Begitu sampai di halaman, tanah masih bergetar hebat, membuat lampu teras bergoyang dan suara kaca jendela beradu nyaring dari dalam rumah.
Alya spontan merapat ke tubuh Satria, kedua tangannya memeluk erat, wajahnya ia sembunyikan di d**a Satria seolah takut dunia runtuh di sekitarnya.
“Ini … gempa, ya?” bisiknya dengan mata terpejam.
“Sepertinya begitu,” jawab Satria, suaranya tenang meski pandangannya waspada pada sekeliling.
Setelah getaran benar-benar reda, Satria segera mengecek ponselnya. Notifikasi dari BMKG muncul di layar: gempa bermagnitudo 8,3 mengguncang wilayah Banten.
“Pusat gempanya di Banten … kemungkinan banyak korban jiwa,” ucap Satria lirih.
Alya masih saja memeluk tubuhnya erat, seakan belum ingin melepaskan rasa takut yang baru saja menyeruak.
“Alya,” panggil Satria pelan.
“Ya?” Alya mendongak, namun tetap tidak melepaskan pelukannya. Ia tak menyadari maksud panggilan itu.
“Gempanya sudah berhenti,” kata Satria dengan nada tenang.
“Oh …” Alya bergumam, tapi tangannya masih enggan terlepas.
Satria tersenyum samar. “Mau sampai kapan kamu memelukku seperti ini?”
“Eh!” Alya buru-buru melepaskan pelukan, wajahnya memerah, malu menyadari betapa erat ia menempel sejak tadi.
****
Keesokan harinya, di ruang rapat rumah sakit.
Para dokter duduk melingkar, suasana hening menunggu keputusan. Kepala rumah sakit membuka rapat dengan suara tegas.
“Kita mendapat tugas mengirim lima dokter ke lokasi bencana. Saya minta kesediaan dari kalian secara sukarela,” ucapnya.
Beberapa detik sunyi. Lalu tiga tangan terangkat. Kepala rumah sakit mengangguk, tapi wajahnya tampak berat.
“Masih kurang dua orang,” katanya.
Ruang rapat kembali hening. Tak seorang pun bergerak.
Alya menatap sekeliling, melihat rekan-rekan seniornya saling menghindari pandang. Ia menarik napas dalam, lalu memberanikan diri mengangkat tangan.
“Izinkan saya ikut, Pak,” ucapnya mantap.
Beberapa dokter menoleh kaget. Salah satu berbisik, “Tapi kamu kan masih PPDS …”
Kepala rumah sakit menatap Alya lekat-lekat. “Kamu sadar risikonya besar? Peraturan sebenarnya tidak memperbolehkan PPDS ikut tim penyelamat.”
“Saya sadar dan dengan sukarela, Pak,” jawab Alya dengan suara bergetar, tapi sorot matanya teguh.
Keheningan menyelimuti ruangan. Kepala rumah sakit akhirnya menghela napas.
“Baiklah, Alya. Atas dasar situasi darurat, saya izinkan kamu ikut. Jadikan ini tanggung jawab yang harus kamu emban sepenuh hati.”
Alya mengangguk. “Terima kasih, Pak. Saya akan lakukan yang terbaik.”
Alya keluar dari ruang rapat dengan langkah tergesa. Tanpa banyak bicara, ia langsung membuka loker dan mulai memasukkan barang-barangnya ke dalam tas.
“Mau ke mana?” tanya Satria heran. Mereka bahkan baru saja tiba di rumah sakit.
“Kita pulang, Kak. Siang ini aku ikut tim medis ke lokasi bencana,” jawab Alya cepat, tangannya tak berhenti berkemas.
Satria mengernyit. “Apa Jenderal sudah memberi izin?”
Gerakan Alya terhenti sesaat. Ia menarik napas, lalu menoleh sekilas.
“Kalau aku izin ke Ayah, pasti tidak dibolehkan. Jadi … lebih baik tidak usah izin.” Suaranya terdengar tegas meski matanya sempat goyah.
Satria melangkah mendekat dan meraih tangannya, menghentikan gerakan Alya. “Kalau Jenderal tidak mengizinkan, kamu juga tidak boleh pergi.”
Alya menatap Satria, lalu tersenyum tipis penuh siasat. “Asal Kak Satria tidak melapor, Ayah tidak akan tahu soal ini.”
Satria terdiam, genggamannya masih menahan.
“Ayo, Kak. Kita harus segera pulang. Aku harus bersiap-siap,” desak Alya lagi, suaranya mantap, meski ada sedikit getaran di ujungnya.
****
Saat mobil Satria memasuki halaman rumah, ajudan Mardani sudah berdiri tegap menunggu. Di sisi lain, mobil dinas sang jenderal terparkir gagah di bawah naungan pohon.
Masih duduk di kursi penumpang, Alya mendengus kesal.
“Kak Satria lapor Ayah, ya?” tanyanya penuh tuduhan.
“Itu memang tugasku, Alya. Aku harus melaporkan segala hal tentangmu,” jawab Satria tenang.
“Kak Satria nyebelin! Gak asik!” Alya membuka pintu dengan kasar dan membantingnya keras-keras, lalu melangkah cepat masuk rumah.
Di ruang tamu, Mardani sudah menunggunya di sofa, tegap dengan wajah serius. Alya berhenti sejenak di ambang pintu, tatapan mereka beradu. Ada sepersekian detik hening yang menekan, sebelum Alya memalingkan wajah dengan sinis dan berjalan melewatinya begitu saja.
Satria memberi hormat dengan sikap sempurna.
“Selamat pagi, Jenderal!”
“Pagi, Mayor …” jawab Mardani singkat, matanya tetap mengikuti gerak Alya yang menghindar.
“Alya,” suara Mardani berat, penuh wibawa, “pelaku penembakan di panti belum juga ditemukan. Karena itu, kau tidak boleh kemana-mana.”
Alya berhenti sejenak, lalu menoleh sekilas. Tatapan mereka kembali bertemu, namun kali ini Alya hanya berkata tajam, “Terserah Ayah!”
Tanpa menunggu balasan, ia bergegas ke kamarnya, meninggalkan keheningan yang kaku di ruang tamu.
Mardani menarik napas panjang, sorot matanya melembut sejenak, meski wajahnya tetap dingin. Ia tahu putrinya menyimpan dinding yang sulit ditembus.
Mardani menoleh ke Satria, ia berkata, “Aku mengandalkanmu, jaga dia baik-baik. Mungkin sikapnya memang kasar, tapi sebenarnya … dia gadis yang lembut.” Mardani menepuk pundak Satria dengan tegas.
“Siap, Jenderal!” jawab Satria mantap.
****
Malam itu, Satria sibuk di dapur. Wajan di atas kompor masih mengepulkan aroma masakan. Ia menata makanan di meja makan sambil melirik jam dinding.
“Dia tidak keluar kamar sejak siang tadi… apa dia benar-benar semarah itu?” gumamnya dalam hati.
Dengan piring masih hangat di tangan, Satria mengetuk pintu kamar Alya.
Tok! Tok! Tok!
“Alya, ayo keluar, makan malam sudah siap.”
Hening.
Ia mengetuk lagi, lebih keras.
Tok! Tok! Tok!
“Alya! Alya!” suaranya meninggi, kegelisahan mulai merayap di dadanya.
“Sial … jangan-jangan …” bisiknya tegang.
Tanpa pikir panjang, Satria mendobrak pintu kamar. Pintu tak bergeming sedikitpun, terkunci rapat. Napasnya memburu, ia segera berlari ke sisi rumah, dan di sanalah ia tertegun—
Jendela kamar di lantai dua terbuka lebar, tirai berkibar tertiup angin malam. Dari sana, kain-kain yang diikat bersambung menjuntai ke bawah, bergoyang seakan baru saja digunakan.
“Alya …” Satria mematung, darahnya serasa berhenti mengalir. “Dia kabur.”