Chapter 13: Lagi

1243 Kata
Revina POV Malam ini Revina datang lagi ke La Bella Vita untuk makan malam, karena seharian ia pusing dengan urusan kantor dan berniat ingin menghabiskan waktu disana dengan berbincang bersama kedua teman barunya. Meski suasana restoran cukup kosong, Revina memilih untuk makan di meja bartender, di sebelah Maya biasa duduk. Tapi Maya tidak menampakkan batang hidungnya, hanya Gina saja. “Maya gak datang ya malam ini?” Tanya Revina pada Gina setelah selesai memesankan pesanannya. “Maya biasa datang jam 12 lewat, mbak.” Jawab Gina sembari mengecek jamnya. “Ini masih jam 8, dia malah baru mulai kerja jam segini.” “Ooh, iya juga ya.” Revina mengunyah kacang almond yang disediakan Gina. Mereka lalu mengobrol beberapa saat sampai Gina tiba-tiba ditelepon seseorang. “Ya kak? Aku lagi masuk kok. Oke.” Jawab Gina, lalu menutup telepon. “Kakak saya mbak, mau datang juga kesini. Wah, kebetulan banget pas lagi ada mbak Revina. Bisa sekalian kenalan deh. Kenalan aja gak apa-apa kan mbak?” “Haha..” Revina terkekeh. “Tidak apa-apa.” Lanjutnya santai, sembari menikmati pesanannya. Tak berapa lama Revina mendengar sebuah suara familiar menyapa Gina, sehingga ia refleks menoleh. “Pak Gilang?” Tanya Revina. “Mbak Revina?” Gilang terlihat sama terkejutnya. “Loh, kakak kenal juga ya sama mbak Revina?” Gina tersenyum menyadari hal ini. “Kenal, mbak Revina ini kan manajer di Dubil.” Jawab Gilang, tapi pandangannya tak lepas dari Revina, yang sekarang salah tingkah dan meneguk jusnya. “Kebetulan banget dong, kak Gilang ini loh mbak yang mau saya kenalin sama mbak Revina!” Komenta “Tau gitu sih, aku gak akan nolak.” Celetuk Gilang kini tersenyum lebar, lalu menyapa Revina lagi. “Saya boleh duduk disini, mbak?” “Silakan, pak.” Revina mengangguk. Meski ia selalu merasa canggung tiap bertemu Gilang karena tahu Gilang punya perasaan lebih terhadapnya, tapi ia juga sadar bahwa Gilang sebenarnya adalah lelaki yang baik. “Kakak mau pesan apa?” Tanya Gina. “Yang sama aja kaya mbak Revina.” Jawab Gilang sekenanya. “Aku percaya sama selera dia, pilihan dia pasti enak.” Revina mengigit bibirnya mendengar ucapan Gilang yang to the point. “Termasuk jus strawberry?” Gina menahan tawa, sementara wajah Revina memerah. “Why not?” “Ya udah.” Tutup Gina, lalu meninggalkan mereka berdua setelah memesankan pesanan Gilang. Karena bingung harus bicara apa, Revina lalu meneruskan makan dalam diam, tapi tak lama, karena Gilang kembali mengajaknya mengobrol. “Mbak Revina suka makan disini juga ya? Kok saya jarang ketemu. Saya cuma beberapa kali lihat Pak Devin saja.” “Hanya sesekali sih pak. Bapak suka ya?” “Kadang sih, sekalian nemuin Gina. Tapi jarang semalam ini.” Gilang tersenyum, dan lalu menanyakan hal lain pada Revina. Dan ternyata, ia cukup lucu. Gilang piawai mencari topik obrolan, humoris dan selalu sopan. Ia juga tidak pernah memotong omongan Revina dan mendengarkannya dengan penuh atentif. Hati Revina tiba-tiba bergetar. Sudah lama ia tidak diperlakukan semanis ini oleh lelaki. “Kalau penulis yang itu, saya juga suka.” Komentar Gilang saat Revina menceritakan penulis dan buku bacaan favoritnya. “Seingat saya, ada salah satu filmnya yang mau rilis di bioskop minggu depan. Mbak Revina sudah ada rencana? Mau nonton tidak sama saya?” Revina tersedak mendengar ajakan Gilang. “Sama Gina juga tidak Pak?” Pancing Revina. “Saya sih inginnya berdua saja dengan mbak Revina. tapi kalau mbak Revina keberatan, boleh, kita ajak dia juga.” Gilang mengerling ke arah Gina yang sedang berbincang dengan staf restoran lain di ujung meja bartender yang satunya. “Atau ajak teman mbak Revina yang lain juga tidak apa-apa.” Revina terkekeh mendengar jawaban Gilang. “Berdua aja gak apa-apa, Pak.” Jawab Revina, tersipu. Mungkin sudah waktunya dia mulai membuka diri. Devin POV Devin baru pulang ke kamarnya pagi ini setelah menghabiskan malam di suitenya. Sembari mengumpulkan kesadaran setelah habis mabuk dan bermain semalaman, Ia masih terngiang ucapan Pak Sudibyo beberapa hari lalu di telepon. “Mas Devin, sepertinya Mas Devin kemarin bertemu dengan cucu saya yang lain. Silvi bukan cucu yang saya maksud ingin saya kenalkan dengan mas Devin. Apakah mas Devin berkenan bila berkenalan dengan cucu pertama saya? Atau Mas Devin sudah merasa cocok dengan Silvi?” Meski tak bisa mempercayai miskomunikasi yang telah terjadi antara dia dan Pak Sudibyo, tentu saja Devin menyanggupi tanpa pikir panjang untuk bertemu dengan cucu Pak Sudibyo yang lain. Toh, dia juga belum serius dengan Silvi, baru dua kali bertemu untuk makan bersama. Ayah dan Ibu Devin, tentu mendukung keputusan ini. Bagi mereka siapapun yang menjadi calon Devin tak masalah yang penting masih ada hubungan langsung dengan Pak Sudibyo dan menguntungkan Dubil. Devin menaiki lift dengan seorang lelaki muda bule. Lelaki ini tampan, berkulit putih, bermata biru dan berambut pirang. Ia membawa buket bunga mawar besar dan tampak begitu ceria. Devin membatin ntah dari mana lelaki ini membeli buket bunga pagi-pagi begini. Sepertinya dia bukan penghuni apartemen ini. Lelaki ini tidak memencet tombol lantai manapun, dan turun di lantai yang sama dengan Devin. Sengaja Devin memperlambat langkahnya karena tidak ingin berjalan beriringan, tapi mereka ternyata menuju arah yang sama. Lelaki itu lalu memencet bel kamar Maya, sementara Devin menghentikan langkahnya. “Jake?” Maya membuka pintu kamar dan berkomentar, heran. Sementara lelaki itu langsung tersenyum ceria. “Maya!! I missed you!” Jake langsung memeluk Maya dan mencium pipinya. Maya terlihat mungil dipeluk oleh lelaki yang tinggi ini.. Devin yang melihat ini semua hanya terdiam, takjub. Siapa lagi lelaki ini?? Mengapa ia memeluk dan mencium pipi Maya ringan begitu? Kenapa Maya terlibat dengan begitu banyak laki-laki? Lagi-lagi Devin hanya bisa ngedumel gusar dalam hatinya. “When did you get here? You didn’t tell me that you were coming!” Maya tersenyum dan membalas pelukannya erat. Lelaki bule bernama Jake itu lalu memberikan buket bunga yang ia bawa pada Maya. “It’s a surprise for the prettiest lady.” Celetuk Jake. Maya tertawa dan menerima buket itu. “Did you cook anything? I smell some chicken soup. I missed your cooking so much and I’m so hungry.” Jake mengusap perutnya. Devin menggigit bibirnya. Kini ia kesal karena ternyata bukan hanya dia yang diundang Maya untuk makan di tempatnya. “Of course I did, come in!” Maya membuka pintu lebar dan mempersilakan Jake masuk. Maya baru akan menutup pintu ketika ia bertemu pandang dengan Devin. “Eh, mas Devin?”  Maya tersenyum lebar. “Baru pulang ya mas?” “Iya.” Jawab Devin, dingin. “Mau ikut sarapan, mas? Kebetulan saya masak sup ayam.” “Gak perlu, lo kan lagi ada tamu.” Tolak Devin. “Ah, Jake sih cuma..” Tapi Devin langsung memotong ucapan Maya. “Gue duluan.” Balas Devin, langsung masuk ke dalam kamarnya dan membanting pintu. Maya mungkin akan bingung dengan kelakuannya, tapi Devin yang kepalang gusar tak perduli. Bergegas Devin mandi untuk meredakan emosinya di bawah shower. Siapa cowok lo sebenarnya, Maya?? Batin Devin kesal. Apa Pak Airlangga? Atau Gilang? Atau Cowok bule itu? Atau jangan-jangan semua? Devin melempar botol shamponya, kesal. Gue kenapa sih?? Kenapa gue gak bisa berhenti mikirin dia??? Author's Note: Wow ada cowok lagi muncul di dekat Maya! Siapakah ia? Kita tunggu di chapter berikutnya~ Terima kasih yang selalu baca dan meninggalkan komen. Jangan lupa klik love dan follow penulis Ashadiya di platform ini ya. Follow juga di i********: @ashadiya.dreame. Sampai jumpa besok!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN