Chapter 8: Pesta

1503 Kata
Maya POV Sabtu malam yang Maya hindari akhirnya tiba juga. Acara ulang tahun kakeknya. Sempat berpikir untuk pura-pura sakit agar tidak harus datang, tapi akhirnya Maya memutuskan untuk datang juga kesana. Demi sang kakek, ia menanggalkan hoodie dan training kebangsaannya, dan mengenakan long dress berlengan pendek warna hitam. Sandal jepit Birkenstock yang biasa menghiasi kaki mungilnya ia ganti dengan sepatu high heels berwarna senada. Seperti biasa kalau harus ke acara resmi, Ia pergi dari apartemennya lebih awal agar bisa ke salon dulu untuk make up dan rambutnya. “Niat banget ya guee..” Maya mematutkan dirinya di cermin salon setelah selesai di make up. Make upnya tidak menor, tapi juga tidak terlalu casual. Lipstiknya berwarna pink muda yang serasi dengan eye shadow dan blush di pipinya. Pas untuk acara pesta resmi si kakek. Salon langganannya ini memang selalu bisa diandalkan untuk mendandaninya setiap ia harus pergi ke acara resmi di Batam, dan biasanya acara tersebut diadakan oleh kakeknya yang merupakan pemilik salah satu perusahaan galangan kapal terbesar se Batam, ST Shipyard. Rambut sebahunya hanya digelung dan dihiasi bunga, tapi cukup membuatnya terlihat presentable.  Ia juga melepas kacamatanya dan menggunakan lensa kontak. Singkatnya, Maya tidak lagi terlihat seperti Maya yang biasa. Maya memarkirkan mobil Suzuki Ignisnya di parkiran hotel Radisson, tempat kakeknya menyelenggarakan acara ulang tahunnya. Parkiran mobil itu dipenuhi karangan bunga yang mengucapkan selamat ulang tahun untuk sang kakek. Setelah menunjukkan undangan pada security yang berjaga di lobi, Maya bergegas masuk dan menuju ke ballroom utama. Ballroom itu sangat luas, dan puluhan orang tampak tersebar, menikmati berbagai hidangan di macam-macam stand yang tersedia. Ada juga panggung yang menampilkan penyanyi local terkenal. Kakeknya tampaknya serius mengatakan ini acara resmi, karena Maya serasa masuk ke acara resepsi pernikahan saja jadinya. Berusaha tidak terlihat mencolok, Maya berjalan berdekatan dengan dinding ballroom sambil mencari-cari dimana si kakek. Model pestanya adalah standing party, jadi tidak banyak ada kursi dan meja untuk tamu duduk, hanya ada beberapa meja bundar untuk tamu VIP, dan kursi tersebar di pinggir-pinggir. Karena masih belum berhasil menemukan kakeknya di tengah keramaian tamu, dan demi menghindari berpapasan dengan keluarganya yang lain yang menjengkelkan, Maya akhirnya melipir ke salah satu balkon ballroom sembari membawa makanan favoritnya yang berhasil ia ambil dari stand terdekat, sate ayam dan lontong. “Makan dulu deh,” Gumam Maya dalam hati, setelah mengirimkan pesan pendek pada si kakek untuk memberi tahu soal keberadaannya. Sembari menikmati pemandangan malam Batam yang cerah, Maya mulai mengunyah satenya. “Boleh saya duduk disini?” Suara seseorang tiba-tiba menyapanya. Lelaki itu mengenakan jas coklat dan kaos turtleneck hitam di dalamnya. Usianya tampak sedikit lebih tua dari Maya, dan di tangannya ia membawa piring beserta makanan juga. Ia menunjuk kursi kosong di samping Maya. “Silakan, Pak.” Maya melempar senyum tipis, lalu melanjutkan makan. “Terima kasih.” Ujar lelaki itu. Berdua mereka makan dalam diam, sampai lelaki itu memulai pembicaraan. “Sendirian ya mbak?” “Iya, pak.” “Perwakilan dari perusahaan mana?” Tanyanya lagi, yang membuat Maya bingung harus menjawab apa. “Hmmm…” Maya berusaha menyusun kalimat yang tepat. “Saya masih keluarga jauh, pak.” Jawabnya, diplomatis. Setiap datang ke acara si kakek, sebisa mungkin Maya tidak pernah mau menyatakan dengan gamblang bahwa ia adalah cucu tertua kakeknya, karena statusnya yang rumit. “Kalau bapak sendiri bagaimana?” Maya bertanya balik, mengalihkan pembicaraan. “Saya dari Daewoo Batam,” Lelaki itu tersenyum. “Bos saya dan saya satu klub golf dengan Pak Sudibyo.” Lanjutnya. “Malam ini bos saya tidak bisa datang karena ada urusan mendadak di kantor pusat, jadi saya yang datang sendiri kesini.” “Ooh, begitu.” Maya mengangguk-angguk. Mereka berdua lalu melanjutkan makan dalam diam. Maya tiba-tiba teringat sesuatu. Dia pernah mendengar nama perusahaan itu sebelumnya. Dan kenapa wajah lelaki ini begitu familiar? Apa mereka pernah bertemu sebelumnya? “Maya, kamu kok disini sih. Padahal kakek sudah siapkan kursi untuk kamu di meja tengah.” Kakek Sudibyo, tiba-tiba keluar dari ballroom dan menghampirinya di balkon. “Kakek cariin dari tadi. Untung kakek baca pesan kamu.” Malam ini sang kakek mengenakan baju batik coklat dan celana bahan, seperti biasa, terlihat necis untuk orang seusianya yang sudah berusia 65 tahun. “Eh, kakek! Selamat ulang tahun kakek.” Maya langsung berdiri, begitu pula lelaki di sampingnya. Setelah Maya mencium tangan si kakek dan memeluknya, Maya langsung menyelipkan pulpen mont blanc pesanannya yang bertuliskan nama sang kakek. “Kado Maya gak seberapa yaa.” “Kamu ini,” Kakek Sudibyo melihat kea rah pulpen di kantongnya, matanya berkaca-kaca. “Repot-repot. Makasih ya sayang.”  “Selamat ulang tahun, Pak Sudibyo.” Sapa lelaki itu dengan senyum yang merekah pada sang kakek yang tampak tidak menyadari kehadirannya. “Mr. Lee titip salam untuk bapak.” “Eh, mas Gilang!” Kakek Sudibyo tersenyum. “Iya, tadi Mr. Lee sudah telepon saya. Terima kasih ya mas Gilang sudah datang. Kebetulan sekali ada Mas Gilang disini. Sudah kenalan? Ini Maya, cucu pertama saya.” Maya hanya menggigit bibirnya, sementara Gilang mengulurkan tangannya. “Gilang,” “Maya, mas.” Ujar Maya, sedikit malu karena statusnya sebagai cucu si empunya pesta ketahuan. “Maya ini calon penerus perusahaan saya, Mas Gilang.” Sang Kakek berkata bangga, dan sukses membuat Maya belingsatan. “Kakek! Jangan bercanda gitu ah.” Maya mencolek pinggang kakeknya. “Maaf ya Mas, kakek saya memang suka asal nih.” “Orang kakek bicara serius.” Kakek Sudibyo mengerutkan wajahnya. Sementara Gilang hanya tersenyum. “Kebetulan kalian sudah bertemu ya. Mas Gilang ini memang rencananya mau kakek kenalkan dengan kamu, Maya. Biar kamu gak jomblo terus.” “Kakeeeek….” Desis Maya lagi. Rasanya ia ingin lompat saja dari balkon saking malunya. Tidak kakeknya, tidak sahabatnya, semua bawaannya ingin menjodohkannya saja. Dan parahnya sekarang si kakek bicaranya langsung lagi di depan orangnya. “Mas Gilang ini Direktur lho, di Daewoo Batam. Dia lulusan beasiswa S2 Engineering dari Korea. Masih muda, mapan, dan jomblo pastinya.” Cerocos sang Kakek pada Maya.  “Maya ini lulusan advertising dari New York, mas Gilang. Dia mandiri, pintar cari uang sendiri dari rumah, rajin dan juga jago masak. Bagaimana mas Gilang?” Tanya si kakek pada Gilang, yang sekarang juga terlihat salah tingkah. Tapi belum sempat Gilang menjawab, sekretaris si Kakek, Pak Adi, tiba-tiba muncul di belakangnya. “Pak maaf, ada pak Gubernur baru hadir.” Bisiknya. Kakeknya mengangguk-angguk. “Oke deh, kakek tinggal dulu ya. Kakek sudah cukup cerita perkenalan soal masing-masing, jadi sisanya kalian lanjutkan saja obrolannya. ” Kakek Sudibyo menepuk pundak Maya dan Gilang bersamaan, sembari melemparkan tatapan penuh arti. Maya hanya geleng-geleng, gemas dengan perilaku si kakek. “Maaf ya, saya tidak tahu kalau mbak Maya itu cucu Pak Sudibyo.” Gilang bersuara setelah kakek Sudibyo menghilang ke dalam keramaian pesta. “Tidak apa-apa mas, memang saya tidak mau banyak yang tahu.” Maya tersenyum. Bukan ia bermaksud merendah, tapi status ayah dan ibunya yang sudah bercerai sejak Maya balita dan ayahnya yang sekarang seorang public figure memang memaksanya bersembunyi di balik bayangan. Sang ayah menutupi kenyataan bahwa ia saat muda dulu pernah bercerai, sehingga publik tahunya keluarga barunya hanyalah keluarga sang ayah satu-satunya. Ayahnya juga tidak pernah mengurusnya sejak perceraian, malah kakek dan almarhumah neneknya yang sebisa mungkin membiayainya dan tak pernah membiarkan Maya tumbuh besar kekurangan. Inilah semua yang membuat Maya bahkan lebih dekat dengan ayah tirinya dan kakeknya dibanding ayahnya sendiri. “Saya juga minta maaf tadi kakek bicara seperti itu, soal mau mengenalkan saya dan mas Gilang. Pasti mas Gilang tidak nyaman, ya.” Kini Maya yang meminta maaf atas perilaku sang kakek. Gilang terkekeh. “Tidak apa-apa, mbak Maya. Banyak orang di dekat saya memang ingin menjodohkan saya dengan kenalannya, mungkin karena kasihan melihat saya menjomblo terus.” Jelas Gilang, lugas. “Sama dong mas!” Maya tertawa. “Padahal tidak ada yang salah dengan menjomblo ya mas.” “Benar, mbak Maya. Dan sebetulnya saya pribadi sudah punya seseorang yang saya sukai. Karena itu saya minta maaf ya mbak Maya, tidak bisa memenuhi permintaan Pak Sudibyo untuk berkenalan lebih lanjut dengan mbak Maya.” Gilang menggaruk kepalanya, terlihat tidak enak. Tapi Maya malah lega. “Tidak apa-apa, mas Gilang!” Maya makin tersenyum lebar. “Beneran deh. Saya malah senang mendengarnya, selamat ya mas. Semoga lancar dengan beliau.” “Terima kasih ya, mbak Maya.” Gilang ikut tersenyum sekarang. “Saya gak tahu itu mbak Maya beneran serius atau tidak, tapi saya berterima kasih sudah didoakan.” “Serius dong mas Gilang, masa saya boong sih.” Keduanya tertawa. “By the way, mas Gilang. Saya perhatikan sedari tadi wajahnya familiar. Punya adik perempuan ya?” Iseng Maya menebak. “Kok, mbak Maya tahu?” Author's Note: Halo semua! Maya kenalan sama Revina, sudah. Sekarang Maya kenalan juga sama Gilang! Haha~ Terima kasihhh yang setia membaca dan meninggalkan komentar. Jangan lupa untuk tap love dan follow penulis Ashadiya di platform ini. Follow juga i********: @ashadiya.dreame untuk tahu info lebih lanjut mengenai inspirasi karakter dan jadwal UP. Sampai jumpa besok!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN