[3] Khawatir

1202 Kata
“Berusaha mengabaikannya, tapi bayangannya terus menggangguku. Kuakui hati ini selalu mengharapkannya, kehadirannya selalu membuat hati ini bergetar.” ~ Bryan Samudra ~ Itu kan kak Alana, jadi benar selama ini dia selalu di-bully oleh teman-temannya di sekolah? Aku pengen banget bantuin kak Alana, tapi kenapa aku nggak berani mendekat? Maafin aku kak Alana, batin Aluna. Aluna hanya mampu melihat kejadian itu tanpa berani mendekat. Dia mengepalkan tangan, ingin sekali membantu saudarinya itu, tapi apa daya, dia tak mempunyai keberanian untuk membela Alana. Alana terlihat sangat tersiksa setelah mengalami kejadian itu. Alana lalu berjalan entah kemana, taka da arah dan tujuan. Keinginannya hanyalah untuk menghilangkan semua kejadian dan kenangan buruk yang selama ini dialaminya. Aluna memperhatikan Alana berjalan, dia berinisiatif mengikuti saudarinya itu yang ternyata menuju ke sebuah jembatan yang tinggi. Aluna tak tahu apa yang akan dilakukan saudari kembarnya itu. Tanpa diduga, Aluna melihat Alana melompat ke sungai yang aliran airnya deras. “Kak Alana lompat! Dia mau bunuh diri? Aku harus nolongin kak Alana,” kata Aluna langsung ikut terjun ke sungai tempat Alana melompat demi menolong saudarinya itu. Aluna sebisa mungkin berenang dan berusaha meraih tangan Alana. Setelah berhasil, dia langsung menarik tangan Alana lalu membawanya ke tepi sungai dan berusaha menyadarkannya. Beberapa kali dia lakukan pertolongan pertama dengan cara memberi nafas buatan, tapi tidak berhasil. Dia terus berusaha, menggunakan berbagai cara agar Alana membuka matanya, dia khawatir melihat kondisi Alana, kembarannya. “Kak Alana bangun, bangun Kak, bangun ....“ Aluna mengoyang-goyangkan tubuh Alana, menepuk-nepuk pipinya, tapi dia tidak sadar juga. Aluna yang khawatir langsung membawa Alana ke rumah sakit terdekat supaya kembarannya itu bisa diselamatkan. Dia sampai di rumah sakit pada waktu yang tepat, Alana segera ditangani oleh dokter. Dia dengan setia menunggu Alana yang masih belum sadarkan diri karena dia sangat mengkhawatirkan keadaan Alana. *** Di tempat lain, sahabat-sahabat Aluna sedang mencari gadis itu. Mereka baru menyadari, sejak pagi Aluna tak terlihat. Padahal hari ini adalah hari pertama kegiatan studytour mereka. Mereka dijadwalkan akan mengelilingi beberapa tempat di Bandung. “Aluna belum ketemu juga? Sebenarnya tuh anak kemana, sih? Kalau pergi kenapa nggak bilang sama kita,” kata Bella. “Iya tuh anak kabur kemana ya? Jangan-jangan dia kabur buat nemuin Kak Bryan? Eh tapi bukannya dia bilang mau lupain Kak Bryan,“ kata Adara. “Mungkin tuh anak lagi nyari udara segar Ra, biarin ajalah lagian tuh anak kalau dibilangin nggak pernah dengerin. Malahan kita yang dijutekin,” kata Bella. “Iya, tuh anak emang juteknya minta ampun, pantesan aja kak Bryan nggak suka sama dia. Tapi entah kenapa, gue justru heran sama kak Arga yang keliatan care banget sama Aluna kayak sayang ke pacarnya. Kalau gue jadi Aluna, pasti bakalan baper sama kak Arga,“ kata Adara. Setelah mencari, tapi tidak menemukan Aluna, mereka berdua memutuskan untuk mengikuti kegiatan studytour tanpa Aluna. Mereka yakin Aluna akan menyusul. Namun, hingga malam tiba Aluna tidak kunjung kembali. Maka Adara dan Bella berinisiatif mencari Aluna lagi, tapi pencarian mereka tak berhasil juga. Akhirnya, mereka melaporkan hilangnya Aluna kepada guru pembimbing mereka. Anak-anak lain, yang merupakan murid yang seangkatan dengan Aluna, juga ikut mencari Aluna. Namun, tetap saja mereka tak menemukan keberadaan Aluna, dan dikarenakan hari sudah malam mereka memutuskan untuk menghentikan pencarian Aluna yang pergi entah kemana. *** Keesokan harinya, para guru dan juga teman-teman Aluna kembali mencari gadis itu, bahkan mereka meminta bantuan polisi. Mereka juga sudah menghubungi keluarga Aluna yang berada di Jakarta. Keluarga Aluna kaget mendengar berita kalau dia hilang saat studytour di Bandung, terutama mamanya dan Arga. “Apa? Aluna hilang, Mah?” tanya Arga yang mendengar pembicaraan mamanya dengan seseorang lewat telepon. Wulan terduduk lemas di sofa yang ada di ruang tamu. Setelah mendengar kabar bahwa anaknya hilang dan belum ditemukan, Wulan jadi frustrasi. Arga yang prihatin dengan mamanya berusaha menenangkan mamanya. “Mah, Mama harus tenang. Pasti Aluna bisa ditemukan, Mama tahu kan dia anak yang kuat. Aluna pasti bisa jaga diri, Arga yakin dia bakal balik sama kita,” kata Arga. “Tapi, Mama nggak tenang kalau tetap di rumah kayak gini. Mama harus ke Bandung, Mama pengen tahu perkembangan pencarian Aluna, Nak,” kata Wulan. “Ya udah kalau gitu, ayo kita ke Bandung. Arga temenin Mama,” kata Arga. Mereka memutuskan untuk pergi ke Bandung dan ikut mencari Aluna yang sampai sekarang belum juga ditemukan, walaupun sudah meminta bantuan polisi, tapi belum ada titik terang. Pencarian Aluna terus dilakukan, sampai waktu yang belum ditentukan. Berita hilangnya Aluna sudah menyebar ke seluruh sekolah. Seseorang duduk di tepi lapangan, sambil menatap handphone-nya. Entah apa sedang dilakukannya? Dia tidak memedulikan sekitarnya, fokusnya hanya terarah pada alat komunikasinya itu. Dia sampai saat ini belum ditemukan juga? Sebenarnya tuh anak pergi ke mana? Apa penyebabnya kata-kata gue kemarin yang minta dia buat menjauh dan melupakan gue? Kenapa dia selalu ada di pikiran gue? Padahal, gue selalu mengelak, berusaha tak memedulikan keberadaannya. Tapi sekarang, saat dia nggak ada justru gue ngerasa gak tenang kaya gini, batin seseorang itu. “Lo kenapa, Yan? Lo merasa kehilangan Aluna, ya?” kata Angga - sahabat Bryan yang sedari tadi melihatnya berdiam diri. Bryan yang mendengar perkataan Arga malah mengambil earphone dari dalam sakunya, lalu memasangkan ke telinganya. Angga hanya tersenyum melihat tingkah Bryan yang nampak menutupi kegelisahannya setelah mendengar berita bahwa Aluna hilang. “Lo masih aja berusaha menutupi perasaan lo, Yan? Padahal, dia udah berjuang banget buat bisa dapatin perhatian lo,” kata Angga. Berusaha mengabaikannya, tapi bayangannya terus menggangguku. Kuakui hati ini selalu mengharapkannya, kehadirannya selalu membuat hati ini bergetar, batin Bryan. *** Setelah pencarian dilakukan selama dua hari, akhirnya polisi mendengar informasi jika Aluna sudah berada di rumah sakit. Gadis itu sudah ditangani dengan baik oleh pihak rumah sakit. Wulan dan Arga langsung menuju rumah sakit itu untuk melihat keadaan Aluna yang kabarnya mengalami kecelakaan. Namun, sebenarnya yang ditemukan itu adalah Alana, kembaran Aluna, dan entah mengapa Wulan dan juga Arga tidak menyadari bahwa yang berada di rumah sakit adalah Alana, bukan Aluna. “Apa ini benar anak Ibu?” tanya Suster. Wulan dan Arga meneliti keadaan Alana yang masih terbaring lemah. Gadis itu masih belum sadarkan diri. “Iya, dia memang Aluna, anak saya,“ kata Wulan sambil melirik ke arah sapu tangan dan kalung milik Aluna yang ada di tangan Alana. Arga juga langsung mendekati Alana dan mengamati keadaannya, terdapat luka di bagian kepalanya akibat benturan benda tumpul. “Kondisi anak Ibu sudah mulai membaik, namun benturan di kepala membuatnya kehilangan ingatan untuk sementara waktu,“ kata Dokter. “ Hilang ingatan, Dok?“ kata Arga. Wulan yang mendengar kabar itu hanya diam, dia merasa sangat terpukul dengan apa yang dikatakan dokter soal kondisi Alana. Ketika dokter sedang menjelaskan kondisi Alana, dia sadar, lalu melihat sekelilingnya. “Aku di mana?” ucap Alana. Arga dan Wulan langsung mendekati Alana yang nampak bingung, mereka berusaha menenangkan gadis itu. “Aluna, kamu ada di rumah sakit, Sayang,” kata Wulan. Alana nampak bingung, melihat orang yang ada di sekitarnya, dia merasa asing dengan orang-orang yang berada ada di dekatnya. “Aluna?” kata Alana sambil menatap ke arah orang-orang di sekitarnya. “Iya, kamu Aluna anak Mama, adiknya Kak Arga,“ kata Wulan. Arga juga langsung ikut memeluk Alana, yang masih bingung dengan keadaannya sekarang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN