Devin POV
Sabtu telah tiba, dan pagi ini, Devin berangkat ke Tamarin Santana Golf Club, Nongsa, untuk bermain golf bersama Gilang, Mr. Lee Naseon dari Daewoo Batam, dan tentunya Pak Sudibyo, pendiri ST Shipyard. Devin sedikit bersyukur karena dari sekian banyak jalurnya untuk bisa berkenalan dengan Pak Sudibyo, jalur dari Gilang ternyata yang paling cepat membuahkan hasil. Dia sudah berupaya menghubungi Pak Sudibyo melalui anaknya, Pak Airlangga, tapi pak Airlangga selalu bilang sang pendiri sibuk untuk meeting dengannya. Sementara Silvi, cucunya, juga sama, tidak bisa membuatkan janji untuk Devin. Padahal Devin sudah sengaja mengajak Silvi sekali makan malam, dengan harapan setidaknya bisa dikenalkan dengan Pak Sudibyo. Tapi Silvi menolak, mengatakan ia sendiri tak terlalu dekat dengan kakeknya. Jadi harapan Devin adalah klub golf ini.
Klub golf yang berkumpul setiap sabtu pagi ini di Tamarin beranggotakan setidaknya 15 member, tapi yang aktif datang setiap minggu mungkin hanya setengahnya, karena kesibukan masing-masing anggota yang biasanya merupakan direktur berbagai macam perusahaan di Batam. Karena status Devin sebagai direktur sekaligus penerus Dubil, maka ia diterima dengan mudah oleh para member. Terlebih ia sudah kenal lebih dulu dengan Gilang dan Mr. Lee Naseon, jadi proses perkenalannya lebih gampang. Tapi tentu yang membuat Devin agak ketar-ketir adalah saat bersalaman dengan Pak Sudibyo.
“Saya Devin, Pak.” Ucap Devin sesopan mungkin. Pak Sudibyo menyalaminya dengan erat.
“Halo, Mas Devin.” Balas Pak Sudibyo ramah. Devin menghembuskan nafas lega.
Sesi bermain golf bersama berlangsung cukup baik. Devin bisa mengikuti obrolan dengan baik meski usianya termasuk yang paling muda disana. Selain itu dia juga bisa menunjukkan kemampuannya bermain golf, yang telah dilatih sejak kecil oleh ayahnya. Semua member lain, terutama Pak Sudibyo, terlihat terkesan. Pak Sudibyo yang tadinya tidak terlalu banyak mengobrol dengannya pun jadi mengajak bicara duluan.
“Saya dengar Dubil akan buka kawasan industry baru, di Tanjung Uncang dan Kabil?” Pak Sudibyo membuka pembicaraan saat mereka berdua berdiri bersama, menunggu giliran memukul bola.
“Benar sekali, pak.”
“Sudah sejauh mana, prosesnya?”
“Pembebasan lahan sudah selesai, jadi pembangunan mungkin akan dimulai dalam sebulan ini, pak.” Jelas Devin. Pak Sudibyo mengangguk-angguk.
“Saya dengar, mas Devin yang presentasi ke Daewoo International agar mereka mau invest ke Dubil ya?” Devin hanya mengangguk.
“Dan ide buka kawasan industry baru juga dari mas Devin?” Lanjut Pak Sudibyo, tampak ingin memastikan berita yang selama ini ia dengar. Devin lagi-lagi mengangguk. “Mengapa bisa terpikir kesana?”
“Dubil perlu berinovasi agar tidak ketinggalan zaman, dan inovasi perlu investasi Pak.” Jelas Devin lugas. “Dengan membuka kawasan industry di dekat pelabuhan dan pesisir pantai, Dubil bisa mengembangkan jaringan dengan perusahaan-perusahaan di bidang migas dan galangan kapal.” Pak Sudibyo terdengar puas dengan jawaban Devin, lalu menepuk punggung Devin.
“Sepertinya Dubil akan semakin besar, bila nanti dipimpin oleh mas Devin.” Puji Pak Sudibyo.
“Terima kasih, Pak.” Devin sedikit tersipu. “Saya berharap, untuk kantor cabang ST Shipyard yang baru, bisa dipertimbangkan di kawasan kami nanti.”
“Tentu. Tapi, saya punya satu pertanyaan.” Pak Sudibyo melempar pandangan penuh arti.
“Silakan, pak.”
“Mas Devin belum menikah, kan?” Devin menggeleng, tapi ia mulai tahu arah pertanyaan ini. “Sudah ada calon?”
“Belum ada yang fix sih pak,”
“Nah! Kebetulan sekali. Saya sedang mencari calon untuk dikenalkan dengan cucu saya. Mas Devin sepertinya orang yang pas untuk dia.”
“Cucu bapak?” Devin tertegun.
“Iya, cucu saya. Cantik lho, lulusan luar negeri juga. Cuma dia gak mau kerja di perusahaan saya. Kata mas Gilang, Mas Devin sabtu lalu datang kan ke acara saya? Sempat bertemu tidak ya dengan dia?” Tanya Pak Sudibyo.
“Sempat pak, saya sudah kenalan dengan cucu bapak saat acara itu, dan sempat dinner juga beberapa hari lalu.” Jawab Devin, teringat pertemuannya dengan Silvi baru-baru ini.
“Oh ya?” Pak Sudibyo tampak makin sumringah. “Pantas cucu saya ogah-ogahan pas saya bilang mau kenalkan dengan lelaki lain, ternyata dia sudah kenal sama Mas Devin ya.”
Devin hanya tersenyum tipis, senang karena semakin bisa mengambil hati Pak Sudibyo. “Iya pak, sudah.”
“Kalau begitu, kapan bisa bertemu lagi dengan cucu saya? Makan siang besok di Anchor café, bisa?”
“Bisa pak. Nanti saya kontak beliau untuk buat janji.” Jawab Devin tanpa pikir panjang. Sepertinya ia memang harus melanjutkan hubungannya dengan Silvi, setidaknya sampai tujuan bisnisnya tercapai.
“Nanti saya juga akan kasih tahu dia.” Pak Sudibyo menimpali dengan senyum lebar.
…..
Siang sepulang acara main golf, Devin menepati janjinya dengan menelpon Silvi.
“Hai Mas!” Silvi menyapanya dengan ceria.
“Silvi, besok siang bisa lunch bareng? Di Anchor Café.” Tanya Devin langsung tanpa basa-basi.
“Wah, setelah dinner, sekarang lunch? Beruntung sekali aku.” Komentar Silvi.
“Aku sudah janji dengan Pak Sudibyo untuk lunch dengan cucunya besok.” Jelas Devin, tidak ingin membuat Silvi kegeeran. Tapi Silvi tampak tak terganggu.
“Meskipun Mas Devin jalan sama aku karena kakek, tapi aku tetap senang. Mas Devin besok jemput aku ya?” pintanya manja.
“Oke.” Devin menjawab pendek dan langsung menutup telepon. Setelahnya ia menghembuskan nafas panjang, lalu menelpon nomor lain.
“Malam ini, bisa? Di suite yang sama.” Ujarnya dingin, dan setelah mendapat respon yang ia mau, langsung menutup telponnya. Devin butuh pelarian malam ini.
Maya POV
Sore ini Maya sedang menonton serial kriminal favoritnya di Netflix sambil memakan kue yang baru selesai ia panggang ketika tiba-tiba bel pintu kamarnya berbunyi. Tadinya Maya mengira itu Devin, tapi ia baru ingat, Devin sudah seminggu ini tidak mampir ke kamarnya untuk sarapan lagi. Dan ini Sabtu sore, Devin pasti sedang menghabiskan waktunya bersama ntah wanita mana lagi. Jadi Maya mengintip dari lubang pintu, dan betapa kagetnya ia saat melihat ternyata kakeknya yang datang.
“Kakek?”
“Ckckck, sabtu sore bukannya kelayapan malah di rumah aja.” Komentar kakeknya sambil memasuki kamar apartemennya.
