Di jantung kota, tersembunyi sebuah rumah tua yang menjadi markas rahasia organisasi. Satria melangkah masuk. Setiap derit pintu, setiap bayangan yang bergerak, memicu campuran rasa penasaran yang membara dan kekhawatiran yang mendalam di dadanya. Di tengah ruangan, duduk seorang pria paruh baya di kursi ukir yang besar. Sorot matanya setajam elang. “Kau datang juga, Satria,” sapa pria itu, suaranya rendah dan penuh wibawa. “Selamat malam, Om,” jawab Satria, memberi hormat. Dia adalah Santoso, seorang jenderal bintang dua, kini menjabat sebagai Wakil Panglima. Pria inilah yang menjadi walinya, yang merawat Satria sejak malam kelam pembunuhan di rumahnya bertahun-tahun silam. “Ada hal krusial yang harus kita bahas. Terkait misi kita selanjutnya,” ucap Santoso. Para anggota inti organi

