Tanya Bosmu kawan, siapa Samuel, setelah itu kau boleh menyebut namaku.”
“Bukankah kata Si Bos kau masih bocah SMA?”
“Emang kenapa kalau aku bocah SMA? Apa kau tidak tahu, Bocah SMA zaman now lebih bisa memuaskan wanita bersuami daripada suaminya sendiri.”
“Apa kau bilang. Dasar bocah sinting!"
“Sedikit sinting itu menyenangkan, apa aku harus menunjukkan kesintinganku yang lain?"
Yasmin masih setengah mengantuk, urine yang menumpuk minta dibuang membangunkannya, ia ingat ada lobang darurat untuk buang air kecil. Memberanikan diri keluar dari kamar, matanya tak melihat keberadaan Samuel.
Kemana dia? Yasmin menyusur kamar dan bilik bahkan ke balik goni-goni besar. Tiada siapa-siapa.
"Baguslah, siapa tau aku bisa kabur," Yasmin mendengkus. Setelah membuang urine tak berguna itu, ia melihat pintu belakang terbuka, Yasmin berjingkat melihat keluar, hawa dingin menelusup hingga ke tulang, Yasmin melipat tangannya, bibirnya sedikit gemetar.
“Semoga saja setan m***m itu tidak melihatku pipis,” doanya--lega, saat matanya tak menemukan Samuel. Beberapa menit kemudian ia mendengar suara berbisik.
“Siapa di belakang?”
Yasmin berjingkat mengintip dari celah pintu yang terbuka. “Apakah Setan m***m itu sedang bersama perempuan lain?”
“Aku menebak kau bukan bocah SMA, kau pasti sudah berumur, bisa jadi karena babyface dan fisikmu kecil kau bisa menjadi penyelundup di lembaga pendidikan seperti ini, mengaku siswa padahal mafia, luar biasa.”
Pengorder langganan Samuel masih bicara di seberang telpon, sambil ketawa. Manusia di seberang menduga Samuel sebenarnya bukan seorang remaja, melainkan sosok mafia yang tengah menyamar.
“Apa kau sedang memujiku?” tanya Samuel balik.
“Samuel kau sedang apa? Suaramu berisik sekali, aku jadi terbangun, sedang bicara sama siapa kau?” tanya Yasmin ceroboh.
Gadis itu keluar dari pintu belakang, bibirnya menghijau saking pucat kedinginan.
“Ternyata kau memang bukan bocah SMA sembarangan, Samuel,” ucap si Penelpon terkekeh, mendengar suara manja ketakutan milik Yasmin, ia tidak perlu bertanya ada apa wanita dan pria berada satu tempat yang sama pada jam dini hari.
“Akan kutelpon kau setelah ini.” Samuel mematikan sambungan seluler, matanya memindai fokus ke arah Yasmin yang sedang menggigil.
“Mengapa kau mengekoriku, kau bisa beku di sini, Bego! Ambil jaket di dalam lemari!” perintahnya mendorong tubuh Yasmin kembali ke dalam.
“A-aku thir-ti-dak tau kalau di-luar yu-dhara sedingen ini, jawab Yasmin gemetar.” Kini Yasmin menggigil kedinginan.
Samuel bergerak gesit menuju ruangan seukuran kuburan tempat Yasmin tadi tidur. Membuka lemari, gegas mengeluarkan jaket.
“Jangan sekali-kali keluar apalagi jam segini, tidak lucu kalau kau mati beku, lalu jasadmu menjadi monument wisata beberapa tahun ke depan,” ejek Samuel geleng kepala.
Ia melemparkan jaket berbulu berbahan wol tebal tepat mendarat di wajah Yasmin, tak banyak bicara gadis itu segera memakainya.
“Pantas saja di dalam kamar ini masih ada kamar lainnya, ternyata ruangan seluas kuburan itu bisa menghangatkan tubuh yang menggigil,” ucap Yasmin lega, setelah jaket berbulu itu menempel di tubuh mungilnya, terasa suhu mulai menghangat.
“Aku lebih dari sekadar bisa menghangatkan daripada ruangan sempit itu, pun lebih hangat dari wol sweater. Apalagi dari jaket yang kau pakai. Kau terlalu banyak bicara. Dasar perempuan! minta kehangatan saja, pakai alasan mutar-mutar,” cibir Samuel keluar kamar. Wajah mereka hampir berbenturan di depan pintu.
“Otakmu selalu berpikir tentang m***m, aku tidak tau ibumu mengidam apa saat kau dalam perutnya. Minggirlah! aku mau tidur, bukannya besok kau menyuruhku bekerja?” Samuel tertawa licik, ternyata Yasmin mengingat dengan baik perintahnya.
“Kalau kau masih menggigil kedinginan, kau bisa memanggilku, akan kubuat kehangatan alami.”
“Dasar gila, setan m***m, apa kau berniat meniduriku?”
“Ada masanya kau tidak menolak untuk kutiduri nona judes.”
“Diam kau, Samuel! Apa otak kalian para lelaki hanya diciptakan untuk berfantasi seputar m***m saja?”
“Tergantung aduhai atau tidak wanita di depannya,” jawab Samuel memiringkan senyumnya, menambah kesal gadis itu.
“Tidak bisakah kau bicara sopan, sedikit saja.” Yasmin menjawil ujung jarinya sendiri, menunjuk kata sedikit.
“Dari tadi kau ingin tidur, tapi tetap saja bertahan untuk bicara denganku. Mau tidur denganku?” Yasmin menahan geram, mengentak kakinya sebelum benar-benar mengunci pintu kamar kembali.
"Dasar m***m!"