Dret…dret…. Pukul tiga dini hari ponsel Gemintang berbunyi. Bunyi dering itu tidak membuatnya terbangun dari pelukan Banyu. Sebaliknya Banyu mulai membuka matanya karena bunyi dering ponsel itu cukup membisingkan. “Halo...” jawab Banyu dengan suara seraknya. “Gem…eh ini Banyu ya,” suara pria di seberang sana. Banyu bahkan tidak sempat melihat nama yang tertera di layar ponsel. “Iya ini ponselnya Gemintang, saya suaminya.” “Iya aku tau, ini Novan. Aku mau ngasih tahu saat ini kondisi Rani kritis,” “Hah!? Beneran? Astaghfirullah, iya nanti aku kasih tau Gemintang. Kamu yang kuat ya Van.” “Iya Bay, tolong kabarin ke Erika ya. Aku udah gak bisa inget apa-apa lagi ini. Oke bye,” tanpa sempat Banyu membalas ucapan Novan, Novan lebih dulu menutup panggilannya. “Gem…Gem,” Banyu mengguncang