“Bagus dong Maya di rumah aja, dimana-mana kakek yang bener itu harusnya senenglah kalau cucu perempuannya gak hobi jalan.” Sungut Maya. “Hari ini kakek bukannya main golf ya? Kok kesini sih.”
“Udah selesai dari siang golfnya. Sore ini kakek suntuk di rumah jadi kakek mau ajak kamu jalan.”
“Kakek mau ajak Maya jalan atau mau minta Maya setirin keliling Batam cari tanaman dan ikan karena supir kakek dan Pak Adi lagi pada libur?” Sindir Maya.
“Hehe..” Kakek Sudibyo terkekeh. “Bisa kan tapi?”
“Ya udah, Maya ganti baju dulu. Kakek duduk dulu ya. Mau makan kue coklat gak? Sambil minum chai latte?” Tawar Maya. Sang kakek mengangguk, lalu duduk di kursi depan meja makan Maya.
“Mesin kopinya baru ya?” Tanya kakeknya saat Maya memasukkan kapsul chai latte ke mesin kopi Nestlenya.
“Iya, yang lama rusak. Ini dibeliin.”
“Sama siapa?” Selidik kakeknya.
“Hmm…” Maya menimbang-nimbang. “Temen?” Maya tidak enak bila menjawab Tetangga, karena nanti ia harus menjelaskan soal Devin yang suka sarapan disana, dan urusannya bisa jadi panjang.
“Ooh.” Kakek Sudibyo berkomentar pendek. “Eh iya, besok siang bisa kan?” Tanya kakeknya saat Maya baru akan masuk ke kamar.
“Bisa apaan kek?”
“Makan siang di Anchor Café.”
“Sama kakek?”
“Bukan, sama laki-laki yang mau kakek kenalin itu lho. Katanya dia sudah kenal kamu sebelumnya dan mau ngontak kamu bikin janji soal besok.”
“Oh ya?” Maya mengangguk kepalanya, bingung. “Masa sih? Perasaan kenalan Maya disini gak banyak.”
“Datang ya besok, pasti kamu terkejut deh sama orangnya.”
“Ya udah. Tapi Maya gak janji bakal cocok ya.” Balas Maya sambil ngeloyor masuk ke dalam kamarnya, meninggalkan kakeknya yang misuh-misuh.
…..
Setelah menghabiskan berjam-jam keliling Batam bersama kakeknya mencari tanaman dan ikan peliharaan langka, jam 9 malam Maya kembali ke apartemennya. Tadinya ia mau langsung tidur, tapi tiba-tiba perutnya lapar lagi, jadilah ia pergi ke restoran langganannya, La Bella Vita, yang malam minggu ini pastinya sangat ramai. Tapi beruntung Maya kenal dekat dengan Gina sang manajer, meja dan kursi favoritnya hampir selalu kosong dan tersedia untuknya.
“Jadi lo besok mau ketemuan sama cowok yang dikenalin kakek lo?” Komentar Gina sembari mereka berdua mengunyah almond.
“Yoi.”
“Siapa orangnya? Ganteng gak? Liat fotonya dong!”
“Gak tahu siapa, kakek gue gak mau bilang. Cuma bilangnya gue udah kenal orangnya aja.”
“Jadi penasaran yaa..” Gina terpekik heboh. “Tapi lo kok tega sih, nolak permintaan gue mau ngenalin ama kakak gue, tapi sama yang ditawarin kakek lo mau.”
“Ya kakek gue orangnya gak bisa ditolak, kalau lo kan lebih santuy.” Respon Maya santai. “Lagian gue udah kenalan kali sama kakak lo.”
“Hoh? Kok bisa?”
“Nih.” Maya mengeluarkan hape dan menunjukkan fotonya selfie berdua dengan Gilang saat acara ulang tahun kakeknya di hotel Radisson minggu lalu. “Ini kan kakak lho? Mas Gilang.”
“Ya ampun!!!” Gina terperanjat. “Kok lo baru cerita sihh!! Gimana bisa deh kenalan terus foto berdua sama Kak Gilang? Kak Gilang juga gak ada cerita apa-apa sama gue kalau dia ketemu ama elo!”
“Kita gak sengaja duduk deketan pas acara ultah kakek gue minggu lalu.” Jelas Maya. “Gue lupa terus mau cerita, lo tau lah kerjaan gue semingguan ini padet, jadi gue gak lama kalau makan disini.”
“Iya sih.. Terus terus??”
“Terus mas Gilang nyapa gue. Dan kami berdua ketemu kakek gue. Ternyata kakek gue tadinya mau ngenalin gue sama mas Gilang juga! Kakek gue satu klub golf gitu sama mas Gilang.”
“Serius???” Gina makin menganga. “Tuh kan! Bukan cuma gue yang ngerasa kalian berdua tuh bakal cocok! Terus terus??”
“Terus terus mulu lo kaya tukang parkir.” Ledek Maya sambil tertawa.
“Issshhhh…” Gina geleng-geleng sebal. “Lanjutin dong ceritanya! Apa kata kak Gilang? Kalian ada ketemuan lagi abis itu??”
“Ya nggak lah! Mas Gilang bilang maaf, dia udah ada seseorang yang dia suka sebenarnya.”
“Oh yaa?” Raut muka Gina merengut. “Kok gue gak tahu ya. Lo yakin dia beneran tuh?”
“Ya mana gue tahu dia beneran atau gak, pokonya dia bilang gitu ama gue. Ya gue percaya aja. Kayanya sih emang bener.” Jawab Maya santai. “Lo confirm aja langsung ama orangnya, orang itu kakak elo.”
“Ya udah nanti gue tanya. Gue juga jarang ngobrol sih ama doi, abis jadwal kerja gue ama dia gak bareng melulu. Doi pagi sibuk, gue malam sibuk.” Gina menyajikan makanan Maya, lalu mengambil salah satu kentang Maya dan mengunyahnya. “Tapi lo gak kecewa kan?”
“Kecewa kenapa maksud lo?”
“Ya karena mas Gilang bilang begitu. Jadinya lo sama dia gak bisa lanjut ke hubungan yang serius.”
“Lah…” Maya hampir tersedak milkshakenya mendengar penuturan Gina yang ajaib. “Gue juga gak ada perasaan apapun kali sama dia.. Baru juga ketemu sekali. Buset dah.”
“Kali aja lo patah hati gara-gara kakak gue.”
“Yang semangat mau jodohin gue sama dia kan kakek gue dan elo nih! Gue aja sendiri masih pengen jomblo kok. Jadi yang kecewa biasanya yang mau jodohin.” Sentak Maya.
“Iya sih.. tapi kok lo bisa tahu ya kak Gilang itu kakak gue? Perasaan gue gak pernah kasih lihat fotonya.”
“Muka dia mirip sama lo, dan gue inget lo pernah cerita sekilas kakak lo lulusan universitas Korea dan kerja di Daewoo Batam. Jadi gue tebak-tebak berhadiah.”
“Keren juga tebakan lo yaa..” Gina tertawa. “Ya udah, biarpun lo gak jadi sama kak Gilang, gue doain lo jadi sama yang ketemu besok.”
“Gak usah doain yang aneh-aneh, gue aja gak minat banget kok. Cuma demi kakek gue aja, Kalo gak diikutin permintaannya, dia bakal minta terus sampe gue nyerah sendiri.”
“Kali aja loh beneran jodoh. Kita gak tahu kan. Jadi penasaran orangnya yang mana ya.” Celetuk Gina. Maya hanya mengangkat bahu.
Author's Note:
Halo semua!! Waduh jadi lancar gak ya itu pertemuan siang besok? Jangan lupa tinggalkan komentar dan tap love cerita ini. Terima kasih yang sudah membaca, silakan follow penulis Ashadiya di platform ini, dan di i********: akun @ashadiya.dreame, dimana saya sering share soal UP dan info karakter disana. Sampai jumpa besok!